
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Mbak sampean istirahat dulu, biar Ijah saya yang menjaga. Sampean pulang dulu biar diantar Irsyad. "
" Enggak dek, biar aku menunggu sebentar lagi. "
" Sampean bersih - bersih di rumah dulu mbak, sekalian melihat keadaan rumah. Setelah selesai sampean bisa kembali kesini. "
" Apa sampean tidak apa - apa dek ? "
" Tentu saja mbak, Bang IIrsyad antar bude mu pulang dulu. " Ucapnya memanggil anak lelakinya itu untuk mengantarkan kakak iparnya pulang.
" Enggeh buk. " Berdiri kemudian mengambil tas dan membukanya untuk mengambil kunci sepeda motornya.
" Dek Yuli, saya titip Ijah dulu ya. Nanti saya akan secepatnya kesini. "
" Mbak tidak apa - apa, sampean tidak perlu terburu - buru istirahatlah sebentar dirumah karena beberapa hari ini sampean tidak cukup tidur. "
" Iya dek, nanti Ayahnya Tari langsung akan menyusul setibanya saya dirumah. Nduk sampean harus kuat, cepat bangun kami semua merindukanmu jangan seperti ini. " dia berbisik ditelinga putri semata wayangnya itu.
" Buk, Irsyad berangkat dulu Assalamualaikum. " Irsyad menyalami Bu Yuli dan keluar dari ruangan itu diikuti Bu Fatma dibelakangnya.
****************
Sementara ditempat lain
Laki - laki berkulit hitam manis itu masih belum juga beranjak dari kamarnya, dia masih menutup dirinya semenjak kejadian itu. Dia Menyesali apa yang telah dia lakukan, pada saat itu dia benar - benar sedang dikuasai oleh amarah. Sehingga melakukan perbuatan diluar kendalinya, beberapa hari ini hidupnya hanya diisi dengan tangis penyesalan dia merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa dia melukai orang yang sangat dicintainya itu.
" Le, sampean buka pintunya ayo makan dulu biar ibuk suapi sampean. "
Tidak ada jawaban dalam kamar itu, hari - hari sebelumnya setiap Bu Darmi datang dan mengetuk pintu hanya penolakan yang dikatakan Pandu. Tapi lain dengan hari ini tidak ada jawaban penolakan, membuat Bu Darmi khawatir. Kembali diketuknya lagi pintu kamar putranya itu dengan lebih keras.
" Le, sampean tidak apa - apakan ? Ayo buka pintunya. "
Ceklek,
Suara pintu terbuka, dengan cepat Bu Darmi masuk kedalam untukn memastikan keadaan putranya itu. Hatinya lega ketika didapati putra semata wayangnya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Rambutnya acak- acakkan, Matanya sembab, dan tubuhnya tercium bau alkohol yang menjadi satu. Laki - laki dewasa itu segera berhambur ke dalam pelukan wanita paruh baya itu. Dengan penuh kasih sayang Bu Darmi mengusap pelan punggung putranya itu.
" Buk, aku tidak bermaksud menyakitinya. "
" Iya ibuk tau le, tapi cara sampean salah. "
" Aku hanya tidak mau kehilangannya buk, dia itu milikku. "
" Le sampean harus bisa menghargai keputusannya, ihklaskan dia ya. " sambil melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuh laki - laki itu untuk menatap mata putranya.
Di tuntunnya anak lelakinya itu untuk duduk di ranjangnya. Ibu dan anak itu duduk bersebelahan, Bu Darmi menggenggam erat tangan anaknya.
" Le kadang kenyataan tidak sesuai dengan harapan kita, sampean harus bisa menerimanya. Cobalah berfikir dari sudut fikir Ijah. Betapa sakit hatinya ketika dia tahu hal seperti itu, wanita mana yang tidak hancur hatinya. "
" Tapi buk, bukan berarti harus membatalkan pernikahan kami. "
__ADS_1
" Orang memiliki prinsip masing - masing le, dan dia juga memiliki itu. Ibuk harap sampean bisa menerima ini semua. Dan satu lagi penuhi kewajiban mu sekarang sebagai seorang suami. " Bu Darmi beranjak pergi dari duduknya, dan keluar dari kamar putranya.
Pandu termenung dengan semua perkataan ibunya, hatinya teramat sakit ketika mengingat penolakan Tari. Tapi saat memikirkan keadaan Tari sekarang dia lebih sakit lagi, Bu Darmi melihat putranya termenung di dalam kamar, dia hanya bisa mengelus dada berharap putranya itu segera menyadari kesalahannya.
***********
Ventilator, selang infus, dan berbagai alat penunjang kehidupan itu masih terpasang ditubuh mungil itu. Wajahnya terlihat pucat, matanya masih terpejam, karena si pemilik masih enggan untuk membukanya. Sudah beberapa hari ini dia terpejam, sama sekali belum membuka matanya semenjak dia keluar dari ruang operasi.
" Mbak, sampean jalan - jalannya jangan terlalu lama. Ayo cepat pulang, nanti tak ajak ngetril lagi ya, tenang saja aku akan pelan seperti kata mbak. Kalau mbak ngak bangun buk Fat jadi milikku lo ya. " Ucap Irsyad, dia selalu berbicara setiap kali menunggu Tari. Membisikkan hal - hal yang mereka sering lakukan, berharap Tari segera membuka matanya.
Dikeluarkannya muffrod dari tas Selempangnya, kemudian dia mulai melantunkan Kalam Ilahi dengan suara merdunya. Hal ini selalu dia lakukan setiap menunggu Tari, selain mengajaknya bicara. Tari selalu merespon setiap kali dibacakan Ayat suci Al- Quran, air matanya selalu saja menetes setiap kali mendengar alunan Ayat suci.
Sudah seminggu lamanya Tari terbaring tidak sadarkan diri, setelah operasi yang dia lakukan. Dia harus melakukannya karena mendapat luka di kepalanya yang mengakibatkan pembekuan darah pada otaknya. Operasinya berjalan lancar tapi entah mengapa sampai saat ini dia belum sadarkan diri.
Kejadian pagi beberapa hari lalu itu menyebabkan keadaanya demikian, Irhas yang tadinya ingin melepaskan Tari dari Pandu. Tanpa sengaja mendorong tubuh Tari sehingga kepalanya membentur tembok. Sedangkan Irhas sendiri juga mendapatkan luka di lengannya karena pisau yang digunakan Pandu. Tapi semua itu tak seberapa mengingat mereka masih selamat, walaupun keadan Tari masih belum sadarkan diri.
Keluarga Pak Rahmat tidak melaporkan tindakan Pandu ke Polisi karena menurut beliau masalah ini masih bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Sebagai bentuk tanggung jawab seluruh biaya pengobatan Tari ditanggung keluarga Pak Yadi. Dan setiap harinya Pak Yadi dan Bu Darmi selalu menyempatkan diri untuk melihat keadaan Tari. Dan sampai hari ketujuh setelah kejadian itu pun tidak ada perubahan, Tari belum juga membuka matanya.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
Nampak sesosok wanita cantik Dengan baju syar'inya masuk keruangan perawatan itu. Bu Yuli beranjak dari sofa yang didudukinya dan menghampiri wanita muda itu.
" Oh Mbak Rina, monggo " menghampiri wanita itu lalu menyalaminya.
" Bulik Yuli, ada Bang Irhas juga " menyalami wanita paruh baya itu dan memandang Irhas tersenyum lalu mengangguk.
"Enggeh Ning Rina, Monggo sampean duduk disini. " Ucap Irhas sambil mempersilahkan Tari duduk ditempat duduk yang dia tempati tadi.
" Sama Gus Reyhan Bulik, tapi beliau masih diparkiran sebentar lagi kesini. Belum juga ada perubahan Bulik keadaanya ? "
" Belum Mbak Rina, masih sama ya kadang sesekali meneteskan air mata.
" Assalamualaikum Tar, aku kangen sama sampean. Ayo cepet bangun, istirahatnya jangan terlalu lama Sampean ngak kangen anak - anak ayo cepat sembuh. " Sambil dibelai tangan sahabatnya yang di anggapnya seperti saudara itu.
" Buk Fat dimana Bulik, ?"
" Mbak Fat pulang Mbak Rina, saya suruh pulang sama Irsyad untuk istirahat sebentar dirumah karena keadaan beliau terlihat sangat lelah. "
Sejenak keadan hening, ketiga orang itu sibuk dengan fikiran mereka masing - masing. Tidak beberapa lama masuklah beberapa perawat untuk melaksanakan pemeriksaan disore ini. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan mengganti cairan infus yang akan habis mereka bergegas meninggalkan ruangan itu dengan catatan laporan hasil pemeriksaan pasien.
Tok, Tok, Tok.
Suara pintu diketuk dari luar, dengan segera Irhas berjalan kearah Pintu dan membukanya.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam," Serempak semua orang didalam ruangan itu menjawab.
" Gus Reyhan, Monggo silahkan masuk " Ucap Irhas Sambil menyalami tangan Gus Reyhan lalu mencium punggung tangannya. Kemudian mempersilahkan beliau masuk.
__ADS_1
Gus Reyhan berjalan menuju brangkar yang ditempati Tari untuk menghampiri istrinya sekaligus melihat keadaan Tari.
" Bulik Yuli, " Melihat kearah Bu Yuli dan menangkupkan tangannya ke dada sambil tersenyum.
" Enggeh Gus, Monggo njenengan duduk. " Mengangguk dan menangkupkan tangannya di dada. Seraya menyuruh Gus Reyhan duduk di kursi yang baru saja dibawa oleh Irhas.
" Belum ada perubahan nampaknya ...... "
" Iya mas, seperti yang sampean lihat. Baru saja tadi perawat kesini semua keadaannya baik, tapi entah kenapa dia juga belum mau membuka matanya. " Jawab Rani, dengan menghela nafas panjang.
Gus Reyhan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju sofa menghampiri Irhas. Dua lelaki itu sibuk dengan obrolan mereka yang sibuk membicarakan tentang hafalan yang dilakukan Irhas. Sedangkan Bu Yuli dan Mbak Rina masih duduk disebelah brangkar yang Tari tempati. Terdengar suara Handphone yang berdering, dengan segera Gus Reyhan mengambil handphone yang berada di saku kemejanya. Senyumnya tersungging ketika mengetahui siapa yang menelfonnya dengan cepat dia menggeser tombol Hijau.
📞 " Assalamualaikum."
📞 " Walaikumsalam."
📞 " Bagaimana keadaan sampean mas ? "
📞 " Alhamdulillah baik, dek. sebaliknya bagaimana keadaan sampean ? Bagaimana apakah sesuai rencana sampean jadi pulang ? "
📞 " Alhamdulillah baik mas, Sepertinya tidak bisa mas, karena saya berniat kesuatu tempat. Dan saya juga sudah telefon Abi dan Ummi beliau mengizinkan saya tidak pulang. "
📞 " Ouwh jadi seperti itu dek, ya sudah yang terpenting sampean fokus apa yang menurut sampean baik. Dan selalu jaga kesehatan selama disana.
Obrolan itu masih berlanjut, mereka selalu menghabiskan banyak waktu kalau sudah mengobrol. Mbak Rina menyadari suatu hal terjadi, dilihatnya jari telunjuk Tari bergerak. Kemudian pandangannya dialihkan ke arah mata Tari, bola mata itu tampak bergerak meskipun kelopaknya belum terbuka. Mbak Rina kemudian memberitahukan apa yang dia lihat kepada semua orang yang ada dalam ruangan itu. Semua orang yang ada di ruangan itu kemudian menghampiri brangkar Tari. Bola matanya masih tetap sama bergerak seolah - olah dia begitu sulit untuk membukanya.
📞 Halo mas ada apa ?
📞 Sebentar dek, jangan dimatikan sambungannya sebentar saja.
📞 Baiklah.
" Bulik Yuli sampean lihat kan, "
" Iya Mbak Rina, apa sebaiknya kita memanggil perawat. "
" Apa biasanya dia merespon seperti ini ? "
" Mboten Gus, biasanya merespon bila ada yang melantunkan Ayat Suci Al Qur'an. Responnya pun hanya meneteskan air mata. "
" Baiklah saya mengerti, "
📞 " Dek lantunkan Surat Ar- Rahman sekarang "
📞" Untuk apa mas. "
📞 " Niatkan ini untuk menjadi obat untuk seseorang."
📞 " Baiklah mas. "
📞 " Bismillahirrahmanirrahim, ..............
__ADS_1
Kemudian melouds speaker panggilannya dan diletakkan di atas nakas sebelah brangkar yang ditempati oleh Tari. Ayat demi ayat dilantunkan dengan suara jelas serta fasih. Suasana di ruangan itu sejenak menjadi hening dan tenang, semua orang disana larut dengan Ayat suci yang sedang menggema. Kembali Tari meneteskan air mata dengan mata tertutupnya, jari telunjuknya kembali bergerak diiringi mulutnya yang juga sedikit terbuka.
Bersambung ..........