
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam, " Ucapan salam yang dibalas dengan suara malas dan garukan di kepala oleh Gus Syam.
Sementara tamu yang tak diundang itu sudah masuk, melewatinya dengan wajah yang riang. Sedangkan Gus Syam kembali menutup pintu dengan malas, membayangkan acara liburannya pasti akan terganggu dengan adanya sang pengacau yang baru saja datang.
" Aounty, Mikha susul ni "
" Loh Mikha, " Jawab Tari yang kaget dengan kedatangan Rina bersama sang putra.
Rini menghampiri Tari yang masih duduk di meja makan, duduk di kursi bekas duduk Gus Syam tadi. Mengetahui keberadaan Tari, Baby Mikha langsung saja menggerakkan tangannya kearah Tari dengan ekspresi muka seolah akan menangis. Tari yang mengetahui hal itu segera mengambil bayi gembul itu dari tangan Rini.
" Mikha, aduh tambah gembul aja ya. Aounty kangen ...... " Ucapnya sembari menciumi kedua pipi gembul bayi itu dengan gemas, yang membuat bayi itu tertawa.
" Cepat banget Mbak nyampainya ? "
" Iya kita berangkat setelah subuh, hihihi ....... Biar kalian pacarannya ngak lama - lama. "
" Heran deh sama kalian bertiga sukanya ganggu orang saja, Ngak bisa buat acara sendiri bisanya ngintilin orang aja. " Gerutu Gus Syam yang datang bersama Gus Reyhan.
" Hahahaha, Yo seneng tah ndelok sampean ngenes. " Jawab Rini yang sekarang sudah mulai menyuap nasi ke Dalma mulutnya.
Pagi itu mereka lewati dengan saling bercanda satu sama lain, menghabiskan waktu seharian penuh di area penginapan. Sore ini mereka memilih untuk menghabiskan waktu berkeliling area kebun petik buah, yang menjadi salah satu wahana di tempat mereka menginap. Ada beberapa jenis buah yang dapat mereka petik disini diantaranya jeruk manis, strawberry, dan apel tentunya yang menjadi primadonanya. Setelah seharian ini bersama Baby Mikha yang semula tidak mau dengan Gus Syam sekarang malah berbalik, bayi gembul itu enggan sekali lepas dari gendongannya.
Tari dan Rina sangat antusias sekali dengan kegiatan mereka sore ini. Memeriksa apel dari pohonnya secara langsung merupakan pengalaman pertama mereka. Sedangkan kedua suami mereka hanya mengikuti mereka dari belakang.
" Kapan Mbalik nang Malang. "
" Mene isuk, Dino Senin sidang Mas. Rabu, Kamis acarane Rizki mari iku mbalik Jakarta. "
" Loh, sek mbalik Jakarta yah ? "
" Iyo tah, minggu ngarep sumpah dokter. "
" Lah Tari ? "
" Kate tak kongkon prei mulang, tapi durung tekan kate ngomong. Iling kedadean wingi gak tego Mas aku kate ninggal dhewe. " Pikirannya kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu yang menimpa istrinya itu.
" Yoh, benere iku wong lek wes rumah tangga iku, ojok sampek pisah omah. "
" Makane, mInggu ngarep kate tak jak nang Jakarta ae. Emben lek aku uwes mari intership wes penempatan lek areke kate mulang maneh yo gak popo.
" Lah Yo ngunu apike, Ammine Mikha ae Yo wez Kate mulang maneh aku Yo ngak nglarang malah tak dukung. "
Kedua wanita itu datang menghampiri mereka dengan masing - masing keranjang yang penuh berisi apel. Setelah dari tempat petik apel itu mereka bergegas kembali ke cottege milik mereka masing - masing karena hari sudah cukup sore. Mereka berjanji akan bertemu selepas Isya untuk makan malam bersama.
Selepas sholat Maghrib berjamaah waktu menunggu sholat Isya mereka habiskan dengan membaca Alquran. Saling menyimak bacaan satu sama lain. Hingga waktu Isyak tiba mereka segera sholat berjamaah kembali dan bersiap - siap untuk makan malam.
Mereka berjalan kearah restauran yang letaknya di atas bukit cottege milik mereka, menapaki jalan setapak dengan batu putih yang hanya disinari oleh obor di kiri kanan. Sementara restaurant tempat mereka makan yang terletak diatas bukit terdiri dari dua area, indoor dan out door. Dari restaurant ini nampak pemandangan Kota Batu yang penuh dengan kelap kelip lampu. Saat mereka tiba di atas ternyata Rina dan suaminya sudah menunggu mereka di area indoor. Suasana restaurant cukup ramai dengan banyaknya pengunjung. Namun tidak mengurangi keromantisan tempat ini apalagi di dukung dari live musik dan suasana temaram yang dihiasi lampu - lampu hias
Ini pengalaman pertama mereka makan malam bersama, meskipun tidak hanya berdua. Namun tidak mengurangi keromantisan diantara keduanya, sedari tadi tatapan Gus Syam tak henti memuja sang istri. Sepanjang mereka makan pun tangan mereka tak pernah terlepas meskipun mereka sembunyikan dibawah balik meja.
" Biar dek merak masih pengantin baru jadi masih seneng - senengnya. Nanti kalau sudah waktunya punya buntut biar kok mau pegangan tangan, kate nyawangb ae wedi karo anake. " Goda Gus Reyhan kepada mereka.
" Iya Mas, bene engko lek wes wayahe 'Mas pamperse anake entek Ben dirasakne. " Rini pun ikut menimpali.
" Halah mbak kok bingung pampers entek wong enek seng dodol yo tuku tah, kecuali gak enek seng dodol Kuwi baru bingung. " Jawab Gus Syam santai.
__ADS_1
Mereka sudah menyelesaikan makan mereka, Gus Syam dan Gus Reyhan masih membicarakan beberapa masalah pekerjaaan. Sedangkan Tari tengah mengendong Mikhail yang sudah mengantuk, yang membuatnya berdiri sambil mengajak bayi gembul itu untuk bersholawat.
" Mbak, maksutdnya bojoku sampean training gitu ya. " Dia melihat kearah istrinya yang sedang mencoba menidurkan Mikha.
" Iyo, faham juga maksudku sampean Shan. "
" Wes kewoco, ngak suami ngak istri sama saja. Aduh wes Dek Tari badannya kecil disuruh ngendong Mikha lama - lama pundaknya bojoku mbak. "
" Halah alasan Shan, ngomong aja nanti malam jatahku berkurang mbak karena Tari sudah kecapekan ngendong Mikha. " Goda Gus Reyhan kepada Gus Syam.
Mendengar godaan kakak sepupunya itu membuat Gus Syam tersenyum kecut, sembari mengusap tengkuknya. Jatah yang dimaksud masih sebatas angan - angan yang Insyaallah pasti terjadi tapi entah kapan waktu pelaksanaannya. Demi menunaikan janji yang dibuat kepada sang Istri.
" Roman - romanya ada yang ......... " Tanya Rina penuh curiga ke arahnya.
" Apa ? "
" Jangan bilang ...... "
" Iya belum. " Jawabnya singkat
" Beneran ? " Tanya Gus Reyhan
" Iya ngak usah dipertegas. "
" Eh, normal apa enggak Shan sampean ? "
" Ya normal lah Mbak, sampean itu. "
" Lha terus ? "
" Terus kenapa ,? "
" Sebagai laki - laki harus bisa di pegang janjinya Mbak. " Ucapnya sembari menyungar rambutnya.
Seketika tawa Gus Reyhan dan Rini pecah, melihat ekspresi Gus Syam yang nampak tidak sedang baik - baik saja. Nampak guratan kecewa, namun tidak bisa mengingkari apa yang sudah menjadi janjinya, namun dia sendiri juga tak bisa memungkiri gejolak dalam dirinya. Tak lama Tari datang dengan Mikha yang sudah tertidur di gendongannya, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke cottege mereka karena hari sudah cukup malam.
Setelah sampai cottege mereka segera mengganti pakaian dengan baju tidur, dan segera bersiap untuk tidur. Tari sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sementara Gus Syam masih duduk di sisi tempat tidur dengan tablet yang masih di tangannya. Tak lama dia ikut berbaring dan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
" Dek, ada yang Mas ingin sampaikan tapi Mas harap sampean tidak salah paham dengan apa yang mas sampaikan. "
" Memangnya ada apa Mas, Insyaallah tidak. "
" Minggu depan Mas harus kembali ke Jakarta. "
" Secepat itu Mas ? "
" Iya, insyaallah minggu depan sumpah jabatan Dek. Dan Mas mau sampean ikut, Mas ngak mau kejadian seperti kemarin terjadi lagi. Mas tidak bisa tenang meninggalkan sampean sendiri. "
Tari sejenak terdiam, dia teringat kejadian yang kemarin menimpa dirinya yang membuatnya kembali mengulang rasa sakit yang pernah dia rasakan. Namun ada sedikit perasaan tak rela jikalau dia harus meninggalkan ibu dan pekerjaannya, dai masih ragu dengan hal ini.
" Sampean pikir dahulu dek, Mas tidak memaksa tapi sebagai suami sampean Mas tidak bisa jikalau meninggalkan sampean sendiri. Yah meskipun tidak seratus persen sediri masih ada Ibuk, Ummi, dan Abbah namun Mas masih tetap saja khawatir. "
" Bolehkah, aku memikirkannya sejenak Mas. "
" Tentu saja dek, tapi Mas ini suami sampean jadi Sampean adalah tanggung jawab Mas sepenuhnya. " Ucapnya sembari memegang wajah istrinya itu dengan kedua tangannya.
Kedua manik mata mereka bertemu saling memandang, menyelami diantara keduanya cukup lama, semakin dalam, semakin menemukan jawaban atas pertanyaan - pertanyaan yang tidak bisa bisa diutarakan oleh lisan. Hingga keduanya semakin mendekat satu sama lain dan menyatukan kedua mereka ke dalam surga dunia yang begitu manis bagaikan madu. Cukup lama, tenang dan dalam penuh kelembutan, tanpa adanya tuntutan apapun.
*************
__ADS_1
Pagi - pagi sekali mereka sudah meninggalkan penginapan mereka, menggunakan mobil masing - masing. Mereka ingin mengunjungi peternakan kambing etawa milik Gus Syam yang juga masih di Area Batu. Mobil mereka berjalan masuk sebuah jalan perkampungan, yang kiri dan kanannya di penuhi dengan kebun pohon jeruk manis.
" Suka susu kambing ngak Dek ? "
" Belum pernah nyoba Mas, tapi aku suka nek kalau susu yang terlalu kental. "
" Nanti di coba ya, semoga sampean seneng. "
Akhirnya mereka sampailah di sebuah bangunan yang dikekelingi pagar tanaman, namun cukup tinggi. Saat mereka tiba pintu pagar di buka, dan nampak lah beberapa bangunan besar dan satu bangunan rumah. Mereka disambut beberapa orang, yang membawa mereka ke rumah yang berada di bagian depan area itu.
" Kita istirahat dulu ya, setelah ini kita berkeliling. "
Kedua laki - laki itu sibuk dengan beberapa pekerja, dengan beberapa Map kertas dan tablet yang senantiasa di tangan Gus Syam. Mencocokkan data yang dia punya dengan data laporan yang ada disini, serta berdiskusi dengan pekerja mereka.
" Tar, besuk ketempat Wardah pas Akadnya ? "
" Iya donk Mbak, Kalau Mbak Rini ? "
" Masih belum tau, tergantung sikon Mikhanya rewel enggak. "
Disela - sela diskusi yang Gus Syam, Gus Reyhan dan beberapa pekerja Gus Syam masih sempat mencuri pandang kearah istrinya. Dan itu dia lakukan berulang - ulang, Sedangkan Tari yang diperhatikan oleh Gus Syam disikut pun tidak menyadari hal itu. Dia malah asik mengajak bicara Mikhail yang sedang ada di pangkuannya.
" Tar, lihat tu suami samoean dari tadi pandangannya tak lepas dari sampean. "
" Masak Mbak ? " Dia segera menoleh kearah suaminya dan benar saja saat ini pun sang suami sedang menatapnya seperti bias, penuh damba dan memuja kearahnya diiringi senyum khas miliknya.
Tari yang mengetahui hal itu langsung saja menoleh ke segala arah, menyembunyikan wajahnya yang sekarang sudah pasti memerah karena pandangan sang suami.
" Heran, Ghasan kok bisa kayak gitu kayak bukan Ghasan yang aku kenal. " Ucap Rina sambil menggeleng.
" Memangnya Mas Syam itu seperti apa Mbak ? "
" Ghasan, orangnya cuek masa bodoh sama orang lain apalagi orang yang baru dikenal dan lawan jenis. Pokonya introvert banget kalau sama lawan jenis, hampir ngak punya teman lawan jenis wong teman laki - laki aja ya itu - itu aja. Wong cita - cita aja dia ngak punya, hidupnya mengalir begitu aja. "
" Masak Mbak, tapi kok bisa jadi TNI ? "
" Biar bandelnya ngak keterusan nyoba - nyoba keterima. "
" Masak Mbak dulunya bandel ? "
" Ketua geng dia, dari kecil bandel banget makanya trus Mas Reyhan diasuh juga sama Bulik biar dia ngak terlalu bandel ada yang ngawasin. Bulik sama Pak Lik aja sampek kewalahan, kalau punya anak jangan sampai nurun dia bisa pusing. "
Bersambung .........
Assalamualaikum wr. wb.........
Maaf baru bisa up, bukan maksutd hati tidak up namun apalah daya.
Giginya mintak perhatian lebih 😩, sudah segala daya dan upaya diusahakan namun entah mengapa belum juga bisa membaik 😭.
Alhamdulillahnya, tadi malam bisa sedikit mereda jadi bisa usahain satu Bab.
Doain ya readers semua segera membaik, sakitnya benar - benar tidak bisa dibuat untuk menulis, maaf ya lebay sedikit 😓. Apalagi cuaca sekarang sedang dingin - dinginnya jadi menambah derita ini 😒.
Maafkeun 🙏🙏🙏🙏🙏
Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, dimudahkan dilancarkan segala usaha kita, dilapangkan dalam segala hal, di beri jalan keluar atas segala kesulitan yang kita alami.
Semoga kita diberi nikmat kesehatan jasmani dan rohani, diberi rezeki berlimpah dan barokah Amien .....
__ADS_1