Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
12. Menjadi Milikku


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


"Utal, Awa aem"


"Hawa lapar sayang ?, iya ibu akan menyuapi Hawa ya" Tari berjalan menuju nakas yang berada disamping tempat tidur Hawa, diambilnya piring yang berisi makanan. Dengan telaten dya menyuapi Hawa, sembari mengelap mulut Hawa yang belepotan.


"Utal, nak tali"


"Iya donk, Hawa harus makan yang banyak biar Hawa cepat sembuh"


"akan anyak ???"


"Iya sayang, aduh pinternya Hawa"


Tak membutuhkan waktu lama makanan Hawa sudah tak bersisa, kemudian Tari menyimpan alat makan kedalam nakas. Sementara Fahmi dan Pandu berbincang - bincang di sofa, dan sesekali kedua pria itu bercuri pandang ke arah Tari.


Karena merasa sudah cukup sore Tari berpamitan kepada Hawa untuk pulang. Tapi tidak semudah yang Tari bayangkan, Hawa terus merajuk untuk membuat Tari tetap disisinya. Semua orang sudah berusaha untuk membujuk Hawa tapi hasilnya tetap sama.


"Hawa, Biarkan Bu Tari pulang ya sayang. Besuk lagi pasti Bu Tari akan datang"mencoba membujuk putrinya.


"Iya sayang, Insyaallah besuk ibuk kesini lagi"


"Utal, dak oleh Egi. Awa ayang utal" ucap Hawa dengan tangisnya seraya memeluk erat tubuh Tari


"Ibu juga sayang sama Hawa, tapi ibu harus pulang sayang. Lihat ini baju ibu sudah kotor begitu juga dengan bau ibu sudah tidak enak. Ibu pulang dulu sebentar untuk mandi, boleh ya sayang ?"


Hawa menghentikan tangisnya dan berfikir, benar juga apa yang dikatakan Bu Tari. Akhirnya dengan berat hati Hawa mengijinkan Tari pulang, dengan janji besuk Tari akan kembali menemuinya sesudah dya mengajar.


"Hawa Ibu pulang ya sayang, Hawa yang pinter makan yang banyak, menurut apa kata ayah ya sayang"


"Yaya, utal"


"Om, pulang ya Hawa sayang cepet sembuh. Nanti kita main bersama ya"


"Pak Fahmi, saya permisi"


"Iya mas Pandu, terimakasih sudah menjenguk Hawa"


"Iya pak, Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


Kedua lelaki itu bersalaman dan sedikit bercanda, kemudian berjalan menuju pintu kamar. Fahmi mengantar kedua tamunya sampai ke ujung koridor itu, setelah kedua tamunya menghilang diujung koridor Fahmi kembali ke kamar Hawa.


Tari dan Pandu, berjalan menuju parkiran mobil, karena hari sudah sore mereka tampak terburu - buru. Sebenarnya Pandu masih ingin berlama - lama mengingat besuk dirinya yang sudah harus berangkat.


"Tar, Tari ......"


Terdengar suara teriakan seorang wanita, memanggil Tari dari arah belakang. Tari yang merasa kenal dengan suara itu langsung membalikan tubuhnya berusaha mencari sumber suara itu.


"Dalem, Mbak Rina" Tari sedikit terkejut ternyata yang memanggilnya itu mbak Rina dan Gus Reyhan.


Rina berjalan menghampiri Tari dan Pandu, karena sejujurnya Rina begitu penasaran dengan Pandu. Tari yang biasanya menghindari lelaki kenapa sudah dua hari ini bersama Pandu dan Tari pun terlihat begitu nyaman.


"Assalamualaikum, Gus"


"Walaikumsalam" ucap Rina dan Reyhan bebarangan.


"Mbak Rina, Kon sampean disini ?"


"Tadi aku menemui seseorang disini. Kalian sendiri sedang apa disini ?" Tanya Rina penuh selidik.


"Saya tadi barusan menjenguk Hawa mbak, hanya berdua saja ????. awas Lo kalau belum halal banyak setan berkeliaran"


"Mbak tadi kami hanya menjenguk Hawa, disana juga ada pak Fahmi juga"


"Oh jadi ini siapa mbak Tari ?" Gus Reyhan yang penasaran pun mencoba meminta penjelasan.

__ADS_1


"Saya Pandu Gus, Insyaallah saya calon suami Tari Gus" Pandu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Reyahan.


"Alhamdulillah kalau begitu, saya Reyhan" sambil meraih tangan Pandu.


"Kalian mau kemana ?" Tanya Rina.


"Sebenarnya kami masih ingin makan mbak, tapi sudah mau waktu Maghrib" jawab Pandu.


"Bagaimana kalau kita makan bersama, tapi kita cari masjid dahulu untuk sholat Maghrib"


"Iya Gus saya setuju, bagaimana Tar?


"Apa tidak terlalu malam nantinya bila kita makan terlebih dahulu Gus ?, saya tidak enak dengan santri lain"


"Sudah nanti biar kita antar kamu ke asrama Tar" Jawab Rina.


"Jangan mbak, nanti merepotkan sampean"


"Tidak, kebutulan kita memang akan ke asrama. Sudah ayo tidak usah berdebat"


Akhirnya Tari pun mengikuti kemauan orang - orang disekitarnya, meskipun sebenarnya Tari tidak nyaman dengan keadaan ini. Dya tahu apa yang difikirkan Rina dan Reyhan.


Kedua mobil itu melaju, meninggalkan rumah sakit. Keadan jalan sedikit sepi sehingga mobil pun berjalan tanpa hambatan. Mereka menuju salah satu mall terbesar di kota Malang.


"Mas, aku kok tidak begitu yakin ya sama Pandu !!!!"


"Jangan bersuudzon sama orang dek, kita juga baru kenal belum tau sifat dan perilakunya"


"Hanya saja feeling ku tidak enak mas, semoga saja fikiranku salah" Rina menghela nafas panjang, entah mengapa dya tidak begitu suka melihat Pandu.


"Semoga saja pean salah dek, sudah waktunya Tari itu membuka hati dan hidup lebih baik"


"Iya semoga mas, aku hanya ingin Tari hidup bahagia"


Tak lama berselang kedua mobil itu, telah sampai disebuah parkiran mall. mereka pun turun dan berjalan beriringan, Rina nampak mengandeng Tari sedangkan Reyhan dan Pandu berjalan mengikuti kedua wanita itu dibelakang mereka.


"Kita cari makan dulu ya"


"Iya mbak"


"Mau makan apa ? "


"Terserah mbak, asalkan bikin kenyang dan halal saja" jawab Reyhan.


Mereka masih saja berjalan dan akhirnya, mereka berhenti didepan rumah makan Padang.


"Bagaimana kalau disini ?" Tanya Reyhan.


"Iya, saya setuju" jawab Pandu.


"Baiklah, cacing diperut ku ini sudah meronta - ronta" ucap Rina sambil mengusap perutnya yang memang benar - benar sudah lapar.


Mereka berempat masuk kedalam rumah makan Padang itu. Rina duduk disebelah Tari sedangkan Reyhan dan Pandu duduk diseberang mereka. Mereka melihat - lihat buku menu dan nampak mulai memilih makanan yang ingin mereka pesan. Pelayan pun datang dan mulai mencatat semua pesanan mereka.


"Mas Pandu, kesibukannya apa ?"


"Saya bekerja di pelayaran Gus, kebutulan saat ini saya dalam masa cuti Gus. Dan besuk saya sudah harus kembali bekerja karena masa cuti saya sudah berakhir"


"Jadi besuk sudah berangkat mas Pandu ?"


"Iya mbak, besuk saya berangkat"


"Terus pulang lagi masih lama mas ?"


"Tidak mbak, saya mendapat cuti 6 bulan sekali. Tapi juga masih dapat cuti tahunan.


"Tar, sampean harus siap - siap Lo ditinggalnya lama - lama kayak gitu"

__ADS_1


"Apa to mbak Rina"


Pelayan datang membawa semua makanan pesanan mereka, satu meja itu penuh dengan makanan Padang. Mereka memulai makan malamnya, dengan sedikit perbincangan kecil disela - sela makan mereka. Adzan Isyak pun berkumandang, sedikit mengagetkan mereka yang sedang asyik mengobrol. Pandu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kasir untuk membayar semua tagihan makanan mereka.


"Mas Pandu terimakasih kami sudah ditraktir makan" ucap Rina.


"Sama - sama mbak, mumpung kita pas makan bersama"


"Mari kita sholat Isyak dulu"


"Monggo Gus"


Mereka berjalan bergegas menuju moshola yang tadi digunakan tempat sholat Maghrib. Selesai sholat mereka berjalan menuju lantai satu, tempat parkiran mobil berada.


"Bagaimana apa kita akan pulang sekarang ?" Tanya Rina.


"Apa tidak sebaiknya kita pulang mbak, karena ini sudah cukup malam mbak"


"Iya sudah, kita ke asrama saja"


Mobil pun melaju, membelah kota Malang menuju asrama yang berada di pinggiran kota Malang. Tibalah mereka didepan gerbang asrama, dan segara pintu dibuka oleh mas santri yang berjaga saat mengetahui mobil yang datang milik Gus Reyhan.


" Assalamualaikum Gus"


" Walaikumsalam "


Gus Reyhan memarkirkan mobilnya tepat didepan aula yang terletak di samping masjid, Pandu pun ikut memarkirkan mobilnya disebelah mobil Gus Reyhan. Kemudian semua penumpang turun menuju ruang tamu yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu yang berkunjung ke asrama.


"Monggo mas Reyhan, silahkan duduk"


"Iya Gus" Pandu duduk di sofa tepat diseberang Gus Reyhan duduk dan mereka duduk berhadapan.


Sementara itu Tari berjalan akan keluar ruangan itu menuju kamarnya, karena sukurnya dya sedikit kurang nyaman dengan keadaannya yang belum mandi. Rina yang mengetahui hal itu segera mencegah Tari, dya tahu mungkin saja ada yang ingin dibicarakan Pandu mengingat Pandu yang besuk sudah harus berangkat.


"Mau kemana Tar, sini duduk disini" ucap Mbak Rina seraya menepuk sofa yang ada disampingnya.


"Iya mbak" Tari menghampiri sofa yang ditunjuk Mbak Rina.


"Monggo mas Pandu, saya mau kebelakang dulu" Gus Reyhan berdiri meninggalkan Tari dan Pandu yang duduk di sofa seraya mengajak istrinya juga masuk.


Sejenak mereka terdiam, sibuk dengan fikiran masing - masing. Kemudian Pandu mencoba membuka pembicaraan untuk menyampaikan beberapa hal penting.


"Tari, aku serius dengan apa yang aku katakan. Jadi aku harap kamu juga membuka hatimu dan berikan kesempatan itu padaku. Percayalah padaku, untuk hal ini"


"Insyaallah mas, tapi jangan berharap terlalu lebih. Mari kita sama - sama memantaskan diri mas, kita hanya bisa berencana dan tentu saja Allah yang meridhoi mas"


"Tentu saja Tari, semoga niat baik kita diijabah oleh Allah. Selalu jaga hatimu untukku dan jangan putuskan komunikasi diantara kita"


"Insyaallah mas, suatu niat baik yang didasarkan atas kecintaan kita kepada Allah akan selalu beliau Ridhoi"


"Semoga Tari, besuk aku berangkat aku harap kepulangan ku yang akan datang kamu sudah menjadi milikku"


Perkataan Pandu sedikit membuat Tari terkejut, seharusnya perasannya bahagia mengingat Pandu mengutarakan niat baiknya. Tapi justru hal itu membuat Fikiran Tari tidak nyaman.


Gus Reyhan datang menghampiri Pandu dan Tari yang diikuti Rina dibelakangnya, mereka duduk di sofa di seberang Pandu. Jam sudah menunjukkan pukul 20:30, Pandu yang mengetahui hal itu berpamitan pada Gus Reyhan.


"Gus Reyhan, karena sudah malam saya pamit akan pulang"


"Iya mas Pandu, hati - hati dijalan jangan sungkan mampir kesini kalau sedang dikota Malang"


"Iya Gus, insyaallah"


"Kalau sudah yakin, segera diikat mas Pandu jangan sampai didahului orang. Karena Allah tidak suka kalau hal baik ditunda - tunda "


"Iya Gus, insyaallah kepulangan saya yang akan datang sudah menjadi milik saya"


Bersambung .......

__ADS_1


__ADS_2