
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
"Anu mba, hilang pas perjalanan pulang kemarin mba" pandangannya hampa menatap tasbih ditangannya.
"Itu tandanya kamu ditegur sama Allah"
"Iya mungkin mba"
"Bukan mungkin, memang iya kamu sedang ditegur sama Allah. Bagaimana kamu bisa mencintai ciptaannya melebihi Penciptanya ?" ucapan Gus Reyhan yg menyahut ucapan kedua wanita itu.......
Mendengar ucapan Gus Reyhan, wajah Tari langsung tertunduk hatinya bergetar. Tak lama berselang butiran bening keluar dari pelupuk matanya, dadanya terasa sesak sekali dya menunduk mencoba menyembunyikan tangisnya dari dua orang yg duduk di depan itu.
"Tar, mulut itu memang pandai sekali berdusta tapi mata cerminan hatimu"
"enggeh Gus, saya hany......."
"ikhlas itu bukan hanya saja di mulut, tapi juga di hati dan dilakukan dalam perbuatan. Mulutmu berkata ikhlas tapi tidak dengan mata dan perbuatan mu"
"Tar, Allah itu sudah menuliskan jodoh kita di laumil Mahjujz dan kita sudah menyetui hal itu. Kamu harus ingat dan jangan pernah meragukan kuasa-Nya"
"Iya mbak"
"Kasihan orang tuamu, tidak sepatutnya juga kamu menghukum dirimu dengan seperti ini"
Tari hanya terdiam mencoba menghapus buliran bening di pipinya. Bayangan tentang masa lalunya mulai menari - baru di fikirannya. Tentang sesosok lelaki yang mengisi 6 Tahun terakhir dalam hidupnya.
Lelaki yang mampu mengubah semua kehidupan Tari, lelaki yang mampu menoreh luka dalam kehidupan gadis mungil itu.
Tidak ada perbincangan apapun diantara mereka bertiga, hanya kesunyian yang ada. setelah sekitar 1 jam mereka mulai sampai di kota Malang, kota dingin di Jawa timur ini sekarang tumbuh menjadi kota yang ramai begitu pula malam ini untuk sampai ke asrama membutuhkan waktu 2 setengah jam yang biasanya bisa di tempuh hanya dalam waktu 1 setengah jam saja.
"Sayang, mau mampir kemana dulu atau ada yang sampean cari ?"
"Ada mas, kita mampir ke Indo**ret dulu"
"Sebenarnya tadi Ghisan mengajak bertemu sayang, tapi nonya tidak bisa dihubungi"
"benarkah ?"
"Dya mau berpamitan, hari Kamis dya berangkat"
"Pak dokter itu, umur sudah setua itu tapi masih saja sibuk dengan pekerjaannya"
"Namanya belum jodoh sayang" Terlihat Tari mengeringkan mata manjanya pada Gus Reyhan.
Tak lama berselang mobil sampailah di sebuah parkiran mini market Indo**ret. Dan semua penumpang mobil itu nampak turun.
"Mba mau belanja apa ?"
"Biasalah kebutuhan dapur Tar, Gus Reyhan suka rewel kalau tidak makan masakan rumah"
"Makanya cepet nikah"
"Insyaallah mba, kalau jodohnya datang"
__ADS_1
"Gimana mau Dateng Tar, orang sampean yang punya rumah saja menutup pintu rumahnya rapat - rapat" tanpa melihat Tari ucapan itu lolos begitu saja, Mbak Rina beharap kalau saja Tari itu mau membuka hati dan fikirannya.
Tari semakin tertunduk dengan ucapan mbak Rina, memang keadaan seperti itu lah yang sebenarnya terjadi. Tari enggan sekali membuka hatinya untuk orang baru, sekedar untuk menyapa lawan jenis saja sangat begitu dya hindari apalagi membuka hati.
Bagaiman seseorang masuk dalam suatu rumah bila si pemilik rumah menutup rumah tersebut dan membuang kunci itu entah kemana sekiranya itu perumpamaan yang cocok untuk Tari
Mereka berdua mulai menelusuri rak - rak dalam minimarket itu dan sembari memasukan barang yang memang dicari, setelah sekitar 30 menit mereka selesai berbelanja dan berjalan menuju kasir di ikuti Gus Reyhan.
"sayang, Ghizzan telefon aku angkat diluar dulu ya" sambil melangkahkan kakinya keluar minimarket.
"iya, sampean tunggu diluar Gus" jawab mba Rina.
Setelah membayar belanjanya masing - masing mereka pun berjalan keluar minimarket tersebut, Di luar nampak Gus Reyhan yang masih sibuk bertelefon.
"Sampun Gus, ?"
"Sudah, ayo kita langsung pulang"
"loh gimana, GK jadi ketemu Ghizzan nya ?"
"Tidak, dya tiba - tiba ada operasi"
"untung saja Gus, sampean bukan dokter jadi aku ngak sering sampean tinggal mendadak" nampak wajah mba Rina cengengesan dan matanya berkerling manja pada suaminya.
"Tar, sampean gimana maunya suami berprofesi apa ??"
"Belum terfikir mba, yang diberikan Allah pasti yg terbaik mba" sambil menghela nafas panjang menandakan siempunya tubuh sedang bergelut dengan hatinya.
"Mau tak kenalkan sama Ghizzan ?, sini tak lihatin fotonya" mbak Rina begitu antusias menyodorkan hp ditangannya ke arah Tari..
"yang membedakan kita itu hanya tingkat keimanan kita, pangkat, harta, jabatan sama sekali tidak bisa membedakan kita" ucap Gus Reyhan.
"Enggeh Gus"
30 menit kemudian mobil itu sampai di depan gerbang sebuah asrama besar, nampak beberapa gedung tingkat berjajar. Dengan sigap penjaga gerbang membuka pintu mengetahui mobil itu datang.
"assalamualaikum Gus"
"walaikumsalam cak"
Mobil berhenti di salah satu gedung itu, tak lama berselang Tari turun dari mobil seraya membawa tas selempang dan satu kantong belanja di tangannya.
"Terimakasih Gus, mba Rina. ouw iya ini oleh - oleh dari ibuk mba" Tari bapak memberikan sekantong plastik yang berisi sambal pecel dan sambel goreng kering kentang.
"Alhamdulillah, ibuk itu memang paling ngerti" mba Rina tampak antusias sekali menerimanya karena dya sangat suka dengan kedua masakan itu.
"saya masuk dulu mba Rina"
"Iya"
"assalamualaikum"
"walaikumsalam"
__ADS_1
Mobil itu melaju meninggalkan gadis kecil itu menuju gerbang asrama dan berlalu pergi. Tari kemudian berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Wajahnya nampak tertunduk dan sesekali menganggukkan kepala ketika ada yang menyapanya. Tiba didepan sebuah kamar yang terdengar ramai dari luar dya melangkah kedalam..
"assalamualaikum"
"walaikumsalam" begitu kompak orang - orang dalam ruangan tersebut menjawab salam tersebut nampak wajah penuh bahagia mereka ketika melihat se sosok orang yang mengucap salam tersebut.
"Ini sudah malam kenapa kalian belum tidur?"
"nungguin mbak Tari, kan kalau mba Tari belum datang kita belum bisa tidur"
"halah, ini akal - akalan kalian saja, ayo segera berwudhu dan bersiap untuk tidur"
Sekumpulan santri itu bergegas ke kamar mandi dan segera berwudhu. Nampak Tari berjalan kearah lemari dya meletakkan tas dan kresek belanjanya disana. Tak lama berselang santri santri itu datang dan mulai menempati layar mereka masing - masing nampak beberapa dari mereka yang masih berbincang diatas kasur. Tari yang mengetahui hal tersebut langsung berdiri ditengah - tengah ruangan.
"Masih ingin ngobrol atau Tidur, nanti mbak catat ya siapa yang ngobrol dan itu berarti besuk tidak dapat oleh - oleh"
"yah mbak Tari"
"tidak ada protes karena ini sudah malam"
Tari berjalan menghampiri saklar lampu, dan mematikannya. Setelah beberapa menit keadaan mulai hening nampak mata mereka sudah menutup nafas mereka pun sudah mulai beraturan.
Dengan langkah yg pelan Tari meninggalkan kamar tersebut menuju kamar mandi untuk berwudhu, lalu dya melangkahkan kakinya ke mushola yang berada dilantai satu dalam gedung itu karena dalam setiap gedung ada mushola kecil sementara masjid besar ada di bagian paling depan dari keseluruhan bangunan.
Beberapa santri masih nampak di mushola itu karena memang tugas ngaji atau hafalan yang belum selesai. Tari pun melakukan kewajibannya dya melaksanakan sholat isya yang belum dya lakukan dengan khusyuk, dengan dilanjutkan hapalan yang biasa dya lakukan. Satu persatu santri meninggalkan mushola itu meninggalkan Tari seorang diri.
Dya masih bergelut dengan hafalannya tanpa dya sadari dya teringat semua kejadian di mobil tadi.
"ya Allah engkau maha memiliki kehidupan ini, Engaku muara dari setiap segala doa hambamu ya Allah. Hampa pasrahkan semua hidup hamba hanya pada- Mu karena Engkaulah pemilih raga dan jiwa ini. Jauhkanlah, hapuskanlah dya ketika dya memang bukan milik hamba tanpa meninggalkan rasa sakit, Dan apa bila dya adalah milik hamba, persatukann hamba dengan keridhoan-Mu tanpa menimbulkan sakit terhadap orang - orang disekitar kami.
ya Allah sesungguhnya hamba tidak pernah meragukan kuasa-Mu berikan lah hamba keihklasan dan kesabaran atas semua takdir dan ketetapan yang engkau berikan ......
Amien, Amien, Amien"
*********
"Gus bagaimana kalau kita jodohkan Ghisan dengan Tari ?"
"Apa mungkin bisa ? menurutku mereka terlalu keras kepala"
"kita tidak tau kalau tidak mencoba sayang"
"tapi Ghisan akan pergi cukup lama, sekitar 2 tahun"
"selama itu kah ?"
"iya, dya sangat memimpikan hal ini sayang, apa lagi hari Kamis dya sudah berangkat".
"semoga Allah membukakan jalan sayang" tangan mbak Rina mengenadah seolah - olah sedang berdoa dan mengusap mukanya.
"Amien, Amien, Amien"
Bagaimanapun mbak Rina adalah orang yang tau tentang Tari, dari pada orang lain. Meskipun Tari belum bisa sepenuhnya terbuka kepadanya dya selau bisa mengerti apa yang terjadi kepada gadis mungil itu. Dya menyayangi Tari seperti selayaknya seorang kakak kepada adik kecilnya.
__ADS_1
Selalu memahami perasaan Tari tanpa gadis itu bercerita, cukup dengan melihat perbuatan gadis itu sosoknya sangat keibuan. Hal itu pula yang membuat Gus Reyhan jatuh hati padanya, sosok yang dewasa, lembut dan penuh kehangatan.
Bersambung