Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
17.Bucin


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Suara bising dari knalpot kendaraan serta kepulan asap dari knalpot senantiasa mengiringi sepanjang perjalanan. Sore ini terasa sedikit panas dari biasanya, Matahari yang sudah akan memasuki peraduannya tertutup oleh kumpulan mendung yang sedang bergelut. Apakah disetiap mendung akan terjadi hujan ? itu adalah pertanyaan yang akan selalu muncul ketika langit dipenuhi awan hitam itu. Terlebih sekarang adalah musim kemarau apakah mungkin akan terjadi hujan disore yang panas ini.


" Mas Rahmat, panas sekali ya ?, saya suka heran dengan cuaca akhir - akhir ini yang gampang berubah "


" Iya Mas Yadi, ini keringat saya sudah seperti orang habis marathon "


" Mbak Fatma, sebaiknya kita mampir ke Tra** Stodio dulu ya. Itung - itung sambil jalan sekalian cari makan "


" Mbak Darmi saya ngikut saja, saya kurang faham dengan tempat seperti itu hehehehe "


" Nduk, Ijah bagaimana menurut sampean ? "


" Terserah Bude saja, Ijah ikut "


" Apa sampen sudah kesana nduk ? "


" Belum bude, Ijah belum tau tempatnya juga cuma pernah dengar saja "


" Apa sampen gak pernah jalan - jalan to nduk selama di Malang ?"


" Jarang bude, saya keluar pas ada hal yang saya butuhkan biasanya ke Gra***** di dekat Alun - Alun itu saja. "


" Nanti kalau Pandu pulang ajaklah dia berkeliling kalau perlu liburan kemana ketempat yang kalian ingin kunjungi, ke Bali, Jogja, atau Bandung mungkin "


" insyaallah Bude "


Mobil itu masih mencoba keluar dari kemacetan, karena ini malam Senin jelas saja kendaraan padat karena banyak orang yang beraktifitas diluar menggunakan mobil pribadi yang menambah kemacetan yang ada. Malang kota kecil di Jawa Timur yang bersolek diri menjadi kota metropolitan kecil dengan segala kerunyamannya. Nampak gedung - gedung tinggi dibangun dan banyak mall - mall baru bermunculan.


sampailah mobil itu pada tujuan mereka yaitu mall baru yang menyediakan indoor park untuk keluarga yang cocok dinikmati dari segala Sekmen umur. Bukan cuma sekedar wahana taman bermain saja, tapi juga terdapat pusat perbelanjaan dan berbagai macam cafe yang memanjakan lidah para pengunjung.


Mereka tiba tepat saat adzan Maghrib berkumandang, mereka bergegas segera menuju mushola dan menunaikan shalat Maghrib berjamaah. Setelah selesai sholat berjamaah mereka berjalan kearah food court untuk mengisi perut mereka yang terasa lapar. Mereka sudah memesan semua makanan sesuai keinginan mereka masing - masing.


" Pak, sampean GK takut kolesterol sampean to ? ibuk saja ngeri sama kuah gulai itu "


" Tenang Bu sudah ada penangkalnya " jawab Pak Yadi sambil mengangkat segelas air jeruk hangat.


" Awas Lo ya, yang penting ibuk sudah mengingatkan "


" Tenang buk, sekali - kali lah buk. Jangan buat malu bapak ada calon besan ini. Nanti saja ya marahnya "


" Mbak Darmi, Mas Yadi apa kolesterolnya sering tinggi ? "


" Iya, Mbak Fatma. Saya suka khawatir mbak makanya saya suka marah kalau bapak makannya mulai ngawur "


" Ayahnya Ijah dulu juga begitu mbak, tapi semenjak saya buat kamu godokan Alhamdulillah Mbak sudah tidak pernah tinggi mbak "


" Wah bagus itu mbak Fatma, Buk sampean belajar sama Mbak Fatma biar bisa buatkan buat bapak "


" Iya Pak Yudi nanti sekalian saya buatkan, saya selalu buat dalam jumlah yang banyak "


Kedua keluarga itu makan dengan menu yang mereka pilih masing - masing, keakraban begitu terasa diantara mereka. Acara makan pun sudah selesai tapi mereka belum beranjak dari tempat duduk mereka, entah apa yang mereka bicarakan karena terdengar suara tawa disela - sela obrolan mereka.


Mereka memutuskan untuk segera mengantar Tari menuju asrama, karena waktu sudah cukup malam belum lagi perjalan yg ditempuh dari mall tersebut menuju asrama yang membutuhkan waktu sekitar waktu 45 menit dijam normal. Tapi karena ini hari Minggu malam Senin suasana jalan pun begitu padat. Mereka tiba di asrama tepat pukul 20:30, mobil itu langsung masuk menuju area parkir di depan mushola.


Rupanya kegiatan menyetor hafalan malam itu masih berlangsung, beberapa santri masih nampak di dalam masjid menunggu giliran menyetorkan hafalan mereka. Semua penumpang itu turun dari mobil, nampak Pak Yadi dan Bu Fatma heran melihat sekaligus mendengar kegiatan di dalam masjid itu. Mbak Rina yang mengetahui kedatanngan mereka bergegas keluar masjid untuk menyapa mereka.


" Assalamualaikum, Ayah Ibuk "


" Walaikumsalam " ucap mereka serayaenoleh kearah mbak Rina


" Mbak Rina, tumben sampean belum pulang ? "


" Itu Gus Reyhan belum selesai dengan urusan Beliau " sambil menunjuk ke arah dalam mesjid.

__ADS_1


" Apakah setiap hari kegiatannya seperti ini nduk ? "


" Enggeh pakde, untuk kami menyetorkan hafalan atau saling membetulkan dan menjaga hafalan kami "


" Loh Tar, ayo tamunya diajak keruang tamu saja. Disana saya rasa ngobrolnya lebih enak "


Mbak Rina memimpin mereka berjalan ke ruang tamu yang berada di sebelah masjid, diikuti dengan ibu Darmi, ibu Fatma dan Tari sedangkan dua lelaki paruh baya itu mengekori ketiga wanita itu dibelakangnya. Mbak Rina mempersilahkan mereka duduk diruang tamu itu.


" Mari Pak, Bu, Ayah. Diminum tehnya "


" Oalah Ning Tari, kami jadi merepotkan sampean "


" Mboten yah, sudah selayaknya saya menyambut njenengan. saya saja selalu disambut dengan istemewa lalu berkunjung kesana. Oh iya maaf, Bapak dan Ibu ini siapa ? "


" Calon mertuanya Ijah, Ning Tari "


" Owh, apakah orang tuanya mas Pandu ? "


" Iya Mbak, kami orang tuanya Pandu. Lo mbaknya apa sudah tau dengan anak saya ?


" Sampun Bu, Mas Pandu sudah 3 kali kesini dan kami pun sudah pernah makan bersama. Alhamdulillah bu kalau sudah ada niatan baik diantara mas Pandu dan Tari "


" Tari ? " ucah Bu Darma merasa belum dengan nama Tari.


" Owh, kalau disini dan disekolah saya dipanggil Tari bude. kalau ada dirumah baru dipanggil Ijah "


" Memangnya siapa nduk nama panjang sampen, Bude ya ngikut saja wong semua panggilnya Ijah "


" Nyimas Khodijah Bramastari Mbak nama panjang Ijah, "


"Olah nama sebagus itu manggilnya kok Yo Ijah, yang tidak tahu ya dikira nama pembantu yang kaya di tivi - Tivi itu "


Sontak semua orang yang berada di dalam ruangan tertawa mendengar perkataan Bu Darmi.


" Assalamualaikum "


" Wah rupanya ada tamu, apakah sudah lama Bapak dan Ibuk ? Maaf saya masih disibukkan dengan urusan santriwati "


" Mboten Gus, " Para lelaki berjabat tangan sedangkan yang perempuan hanya menangkupkan tangan di dadanya.


" Ayah ada angin apa yang membawa njenengan datang kemari, biasanya sekalipun kami ajak njenengan tidak mau "


" Anu Gus, Kami hanya mengantar Ijah "


" Apa sekarang Ijah semanja itu sampai harus diantar yah ? "


Mbak Rina datang dari dalam membawa secangkir jahe panas untuk suaminya, Dan meletakkan di depan suaminya.


" Mboten Gus, Ayah dan ibuk datang itu untuk mengantarkan calon besan mereka. Mereka berdua orang tuanya Mas Pandu Gus " jawab mbak Rina mencoba menjelaskan kepada suaminya yang nampak ingin tahu maksut dan tujuan orang tua Tari yang tiba - tiba mengantarkan Tari.


" Alhamdulillah kalau seperti itu, karena niatan yang baik tidak boleh di tunda - tunda kerena sesungguhnya godaan setan itu amat nyata "


" Monggo Pak, Bu tehnya diminum " ......


Banyak hal yang mereka obrolkan tentang asrama yang ditinggali Tari dan tentang niatan baik yang diinginkan keluarga Pandu. Gus Reyhan dan Ning Rina begitu bahagia mendengar kabar lamaran yang akan segera dilakukan.


" Gus, "


" Enggeh pak "


" Apa mbak yang membuatkan teh tadi salah satu pengasuh disini " mengalihkan pandangan ke mbak Rina yang masuk menuju ruangan dibelakang ruang tamu.


Gus Reyhan yang mendapatkan seputar istrinya tersenyum simpul,


" Bukan pak, dia mantan alumni santriwati disini pak. Tapi pengasuh saya kalau sedang dirumah "

__ADS_1


" Maksutnya Gus " Pak Yadi berusaha mencari jawaban yang diinginkan.


" Dia istri saya pak "


" Ternyata sudah bersuami " ucap pak Yadi sambil menghela nafas panjang.


" Maksut bapak apa " Tatapan Bu Darmi penuh selidik.


" Tidak Bu saya hanya sedang mengagumi ciptaan Allah saja hehehehe "


" Apa ibu ini kurang indah apa cobak, kok pakek alasan mengagumi ciptaan Allah segala "


" Aduh pak jangan direbut ya saya berjuang ya setengah mati Lo pak untuk mendapatkannya "


" Sungguh Gus ? "


" Iya Pak, saya sudah jatuh cinta dari pandangan pertama, pada saat itu istri saya masih umur 15 tahun dan baru masuk jenjang MA. Saya menunggu sampai 9 tahun untuk mengutarakan maksut hati saya untuk menjadikannya halal untuk saya "


" Selama itu Gus nunggunya ?, wah Gus Reyhan ini kurang gercep ( gerak cepat ) kalau saya langsung tak lamar. Soalnya takut banyak saingan.


" Saya menunggu kesiapan pak, banyak sekali yang ingin mengkhitbahnya tapi selalu dia tolak. Dengan alasan menunggu seseorang, ternyata yang di tunggu saya pak begitu saya mengutarakan niatnya langsung diiyakan pak. "


" Hebat sekali sampean Gus "


" Bagaimana gak diterima Pak wong setiap kali saya mau dikhitbah orang saya selalu dikirimi surat. Tunggu saya mengkhitbahmu dan bodohnya saya meng iyakan pak padahal saya tidak tahu siapa yang mengirim surat itu.


" Ya begitu itu Gus, Ning yang namanya jodoh tidak ada yang tahu "


" Enggeh Bu, tapi bisa diusahakan " ucap Gus Reyhan sembari menatap istrinya penuh cinta.


" Bagaiman maksutnya Gus ?"


" Ingat Allah yang mampu membolak balikan hati umatnya, Beliau mampu mengadakan yang semula tidak ada dan meniadakan yang semula ada. Mengeraskan hati manusia yang semula lembut, dan melembutkan hati manusia yang semula keras. Sebaiknya sebelum kita mengejar cinta ciptaan-Nya alangkah baiknya kalau kita mengejar cinta sang Pencipta. "


" Jadi seperti itu ya Gus "


" Ya kurang lebih seperti itu pak "


Jam menunjukkan pukul 21:00, mengetahui hal itu Pak Rahmat segera berpamitan kepada Gus Reyhan dan Ning Rina. Mereka berjalan menuju parkiran di depan mushola diikuti langkah kaki Gus Reyhan, Ning Rina dan Tari untuk mengantarkan kedua pasang orang tua itu untuk kembali ke Blitar.


" Jaga diri ya nduk, ibuk tinggal dulu "


" Enggeh Buk " Ucap Tari sambil menyalami kedua malaikatnya dan kedua orang tua Pandu.


" Mari Gus, Ning kami pulang dahulu Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


Mobil sudah melaju meninggalkan pintu gerbang asrama menuju jalan raya besar menuju yang berada diujung belokan.


" Tari, jaga selalu binar kebahagian di wajah orang tuamu itu "


" ehmz, Insyaallah mbak "


" Sampean beruntung sekali masih bisa melihat dan merasakan kasih sayang kedua orang tuamu maka jagalah baik - baik. Sakit Tar rasnya seperti aku yang tak pernah merasakan kasih sayang orang tua "


" Sayang, apakah aku yang menyayangimu ? bahkan aku sudah menjadi ibu, ayah, kakak, adikmu dan tentunya menjadi suami terbaikmu. Apa kehadiranku belum cukup ? "


" Sebucin itukah mbak Gus Reyhan ? "


" Ini belum seberapa Tar, cukup aku saja yang mendengar kalau tidak telingamu akan mules mendengar polusi pendengaran "


" Nanti sampean kalau sudah halal sama Pandu bisa lebih dari saya bucinnya "


" Semoga tidak Gus " ucap Tari sambil berlalu menuju kamarnya badannya terasa lemah dan letih. Ingin rasanya dia segera merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


Bersambung .........


__ADS_2