Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
33. Keputusan


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


" Jangan khawatir setelah bayinya lahir aku akan menceraikannya."


" Mas, ijab qobul bukan hal yang enteng, itu merupakan janji kita kepada Sang Pemilik Hati yang pertanggung jawabannya langsung kepada Beliau. Jadi jangan pernah mempermainkan hal ini, dan sesungguhnya Allah sangat membenci perceraian. Aku sangat ihklas dengan hal ini, memang suratan takdir kita seperti ini. Tidak perlu ada yang harus kita sesali. "


Pandu tertegun dengan semua perkataan Tari, dia masih berharap bahwa Tari akan tetap menjadi istrinya. Keputusan Tari yang demikian tidak bisa diterima olehnya, baginya pernikahannya dengan Tari adalah sebuah keharusan bagaimanapun keadaannya. Sedikit banyak perkataan Tari tadi sudah menyulut emosi Pandu, dadanya bergemuruh ketika mengingat2 kata itu. Sementara itu orang tua Pandu hanya menunduk malu, karena perilaku anaknya.


" Kamu tidak bisa menolak ku itu sudah menjadi keputusan ku, aku akan tetap menikahi mu entah kau setuju atau tidak. Dan menikahi wanita ini secara siri setelah pernikahan kita. "


" Apa sampean lupa mas, syarat dari pernikahan. Bagaimana bisa dilaksanakan ijab qobul kalau salah satu pihak tidak menerima. "


" Pandu, sudah kamu jangan mengelak untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mu. " Ucap Pak Riadi tegas.


" Mas Riadi tidak usah khawatir Pandu akan bertanggung jawab, dan segera menikahi Dinda. " Ucap Pak Yadi, tanpa menunjukkan ekspresi apapun wajahnya pias karena hatinya teramat terluka oleh kelakuan putra semata wayangnya itu.


Perdebatan dan perdebatan pun masih terjadi di ruang tamu yang sangat lebar itu. Pandu tetap saja kekeh dengan keputusannya. Banyak hal yang mendasari Tari mengambil keputusan berat seperti itu, hatinya sedikit banyak telah terukir nama Pandu. Salah satunya memang karena ketidak sangngupannya untuk di madu, baginya akan mendatangkan banyak dosa ketika dia tidak bisa ihklas dengan hal itu. Dan tentu saja dia tidak sanggup bila harus menjadi seorang yang egois karena harus tetap menjalani pernikahannya dengan Pandu, sedangkan Dinda mengandung anak Pandu.


" Maafkan semua perbuatan Pandu nduk, maafkan PakDe dan Bude juga. Pakde berharap setelah ini ikatan keluarga diantara kedua keluarga ini tidak berubah. "


" Tari juga minta maaf Pakde, Bude selama ini ada sifat yang kurang berkenan di hati kalian. Tidak akan yang berubah Pakde. "


Bu Darmi berdiri menghampiri gadis berkerudung itu, membuka tangannya untuk memeluk gadis itu. Tari berdiri dari duduknya kemudian berhambur memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Tangis mereka berdua pecah, tak henti - hentinya wanita paruh baya itu menciumi wajah gadis itu seolah menyalurkan segala emosi di dadanya. Tari benar - benar tidak sanggup menahan emosi dalam dirinya, tangisannya pun berubah menjadi isakan - isakan yang sangat pilu didengar.


" Nduk sampean akan mendapatkan yang terbaik buat sampean, maafkan Pandu yang sudah menyakitimu. " Sambil membelai pundak gadis itu.


" Insyaallah Bude. " jawabnya diiringi isakan.


" Mas Rahmat maafkan anak saya. " Ucap Bu Darmi seraya memandang Pak Rahmat.


" Saya juga minta maaf mbak karena anak saya membatalkan pernikahannya. "


" Ibuk, Pandu tidak akan pernah membatalkan pernikahan Pandu dengan Tari apapun yang terjadi. Semua akan terjadi sesuai dengan yang Pandu katakan tadi. "


PLAK...........


Sebuah tamparan mendarat di pipi yang hitam namun begitu manis ketika si pemiliknya itu menyunggingkan senyumnya. Pak Yadi menatap Tajam pada putra semata wayangnya itu, tatapan penuh emosi.


" Sudah jangan banyak bicara, pertanggung jawabkan semua perbuatan mu. " Ucapnya dengan nada yang tinggi.


" Mas Riadi pernikahan akan dilaksanakan dua hari lagi, sesuai persiapan yang kami lakukan. Pernikahan akan dilakukan disini jadi sampean tidak perlu repot untuk mempersiapkannya. "

__ADS_1


" Bagaimana dengan putramu yang tidak menginginkan pernikahan ini ?"


" Tenang saja, dia tidak akan bisa lari dari tanggung jawabnya. "


" Mas Yadi, Mbak Darmi saya rasa semua permasalahan sudah jelas dan menemui titik terang. Saya minta maaf karena tidak bisa meneruskan niatan baik kita. Maafkanlah kesalahan saya dan keluarga, saya harap hubungan kita masih baik. "


" Mas Rahmat saya yang seharusnya minta maaf, Maafkan kesalahan keluarga kami. Sungguh saya gagal mendidik anak saya dengan benar. " Kedua lelaki paruh baya itu saling berpelukan dengan air mata dari kedua mata paruh baya itu.


" Mas Rahmat, saya juga minta maaf atas kelakuan putri saya. Semua ini diluar kendali saya. "


" Saya sudah memaafkan kalian semua, takdirlah yang membuatnya seperti ini. Dan apalah daya kita sebagai manusia biasa yang harus patuh terhadap semua ketetapan dan ketentuan dari- Nya. Mas Yadi saya minta tolong semua tenda yang sudah dipasang di rumah saya, nanti tolong segera dibongkar. Karena saya tidak ingin keluarga saya merasa kurang nyaman. Dan mengenai perihal pembatalan ini saya akan sampaikan sendiri kepada keluarga saya. "


Semua orang di ruang tamu itu tak henti-hentinya meneteskan, butiran kristal bening. Hanya Pandu saja yang tidak terima dengan keputusan yang sudah disepakati. Fikirannya tetap kokoh kalau dia harus tetap mempertahankan pernikahannya dengan Tari. Padahal Tari sudah mengungkapkan keinginannya untuk tidak melanjutkan pernikahan ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 21: 15, cukup malam untuk ukuran jam di desa.


" Tari, aku minta maaf karena sudah membuat kesalahan ini. Tolong maafkan aku ..... "


" Insyaallah aku sudah memaafkan kamu Din, "


" Tunggu Tari ada yang harus kita bicarakan terlebih dahulu. "


" Maaf mas, semua sudah selesai. "


" Nduk maafkan kesalahan Pandu ya ?" ucapnya saat memeluk Tari.


" Insyaallah Bude Tari sudah memaafkan, maafkan Tari juga Bude. "


Pak Rahmat dan Tari pergi meninggalkan ruang tamu besar itu. Sedangkan Irhas dan Irsyad dengan setia menunggu mereka diteras rumah itu. Saat mengetahui kedua ayah dan anak itu keluar dari pintu ruang tamu, dengan segera kedua pasang kembar itu menghampirinya. Pak Yadi dan Bu Darmi mengantar kepergian ayah dan anak itu sampai didepan teras. Suasana rumah besar itu masih ramai beberapa orang masih memasang tenda, tapi mereka tidak mengetahui apa yang terjadi di ruang tamu rumah itu. Sedangkan Pak Riadi belum beranjak dari rumah besar itu, karena ada banyak hal yang mereka bicarakan.


Mereka meninggalkan rumah besar itu dengan menaiki dua sepeda motor trail itu. Berlahan menyusuri jalanan yang sudah sepi menuju ke rumah mereka. Tak membutuhkan waktu yang lama mereka sampai dirumah kecil itu. Tari menghembuskan nafas kasar saat dia melihat tenda yang terpasang di depan rumahnya. Dia turun dari sepedah itu, melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah. Tiba - tiba ayahnya menggenggam tangannya dan mendahului langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Ternyata semua orang telang menunggu kedatangan mereka.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


Mereka melangkah bersama, Tari menyalami semua orang tua yang duduk diruang tamu itu.


" Buk, Tari mau sholat dulu "


" Iya nduk sampean sholat dulu. "

__ADS_1


Gadis itu berjalan menuju kamar mandi dibelakang rumahnya, dengan segera dia mengambil wudhu. Kemudian berlalu menuju kamarnya menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sungguh mengadu pada-Nya adalah obat yang paling manjur untuk menenangkan hati yang sedang kecewa.


Sedangkan diruang tamu itu, Bu Fatma, Pak Rudi, dan Bu Yuli mencoba bertanya kepada Pak Rahmat apa yang sebenarnya terjadi. Pak Rahmat menceritakan semua yang terjadi tadi di rumah Pak Yadi. Mereka semua terkejut mendengar perkataan Pak Rahmat, Bu Fatma terlihat sangat kecewa hingga air matanya jatuh. Mau tidak mau mereka semua harus menerima keputusan yang diambil Tari.


" Buk, sampean jangan menangis dihadapan Ijah. Jangan menambah bebannya saat melihat sampean sedih seperti itu. "


" Iya Mbak Fatma, sampean itu harus memberi semangat untuk Ijah. Sekecewa apapun sampean sekarang jangan pernah sampean tunjukkan. Kita semua harus mendukungnya dan tetap disisinya. " Ucap Bu Yuli yang mencoba menenangkan kakak iparnya itu.


" Mas, bagaimana dengan acaranya ? "


" Sebentar lagi ada orang yang datang dek, untuk mengemasi tendanya. Mungkin berita ini akan segera menyebar dek seiring terbitnya matahari. "


" Sabar Mas, semua ini sudah jadi takdir jadi kita harus menerimanya dengan ihklas dan sabar. " Ucap Pak Rudi menenangkan saudara laki - lakinya.


Linangan air mata kembali pecah mengiringi setiap lantunan doa yang dia ucapkan, kekecewaannya terhadap apa yang sedang terjadi dia tumpahkan pada sang pemilik hidup. Lama sekali dia bercinta dengan sajadahnya, hati dan fikirannya kembali tenang. Dia kembali melangkahkan kakinya ke ruang tamu, dan semua orang masih duduk ditempat mereka masing - masing. Gadis itu duduk terpisah diantara dua pasang paruh baya itu.


" Maafkan Ijah, Ayah Ibuk. "


" Tidak nduk, tidak ada yang harus dimaafkan disini nduk. Semua ini memang sudah jadi suratan takdir- Nya. " Jawab Pak Rahmat.


" Nduk, ibuk dan Ayah tidak pernah mempermasalahkan hal seperti ini, karena semua ini diluar kuasa kita sebagai manusia biasa. Yang penting sampean harus ihklas dan sabar nduk.


" Insyaallah Ijah ihklas buk, karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan buk, bukan yang kita inginkan. Dan sebelum kejadian ini pun Allah sudah memperingatkan Ijah. "


" Sungguh nduk benarkah itu ? "


" Enggeh, beberapa hari lalu Ijah bermimpi pada saat itu, Ijah berjalan dengan Mas Pandu yang mengandeng tangan Ijah di suatu taman yang menuju sebuah rumah, rumah yang selalu Ijah impikan selama ini. Mas Pandu mengandeng tangan Ijah dengan erat dan kami saling tersenyum bahagia, saat kami tiba di teras rumah itu tiba - tiba langkah kami terhenti. Ada seorang anak kecil yang menarik - narik genggaman tangan kami sehingga genggaman tangan kami terlepas. Kemudian anak itu menggenggam tangan Mas Pandu memasuki rumah itu dan meninggalkan Ijah sendiri. Seperti itulah Bulik kira - kira mimpi Ijah. "


" Dan peristiwa sekarang ini jawaban dari mimpi sampean nduk. " Ucap Bu Fatma.


" Sepertinya begitu buk, "


" Nduk betapa Allah itu begitu dekat dengan hamba-Nya yang selalu bertawakal pada-Nya. hendaknya kita ambil semua pelajaran dalam sebuah peristiwa yang kita alami. "


" Enggeh Pak Lik, Kalian semua yang menguatkan Ijah. Meski sebesar apapun masalah yang Ijah hadapi. "


" Mbak tenang saja tak carikan kenalan Gus di pondokku banyak sekali. Jadi mbak ku ini ngak boleh patah hati ya. " Ucap Irsyad sambil memeluk kakak sepupunya itu dari belakang.


" Maaf ya Bang, mbak mu ini tidak patah hati, kalau sedikit retak mungkin iya hehehehe ...... "


Suasana malam itu sedikit mencair dengan sedikit candaan, mencoba menutupi kesedihan mereka. Tenda - tenda yang semula sudah terpasang, malam itu juga dibongkar sesuai permintaan Pak Rahmat.

__ADS_1


Bersambung............


__ADS_2