Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
5. Pertanyaan Ibu


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Setelah berjalan sekitar 15 menit, sampailah kedua perempuan itu dirumah. Dengan sigap Tari membuka pintu rumahnya dengan kunci ditangannya.


"assalamualaikum" ucapnya bersamaan langkah kakinya masuk kedalam rumahnya.


"walaikumsalam" ibuk menjawab ucapan salam Tari, meskipun ibuk berada dibelakang Tari.


"buk Ijah bersih - bersih dulu ngeh, Takut waktu Dhuhanya habis"


"iya nduk, letakkan rantangnya disitu saja" ucap ibu sambil menunjuk meja kecil di dapur yang masih beralaskan tanah itu.


Tak lama setelah itu, Tari sudah selesai dengan kegiatan bersih - bersihnya dya juga sudah berwudhu. Kemudian masuk ke dalam kamarnya, dengan cepat dya mengambil mukenanya dan tak lama dya sudah bercinta dengan sajadahnya itu. Dengan mata terpejam dya mengadukan semua sesak yang dari tadi dya rasakan pada sang Penciptanya, tak sekali pun dya berani mengeluarkan suara hanya sesekali air bening yang jatuh bergantian dari pelupuk matanya.


Kegiatan tersebut berlangsung sedikit agak lama dari biasanya, tentu saja karena hari ini perasaan Tari sedikit sakit karena kejadian tadi pagi. Setelah dya rasa cukup sesi curhatnya kepada sang punya hidup dia mengakhiri kegiatan tersebut dengan berusaha melatih senyumnya kembali dan mencoba menghapus air matanya.


Dya melangkah keluar kamarnya untuk mencari keberadaan ibunya, dengan senyuman yg selalu dipaksakan mengembang. Tapi setelah lama dicari di setiap sudut rumah, tak nampak juga keberadaan wanita paruh baya itu.


Dengan tergesa - gesa Tari melangkahkan ke teras rumah tapi tak dijumpai ibunya itu. Akhirnya dengan sedikit berlari Tari menuju pekarangan belakang rumah lewat samping rumah, sambil celingukan dya mencoba mencari keberadaan ibunya.


"Oalah buk, Ijah nyarinya sampai kesana kemari gak taunya yang dicariin asik ngudang anak wedoknya yg lain"


Nampak ibuk sedang memegang ayam betina, yg sedang mengerami telur - telurnya.


"iya to dikudang, wong ini udah mau ngasih cucu ibuk lagi kok"


"buk, sejak kapan sampean cucunya berubah jadi ayam ?"


"hahaha, mau gimana nduk ini kan rezeki ibuk menganggapnya cucu wong setiap hari ibuk mainnya sama ayam - ayam ini"


"wez ibuk ada - ada saja"


"nduk ngak maem lagi ?"


"sampun buk masih kenyang"


Dua wanita tersebut nampak di kandang ayam dengan kegiatan bersih - bersihnya. Sesekali terdengar teriakan Tari karena dya memang takut sekali dengan ayam, entah mengapa ayam begitu membuatnya takut seperti itu.Terdengar tawa ibuk ketika melihat tingkah anaknya, yang sesekali mengusir ayam - ayam yg mendekati kakinya dengan sapu lidi yang dipegangnya.


"Alhamdulillah selesai buk"


"dari dulu kok ngak ilang - ilang nduk kebiasaan mu itu"


"gak tau buk, geli banget rasanya kalau Deket sama ayam"


"gimana nduk disekolah tempat sampean ngajar ?" ibu mengalihkan pembicaraannya.


"Alhamdulillah buk, semua lancar mungkin Minggu depan sudah mulai sibuk soalnya sudah mau akhir semester buk"

__ADS_1


"yang amanah Yo nduk sama pekerjaanmu, jangan pernah menjadikan itu beban"


"enggeh buk, insyaallah"


"nduk ibuk mau tanya sesuatu tapi jawab yg jujur"


"enggeh buk"


"sampean belum bisa ikhlas nduk ?"


Sejenak Tari terpaku dengan pertanyaan ibunya, apa beliau tadi melihat kejadian disawah. Dengan mencoba menetralkan fikirannya agar jawaban yang dikeluarkan sesuai dengan keinginan ibunya.


"Alhamdulillah, sedikit demi sedikit sampun buk" suaranya terdengar sedikit bergetar.


"tenan to nduk ?"


"enggeh buk, sungguh tari benar - benar ikhlas buk atas semua ini"


"cobalah buka hatimu nduk, karena ngak selamanya kamu hidup seperti ini ayah ibumu sudah tua nduk kamu butuh teman hidup"


"enggeh buk Ijah mengerti, tapi saat ini Ijah masih fokus sama sekripsi Ijah buk" Alhamdulillah setidaknya sekripsiku ini bisa kubuat alasan untuk pertanyaan ibuk, maaf buk harus berkata seperti ini, batin Tari.


"syukur kalau sampean sudah bisa ikhlas nduk"


"enggeh buk"


"nduk, sampean mw dibekali apa nanti ?"


Kebiasaan ibu Tari selalu membekali anaknya ini dengan masakan yang agak tahan lama untuk anaknya setiap kali dya kembali ke Malang.


"sambel pecel sama sambal goreng kentang kering Yo nduk"


"enggeh buk, ayo buk kita buat bersama - sama"


Dengan bergelendot ditangan ibunya Tari masuk menuju dapur, dengan sigap dya mencari bahan - bahan yang dibutuhka mbuat kedua masakan tersebut. Mereka membagi tugas untuk meringankan pekerjaan itu, Tari mengupas kentang dan bumbu - bumbu sedangkan ibuk menyangrai kacang tanah untuk dijadikan sambel pecel.


Setelah sekitar satu mereka bergelut dengan alat tempur di dapur itu akhirnya dua masakan kesukaan Tari itu matang. Dengan bersamaan sang ayah pulang dari sawah. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11:35 dan tak lama terdengar suara adzan dhuhur berkumandang.


"buk, Ijah mandi dulu ya sudah duhur"


"iya nduk, tapi ambilkan ibuk plastik dulu"


"enggeh buk"


Tari melangkah menuju lemari yang ada di dapur itu untuk mencari plastik itu tak lama kemudian dya menemukannya, lalu dibawanya kearah ibunya.


"dibawa semuanya ya nduk"

__ADS_1


"mboten buk, la ibuk sama ayah ?"


"ibuk sama ayah gampang nduk, yang kemarin masih kok"


"bagi dua plastik ngeh buk, biar tak kasih mbak Rina nanti"


"Oalah nduk tadi kok GK bilang, taunya gitu bikinnya ditambahi"


"mboten nopo - nopo buk, Niki sudah cukup"


"sampun buk, Ijah mandi"


Akhirnya Tari mandi jaga, dya mandi dengan sedikit tergesa - gesa karena ayahnya sudah menunggu diluar dengan hajat yang sama. Sama - sama ingin mandi karena baru saja pulang dari sawah, karena dirumah Tari hanya ada satu kamar mandi tak heran jadi mesti bergantian kalau ingin mandi. Tak lama kemudian Tari sudah keluar dari kamar mandi.


"sampun yah, monggo" mempersilahkan ayahnya untuk segera masuk ke kamar mandi.


"wes mari to nduk, sebentar sekali apa sudah bersih sampean mandinya ? " ayahnya mencoba menggoda Tari.


"sampun yah"


Tari melanjutkan langkahnya ke kamar, lalu dya mengambil mukenanya dan menggelar sajadahnya. Tak lama kemudian dya sudah selesai dengan kegiatannya dengan sang Penciptanya itu.


Saat melihat tasnya dya teringat bahwa selama dirumah dya sama sekali tidak menyentuh handphonenya, memang seperti Tari setiap kali dirumah hanya terfokus dengan kegiatannya dengan kedua malaikatnya itu. Kemudian dya bergegas mengbil handphone yang ada dalam tasnya, didapati handphone itu tengah mati. Lalu dya mengambil charger handphone, dan mengecharger hp itu sambil mencoba membukanya. Didapati puluhan notifikasi masuk, dipesan WhatsApp nya kebanyakan dari grup yang dya ikuti.


Dibukanya semua pesan yang masuk satu persatu, kemudian melihat pesan terakhir dari temannya.


✉️ sudah nyampek rumah belum ?


Iya itu pesan dari mbak Rina, dya selalu menanyakan hal itu kepada Tari. Mbak Rani selalu menganggap Tari sebagai adiknya jarak umur mereka sekitar 3 tahun, itu yang membuat mbak Rina menganggap seperti itu.


✉️ assalamualaikum mba, maaf ya baru bales baru buka hp soalnya hehehe .......


Seneng sekali ya sebenarnya kalau punya saudara, apalagi yang perhatian seperti ini batin Tari


Tak berapa lama terdengar notifikasi pesan masuk.


✉️ walaikumsalam, bocah nakal selalu saja seperti itu. iya nanti kamu balik jam berapa ..? aku ini di Blitar lo nanti sekalian tak jemput.


✉️wah, keblitar gak mampir 😪😪


✉️gimana mau mampir wong kamunya diWA saja ngak dibales.😤😤


✉️hehehehe, seperti biasa mba AQ rencana balik Kemalang setelah ashar


✉️ok, nanti aku jemput ya


✉️enggeh mbak endel, 😁😁

__ADS_1


Dya merebahkan tubuhnya di kasur udangnya itu memandang ke langit tampak berjajar genteng rumahnya yg mulai usang, tak lama berselang dya nafasnya sudah tampak teratur menandakan siempunya tubuh sudah ke alam mimpi.


bersambung......


__ADS_2