
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Panggilannya diputus dek, siapa ya kira - kira ........
Tari mencoba mengingat sesuatu, tentang nomer yang menghubunginya tadi. Fikirannya menerawang jauh mencoba mengingat suatu hal tapi tidak menemukan hal yang berusaha dia cari. Dan terbesit ingatan tentang nomer yang menghubunginya setelah acara pertunangannya dengan Pandu, apakah itu nomer yang sama begitulah pertanyaan yang ada dalam benaknya.
" Entahlah mas, aku juga kurang tahu. " ucap Tari tidak yakin.
" Ya sudah ayo kita masuk "
Mereka sampai kedalam bangunan rumah yang bergaya minimalis modern itu, nampak begitu indah dengan desain dan interior didalamnya dan nampak halaman samping yang luas dengan kolam ikan dipojok ya yang menambah keasrian rumah itu. Rumah yang juga difungsikan sebagai kantor sekaligus setodio foto di dalamnya. Tari menapakkan kaki kecilnya selangkah demi selangkah memasuki sisi dalam rumah itu, dengan ulasan senyum yang selalu tersungging di bibir mungilnya diikuti dengan Pandu yang setia berjalan dibelakangnya.
Sampailah mereka ke sebuah ruangan luas yang berada ditengah - tengah rumah itu, dengan ruangan yang terlihat paling luas diantara ruangan lainya. Tari berusaha mencari keberadaan dua pasang paruh baya tari, tapi dia tidak mendapati mereka dituangkan itu, hanya orang - orang yang tidak dia kenal yang melemparkan senyum padanya. Hingga ada satu wanita cantik dengan rambut sebahu berjalan kearah Tari.
" Hai bro, " Sapa wanita itu kepada Pandu.
" Hai, maaf ya menunggu lama. Maklum Malang sekarang suka macet "
" Tak apalah, belum lama juga aku nunggunya " Ucap wanita cantik itu.
Kemudian melempar pandangannya ke arah Tari,
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam, Vanya saya teman SMA Pandu sekaligus fotografer untuk foto pre-wed kalian. "
" Saya Tari mbak, "
" Cantik sekali bro calon istrimu ?, yang aku enggak habis fikir kamu kok mau sama Pandu Tar, ???..... Lihat saja itu gayanya cihhhh " Sambil melempar kearah Pandu dengan gaya meledek.
" Entahlah mbak, saya juga bingung kenapa saya juga mau hehehehe " ucap Tari yang berusaha menggoda Pandu.
" Jadi Adek nyesel ini ceritanya ? " Dengan memang wajah sendu Pandu bertanya kepada Tari.
" Apa sih mas, aku tidak melihat ayah dan ibu kemana mereka ? "
" Tenang saja Tar, mereka sedang disana ngopi " Jawab Vanya sambil menunjuk halaman samping rumah itu tepat dimana dua pasang paruh baya itu berada.
" Ya sudah sekarang kita bahas mengenai pemotretan hari ini, tentang konsepnya dan pelaksanaanya "
Mereka berjalan menuju sofa yang berada di sudut ruangan besar itu, tak lama semua anggota tim Vanya mulai berkumpul. Pandu menginginkan setiap apa yang dilakukan dengan Tari adalah hal yang terbaik jadi jangan ada satu hal pun yang terlewatkan. Setelah 30 menit meeting dadakan itu sudah selesai dilakukan Pandu berganti baju dengan baju yang dia siapkan dan Tari masih harus merapikan riasan wajahnya.
Dengan ditemani Ibu dan Bude Darmi Tari berganti pakaian yang akan dia gunakan di sesi pertama pemotretan ini, Rok plisket berwarna Milo beserta Kemeja putih dan hijab pasmina yang menutupi dadanya. Pandu yang sudah selesai terlebih dahulu mengenai wardobenya berjalan menghampiri Tari, senyuman tersungging di wajah manisnya ketika menatap calon istrinya itu.
Pemotretan itu pun dimulai, dengan Pandu dan Tari yang sama - sama berpose sendiri - sendiri terlebih dahulu. Kemudian mereka berpose bersama tapi tanpa adanya sentuhan sesuai dengan keinginan Tari. Vanya terlihat sangat profesional dalam pekerjaannya, foto - foto yang dihasilkan sangatlah bagus sesuai dengan keinginan Pandu dan Tari. Mereka berganti wardrobe dan tema beberapa kali, dan juga sesi foto outdoor yang dilakukan di halaman samping rumah itu. Keseluruhan hasil foto itu sangat bagus sesuai ekspektasi mereka berdua.
Sesi foto kali ini ditutup dengan foto dengan semua anggota keluarga Tari maupun Pandu. Yang tanpa Tari sadari mereka sudah berganti dengan kemeja batik untuk para laki - laki dan kebaya untuk wanita dengan warna dan motif yang sama.
" Loh ibuk, sampean kok sudah cantik kok bisa bajunya samaan buk ? " Tanya Tari berbisik disela - sela pemotretan itu ketika ibunya mendekat.
" Bude Darmi nduk ini tadi yang ngasih ke ibuk dan ayah "
Tak lama berselang akhirnya pemotretan itu benar - benar selesai. Tari mengganti baju kebayanya dengan Rok plisket dan kemeja putihnya yang dirasa cocok untuknya. Sedangkan Pandu masih mengobrol dengan Vanya dan timnya, mengenai persiapan pernikahan mereka yang hanya menunggu hitungan hari saja. Tari berjalan menuju halaman samping rumah itu menghampiri dua pasang orang paruh baya itu berada.
" Ehem, yang mau jadi manten jalan aja sambil terus senyum - senyum "
" Eh bude, ......."
__ADS_1
" Nanti kalau Tari jalannya sambil menangis kan malah dikira kenapa bude, bukankah senyum itu adalah ibadah bude "
" Iya nduk, tapi kalau senyum - senyum sendiri ya tambah gimana nduk, malah dikira nanti sampean ....."
" ibuk, ...... " Jawab Tari dengan nada sedikit kesal karena ibu dan calon mertuanya senang sekali menggodanya.
" Sudah nduk sini duduk, kenapa to anak ayah yang paling cantik ini, biarkan saja itu dua wanita itu kalah cantik dari sampean nduk makanya mereka suka meledek sampean " ucap pak Rahmat sambil menepuk - nepuk tempat kosong disebelahnya menyuruh putri semata wayangnya itu duduk disampingnya.
" Memang ayah yang paling mengerti Ijah " sambil mendudukkan tubuh mungilnya disamping ayahnya.
Obrolan dan candaan mereka terus saja bergulir tentunya dengan Tari sebagai target utama bahan candaan. Sampai - sampai mukanya sudah memerah seperti kepiting rebus, dua pasang paruh baya itu tak henti - hentinya menggodanya. Kemudian tak berselang lama Pandu datang dari arah dalam diiringi Vanya disampingnya.
" Berani - beraninya bapak dan ibuk ini menggoda calon istriku sampai - sampai mukanya memerah seperti itu "
" Memangnya kamu mau apa le, kami sedeng menggoda calon manten yang malu - malu kucing ini Lo suka bikin gemes kalau sudah malu " Sahut Pak Yadi.
" Beraninya pas kalau gak ada aku, coba kalau aku disini. Sudah tak kasih jurus pamungkas kalua berani menggoda calon istriku " Ucap Pandu seraya menatap kearah Tari.
" Apakah sudah selesai le ?
" Sudah buk, semua sudah beres "
" Untuk acara yang dirumah bagaimana persiapan dokumentasinya karena bapak ngak mau ada yang terlewat baik yang dirumah kita maupun yang dirumah Mas Rahmat "
" Sudah pak, tenang saja. Nanti 3 hari sebelum hari H ada tim dari sini yang akan kesana. Jadi semua sudah beres, Vanya punya banyak tim dan sangat berpengalaman dalam hal ini dapat tenang saja"
" Iya pak, saya ada beberapa tim nanti yang akan saya bagi sesuai kebutuhan dan pastinya mereka semua tenaga profesional bapak tidak usah khawatir. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak WOnya pak "
" Saya tidak mau satupun rangkain adat ada yang terlewatkan " Bu Darmi berusaha menimpali.
" Sudah ya buk, pak jangan khawatir dengan hal ini Pandu memilih orang - orang profesional dalam bidangnya "
" Memang harus le, karena momen sekali seumur hidup jadi harus yang terbaik ingat perjuangan mendapatkannya " ucap Bu Darmi seraya menatap putranya kemudian beralih kepada Tari.
" Baiklah Vanya saya rasa cukup untuk hari ini dan saya sangat berterimakasih untuk hari ini. Sisanya akan kita diskusikan lewat telefon kami permisi dulu "
" Iya, terimakasih bro atas kepercayaannya, sampai bertemu dihari bahagiamu "
Mereka semua berpamitan pada Vanya dan menjabat tangannya. Mobil Pandu pun bergegas meninggalkan parkiran dan melaju berlahan menuju jalanan. Jam menunjukkan pukul 17 : 15 yang menandakan akan segera memasuki waktu Maghrib.
" Nak Pandu, kita nyari mushola terdekat ya karena sudah mau masuk waktu Maghrib " ucap pak Rahmat yang duduk disamping Pandu yang sedang menyetir.
" Enggeh Pak, sekalian nyari rumah makan Pak kita sekalian makan malam.
Akhirnya Pandu menghentikan mobilnya disebuah rumah makan yang bergaya etnik dengan mushola yang terletak disebelahnya. Satu persatu penumpang itu turun dan berjalan menuju ke mushola karena sudah terdengar adzan Maghrib. Tari yang duduk dibelakang mendapat giliran paling terakhir untuk menuruni mobil itu, dengan setia Pandu menunggu pujian hatinya itu turun. Mereka berjalan beriringan menuju mushola itu yang letaknya memang sedikit jauh dari parkiran disertai obrolan - obrolan kecil mereka.
" Dek, Tunggu mas "
" Mas ayo, jangan sepelan itu jalannya. Sampean lihat itu kita sudah ketinggalan jauh Lo "
" Makanya adek itu gandeng tangan mas, biar mas jalannya cepat "
Seketika Tari menoleh dan melotot kearah Pandu, yang disambut dengan ketawa kecil oleh Pandu yang kemudian mencubit pipi Tari dengan gemas.
" Mas, apa sih "
" Gemes tau, makanya jangan melotot kayak gitu mas kan gak bisa nahan gemes kalau adek mukanya kayak gitu "
__ADS_1
" Alah masnya saja yang modus "
" Ngak papa lah dek sekali - kali modus "
" Ayolah mas, lama sekali jalanya biar sudah ya aku tinggal "
Dengan seketika Pandu berlari meninggalkan Tari yang masih menggerutu, sembari menoleh kearah tari dan menjulurkan lidahnya. Dengan perasaan yang jengkel Tari pun berlari dan menyusul Pandu. Dengan nafas yang terengah-engah Tari sampai di mushola itu kemudian menuju toilet dan mengambil wudhu. Setelah mereka semua selesai dengan kewajibannya masing - masing mereka bergegas keluar dari mushola. Hanya menyisakan Tari yang masih setia dengan Murojaahnya yang tidak pernah dia tinggalkan selepas 5 waktu.
" Lihat le betapa istimewanya calon istrimu itu " Ucap pak Yadi.
" Iya Pak, itu yang membuat Pandu tidak lepas darinya "
" Jangan pernah kecewakan dia apalagi membuat sakit hatinya, dia sungguh teramat istimewa untuk seorang sepertimu "
" Pasti pak, Pandu juga akan berusaha memperbaiki diri pak "
Tak lama berselang Tari menyelesaikan Murojaahnya, melepas mukena dan menyimpannya dalam tasnya. Kemudian dia berjalan keluar Mushola menghampiri dua pasang paruh baya serta Pandu yang setia menunggunya di teras Mushola.
" Maaf, ya sudah lama menunggu "
" Tidak apa - apa nduk " Ucap Bu Darmi.
Mereka berjalan menuju restauran yang bergaya etnik itu dengan menu khas Jawa timurnya. Suasana serta dekorasinya sangat kental dengan budaya Jawa timur, begitu pula dengan menu yang ditawarkan tidak jauh - jauh dari menu tradisional Jawa timur. Mereka memilih tempat duduk diarea outdoor dengan meja kayu jati panjang dengan Tempak duduk yang mengitari. Suasana yang semula sepi ternyata sekarang ramai dengan tamu yang datang. Tak lama berselang pelayang datang dengan membawa daftar menu, semua memilih menu yang mereka inginkan.
Obrolan serta candaan terus bergulir saat mereka menunggu pesanan mereka datang. Suasana tenang sedikit ricuh ketika seseorang memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu romantis milik band Yovie and Nuno.
*Dengarkanlah wanita impianku
Malam ini akan ku sampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan ku sampaikan
Janji suci satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersunting mu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak ingin mengulang tuk meminta
Hanya satu keyakinan ini
Engkaulah yang terbaik untukku*
Sorakan dan teriakan begitu jelas semakin menambah suasana menjadi hidup. Tapi tidak dengan Tari yang masih asik menundukkan kepala entah apa yang dia lakukan, sampai sang ayah yang disebelahnya menegurnya dan kemudian dia menoleh kearah yang ditunjuk ayahnya dan seketika pipinya bersemu merah dan kepalanya kembali tertunduk lebih dalam .......
Bersambung ........
__ADS_1