Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
100. Sebuah usaha


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


POV. SETYO


Aku sudah bisa memulai hidupku yang baru, ya setelah penolakannya aku mencoba berdamai dengan keadaan yang ada. Aku mencoba mengihklaskannya, selama dia bisa bahagia dengan siapapun aku akan ikut bahagia. Dan aku mulai menata hidup ku kembali, menenggelamkan diri dengan pekerjaan adalah hal yang mampu membuatku cepat bisa melupakan itu. Ibu ku mengatur pertunangan untukku yang mau tidak mau aku harus setujui karena aku tidak bisa membawa dia kembali. Konyol sebenarnya, dulu keluargaku tidak menginginkannya tapi entahengapa sekarang mereka ingin sekali aku bersamanya.


Namun nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terlambat dia berhak bahagia meskipun bukan dengan ku. Minggu depan pelatihan yang kulakukan akan segera berakhir dan tepat saat kepulangan ku saat itu pula pertunangan ku di gelar. Seharusnya aku bahagia karena aku sampai pada satu titik dimana aku mengikat seorang gadis dengan sebuah ikatan menuju pernikahan. Tapi jauh di dasar hatiku, aku tidak merasakan itu.


Aku pulang disambut dengan seluruh anggota keluarga ku, dan wanita yang beberapa hari ini akan menjadi tunangan ku. Meskipun beberapa bulan lalu aku mengecewakannya tapi nyatanya dia sekarang mau kembali bertunangan padaku. Senyum selalu terkembang di wajah manisnya, bahkan sesekali dia menatapku dengan malu - malu, yang semakin membuat ku merasa aneh.


" Selesai lebih cepat dari perkiraan Mas ? " Tanyanya saat kami mendapat kesempatan ngobrol bersama.


" Iya, semuanya dibuat serba kilat. " Jawabku sembari menoleh kearahnya.


" Setelah ini, apa yang sampean lakukan ? "


" Penempatan entah dimana, bisa lebih dekat ataupun lebih jauh bisa di dalam negeri ataupun diluar negeri. " Jawabku jujur.


" Tentang kita ? "


" Semuanya kan sudah diatur sama orangtua kita, aku akan menerima semua keputusan mereka. "


Ku lihat wajahnya berbinar ketika aku berkata demikian, lain dengan kata hatiku yang sedikit tidak terima namun apa yang bisa aku lakukan. Semua orang rumah benar - benar sibuk mempersiapkan acara itu, tanpa sengaja aku mendengar sesuatu dari orang - orang yang sedang mengobrol di dapur.


" Lah Iyo Mbak Salamah mantu Ra omong - omong eruh - eruh di kenalne jare iki bojone Syam. "


" Laiyo, ora eruh moro - moro Syam nduwe bojo. "


" Tapi pinter Syam golek bojo, bojone ayu kalem cocok karo Syam. "


Begitulah kita - kira obrolan dari saudara - saudara ku yang tengah membuat beberapa kue kering di dapur. Syam adalah kakak sepupuku meskipun umurnya di bawah ku, namun sesuai tradisi aku harus memanggilnya dengan sebutan 'Mas Syam'. Dia adalah sosok yang mumpuni dalam segala hal dari segi fisik dia terbilang cukup tampan. Soal pekerjaan tentu jadi impian setiap wanita seorang prajurit TNI dan yang aku dengar dia juga menyelesaikan pendidikan Dokternya. Soal kekayaan dia terbilang sukses dengan banyaknya usaha yang dia punya. Sudah sepantasnya kalau dia mendapatkan gadis yang istimewa mengingat semua prestasinya.


Tapi tidak banyak yang tau jika hubungan ku dengannya tidak terlihat seakrab di luarnya. Meskipun saat bertemu kami akan saling menyapa namun ada hal yang sama - sama kami sembunyikan. Kami pernah terlibat suatu masalah, dan itu membuat hubungan kami renggang. Wanita yang sangat di cintainya lebih memilih ku dibandingkan dengan Mas Syam yang pada saat itu menjadi kekasihnya. Dan sejak saat itu hubungan kami hanya nampak baik di luarnya saja.


" Le, sudah buat daftar nama yang akan di undang ? "

__ADS_1


" Belum Buk, aku ngikut ibuk saja tidak ada yang bisa di undang ini kan juga masih tunangan Buk. " Jawabku saat ibu menyuruhku membuat daftar nama - nama siapa saja yang ingin ku undang.


" Ini pertunangan mu lo Le, ojo koyok Syam eruh - eruh langsung ngowo bojone mulih ujug - ujug. "


" Wes nikah tenan to Buk, Mas Syam ? "


" Uwes Le. "


Entah mengapa aku sedikit penasaran dengan siapa Mas Syam itu menikah, tiba - tiba rasa penasaranku muncul begitu saja. Padahal biasanya aku tidak begitu ingin mengetahui banyak hal tentangnya.


Karena penasaranku yang tinggi, bertanya sama semua orang tentang siapa sosok yang menjadi istri Mas Syam itu tapi mereka tidak mau menjawab dan jawaban mereka sama.


" Sesuk pas sampean tunangan kan pasti ketemu, wong sesuk bocahe janji jare arepe teko. "


Dan itu membuatku semakin penasaran saja, satu orang yang belum ku tanya Mbak Denti pasti dia tahu. Dan aku yakin pasti dia juga mau menjawab pertanyaan ku, tidak seperti yang lain hanya semakin membuatku tambah penasaran.


" Mbak mau nanya sesuatu. " Dia langsung aku todong dengan sebuah pertanyaan saat dia baru masuk rumah setelah menjemput Jasmine.


" Nanya apa, Semangat bener gitu nanyanya ? "


" Siapa sih mbak istrinya Mas Syam ? " Tanyaku penasaran.


" Besuk kamu akan tahu sendiri. " Lagi - lagi aku mendapatkan jawaban yang sama, dan hal itu membuatku semakin tambah penasaran.


Tidak puas aku benar - benar tidak puas dengan jawaban mbak Denti, kenapa dia seolah juga menyembunyikan sesuatu dariku. Ku buka sosial media barang kali dari sana aku mendapatkan sesuatu yang membuatku penasaran. Kulihat postingannya di beberapa akun sosial muda milik Mas Syam namun tidak ada hal yang aku cari dia sama sekali tidak memposting sesuatu tentang istrinya. Tunggu sebentar aku seperti tidak asing dengan foto gelang tasbih yang dipostingnya beberapa hari lalu dengan caption ' Ketika jauh darimu, separuh jiwaku tertinggal bersamamu ' Sejak kapan dia jadi sosok seperti itu batinku sambil tertawa semirk.


Benda itu kenapa tidak asing bagiku, aku mencoba mengingatnya lagi kemudian ku klik foto itu dan ku zoom. Dan disana ada huruf yang tidak asing bagiku "NKB " tentu saja aku tahu inisial itu. Bahkan itu gelang tasbih yang ku berikan untuknya, dan aku pula yang mengukir inisial itu disana. Aku masih mencoba berfikir jernih dan tidak mungkin mereka .........


Ceklek .........


" Set, ayo turun kelurga Lenni sudah datang. " Mbak Denti memanggilku.


" Mbak, masuk dulu ada hal penting yang ingin aku tanyakan. " Ucap ku serius tanpa mengalihkan pandanganku dari layar lap top yang menyala.


" Iya nanti, tapi sekarang kita ke bawah dulu. Ngak enak kalau mereka harus menunggu lama. "

__ADS_1


Tak ku jawab ucapan Mbak Denti, namun aku memandangnya lekat dengan tatapan keseriusan, Dia tau arti pandanganku padanya, sehingga dia masuk ke dalam kamarku mendekat ke arahku.


" Mau tanya apa lagi ? "


" Siapa sebenarnya istri Mas Syam, jawab saja sejujurnya. "


" Menurut ku dengan pandangan seperti ini kamu sudah tau jawabannya. "


Aku berdecih sambil melempar pandangan, ku hirup dalam - dalam udara sehingga memenuhi seluruh rongga paru ,- paruku. Jujur saja nafasku kian terasa sesak, jika dugaan ku benar adanya.


" Tari ? "


Yang dijawab anggukan oleh Mbak Denti, langsung ku usap kasar wajahku. Terasa darahku mendidih pasti sekarang wajahku sudah merah padam karena emosi yang ku rasa. Mbak Denti semakin mendekat padaku, lalu menepuk bahuku pelan.


" Sudah jangan di sesali, ini memang sudah takdir yang harus kalian jalani bersikaplah bijak dan dewasa dalam menyikapi hal ini. Ingat dia sudah menolak mu berarti dia sudah tidak mencintaimu, relakan dia bahagia bersama pilihannya. Terlebih Mas Syam adalah saudara kita. "


Aku tidak bisa menjawab apa - apa, namun aku masih bisa mengangguk merespon ucapan Mbak Denti. Ku suruh Mabuk Denti ke depan terlebih dahulu aku belakangan karena ada pesan dari perusahaan jelasku padahal itu hanya alasanku saja. Ku ambil handphone milikku dan ku hubungi seseorang, setelahnya aku baru menemui keluarga Lenni.


" Maaf sepertinya pertunangan ini harus diundur dulu ada hal yang harus saya lakukan, baru saja saya mendapat telefon dari perusahaan malam ini juga saya harus berangkat. " Begitulah ucapanku, yang sukses membuat semua orang terdiam.


Ku lihat mereka semua nampak kecewa, apalagi Lenni yang dari tadi selalu tersenyum dan sesekali mencuri pandang ke arahku. Sekarang pandangannya nampak sekali kecewa dengan ku, namun aku tak peduli. Tepat pukul 21:00 aku keluar rumah, dengan menyeret satu buah koper dan tas ransel yang ku gendong di punggung ku.


" Apa kamu pergi dalam waktu yang lama Le ? " Tanya Ibuku saat aku melewati ruang tamu yang penuh dengan semua anggota keluargaku.


" Belum tentu Bu, bisa lama bisa sebentar. " Jawabku tegas.


Setelah berpamitan dengan semua anggota keluargaku aku melajukan mobil ku ke kota Malang, yang ku tahu di sanalah dia sekarang berada. Tak membutuhkan waktu yang lama aku sudah berada di depan sebuah rumah bergaya minimalis dua lantai, menurut informasi yang ku dapat di sinilah mereka tinggal.


Sudah dua hari aku selalu mengikuti kemanapun mereka pergi, namun selama itu mereka selalu bersama, dan sedikit banyak itu menambah rasa sakit dalam hatiku. Ya meskipun tidak bisa ku pungkiri kalau dia terlihat begitu bahagia, dan Mas Syam memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi seharusnya aku yang di sana, bukan Mas Syam ataupun orang lain.


Pagi itu, mereka berangkat pagi - pagi sekali, dari pakaian yang mereka kenakan sepertinya mereka akan menghadiri sebuah pesta. Mobil ku mengikuti mobil yang di tumpangi mereka, benar saja dugaan ku mereka berhenti di sebuah lahan parkir yang di siapkan untuk tamu hajatan. Aku harus bisa ikut menyelinap masuk, mungkin saja mereka di sana akan terpisah dan disitulah kesempatan bagiku.


Saat rombongan iring - iringan manten datang aku menyelinap ikut berkerumun diantara mereka, tidak ada yang mengenaliku sampai aku masuk ke dalam tenda hajatan itu. Mataku terus menyusuri setiap jengkal tempat itu untuk menemukannya, setelah hampir putus asa akhirnya aku menemukannya ya dia sedang duduk sendiri, tunggu mana Mas Syam. Ternyata sang suami sedang duduk dengan jarak lumayan jauh darinya dengan Kakak sepupunya yang selalu menempel padanya.


Ku awasi dia dari jauh, saat dia berdiri ku ikuti dia mungkin ini kesempatanku. Dia terus berjalan ke arah belakang rumah ini, aku semakin senang benar ini akan jadi sebuah keberuntungan untukku. Saat dia masuk ke dalam kamar mandi ku tunggu dia di balik tembok yang tempatnya tidak terlihat. Beberapa saat suara sound system yang cukup menggelegar dan suara biduan dangdut membuat semua orang disana beramai - ramai datang ke depan. Semesta benar - benar sedang mendukungku.

__ADS_1


Biarkanlah aku menjadi egois, biarkanlah aku menjadi tak bermoral, biarkanlah aku menjadi tak beretika. Hanya satu tujuanku, mewujudkan mimpi kami yang sempat tertunda. Salah kah bila aku berkeinginan seperti itu ? Mungkin ini satu - satunya usaha terakhir yang aku bisa.


Bersambung .......


__ADS_2