Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
91. Kartu As


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Adzan subuh sudah berkumandang, namun Tari tak juga terbangun bahkan tidurnya masih nampak lelap. Tadi malam setelah mengakhiri panggilan vidionya dengan sang suami dia ikut terlelap di karpet dengan Fisa. Namun sekitar jam 24:00 panggilan masuk kembali ke handphone nya, ternyata suaminya yang menghubunginya.


" Mbak, Mbak sudah Adzan subuh lo. " Nafisa menggoyangkan badannya pelan.


Tari mengeliatkan tubuhnya, matanya masih sedikit mengantuk karena suaminya baru mengakhiri panggilan mereka jam 3 pagi.


" Eeehhhgggg......... "


" Mbak, ayo ..... "


Tari mengucek kedua matanya, mengedipkan kedua matanya dengan cepat berharap kesadarannya segera terkumpul.


" Iya, sampean bersih - bersih dulu. Nanti Mbak Tari menyusul.


Tari segera membersihkan diri, dan mengenakan mukenanya berjalan cepat menuju masjid. Setiap Sholat wajib dia akan ikut berjamaah di masjid. Selesai dengan kewajibannya dan menyempatkan diri membaca Alquran dia segera pergi ke dapur.


" Mbak Tari tumben tadi subuhnya kesiangan ? "


" Iya Mbak, tadi malam banyak tugas yang harus saya kerjakan. Masak apa Mbak Ju ? "


" Tugas apa, nemenin mas bojo Mbak ? hehehehe Abbah minta dimasakin bubur Mbak.


Tari hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Mbak Juriah, yang memang benar adanya. Sampai pagi ini dia harus bangun terlambat, karenanya.


" Wah senyum - senyum berarti benar ya. " Tebak Mbak Juriah saat mengetahui Tari yang sedang tersenyum.


" Sampean ada - ada saja Mbak, santannya saya masukkan ya. "


Setelah dia selesai memasak dia kembali ke kamarnya membersihkan diri kembali dan kemudian bersiap untuk pergi ke sekolah. Selama di ndalem menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga barunya itu menjadi aktifitas tambahan sebelum pergi mengajar.


" Mbak ini bekal Fisa ya ? "


" Iya, sudah mbak lebihin, nanti bisa dibagi dengan teman yang lain. "


" Siap Mbak. "


" Pulang seperti biasa nanti nduk ? "


" Mboten Mi, nanti rencananya mau ke Rumah singgah terlebih dahulu. wonten nopo Mi ? "


" Rencananya mau Ummi ajak ditempatnya dek Romlah. Tapi kalau ada keperluan biar Ummi pergi sama Mbak Juriah saja. "


" Ngapunten ngeh Mi, Tari mboten saget ngrencangi. "


" Wes ora opo - opo nduk, "


Tari berangkat diantar Pak Atmo pagi ini, bersama Nafisa. Karena jam masuk Nafisa yang lebih pagi jadi mereka setiap harinya berangkat lebih pagi dari biasanya saat dia masih tinggal di asrama. Mereka tiba dan suasana komplek sekolahan itu sudah ramai.


" Mbak, Fisa ke kelas dulu ya. Assalamualaikum" Pamitnya sambil menyalaminya, meninggalkan dia menuju kelasnya.


" Ati - ati ya Ning Fisa. Walaikumsalam ..... " Jawabnya.


Kemudian dia melanjutkan, langkahnya menuju tempatnya mengajar. Suasana masih sepi hanya beberapa pengajar dan murid yang sudah datang. Berada ditengah - tengah anak didiknya seperti sekarang ini adalah salah satu hal yang membuatnya bahagia. Jam pelajaran pun berakhir dia segera bergegas ke asrama, karena hari ini dia memiliki janji dengan sahabatnya.


" Assalamualaikum. "


" Walaikumsalam. " Jawab semua orang yang berada di ruang tamu asrama.

__ADS_1


Di ruang luas itu rupanya mereka sedang berkumpul, Bu Tini, Pak Rizki, Wardah, Rini dan beberapa orang lainnya. Tari menyalami satu persatu dari mereka, ini pertama kalinya dia kesini setelah sekembalinya dia mengajar.


" Duduk disini nduk. " Ucap Bu Tini sambil menyuruhnya duduk di kursi sebelahnya duduk yang masih kosong.


" Enggeh Buk. " Jawabnya sembari mendudukkan tubuhnya di samping Bu Tini.


" Kalau pengantin baru itu beda ya Buk auranya, sekarang tambah kualem, senyumnya jadi beda kayak ada manis - manisnya gitu. " Goda Rini kepadanya.


" Ya jelas to Mbak Rin, kalau ibaratnya orang dulu sekarang sudah pecah pamornya. "


Tari hanya bisa tersenyum sembari menggeleng ketika mendengar candaan demi candaan yang di tunjukkan kepadanya. Memang setelah pernikahannya yang cukup mendadak itu hatinya selalu diselimuti dengan kebahagian. Yang seolah sekarang terpancar dari raut wajahnya yang tak henti - henti menyunggingkan senyum. Apalagi suaminya yang memperlakukan dia dengan istimewa yang selalu melimpahnya dengan perhatian dan kasih sayang.


" Belum tau Ghasan pulang kapan Tar ? " Tanya Rizki padanya.


" Kurang tahu juga Pak Rizki. "


" Jangan bilang nanti pas acara nikahan ku dia tidak pulang !!!!.... "


" Insyaallah aku datang, tapi kalau Mas Syam aku tidak berani menanyakan kepulangannya. "


" Yo ditanya to nduk, wong sama suaminya masalah seperti itu kok ngak ditanyakan. " Bu Tini ikut menyahut obrolan Rizki dan Tari.


Selama ini dia memang belum begitu dekat dengan suaminya, banyak hal yang belum dia tahu mengenai suaminya. Bukan berarti dia tidak ingin mengetahui tentang suaminya itu, namun dia ingin semua itu suaminya yang memberitahu tanpa dia meminta. Apa lagi mengingat mereka menikah tanpa adanya kedekatan sebelumnya, jadi banyak hal yang tidak diketahui dari satu sama lain.


" Biasa Buk, pengantin baru yang masih malu - malu. " Ejek Wardah.


" Iya kalau Tari pengantin baru yang malu - malu, kalau sampean itu malu - maluin, besuk gimana ya sama Rizki. Apa pas malam pertama itu ........ hahahaha paling cakar - cakaran. "


" Tenang Rin, nanti kalau dalam mode liar tinggal di remote saja. Tenang aku sudah menemukan titik kelemahannya. " Ucap Rizki seraya mengering ke arah Wardah.


" Mana ada sampean sudah tahu titik lemah ku, yang ada aku yang sudah memegang kartu AS sampean. "


" Makanya Buk, sebelum sah jadi Wardah puas - puaskan dulu Buk. Setelah itu kan Wardah harus ..... "


" Sudah, kalau di kasih tau orang tua kok jawab terus. " Potong Buk Tini.


Pernikahan bukan hanya saja sebuah ikatan yang di dasarkan atas rasa cinta dua orang saja. Melainkan suatu ikatan dua orang dengan sifat yang berbeda, dengan karakter yang berbeda, dengan latar belakang yang berbeda yang harus bisa menyatukan visi misi demi terwujudnya suatu hubungan yang membawa kebahagian untuk keduanya. Saling menerima kekurangan pasangan, saling menghormati pendapat pasangan, menghargai keberadaan pasangan juga dibutuhkan dalam sebuah hubungan pernikahan. Dan tentu pula sebuah pernikahan juga bukan hanya pernikahan dua orang saja, melainkan juga penyatuan dua keluarga.


Setelah cukup lama mereka mengobrol, akhirnya mereka pergi ke rumah Singgah dengan menggunakan mobil milik Rizki. Rumah singgah sore itu lumayan ramai, semenjak dilakukan renovasi untuk rumah singgah semakin banyak anak yang belajar disana.


Sore ini, materi yang diajarkan disana adalah Bahasa Inggris, semua nampak antusias dengan materi yang disampaikan.


" Mbak Rin, setelah ini anak - anak jangan langsung di suruh pulang dulu. "


" Iya Tar, memangnya ada apa ? "


" Ada sedikit Snack Mbak untuk anak - anak, masih nunggu Pak Rizki dan Wardah masih mengambilnya. "


" Kalau begitu aku kasih tau yang lain dulu ya. " Ucapnya sambil beranjak keluar kelas untuk memberi tahu kelas yang lain. "


Tak berapa lama Rizki dan Wardah datang membawa beberapa kresek berisi plastik berisi Snack dan susu yang akan dibagikan kepada anak - nak sore itu Dengan dibantu pengajar yang lain mereka memindahkan kresek - kresek itu dari mobil Rizki ke ruangan kelas.


" Apakah sudah semua ? "


" Sudah, insyaallah lebih kok Mbak. Ini sekalian bonnya Mbak. " Wardah menyerahkan ATM beserta bon pembelian snacknya tadi.


" Terimakasih ya Dah. "


Setiap rezeki yang kita dapat ada hak orang lain disana, dan itu yang selalu menjadi pedoman bagi Tari dan suaminya. Rumah singgah menjadi tempatnya merevleksikan jiwa sosialnya kepada sesama, dan juga sarananya mengucapkan rasa syukur terhadap rezeki yang selama ini dia dapat.

__ADS_1


" Semua sudah dapat ? "


" Arka belum dapat Kak Rizki. "


" Iya, sabar tidak boleh berebut ya harus antri. "


Melihat senyum diwajah anak - anak itu membawa semua orang untuk tersenyum juga. Kebagian itu adalah hal yang sederhana bagi anak - anak, hanya dengan sebuah plastik yang berisi beberapa Snack dan susu. Senyum selalu menghiasi wajah mereka, bahkan seruan akan membaginya dengan adik atau kakak jika sampai dirumah juga terdengar.


" Wah ada beng -b*ngnya, kesukaan adik ku. "


" Iya, ada piat*snya juga. dibuka di rumah saja. "


" Punyaku ada permennya, punya mu ada juga ngak ? "


" Susuku rasa strawberry, punya mu rasa apa ? "


Berbagai pertanyaan muncul dari mereka, merefleksikan rasa senang mereka. Setelah semua sudah mendapat bagian dan masih ada sisa. Mereka sepakat untuk membagikan sisanya untuk yang punya saudara dirumah. Dengan syarat harus jujur tidak boleh mengaku - ngaku memiliki saudara.


" Karena snacknya masih sisa kakak mau membagikan lagi snacknya untuk kalian yang punya saudara di rumah, namun syaratnya untuk yang benar - benar mempunyai saudara. " Ucap Rini di depan kelas.


" Tapi bila ada yang tidak mempunyai saudara, mengaku mempunyai saudara. Berarti itu namanya ........ ? "


" Pembohong ... " Jawab mereka bersama.


" Dan Allah tidak suka pembohong, karena berbohong itu ......... ? "


" Dosa ..... " Jawab mereka bersama.


Pada akhirnya Snack pun habis, dan anak - anak pun mulai meninggalkan rumah singgah. Yang di susul juga beberapa orang tenaga pengajar yang juga harus pulang.


" Diantar dulu Tar ? "


" Ngak usah Pak Rizki, sebentar lagi Pak Atmo datang. "


" Beneran ngak mau diantar dulu Mbak, sudah mau Mahgrib lo. "


" Tidak usah, Pak Atmo sudah jalan katanya. "


" Ya sudah kami duluan. Assalamualaikum. "


" Iya, Walaikumsalam. " Jawabnya.


Semua orang sudah pulang dan pintu gerbang Bali desa itu sudah kembali digembok. Tari menunggu Pak Atmo, yang menurut Nafisa yang baru menelfonnya sudah berangkat menjemputnya. Dia menunggu duduk di sebelah gerbang, sambil memainkan handphone miliknya membalas beberapa chat yang masuk.


✉️ Besok kami ke Kediri, Mikhail nyariin Bundanya.


✉️ Wah, bakal tambah ramai ni Mbak, aku juga kangen banget sama Mikha.


✉️ Wah kesannya kami kok tim pemandu sorak ya bikin ramai suasana hehehehe, jangan kangen sama orang lain mati suamimu itu bakal cemberu ngak jelas.


Tari mengingat suaminya yang akan sebal dan tak hentinya menggerutu jika dia lebih memperhatikan Mikha dibanding dirinya. Dia baru menyadari seharian ini tak ada satupun pesan atau telefon dari suaminya itu, padahal biasanya satu jam sekali dia akan menelefon. Di bukanya ruang chat dengan suaminya, namun terakhir dia online pukul 11:30. Dia berfikir bahwa suaminya sibuk, jadi tidak bisa menghubunginya. Dan pada akhirnya dia hanya mengirimkan sebuah pesan kepadanya.


✉️ Semangat kerjanya Gus Syam, jangan sampai telat makan dan sholatnya 💜


Dia memasukkan Handphone miliknya ke dalam saku bajunya, karena dia melihat sorot lampu yang berhenti di depannya. Dia berdiri tanpa melihat mobil yang sedang berhenti di depannya, karena sedang tertunduk merapikan baju dan kerudungnya yang lumayan kucel karena dipakai sejak tadi pagi.


" Assalamualaikum "


Bersambung ...........

__ADS_1


__ADS_2