Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
10. Membuka Hati


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Jam sudah menandakan pukul 16:00, tak lama berselang perawat terlihat mendorong brankar menuju ruang perawatan. Gadis itu belum juga membuka matanya, Tapi kekhawatiran dari orang - orang yang menunggunya sudah tak nampak lagi.


"Pak karena Hawa sudah di pindahkan dalam ruangan perawatan kami permisi dulu" Pamit Bu Siti kepada pak Fahmi.


" Iya Bu, saya sangat berterimakasih atas bantuannya Bu. Biarkan pak Joko mengantar anda berdua "


" terimakasih pak, mari kami pulang dulu "


"assalamualaikum "


"walaikumsalam "


ceklek, Tari membuka pintu kamar asramanya didapatinya kamar yang yang sepi karena semua penghuni sedang sekolah madrasah. Karena sangat lelah dya membaringkan tubuhnya di kasur, badannya terasa sangat lelah begitu juga fikirannya. Tiba - tiba dya teringat kejadian di rumah sakit yang cukup mengganggu fikirannya.


Kejadian yang begitu cepat, yang mampu membuat dadanya bergetar tapi menimbulkan perasan tenang dalam hatinya. Si pemilik suara dan si pemilik arloji dan gelang tasbih itu sebenarnya siapa mereka. Kenapa muncul perasaan seperti itu yang membuat Tari bingung.


Ya Allah pemilik hati ini, Engkau maha mengetahui atas semua yang terjadi pada hambaMu. Hamba pasrahkan semua hidup hamba padaMu tiada sedikitpun keraguan dalam hati hamba atas takdir dan ketetapan yang Engkau berikan pada hidup hamba. Berikanlah hamba keihklasan dan kesabaran dalam menerima takdir dan ketetapan yang Engkau berikan Amien Amien Amien


Karena merasa tubuhnya terlalu lengket dan letih Tari berfikir untuk mandi agar tubuhnya merasa segar. Tari bergegas segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Kegiatan di asrama malam ini seperti malam - malam sebelumnya sholat Maghrib berjamaah dilanjut kan deresan kemudian sholat isya berjamaah. Setelah selesai sholat isya Tari kali ini ingin segera kembali ke kamarnya karena tubuhnya benar - benar letih.


Tanpa mempedulikan suasana kamar yang gaduh dya membaringkan tubuhnya yang lelah diatas kasurnya dan mulai dya beranjak memasuki alam mimpi. Penghuni kamar lainya nampak sedikit bingung karena tak biasanya Tari langsung tidur, apalagi dya tadi tidak menyetor hafalannya. Hari ini begitu melelahkan untuk Tari dengan semua kejadian yang terjadi.


Seolah alarm dalam tubuhnya menyala, Tari menggeliatkan tubuhnya mencoba mencari kesadarannya. Tubuhnya sudah segar kembali, dya beranjak dari tempat tidurnya kemudian masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Dya begitu asyik dengan kegiatan disepertiga malamnya, matanya selalu tertutup tapi tidak dengan mulutnya yang selalu basah dengan Kalam Ilahi. Kegiatan yang rutin selalu dya lakukan sejak dua tahun terakhir ini. Bercinta dengan Penciptanya salah satu hal yang tidak pernah dya lewatkan.


Suara adzan berkumandang dengan lantangnya, Tari segera membuka matanya dan menyudahi dzikirnya. Kemudian dya melangkah menuju masjid untuk menunaikan sholat subuh berjamaah.


*******


"Anak - anak, hari ini cukup sekian ya kita belajarnya. Mari kita kembalikan bukunya ke dalam tas masing - masing "


"Iya Bu guru"


"assalamualaikum"


"walaikumsalam"ucap mereka kompak.


Kemudian kelas ditutup dengan nyanyian dan, doa penutup. Satu persatu anak - anak itu berjalan untuk bersalaman dengan gurunya lalu meninggalkan kelas.


"Tar, mau langsung pulang atau mau ikut aku menjenguk Hawa dulu ?"


"Maaf mbak sebenarnya pengen sekali ikut, tapi aku ada janji mba "


" Hayo mau kemana "


" Mencari buku mbak, buat tambahan referensi"


"Sendiri atau ada temannya ?" Tanya mbak Rina menyelidik karena tak biasanya Tari terlihat gugup seperti kali ini.


Sebelumnya pada saat jam istirahat tadi, Pandu menelefon Tari untuk bertemu membicarakan hal penting. Sebenarnya Tari tidak begitu setuju untuk mengiyakan ajakan Pandu untuk bertemu. Tapi pandu memaksa Tari dan berhasil meyakinkan Tari untuk mengiyakan bertemu.


" Mba saya duluan ya "


" Iya, hati - hati"


" enggeh, Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


Tari bergegas berjalan menuju pintu gerbang dengan sesekali tersenyum membalas sapaan dari orang yang bertemu dengannya. Diluar gerbang sekolah nampak Pandu berdiri sambil memainkan handphone di tangannya.


" Assalamualaikum "

__ADS_1


" Walaikumsalam "


" Apa sampean sungguh menunggu lama mas ?"


" Belum, aku juga baru saja datang. aku akan selalu sanggup menunggu kalau kau memintanya walaupun lama. Bagaimana sudah siap ?"


" Sudah Ayo mas"


Tanpa mereka sadari, ternyata rombongan guru - guru yang akan menjenguk Hawa juga ada di gerbang sekolah. Mereka tampak bertanya - tanya siapa yang bersama Bu Tari. Setahu mereka Bu Tari tidak memiliki teman laki - laki karena sikapnya yang tertutup terhadap lawan jenis. Nampak sekali mbak Rina penasaran dengan sosok laki - laki yang bersama Tari, kemudian mereka berjalan menghampiri Tari.


"assalamualaikum"


"walaikumsalam"


"Perkenalkan saya Rina temannya Tari" Rina memperkenalkan diri dan menangkupkan tangannya di dada "


"Saya Pandu, teman kecilnya Tari mbak"


" Mbak kok belum berangkat ?"


" Sebentar lagi Tar, jadi perginya sama masnya ini to ? "


" Iya mbak, kebetulan mas Pandu juga mau keliling Malang "Tari terlihat gugup dan mencoba mencari alasan untuk menghindari mbak Rina yang dirasanya sedang mencari tahu tentang laki - laki yang sedang bersamanya.


"Ya sudah, cepat sana kalian berangkat. Ati - ati ya mas Pandu sampean jaga Tari baik - baik"


" Iya mbak pasti, "


"assalamualaikum" Ucap mbak Rina seraya meninggalkan mereka berdua yang terlihat canggung, menghampiri rombongan guru yang sama penasarannya denganya.


"walaikumsalam" jawab Tari dan Pandu bersamaan.


" Ayo kita juga harus segera berangkat "


Pandu melangkah membukakan pintu depan untuk Tari, Tari pun masuk. Mobil pun berjalan berlahan meninggalkan gedung sekolah itu menuju alun - alun kota Malang. Jalanan sedikit macet karena ini merupakan jam makan siang dan jam pulang sekolah.


Tari tampak sedikit kaget mendengar perkataan Pandu, tapi dya mulai mendengar ucapan laki - laki itu.


"Tari, aku tidak memaksamu untuk menerimaku saat ini tapi aku memintamu untuk sedikit saja membuka hatimu untukku. Cobalah sedikit saja berbagi kesidihanmu itu dengan orang lain.


Tari nampak terkejut dengan perkataan Pandu, dya tidak menyangka Pandu akan mengucapkan hal seperti itu.Tari hanya bisa terdiam mencoba memahami perkataan Pandu.


"Aku bersungguh atas ucapanku, "


" Maaf mas Pandu, Aku hanya takut menyakiti sampean"


"Kenapa aku harus tersakiti, aku sakit ketika melihatmu seperti ini Tari. Mana Tari yang dulu gadis yang ceria, gadis manis, gadis cerewet itu. Tolong kembalilah untuk ku aku merindukanmu"


"Maaf mas" Tanpa sadar butiran butiran bening jatuh dari pelupuk matanya, nafasnya mulai terisak.


Melihat keadaan Tari seperti itu, Pandu pun ikut meneteskan air mata. Hatinya ikut berkecamuk merasakan kesedihan Tari yang begitu dalam. keadan hening ini berjalan cukup lama dua orang itu sibuk dengan fikiran mereka masing - masing.


" Tari berbagilah rasa sedihmu itu dengan ku "


Entah mengapa semua ucapan Pandu mampu membuat Tari sedikit bersimpati padanya. Tanpa disadarinya senyuman kecil tersungging dibibir mungilnya.


" Mulai sekarang cobalah, menulis namaku di hatimu "


"Insyaallah mas"


" Aku anggap hari ini kencan pertama kita, okk. Aku ingin keliling kota Malang dan kamu harus jadi tour guide yang baik untukku"


" Iya Mas"


Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka yang pertama. Pandu memarkirkan mobilnya, dan mereka pun berjalan menuju arah alun - alun itu.


" Sudah lama sekali aku tidak kesini, sudah banyak berubah ya "

__ADS_1


" Saya juga mas "


" Apakah kamu tidak pernah jalan - jalan keluar ?"


"Pernah tapi tidak sering saya akan keluar kalau memang ada sesuatu yang sedang saya cari "


" Bagaimana dengan kuliahmu ?"


" Alhamdulillah, semua lancar mas saya hanya sedang menunggu sidang sekripsi saja. Kalau semua dilancarkan Insyaallah saya segera wisuda "


"Jangan lagi lari dari kenyataan hidup, hidup memang harus dihadapi meskipun itu pahit"


"Saya tidak sedang berlari mas, hanya saja saya mencoba menata hati saya"


Mereka berjalan memutari tempat itu dengan berbincang, nampak kekaguman Dimata Pandu. Tari sekarang bukan Tari yang duhulu sikapnya jauh berubah, dya menjadi wanita yang anggun, dewasa, dan penuh pertimbangan dalam bersikap dan bertutur kata. Kejadian itu benar - benar merubah Tari menjadi gadis dewasa. Membuat Pandu semakin jatuh cinta kepada gadis itu.


"Apa kamu lapar?"


"Tidak"


"Tapi aku lapar"


"Mari mas, saya temani kalau sampean lapar"


Mereka berjalan menuju seberang jalan menuju makanan cepat saji. Pandu mengantri untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Kemudian menghampiri Tari yang duduk menunggunya.


"Kalau tidak makan setidaknya minum mau kan ?"


"Maaf mas juga tidak bisa"


"Kenapa makan tidak , minimum tidak, apa kamu sedang berpuasa ?"


"Iya mas"


"Kenapa kamu tidak bilang ?" terlihat wajah pandu seketika kecewa kenapa dya tidak berfikir dari tadi, betapa bodohnya dya.


" ngak papa mas, sudah ayo cepat dihabiskan, tidak baik membuang makanan "


Dengan bersusah payah berusaha menghabiskan semua makanan itu sendiri. Karena Tari memaksanya untuk menghabiskannya, dengan beralasan bahwa membuang - buang makanan itu hal yang dibenci Allah.


Mereka keluar dari restauran itu, menuju parkiran mobil. Dan kembali menaiki mobil itu menuju mall untuk ke toko buku, Tari memang sedang mencari buku untuk reverensi skripsinya bukan hanya sekedar alasan untuk pergi dengan Pandu.


Sampailah mereka diparkiran sebuah mall di kota Malang. Mereka berjalan mencari toko buku dilantai dua mall itu. Saat sampai didepan toko perhiasan tiba - tiba langkah kaki Pandu terhenti.


"Tunggu dulu aku ingin mencari sesuatu "


"Silahkan mas, saya tunggu sampean disini"


"Tidak, kamu harus ikut aku masuk karena aku ingin meminta bantuan mu" ucap Pandu sambil menarik tangan Tari untuk mengikuti langkahnya. Tari yang merasa tangannya ditarik oleh Pandu seketika berusaha melepaskan genggaman tangan Pandu.


Sadar Tari berusaha melepaskan genggamannya, Pandu pun melepaskan genggamannya. Dya ingin membelikan sesuatu untuk Tari.


Di dalam toko itu Pandu sibuk memilih sebuah kalung nampak berjajar model kalaung dengan liontin yang beraneka ragam. Tiba - tiba pandangannya tertuju pada sebuah kalung dengan liontin dengan huruf T. Tanpa pikir panjang dya langsung memilih kalung itu dan membayarnya di kasir.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju toko buku. Tak perlu lama Tari sudah mendapatkan buku yang diinginkannya.


" Tari, ini untuk mu" Tangannya sembari memberikan kotak bludru berbentuk persegi panjang itu.


" Apa ini ?"


" Buka saja, aku harap kamu suka "


Tari membukanya, dya sedikit terkejut dengan benda yang ada didalamnya kalung cantik dengan liontin berbentuk huruf T.


" Maaf saya tidak bisa menerimanya "


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2