Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
70. Musibah


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Musibah datang dengan berbagai tujuan, bisa jadi sebagai pengingat, teguran dan bisa juga sebagai wujud kasih sayang - Nya kepada kita.


Tari duduk di bangku depan ruang ICU, malam ini udara terasa lebih dingin dari malam kemarin. Dia menekuk tangannya diatas perutnya berusaha menghalau hawa dingin yang menembus sampai ke tulangnya. Malam sudah mulai sepi hanya tinggal beberapa perawat, serta keluarga pasien yang sedang menunggu keluarganya yang sedang dirawat sama dengan dirinya sekarang.


" Mbak bagaimana Ayahnya ? " Tanya seseorang yang baru saja duduk disebelahnya.


" Alhamdulillah Pak, sudah lebih baik dari kemarin. Insyaallah kalau keadaanya terus membaik besuk sudah bisa dipindahkan keruangan perawatan. "


" Alhamdulillah kalau begitu, Tidak ada yang menggantikan mbak saya lihat dari kemarin hanya mbak saja yang menunggu Ayahnya. "


" Ngeh Pak, anaknya hanya saya. "


" Yang sabar ya Mbak, "


" Insyaallah Pak, "


" Mari Mbak masuk, udaranya semakin dingin. "


Tari mengikuti langkah laki - laki paruh baya itu masuk kedalam ruang ICU, dilihatnya tubuh ayahnya yang terbaring diatas brankar. Nampak slang infus dan beberapa kabel menancap ditubuh laki - laki paruh baya itu. Saat di bawa ke sini keadaannya kritis karena mengalami serangan jantung, namun sejak sore tadi keadaanya terus membaik.


Diangkatnya selimut sampai ke dada ayahnya, kemudian menyeka keringat yang ada di pelipis laki - laki paruh baya itu. Diambilnya tangan ayahnya itu diusap dengan pelan, tangan yang memberinya kehidupan sampai sekarang. Tangan yang menenangkannya dikala dia gusar, Tangan yang selalu merengkuhnya dikala dia merasa sendiri, dan tangan yang selalu menuntunnya ke setiap tujuan hidupnya.


" Kenapa nduk ? "


" Maafkan Tari yah, "


" Kenapa sampean minta maaf ? "


" Maaf Tari belum bisa membahagiakan Ayah. "


" Kehadiran mu itu sudah kebahagian dari Ayah nduk. "


Kembali dielusnya tangan yang sudah keriput itu, kemudian menyiumnya lalu digenggamnya erat. Terasa hangat sekali tiada kehangatan yang mampu menandingi kehangatan genggaman seorang ayah untuk anak gadisnya. Selain memberikan kehangatan juga memberikan ketenangan.


Malam yang dingin digantikan dengan pagi yang hangat. Benar saja keadaan ayahnya terus membaik, sepertinya pagi ini ayahnya sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan biasa. Setelah menunggu dokter visit akhirnya ayahnya dipindahkan keruang perawatan biasa.


Di ruangan perawatan yang seharusnya terisi dengan 4 pasien, saat ini hanya terisi 2 pasien. Seorang anak remaja dirawat karena mengalami sakit typus yang menjadi teman sekamarnya. Suasana di ruang perawatan lebih bersahabat dari pada diruang ICU.


" Mbak mari sarapannya Ayahnya. "


" Enggeh Buk, "


" Masnya sudah berapa hari di rawat di sini Buk ? "


" Sudah 4 hari ini Mbak, biasa anak remaja Mbak suka jajan sembarangan tapi tidak mau makan teratur. ,"


" Enggeh Buk, "


" Ayahnya sakit apa Mbak ? "


" Ada penyumbatan darah di otak kecil Buk, bisa dibilang gejala stroke "


Selepas Dhuhur Bu Fatma datang bersama Bulik Yuli, wanita paruh baya itu datang untuk mengantikan Tari berjaga di rumah sakit. Selama dua hari dua malam Tari menjaga ayahnya sendiri, karena keadaan Bu Fatma yang tak mungkin menemaninya menjaga ayahnya. Bu Fatma juga memilik penyakit hipertensi, karena kejadian kemarin sempat membuat tekanan darahnya naik.


Pagi tadi Tari memberi kabar pada ibunya, bahwa ayahnya sudah lepas dari masa kritisnya dan juga sudah di pindahkan ke ruang perawatan biasa. Jadilah kedua wanita itu disini untuk mengantikan Tari sejenak agar dia pulang untuk beristirahat.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


Kedua wanita paruh baya itu masuk kedalam ruangan, Tari yang melihat hal itu segera menghampiri kedua wanita itu lalu menyalami mereka dengan takzim.

__ADS_1


" Buk, raose sampun sekeco ? "


" Uwez nduk, piye keadaane ayah. "


" Alhamdulillah Buk, sampun sekeco. Bulik mboten jualan to ? "


" Nduk, besuk - besuk kalau ada apa - apa langsung hubungi Bulik atau Paklik mu jangan seperti ini lagi. Bagaimanapun kita ini keluaraga. " Bu Yuli mengucapkannya penuh penekanan.


" Ngapunten ngeh bulik, saya hanya merasa tidak enak kalau merepotkan sampean. "


" Kita ini keluarga sudah sepatutnya saling membantu, tidak ada merepotkan atau direpotkan nduk antara keluarga itu. "


Sebenarnya bukan Tari tidak ingin memberitahu kepada Paklik dan buliknya tapi mengingat kesibukan mereka Tari merasa sungkan. Pak Rudi suami dari Bu Yuli adalah saudara satu - satunya yang ayah Tari miliki, maka hubungan mereka sangat dekat satu sama lain.


" Nduk, sampean pulang dulu istirahat lah dulu dirumah besuk pagi barulah kesini. "


" Mboten Buk Njenengan, saja yang pulang. "


" Nduk Tar, malam nanti Paklikmu juga ke sini. Jadi malam ini biar kami yang berjaga, sampean istirahatlah dirumah besuk pagi baru kesini. " Bu Yuli juga ikut menasehati keponakannya itu.


Setelah perdebatan yang cukup alot dia menurut dengan keputusan dua wanita paruh baya itu. Dia pulang ke rumah mengunakan bis, setelah sampai dirumah dia segera membersihkan diri dan melakukan kewajibannya.


Tari sudah berbaring di kasurnya, walaupun kasur itu tak terlalu besar dan juga tak terlalu empuk namun baginya ini tempat ternyaman baginya. Dua malam tidur dirumah sakit dengan keadaan seadaanya, cukup membuat tubuhnya terasa pegal. Tanpa dia sadari matanya sudah tertutup dan nafasnya mulai teratur padahal dia belum lama merebahkan tubuhnya.


Sayup - sayup suara Adzan Maghrib terdengar, seolah bagaikan alarm yang membangunkan gadis itu. Dia meregangkan tubuhnya, duduk terlebih dahulu berusaha mengumpulkan kesadarannya. Setelah dirasa kesadarannya telah kembali dia menuju kamar mandi mensucikan diri kemudian tenggelam diatas sajadah sampai waktu Isyak usai.


dddrrttt..... dddrrrttt ..... dddrrttt


📞 Assalamualaikum


📞 Walaikumsalam


📞 Maafkan apa yang sudah dilakukan keluargaku.


📞 Aku tidak menyangka keluargaku sampai berbuat nekat seperti itu.


📞 Tidak usah menyalahkan siapapun ini memang musibah yang harus aku terima.


📞 Sekali lagi maafkan aku.


Tari menghela nafas panjang, dilihatnya layar handphonenya yang masih memperlihatkan nama kontak yang baru saja menghubunginya. Jarinya kembali memijat benda pilih itu, beralih menekan ikon berwarna gagang telefon berwarna hijau. Di sana banyak sekali pesan masuk untuknya yang belum sempat dia buka.


✉️ ( )


Allah mendatangkan musibah untuk menguatkan kita, tetap ihklas dan bersabar atas semua.


✉️ ( AZ - Azzar Wardah )


Mbak bagaimana keadaan ayah sampean ? selalu jaga kesehatan, tetap semangat ya.


✉️ ( Mbak Rini )


Tar, bagaimana keadaan ayah sampean ? Semoga segera diberi kesembuhan, sampean yang kuat dan sabar ya.


✉️ (AZ - Azzar Pak Rizki )


Surat ijin mu sudah aku urus, jangan khawatir. Tetap fokus dengan kesembuhan ayahmu, selalu sabar dan ikhlas.


Beberapa pesan yang nampak dilayar handphone miliknya, Tari enggan untuk membalasnya dia hanya membukanya, dan melihat beberapa pesan dari grup yang dia ikuti. Dia merebahkan kembali tubuhnya ke kasur miliknya,


Pagi - pagi sekali dia sudah berangkat ke rumah sakit yang letaknya satu jam perjalanan menggunakan bis dari rumahnya. Sebelum berangkat tadi dia sempat memasak untuk bekalnya ke rumah sakit.


" Pagi sekali nduk datangnya ? "

__ADS_1


" Enggeh Bulik, tadi pekerjaan rumahnya cepet selesai makanya cepat kesini. Ayo Bulik kita sarapan dulu. "


Sebelum sampai keruangan ayahnya dirawat dia terlebih dahulu bertemu dengan Bu Yuli yang baru saja dari kantin rumah sakit untuk membeli Teh hangat. Mereka berdua kemudian berjalan bersama menuju ruangan dimana ayahnya dirawat.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam, sudah datang nduk pagi sekali. "


" Enggeh buk, Alhamdulillah pekerjaan dirumah cepat selesai.


Tari berjalan menghampiri brankar ayahnya, nampak Pak Rahmat duduk dengan bersender bantal dibelanya, wajahnya tak nampak sepucat kemarin. Diraihnya tangan sang ayah, kemudian menciumnya dengan takzim. Dia mendudukkan tubuhnya di bangku sebelah brankar ayahnya.


" Pagi sekali nduk, " Ucap laki - laki paruh baya itu.


" Tari mboten betah Yah, sudah kangen ayah terus. " jawabnya sambil mengelus senyum.


" Halah, kok koyok bocah ae. "


" Memangnya Tari ngak boleh kangen sama Ayah, Tari suapain ya Yah. "


Laki - laki paruh baya itu menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan, Tari membuka kotak bekal yang dibawanya tadi. Pagi tadi dia memasak bubur ayam dengan kuah soto. Diambilnya alat makan yang tersimpan diatas nakas lalu mengisinya dengan makanan yang dia bawa tadi. Dengan telaten dia menyuapi ayahnya tanpa terasa satu mangkuk penuh bubur ayam tandas.


" Walah tibane wes waras " Celoteh Paklik yudo yang baru saja masuk.


" Lah seng ngomong aku loro Yo sopo. " Jawab Pak Rahmat enteng.


" Lek ngak loro, la nyapo dadak Nang kene. Pindah tutu ngunu ta ? ........... "


Seisi ruangan tergelak mendengar candaan kedua kakak beradik itu, yang selalu dilakukan dikala mereka sedang bersama.


" Lah Yo ngene nguyu, Ra sah loro. Kae lo sawahe wes wayahe maculi. "


" Masio ngenekan sek kuat macul sawah, lah timbang kono. "


" Tuman lek awor mesti kerah. Ra eling umur, wong wes podo tuone. " Jawab Bu Yuli sekenanya.


" Husztt......... lek guyon Ojo banter - banter " Bu Fatma mengingatkan sembari meletakkan jari telunjuknya di depan mulut.


Sudah 5 hari Pak Rahmat dirawat di rumah sakit dan selam itu Tari selalu mendampingi Ayahnya, terhitung hanya satu kali dia pulang. Itupun dia lakukan karena di paksa oleh ibunya, selebihnya dia selalu berada di sisi ayahnya. Kalau pemeriksaan pagi ini hasilnya baik mungkin nanti siang Pak Rahmat sudah di perbolehkan pulang.


" Yah bagaimana rasanya, apa masih pusing ? "


" Ayah ini sudah sehat nduk, sudah tidak ada yang bapak keluhkan. Ayah itu hanya pingin cepat - cepat pulang saja. "


" Kita pasti pulang Yah, tapi keadaan Ayah harus sehat betul. "


Tiba saatnya visit dokter, sesuai perkiraan awal bahwa benar keadaan Ayahnya sudah baik jadi diperbolehkan untuk pulang siang ini. Tari berjalan menuju ke tempat administrasi untuk menyelesaikan pembayaran. Dia sedikit was - was kalau - kalau uang di ATMnya tidak mencukupi. Sebenarnya kedua orangtuanya sudah melarangnya untuk membayar menggunakan uangnya, tapi Tari versi Kukup untuk tetap membayar menggunakan uang yang dia miliki.


" Permisi Sus saya ingin mengurus administrasi pasien atas nama Bapak Rahmat dengan TTL 19 Mei **** Alamat Blitar "


" Iya Mbak sebentar kami periksa dahulu. "


Kemudian perawat memberikan cetakan rincian biaya dalam beberapa lembar yang sudah dijadikan satu. Tari memeriksanya dari lembaran pertama hingga lembaran ke empat dimana semua rincian biaya ada disana. Dia terkejut ketika membaca dimana nominal semua rincian biaya itu sudah ditulis dengan kata lunas.


" Sus, kenapa disini sudah tertulis lunas ? "


" Pembayaran administrasi atas nama Bapak Rahmat memang sudah lunas mbak.


" Saya walinya sus, tapi saya merasa belum membayarnya. "


" Saya periksa sekali lagi ya Mbak, " Suster itu dengan sigap memeriksa di layar kompu-ternya dan hasilnya sesuai dengan kertas yang sudah tercetak bahwa administrasi atas nama Bapak Rahmat memang sudah lunas dengan sistem pembayaran via transfer.


" Mbak memang sudah lunas, pembayarannya via transfer atas nama ....... "

__ADS_1


Bersambung .......


__ADS_2