Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
38. Gadis Yang Baik


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Setiap kesalahan yang terjadi entah yang disengaja atau tidak akan selalu menghapuskan seribu kebaikan yang dilakukan. Tetapai terkadang kesalahan pula mampu mengubah sesuatu yang buruk menjadi lebih baik. Sekali saja kita berbuat salah, kadang ribuan mata memandang kita dengan pandangan merendahkan. Sedangkan Allah, Dia mencintai hambanya yang kembali, yang memelas dalam doanya memohon ampunan.


Jadi setiap kesalahan itu tidak serta merta berkonotasi buruk, semua tergantung dimana dia terletak dan kita mengartikannya.Waktu sudah meninggalkan kenangan buruk masa lalu dibelakang, tanpa ingin membawanya melangkah menuju masa depan. Keburukan dan kebaikan selalu berjalan beriringan dalam satu irama.


Tiga bulan sudah setelah kejadian pilu itu terjadi, Tari kembali lagi dengan kehidupannya semula. Hanya saja sekarang dia tinggal bersama kedua malaikatnya, kesehatannya sudah pulih seperti sedia kala.


" Yah, ayo berhenti dulu mencangkulnya. Kita sarapan dulu. "


" Iya nduk. "


Laki - laki paruh baya itu segera menghentikan aktifitasnya. Dan membersihkan tangan serta kakinya di pancuran air yang berada disebelah gubuk. Kemudian menghampiri Tari yang sibuk membuka rantang di gubuk.


" Ayo yah, mari makan dulu. "


" Iya nduk, masak apa ini wah harumnya bikin ayah tambah lapar. "


" Ni pak, sayur asem sama pepes pindang ada tempe bacem juga. " Sambil meletakkan nasi beserta lauknya di piring, lalu diberikan kepada ayahnya.


" Alhamdulillah, hari ini masih diberi rezeki nduk. Masih sehat, jadi bisa makan biarpun pakek apapun nduk. Alhamdulillah juga kita masih punya rezeki sehingga masih mampu makan dengan lauk, diluar sana masih banyak yang kelaparan.


" Enggeh pak, insyaallah Ijah akan selalu bersyukur. "


" Sampean tidak sekalian makan nduk ? "


" Mboten pak, Saya sudah mulai puasa hari ini. "


Suasana pagi itu sangat tenang, ditambah lagi dengan tiupan angin yang sepoi - sepoi menambah kenikmatan pagi ini. Saat ini sudah masuk musim tanam, jadi semua orang banyak yang mempersiapkan lahan mereka untuk ditanami. Suasana sawah menjadi ramai, ada yang mencangkul, ada yang membajak dan ada pula yang sudah mulai menanam padi. Setiap paginya Tari selalu pergi ke sawah untuk membantu pekerjaan ayahnya, mengambil tanaman gulma, dan mengambil kul sawah yang bisa menjadi hama saat padi sudah ditanam.


Setelah matahari mulai meninggi, dan sinarnya sudah mulai memberi hawa panas Tari menghentikan kegiatannya. Peluh bercucuran di dahinya, dengan kasar dia mengusapnya nafasnya terasa ngos - ngosan padahal dia tidak sedang berdiri. Matahari siang ini benar - benar tidak bersahabat, padahal biasanya Matahari tidak seterik ini karena ini sudah mulai masuk musim hujan.


Dengan segera dia mencuci kaki dan tangannya di pancuran dekat gubuk, lalu berjalan ke gubuk menunggu ayahnya. Diambilnya handphone yang dia taruh di sebuah tas kecil, diusapnya benda pipih itu. Di dapati satu pesan dalam sebuah aplikasi chat di handphonenya, dibukanya dengan seulas senyum di bibirnya.


✉️ Assalamualaikum


Sehabis Ashar kami mampir kerumah.


✉️ Iya mbak, kira - kira sampean pengin dimasakin apa ? biar tak siapkan.


Chat berasal dari Mbak Rina, dia mengabarkan kalau dia akan mampir kerumah Tari. Sudah menjadi kebiasaan Mbak Rina apabila berkunjung selalu meminta dimasakan oleh Bu Fatma. Karena dia merasa Bahwa masakan Bu Fatma seperti masakan ibunya dahulu. Jadi Tari selalu menanyakan apa yang sedang diinginkan Mbak Rina, apa lagi mengingat keadaan Mbak Rina yang sedang hamil.


✉️ Ngak usah Tar, kami nanti mampir ngak lama karena kami tidak hanya berdua. Tapi nanti kalau ada talas atau singkong aku mau. M wes mangan balapan Yo gelem


✉️ Oh hanya itu, kebetulan ini aku disawah, jadi sekalian aku cabutkan.


✉️ terimakasih sebelumnya Assalamualaikum.

__ADS_1


✉️ Ih tumben bilang terimakasih, Walaikumsalam.


Tari segera mengambil cangkul yang berada di bawah dudukan gubuk, lalu dia berjalan ke pematang sawah dipilihnya beberapa talas yang dia rasa sudah waktunya dipanen. Dia terlihat kesusahan untuk mencabut talas, mungkin karena tenaganya sudah habis. Pak Rahmat yang mengetahui hal itu segera menghampiri putri semata wayangnya.


" Sini biar Ayah saja nduk yang mencabut, sampean itu tenaganya kurang. "


" eh Ayah, tenaga Ijah sepertinya sudah habis yah hari ini panas sekali. " Ucapnya sembari menyerahkan cangkul yang berada dia gunakan.


" Kok tumben nduk mau nyabut talas memang sampean lagi pengen. "


" Mboten yah nanti Mbak Rina datang, minta talas yah sama singkong. Tapi sepertinya kalau singkong masih ada dirumah. " Ucap Tari dengan sedikit mengingat - ingat.


" Ya sudah kita ambilnya sekarang agak banyak, jadi biar bisa dibawa pulang juga. "


Mereka pun mencabut beberapa talas lagi, dan ketika dirasa sudah cukup mereka segera pulang kerumah. Tidak memperlukan waktu yang lama untuk sampai kerumah karena jarak sawah dan rumah lumayan dekat. Tari segera menuju pintu samping rumahnya, menuju dapur. Disana ibunya sedang sibuk membuat sapu lidi sekedar untuk dipakai sendiri.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam, mana ayahmu nduk ?"


" Masih dibelakang buk, buk Mbak Rina nanti mampir minta di masakin talas buk sama singkong ni Tari tadi sudah mencari talasnya. Kalau singkong sepertinya masih ada dirumah. "


" Sampean taruh situ, biar ibuk kupas dulu. Sana sampean bersih - bersih dulu. "


" Enggeh buk"


Bagi Tari bersama anak - anak kecil adalah suatu hal yang menyenangkan, yang mampu menghilangkan segala keluh kesahnya dan menimbulkan rasa bahagia dan kepuasan tersendiri baginya. Sejak kecil dia bercita - cita menjadi guru Taman Kanak - Kanak, dan setelah dewasa pun dia mampu mewujudkan cita - citanya.


" Nduk, Semua sudah matang. Sampean tata di piring nanti pas ada tamunya biar tinggal menghidangkan. "


" Enggeh buk, Mbak Rina katanya ngak hanya berdua buk. "


" Oalah, untungnya tadi masaknya juga agak banyak nduk. "


" Ya kalau masih kurang biar bawa yang masih mentah buk, hehehehe. "


" Sampean itu nduk, " Menghela nafas panjang, Dahinya tampak berkerut menandakan yang punya wajah sedang memikirkan suatu hal.


" Ada apa buk, kok sepertinya ada yang mau disampaikan. "


" ehmz, ...... sudahlah nduk, tidak apa - apa. Nanti mbak Rina sampai jam berapa ? Sampean ngak bersih - bersih rumah dulu to ?"Jawab Bu Fatma mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Buk, jangan menyembunyikan sesuatu dari Ijah, karena Ibuk tidak pandai berbohong. "


" Tadi pas sampean ke sawah sama Ayah, Mas Yadi dan Mbak Darmi datang kemari mereka mengundang kita untuk hadir di pengajian di rumahnya nanti sehabis Isyak nduk. "


" Bagaimana ibuk apa tidak ingin menghadirinya ? "

__ADS_1


" Entah ibuk tidak tahu nduk, "


" Alangkah baiknya buk kita hadir, bukankah pengajian bukan hal yang buruk dan Rosullulloh pun sangat menganjurkan hal yang demekian buk. Terus apa yang membuat Ibuk ragu tidak menghadirinya ? "


" Bagaimana perasaan sampean nduk, trus belum lagi pandangan orang - orang. "


" Ibuk, sungguh sedikitpun tidak ada yang membuat Ijah sakit hati karena kepergian kita kesana menghadiri acara tersebut. Dan juga Ijah sudah Ihklas dengan semua yang terjadi, dan lagi ibuk tidak perlu memikirkan perkataan orang lain. Fikirkan Pakde Yadi da Bude Darmi yang selalu baik kepada kita. "


" Buk benar apa yang dikatakan Ijah, sebaiknya Ibuk tidak usah mendengar ucapan orang lain. Nanti kita akan sama - sama pergi kesana. " Ucap Pak Rahmat yang datang dari pintu belakang rumah.


Tak terasa adzan Ashar kembali berkumandang dan semua penghuni rumah itu telah selesai menunaikan kewajiban mereka. Saat ini mereka sedang berada di teras samping rumah itu, Ijah sedang menyirami tanaman sayur yang tertata rapi di rak - rak bambu dihalaman samping. Sedangkan Pak Rahmat dan Bu Fatma duduk di sebuah bangku kayu di teras samping sambil memakan Singkong dan talas yang di masak tadi. Nampak sebuah mobil putih berhenti didepan rumah itu, dan turunlah beberapa orang yang segera disambut oleh keluarga kecil itu.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


" Monggo silahkan masuk Gus Reyhan, Mbak Rina, "


Semua orang Tamu itu dipersilahkan masuk, dan mereka segera masuk ke dalam. Sementara Tari dia tidak ikut menyambut tamu itu, tapi langsung ke dapur untuk membuat minum. Di seduhnya beberapa minuman dengan beberapa jenis minuman, saat sudah selesai dengan segera Tari membawanya keruang tamu. Dan menghidangkan minuman - minuman itu. Kemudian dia berlalu mengambil talas dan singkong yang tadi sudah dia siapkan. dan sepiring tapai ketan yang dibungkus daun pisang yang dibuat Bu Fatma beberapa lalu.


Ternyata yang sedang bersama Gus Reyhan dan Mbak Rina adalah Kiyai Bahrudin, beserta istrinya Bunyai Salamah dan putri bungsu mereka Nafisah. Kiyai Bahrudin merupakan adik dari ayah Gus Reyhan yang berarti Pak lek bagi Gus Reyhan. Mereka baru saja dari Kediri rumah kediaman Kiyai Bahrudin dan menuju Malang.


" Kiyai perkenalkan ini putri kami, Nyimas Khodijah Bramastari. " Ucap Pak Rahmat memperkenalkan putrinya.


Tari tersenyum seraya menangkupkan tangannya di dada dan tersenyum. Gadis itu nampak begitu cantik dengan gamis warna maroon dan kerudung syar'inya, wajahnya polos tanpa sapuan make up apapun tapi bibirnya tetap saya merah merona. Nafisa gadis kecil itu datang menghampiri Tari yang duduk di depannya, mengulas senyum diwajahnya yang putih bersih.


" Adek, namanya siapa. ?


" Namaku Nafisa kakak, " Sembari duduk disebelah Tari


Obrolan demi obrolan dan di selengi gelak tawa terdengar dari rumah kecil itu. Semua orang tampak membaur dengan obrolan mereka masing - masing. Sedangkan Tari menanti Nafisa yang ingin melihat kambing di kandang belakang rumah. Betapa senangnya gadis kecil itu saat dia berada di belakang rumah Tari karena banyak hal yang dia temukan. Sampai - sampai dia tidak ingin beranjak dari tempat itu, hingga terdengar suara panggilan dari depan yang membuat gadis kecil itu mau tidak mau meninggalkan tempat itu.


Kiyai Bahrudin berpamitan kepada kedua pasang paruh baya itu. dan diikuti Gus Reyhan dan Mbak Rina yang juga berpamitan. Sedangkan Nafisa masih enggan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Tari. Seperti biasa setiap kali berkunjung kesini Bu Fatma selalu membawakan oleh - oleh kepada mbak Rina. Untuk kali ini mereka membawa tanaman umbi - umbian dan juga sambel pecel dan kering kentang yang selalu tidak ketinggalan.


" Mari pak Rahmat kami permisi, Assalamualaikum "


" Enggeh Kiyai, Walaikumsalam "


Mobil itupun melaju meninggalkan rumah itu dengan kecepatan sedang menuju kota Malang.


" Sepertinya putrinya Pak Rahmat tadi gadis yang baik ya Ning Rina. " Ucap Bunyai salamah.


Bersambung .......


Terimakasih teman - teman semua atas apresiasi untuk novel pertama saya. Maaf bila dalam penulisan dan tanda baca masih banyak yang salah .......


Jangan lupa like dan komennya, 🙏🙏😍😍😍

__ADS_1


Jangan pernah bosan dengan kisah Tari ya, ......


__ADS_2