
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Yah, bagaimana sudah nyaman apa belum " Ucap Tari sembari membenahi bantal yang dibuat ayahnya bersandar.
" Sudah nduk, tolong nanti ambilkan minum. "
" Enggeh Yah. "
Tari segera mengambil air putih yang berada diatas nakas, dan memberikannya kepada Ayahnya. Mereka sampai selepas Ashar tadi dengan diantar oleh layanan rumah sakit. Dipandanginya laki - laki paruh daya itu, wajahnya sudah tak nampak pucat lagi, bahkan terkesan lebih bersih dari biasanya.
" Sudah nduk. " Sambil menyerahkan gelas kosong kearahnya.
" Enggeh Yah, sudah sampean istirahat dulu Tari mau bersih - bersih dulu. "
Gadis itu beranjak pergi, sebelumnya dia merapikan selimut ayahnya sampai ke dada. Sedangkan Bu Fatma dia sibuk memasak di dapur untuk mempersiapkan makan malam.
" Masak nopo Buk ? "
" Sayur bening saja ya nduk yang ada dirumah hanya itu. "
" Enggeh buk, saya bersih - bersih dulu ya Buk. "
" Iya sana "
Gadis itu segera ke kamar mandi dan menyelesaikan kewajibannya. Setelah itu dia mendudukkan tubuhnya di kasur, memandangngi kertas rekapan biaya rumah sakit milik ayahnya. Dia masih tidak habis pikir siapa yang melunasi biaya rumah sakit ayahnya, karena biayanya cukup besar baginya.
" Pripun Yah, makannya nambah ? "
" Boleh buk, tapi sedikit saja. "
Wanita paruh baya itu segera membawa piring ke dapur, untuk kembali mengambil nasi dan kembali membawanya ke kamar.
" Nduk kemana Buk, ?
" Di kamarnya Yah, sepertinya tertidur dia terlihat lelah sekali Yah. Alhamdulillah sampean sudah sehat lagi yah, sudah sekarang jangan banyak mikir. "
" Insyaallah Buk, wong kita itu semuanya tinggal nglakoni lo. Semuanya itu sudah ada jatahnya Buk, hidup mati sudah ada jatahnya sendiri - sendiri Buk. "
" Iya Yah, tapi kan harus tetap berusaha dan berdoa Yah. "
" Buk, nanti kalau sudah sempat tolong sampean telfonkan Gus Reyhan. "
" Ada apa Yah. "
Laki - laki paruh baya itu tampak menghela nafas panjang, alisnya nampak berkerut. Entah mengapa ada sesuatu hal yang mengganjal dalam pikirannya, dia ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengan Gus Reyhan.
" Ingin menyampaikan sebuah amanat Buk. "
" Ya, nanti kalau sampean sudah sehat ya Yah. "
Laki - laki paruh baya itu nampak berfikir, pandangannya menerawang jauh entah apa yang sedang dia pikirkan. Namun nampak jelas diwajahnya bahwa dia sedang mencemaskan suatu hal.
*************
" Pak Rahmat sudah dibawa pulang Gus ? "
" Sudah, tadi sore selepas Ashar baru sampai rumah. "
" Aku ngak habis pikir sama jalan pikirannya keluarganya Bulik Romlah. Apa maksudnya mendatangi keluarga Tari seperti itu. "
__ADS_1
" Dari dulu memang seperti itu dek, keluarga berpendidikan namun ahklaknya kurang jadinya seperti itu selalu mementingkan kepentingan pribadinya dibandingkan kepentingan orang lain. Namanya juga orang berada. "
" Sampean akrab sama anak - anaknya Gus ? "
" Tidak terlalu hanya sesekali kalau pas ada acara kumpul keluarga di ndalem Abbah Uddin, itupun jarang bertegur sapa maklumlah kan mereka keluarga berada. "
Rina berdiri menyodorkan gelas berisi wedang jahe yang di minta oleh suaminya itu. Sedari tadi Gus Reyhan sibuk, memeriksa proposal rumah singgah di meja kerjanya. Proposal pengajuan rumah singgah menjadi lembaga pendidikan yang memiliki badan hukum. Cukup menguras tenaga dan pikiran, proses yang panjang dan berliku banyak hal yang pula harus dipersiapkan.
" Belum selesai Gus ? "
" Masih panjang, Bocah ngak ada tanggung jawabnya sama sekali ngrepotne wong akeh. " Sambil menaruh gelas berisi wedang jahenya ke atas meja. Sambil kembali ****** rokok yang berada di asbak.
" Tidak apa - apa Gus, Insyaallah kan mendatangkan banyak kebaikan untuk banyak orang. "
Rina menghampiri suaminya yang tengah berkutat dengan laptop dan lembaran kertas di depannya. Diambilnya kursi yang berada tidak jauh darinya kemudian dia mendudukkan tubuhnya disana.
" Gus, apa tidak sebaiknya kita memberi tahu Tari tentang .......... "
Sejenak Gus Reyhan menghentikan jarinya yang tengah menari lincah diatas keyboard laptop, kemudian menatap istri tercintanya yang tengah duduk di sampingnya.
" Sebenarnya dari awal aku kurang setuju dengan rencana bocah itu, tapi sampean ngerti kan dia seperti apa. Dia memang seperti ini kalau itu sudah menjadi murni keputusannya. "
" Aku ngerasa kalau kita seperti tidak menghargai Tari. "
" Iya aku juga merasa seperti yang sampean rasakan, mau bagaimanapun pada akhirnya yang menjalani ini semua Tari seharusnya keputusannya adalah hal yang utama. "
Gus Reyhan tampak berfikir, kemudian dia mengambil handphone yang berada diatas meja. Menekan aikon bergambar gagang telefon berwarna hijau, lalu mendial sebuah kontak.
Tut ...... Tut........ Tut .......
Tidak ada jawaban dari nomor yang dia panggil, kemudian dia kembali mendial nomer yang sama.
Pada sering ke empat panggilan baru diangkat, diseberang sana terdengar suara serak khas bangun tidur.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
" Ada apa Mas, mengganggu jam tidur ku saja. "
" Jam tidur ? sudah jam berapa ini, sebentar lagi sudah masuk waktu Maghrib yang benar saja. "
" Mau bagaimana lagi, semalam bertempur full time dilanjutkan lagi sampai selepas Dhuhur. Badan ku rasanya mau copot semua mata sudah tidak bisa dibukak. "
" Itu hanya alasanmu saja, seperti aku tidak mengenalmu saja. " Cibir Gus Reyhan.
" Terserah, ada apa ? kalau tidak penting aku tutup telfonnya. " Jawabnya ketus dengan nada yang sudah mulai meninggi
" Pak Rahmat memintaku datang kerumahnya, ada hal penting yang dia sampaikan. Dari nada bicaranya ada hal yang dia khawatirkan. "
" Apa keadaannya belum sembuh benar, kenapa kalau belum sembuh benar di bawa pulang. "
" Sudah, bahkan nada bicaranya sudah terlihat seperti orang sehat. namun ada rasa khawatir yang aku tangkap. "
" Insyaallah minggu depan aku usahakan pulang. "
************
Pagi hari Tari sibuk dengan pekerjaan barunya, setelah kepulangannya dari rumah sakit Pak Rahmat selalu menyempatkan untuk berjemur. Tari dengan sabar selalu menemani Ayahnya. Sudah satu Minggu ini dia mengambil cuti karena dia harus merawatnya, dan hari ini hari terakhirnya di rumah. Sebab esok dia sudah harus kembali ke Kediri menunaikan kewajibannya.
__ADS_1
Sebenarnya dai masih berat untuk meninggalkan kedua malaikatnya itu namun dia juga mempunyai tanggung jawab untuk pekerjaannya. Meskipun Keadaan Pak Rahmat terus membaik, tapi masih terselip rasa khawatir yang dirasakannya.
" Yah, ayo kita masuk. Sudah jamnya sampean minum obat. "
" Ayo, Ayah juga sudah merasa lapar nduk. "
Tari menuntun laki - laki paruh baya itu ke teras samping rumahnya, mendudukkan tubuh tua itu diatas kursi rotan yang menghadap halaman. Kemudian masuk kedalam untuk mengambil sarapan ayahnya. Tak berapa lama dia keluar dengan sepiring nasi lengkap dengan berbagai lauk dengan asap yang masih mengepul. Dengan telaten dia menyuapi ayahnya, dan sesekali mengusap makanan yang tanpa sengaja terjatuh.
" Sampun Yah, ? " Ketika suapan terakhir berhasil masuk ke mulut laki - laki paruh baya itu.
" Sudah nduk, Ayah sudah kenyang. "
" Minum air putihnya dulu yah, setelah ini minum obatnya. " Sambil menganggsurkan gelas yang berisi air putih, kemudian obat yang sedari tadi sudah disiapkannya.
" Nduk, sampean ngak sarapan ? " Ucap Bu Fatma yang baru datang dari arah dapur.
" Enggeh Buk, setelah ini. "
Gadis itu berlalu, membawa peralatan makan yang baru saja dipakai ayahnya ke dapur kemudian mencucinya. Sedangkan pasangan paruh baya itu nampak duduk bersantai di teras samping rumah.
" Buk, apa Ijah besuk jadi berangkat ? "
" Iya Yah, Ayah ngak papa kan kalau Ijah berangkat, sudah satu Minggu ini dia cuti. "
" Ayah ngak papa Buk, malahan Ayah khawatir kalau dia terlalu lama mengambil cutinya. "
Tari sedang di kamarnya membuka laptop miliknya, karena ada beberapa email yang harus dikirimnya. Waktu seminggu ini dia habiskan hanya untuk merawat Ayahnya, tanpa mempedulikan pekerjaannya. Padahal ini minggu terakhir dalam bulan ini, yang artinya dia harus membuat evaluasi pembelajaran sebagai laporan. Untung saja Siska yang menjadi penggantinya mengajar, setiap hari mengirimkan hasil belajar harian. Dia hanya perlu menyusunnya tanpa harus membuatnya.
Malam ini keluarga kecil itu sedang berada di ruang tamu mereka yang juga sebagai tempat mereka melihat tv. Suasana hangat begitu kian terasa, melihat acara tv diselingi dengan canda kecil dari mereka. Tari duduk disebelah Ayahnya, sembari tangannya yang memijat tangan laki - laki paruh baya itu.
" Nduk, sampean tahu kan kalau seorang perempuan yang sudah menikah itu surganya terletak di ridho suaminya. "
" Enggeh Yah, "
" Maka dari itu kelak bila sudah waktunya sampean berumah tangga satu pesan Ayah, apapun yang diminta dan yang diperintahkan suamimu padamu jangan pernah sekalipun sampean menolaknya apa bila itu menuju kebaikan. Lakukan semua dengan keihklasan semata - mata karena baktimu pada suamimu. "
" Insyaallah Yah. "
" Nduk, sampean harus menerima semua yang digariskan untuk sampean dengan ihklas entah itu baik maupun buruk sekalipun. ,
" Insyaallah Yah, akan mengingat semua nasihat Ayah. Tapi Ijah berharap Ayah juga tetap sehat sehingga bisa mengantar Ijah melalui proses itu. " Jawabnya sembari mengelus pelan tangan keriput milik ayahnya.
" Insyaallah nduk, namun umur seseorang tidak ada yang tahu. Apabila tugas kita di dunia sudah usia pada waktunya kita semua akan kembali pada-Nya. "
" Ayah kan sudah sehat, tidak usah berbicara seperti itu. " Jawab Bu Fatma sembari alisnya berkerut yang mengisyaratkan ketidak setujuan.
Mereka terus saja mengobrol membicarakan banyak hal mulai mengenang masa muda Bu Fatma dan Pak Rahmat sampai masa kecil Tari yang dilalui penuh dengan perjuangan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09:15, yang dirasa sudah cukup malam. Mereka memutuskan untuk menyudahi obrolan malam ini, Tari menunutun Ayahnya ke kamar sedangkan Bu Fatma mengunci semua pintu dan mematikan lampu.
" Sampun sekeco nopo dereng Yah. " Ucap Tari sembari membenarkan bantal yang digunakan Ayahnya. ,"
" Sudah nduk, "
Gadis itu menyelimuti Ayahnya sampai ke dada, kemudian menggelar kasur lantai di bawah tempat tidur milik ayahnya. Setelah kepulangan ayahnya dari rumah sakit dia tidur di kamar milik kedua orangtuanya, dengan mengelar kasur lantai. Untuk berjaga jika Ayahnya terbangun di malam hari dan membutuhkan bantuannya.
Malam ini terasa sangat berbeda dia rasa entah apa yang sedang di pikirannya, Bu Fatma sedari tadi sudah tertidur disampingnya. Begitu pula dengan sang Ayah, juga sudah memejamkan mata sedari tadi.
Dilihatnya wajah laki - laki yang telah memberi kehidupan padanya, entah mengapa akhir - akhir ini ayahnya nampak sekali berbeda. Wajahnya nampak bersih dan bersinar apalagi senyuman dan kata - katanya begitu menenangkan baginya. Tari menggenggam tangan keriput itu kemudiaan menciuminya, tanpa sadar butiran kristal bening jatuh membasahi pipinya.
Bersambung .........
__ADS_1