
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Dua orang ayah dan anak itu telah sampai di depan sebuah pintu gerbang yang berdiri megah di depan mereka. Perjalanan yang mereka lalui cukuplah membuat tubuh mereka lelah, mereka melangkahkan kaki melewati beberapa gedung. Sampailah mereka pada sebuah gedung yang letaknya paling belakang dari keseluruhan bangunan. Mereka berdiri di depan gedung dua lantai itu, di depan gedung itu nampak laki paruh baya yang menyambut mereka dengan senyuman lebar.
" Monggo Pak, Mbak, silahkan masuk, " Ucap laki - laki paruh baya itu seraya menghampiri Tari dan Ayahnya.
" Enggeh Pak, " Sahut Pak Rahmat.
Lelaki paruh baya itu, mempersilahkan dua tamunya itu untuk duduk di ruang tamu disana terdapat beberapa sofa dan beberapa bangku yang berjajar.
" Pasti mbaknya ini calon guru baru di sini ya, perkenalkan saya Pak Giman saya tukang kebun disini sekaligus penjaga asrama disini. " Lelaki paruh baya itu memperkenalkan diri.
" Saya Nyimas Khodijah Bramastari, biasa di panggil Tari, ini Ayah saya " Pak Rahmat menjabat tangan pak Gimin.
" Mbak Tari, kamarnya ada di lantai dua kalau disini hanya ada ruang tamu, gudang, dan dapur saja kalau kamar mandi di setiap kamarnya ada. Nanti ada Ibu asramanya mbak Bu Tini namanya. "
" Enggeh Pak, apakah banyak Pak yang menempati asrama ini ? "
" Lumayan banyak mbak, sekitar 20 orang biasanya tenaga dari luar daerah dan belum berkeluarga yang tinggal di asrama. Mari saya antar ke kamar Mbak Tari. "
" Yah, Tari tinggal ke atas dulu ya. "
" Iya nduk " Jawab Pak Rahmat sambil mengambil kopi di depannya.
Tari mengikuti laki - laki paruh baya itu di belakangnya dengan membawa tas ditangannya. Benar saja di lantai dua gedung ini berjajar rapi kamar yang kira - kira berjumlah 15 kamar yang saling berhadap-hadapan. Sungguh asrama modern yang nyaman bagi penghuninya, nampak bersih dan rapi. Dengan fasilitas yang lengkap yang menimbulkan rasa nyaman bagi setiap penghuninya.
" Mbak mau kamar sendiri apa berdua ? " Tanya laki - laki paruh baya itu.
" Terserah pak, sendiri boleh berdua juga boleh. " Jawab Tari sekenanya.
" Baiklah mbak berdua saja ya biar ada temannya, nanti sampean buat tambah krasan disini. Kamar yang diujung saja mbak dari sana pemandangannya akan lebih bagus. "
" Enggeh Pak. "
Mereka berjalan menuju ruangan paling ujung, di deretan sebelah kiri. Di sebelah kamar ini terdapat balkon yang di batasi oleh pintu kaca, tampak berjajar pot - pot kecil yang berisi berbagai jenis bunga.
Tok, tok, tok,
Ceklek .....
Pintu itupun terbuka, nampak seorang gadis kurus tinggi berdiri dibelakang pintu. Senyumnya mengembang begitu mengetahui, siapa yang datang mengetuk pintunya. Dengan segera dia membuka pintu itu lebar - lebar.
" Assalamualaikum, Mbak Wardah "
" Walaikumsalam, Mbak Tari " Gadis kurus itu berjalan ke arah Tari, senyum merekah tersungging diwajahnya.
" Kalian sudah kenal ? "
" Enggeh Pak " Jawab mereka bersama-sama.
" Baiklah Bapak tinggal ke bawah dulu, Mbak Tari semoga betah ya disini. " Ucap laki - laki paruh baya itu sembari meninggalkan kedua gadis itu.
Segera Tari masuk kedalam kamar, dibantu dengan Wardah yang membawakan tas milik Tari. Ruangan kamar yang cukup besar bila ditempati untuk dua orang. Ada dua tempat tidur, dua lemari, dua nakas kecil yang terletak di masing2 sudut ruangan.
" Alhamdulillah ya mbak Tari kita satu kamar, tadinya aku takut kalau mesti tidur sendiri. "
__ADS_1
" Iya Mbak Wardah, sebentar saya akan turun karena Ayah saya masih di bawah. "
" Baiklah saya juga ikut kalau begitu. "
Dua gadis itu melangkah meninggalkan kamar mereka, menuju lantai satu asrama itu. Nampak di ruang tamu ada beberapa orang yang sedang mengobrol.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " jawab mereka bersama.
" Lah ini anak saya Mas, " Ucap Pak Rahmat kepada seorang pria yang duduk di depannya, yang hanya terlihat punggungnya dari tempat Tari berdiri.
Segera semua orang yang sedang duduk di sofa itu menoleh ke arah Tari dan Wardah. Sementara Tari hanya mampu menunduk saat dirinya menjadi pusat perhatian, sedangkan Wardah menampilkan senyum terbaiknya. Sungguh dua wanita yang nampak berbeda dalam kepribadian mereka masing-masing.
" Bu Nyimas "
Tari yang merasa namanya di sebut, menjadi sedikit gugup. Tak sedikitpun dia berani mengangkat wajahnya yang tertunduk. Dia tetap berjalan menuju tempat duduk ayahnya, dan berdiri di sampingnya.
" Pak Rahmat ini putrinya ? "
" Enggeh Bu, ini anak saya Nyimas Khodijah Bramastari "
" Perkenalkan saya Bu Tini, kepala asrama dan kepala dapur di yayasan ini. " Ucap wanita paruh baya yang mempunyai perawakan besar dan berkulit hitam itu.
" Enggeh Bu, " meraih tangan Bu Tini sembari mengulas senyum diwajahnya.
" Cantik sekali pak anaknya, "
" Alhamdulillah Bu, cantik parasnya hanya bonus Bu. Alangkah lebih baik jika yang cantik ahklaknya. "
Dua gadis itu sedang menata pakaian mereka memindahkan dari tas ke lemari mereka masing-masing. Dan merapikan beberapa buku dan keperluan mereka diatas nakas. Pak Rahmat sudah kembali pulang ke Blitar sore tadi, karena beliau tidak ingin sampai dirumah larut malam. Tari segera bergegas masuk kedalam kamar mandi ketika terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya dengan segera dia mengambil mukenanya untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah di masjid.
" Mbak Wardah sampean mau sholat di masjid apa dikamar ? "
" Saya masih berhalangan mbak "
" Kalau begitu saya pergi sendiri ya mbak "
" Iya mbak, hati - hati ya mbak "
Saat keluar kamarnya Tari berpapasan dengan sesama penghuni asrama yang terlihat baru datang. Ternyata memang benar kata Pak Giman bahwa penghuni asrama disini memang cukup banyak. Tari mengangguk dan tersenyum saat berpapasan dengan mereka. Gadis itu melangkahkan kaki kecilnya menuju masjid besar yang masih satu area dengan asramanya. Masjid yang besar dan bagus dengan cat berwarna putih dengan sedikit aksen warna hijau. Sholat Maghrib berjamaah pun dimulai dan suasana menjadi hening dan khusyuk. Setelah selesai Sholat Maghrib, dia segera menuju asramanya.
Dia berjalan menyusuri lorong antara gedung satu dan yang lainya, sambil mengedarkan pandangannya pada setiap gedung yang dilewatinya. Mencoba mencari tahu kegunaan dan fungsi dari gedung-gedung yang sedang dilewatinya. Sedikit banyak dia mulai faham dengan keseluruhan gedung yang ada disana yang disertai dengan anggukan kecil dari wajah mungilnya. Sampailah dia depan asramanya, ruang tamu ruangan itu terlihat ramai dengan beberapa orang yang nampak di sana sedang mengobrol.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " ucap semua orang dalam ruangan itu.
" Mbak sampean guru baru di sini ya ? " Ucap salah satu dari mereka.
" Enggeh Mbak, perkenalkan nama saya Tari. Mari mbak saya keatas dulu. " Dia tidak ingin berlama-lama di sana untuk memperkenalkan dirinya.
" Ih sombong bener, tiba - tiba langsung pergi begitu saja. Nyapa kita dulu kek, kenalin diri dulu kek, Disini dulu kek, duduk dulu kek, basa basi dulu kek. Main nyelonong aja, apa dia sok kecantikan gitu. "
" Iya, anak baru saja sesombong itu. "
__ADS_1
" Eh kalian itu kenapa, ngak baik ghibahin orang apalagi ngatain kayak itu. "
" Tapi mbak, beneran masak disapa jawabnya kayak gitu. "
" Ya kali aja dia sedang terburu-buru, jangan suka suudzon sama orang dalam sekali lihat saja. "
********
Ceklek.....
Suara pintu kamar itu dibuka, tangan gadis itu memutar kenop pintu. Matanya beredar ke menyapu seluruh ruangan untuk mencari teman sekamarnya, namun gadis tinggi itu tidak nampak disana hanya suara gemericik air dari kamar mandi. Dia melangkah masuk dan meletakkan peralatan sholatnya ke lemari. Setelah itu dia membuka nakas kecil yang berada disamping tempat tidurnya, untuk mencari kering tempe dan kentang yang selalu menjadi makanan favoritnya saat berada jauh dari rumah.
" Mbak Tari sudah selesai sholatnya ? " sapa gadis tinggi itu saat dia keluar dari kamar mandi.
" Eh mbak Wardah, sudah.... ,Sampean sudah makan apa belum ? "
" Belum mbak, nunggu sampean ini. Mari mbak kita turun. Oh iya mbak panggil aku Wardah saja ya, kan usia Mbak Tari lebih tua dari aku. "
" Apa ngak papa, ? "
" Ya enggak lah mbak, ayo Mbak cacing dalam perutku sudah pada demo mintak diberi asupan yang bergizi. " Ucap Gadis tinggi itu.
Dua gadis itu keluar kamar mereka menutup dan menguncinya, berjalan menuju tangga. Suasana di lantai satu terlihat lebih ramai karena sepertinya semua penghuninya telah kembali. Mereka berkumpul di ruang tamu karena tempat itu cukup luas. Sejenak mereka menghentikan percakapan mereka saat melihat dua gadis penghuni baru itu turun dari tangga. Dua gadis itu berjalan menghampiri mereka dan menyapa mereka semua.
" Assalamualaikum mbak, mbak "
" Walaikumsalam. " jawab mereka serempak. "
" Perkenalkan saya Nyimas Khodijah Bramastari, biasa dipanggil Tari. Mohon bantuan mbak, mbak semua karena disini saya masih baru. Maaf saya tadi belum memperkenalkan diri saya dengan benar. " Tari memperkenalkan dirinya kepada semua orang yang ada diruang tamu itu.
" Kalau saya Asodatul Wardah Az-Zahra, biasa dipanggil Wardah. Senang mbak bisa menjadi bagian dari kalian. "Giliran Wardah yang memperkenalkan diri.
Tari dan Wardah bersalaman kepada semua orang yang berada disana, mereka juga ikut duduk disana dan ikut berbincang. Sampai - sampai mereka lupa tujuan mereka turun ke lantai satu. Terlihat seorang wanita paruh daya datang dari arah dapur, dang menghampiri mereka.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " Ucap mereka serentak.
" Semua sudah makan belum ? kalau sudah sisa makanan akan ibuk rapikan dan menyimpannya kedalam kulkas. "
" Ada yang belum buk, " Jawab salah satu dari mereka.
" Owh Mbak Tari dan mbak Wardah juga di sini, sampean sudah makan apa belum ? "
" Dereng buk, ini baru mau makan. Tetapi karena terlalu asik ngobrol sampai - sampai kami lupa. " Ucap Wardah,
" Sudah sampean makan dulu, sana karena sebentar lagi sholat Isyak. "
" Mari mbak, mbak kami makan dulu "Ucap Wardah sambil berlalu menuju dapur.
Wardah melangkah dulu, sedangkan Tari mengikutinya dari belakang. Menuju dapur yang terletak dibelakang, di meja dapur sudah tertata berbagai macam lauk dan nasi disana, walaupun jumlahnya sudah tidak banyak lagi.
" Mbak ternyata mereka ramah juga ya, "
" Ehmz, makanya kamu jangan suka suudzon sama orang " Ucap mbak Leni, salah seorang dari mereka.
__ADS_1
Bersambung .........