
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Yah, Tari berangkat dulu ngeh. Jangan telat makannya, obatnya jangan sampai lupa. " Ucapnya sembari menggenggam tangan keriput itu.
" Iya, sudah jangan khawatir. Sampean harus bisa jaga diri ya nduk, jangan pernah tinggalkan kewajiban kita. " Ucapnya sembari memeluk tubuh putri kesayangannya.
Tari memeluk laki - laki paruh baya itu dengan erat, entah mengapa rasanya begitu berat untuk meninggalkan kedua orang tuanya. Tak biasanya dia merasakan hal itu, dia malah semakin mempererat pelukannya. Sedangkan Pak Rahmat yang mengetahui kegelisahan yang dialami anaknya, mengusap bahu putrinya itu pelan. Berusaha meringankan rasa sedih yang dirasakan anaknya.
" Nduk, ayo nanti keburu bisnya lewat lo. "
" Enggeh buk, Yah sehat - sehat ya, insyaallah Jumat depan Ijah pulang ayah jangan berfikir yang aneh. " Sembari mencium tangan laki - laki itu dengan penuh takzim.
Tari melangkah meninggalkan kamar milik ayahnya, diantar oleh ibunya menunggu bis yang akan membawanya menuju kota Kediri. Dia tidak membawa banyak barang, hanya Sling back yang menggantung di bahunya dan satu kantong kresek yang berisi oleh - oleh untuk anggota asrama.
" Buk, Tari titip ayah ngeh tolong jaga ayah. Njenengan juga harus jaga diri Buk, banyak istirahat kalau dirasa pusing cepat minum obatnya ngeh. "
" Iya nduk, pasti Ibuk jaga Ayah dan jaga diri Ibuk, sudah sampean tidak usah khawatir fokus saja pada apa yang sedang menjadi tanggung jawab sampean. Ayah mu
" Enggeh Buk, Assalamualaikum. "
" Walaikumsalam. "
Bus yang Tari tunggu akhirnya datang juga, dia menaiki bus patas antar kota yang akan mengantarnya sampai kota Kediri. Dia lebih memilih bis patas karena dia tidak perlu ganti bis lagi, karena bis ini akan berhenti di terminal kota Kediri. Setelahnya perjalanan dia lanjutkan menaiki becak atau ojek.
Dua jam sudah dia habiskan di dalam bis, sembari memurojoah dengan mufrod ditangannya. Entah mengapa dia merasa ada yang mengganjal dihatinya, tidak seperti biasanya. Dia turun di terminal kemudian memilih menaiki becak untuk sampai ke asrama.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " Jawab Bu Tini yang berada di ruang tamu asrama.
Tari masuk kedalam lalu menyalami wanita paruh baya itu, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa dekat Buk Tini duduk.
" Monggo Buk, oleh - oleh dari Ibuk. " Sambil menyerahkan kresek yang berisi sambel pecel dan beberapa makanan lain.
" Oalah kok repot - repot to nduk. " Sambil menerima kresek yang diberikan Tari.
" Mboten Buk, di rumah selalu ada persediaan sambel pecel. "
" Bagaimana nduk, Ayahmu ? "
" Alhamdulillah Buk, sampun sehat tapi masih harus kontrol Buk. "
Tari teringat Ayahnya ketika dia tinggalkan tadi, beliau nampak sehat badannya segar. Sebelum berangkat tadi banyak sekali hal yang beliau sampaikan padanya, entah itu nasihat ataupun candaan.
" Jangan sedih seperti itu, Insyaallah semua sudah ada jatahnya nduk. Kita manusia hanya tinggal menjalankannya dan harus senantiasa ihklas dan bersabar. "
" Enggeh Buk, Tari keatas terlebih dahulu. "
Gadis itu berdiri dari duduknya, berjalan menyusuri tangga menuju lantai dua di mana kamarnya berada. Diambilnya kunci kamar yang ada di dalam Sling backnya.
" Sudah datang Tar. " Ucap seseorang yang baru keluar dari kamar sebelahnya.
" Mbak Rin, baru saja sampai Mbak. Sampean tidak pulang Mbak ? "
" Enggak Tar, malas pulang wong suami juga ngak ada jatah pulang juga jadi percuma kalau pulang. Oiya, bagaimana keadaan ayah sampean ? "
Rini jarang sekali pulang di waktu akhir pekan karena suaminya yang seorang tentara dan sedang ditugaskan jauh di Maluku. Membuatnya tidak ingin pulang apabila akhir pekan, padahal kebanyakan penghuni asrama akan pulang apabila akhir pekan.
" Belum waktunya pulang Mbak ,? Alhamdulillah Mbak sudah baikan meskipun masih perlu kontrol. "
" Masih kurang 2 bulan Tar, lumayan lama. Alhamdulillah kalau begitu, "
" Saya masuk dulu ya Mbak. "
Gadis itu melepas sling backnya dan menaruhnya diatas nakas, kemudian duduk di kursi yang menghadap ke jendela. Di lihatnya beberapa pot bunga miliknya yang tanahnya mulai mengering. Lalu diambilnya air dari kamar mandi kemudian menyirami bunga miliknya.
Kaktus hias dengan bunga berwarna kuning dan merah cukup kontras dengan batangnya yang penuh duri, dan beberapa sukulen dengan bentuk yang terbilang cukup unik. Memberikan pemandangan tersendiri baginya, yang membuat jendela kamarnya cukup berwarna dengan kehadiran mereka.
Dddrrrttt ...... dddrrrttt ..... dddrrrtttt
__ADS_1
📞 Assalamualaikum
📞 Walaikumsalam
📞 Sedang dimana Tar , sudah di asrama ?
📞 Sudah Mbak baru saja sampai.
📞 Ya sudah, bersiaplah sebentar lagi Mbak santri akan ada yang menjemput sampean.
📞 Untuk apa Mbak ? "
📞 Bulik Mamah ingin menemui mu, sampean bersiap saja.
Tari tidak mengerti kenapa Bunyai Salamah ingin menemuinya. Namun karena ini permintaan dari seorang Bunyai dia tidak berani untuk menolaknya. Dia memasuki kamar mandi untuk membasuh mukanya, agar terasa segar. Kemudian dia berganti pakaian serta kerudungnya, menggunakan gamis syar'i berwarna navy bermotif bunga yang sangat dengan kulitnya.
Dia memasukkan handphone dan dompetnya kedalam Sling backnya. Dia termenung cukup lama ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Menghela nafas panjang kemudian melangkah keluar dan mengunci kamarnya.
" Mau kemana Tar. " Tanya Rini ketika sampai di lantai bawah.
" Mau ke ndalem Bunyai Salamah Mbak. "
" Ada ada kajian di sana ? "
" Kurang tahu Mbak, hanya tadi di telfon Mbak Rina katanya Bunyai Salamah ingin bertemu. "
" Loh, sudah rapi nduk mau kemana ? " Tanya Bu Tini yang baru saja masuk dari arah dapur.
" Mau ke ndalem Bunyai Salamah Buk. "
" Wah mau ketemu Bunyai, ada apa nduk. Jangan - jangan mau dijadikan mantu sampean. " Cibir Bu Tini kepada Tari.
" Mboten to Buk, siapa saya sampek di jadikan mantu Bunyai Salamah. "
" Eh jangan salah, bisa saja nduk jodoh ngak ada yang tau. Iya to Mbak Rini. "
" Enggeh Buk bener, nanti sampean kalau lihat putranya Bunyai Salamah bisa langsung kelepek - kelepek.
" Bukannya putranya Bunyai Salamah itu temen sampean to Mbak Rin ? "
" Enggeh Buk Tin, tapi kan sekarang dia sedang menyelesaikan pendidikannya Buk. "
" Oalah, wez sholeh, bagus, pinter pisan beruntung ya yang menjadi istrinya kelak. "
" Sudah Pasti kalau itu Buk. "
Tari tidak menanggapi pembicaraan Rini dan Buk Tini yang membahas tentang putra pertama Bunyai Salamah. Bukan tidak mendengarkan namun pikirannya sedang tidak ada disini.
" Assalamualaikum " Ucap gadis yang berdiri di depan pintu asrama.
" Walaikumsalam " jawab mereka serempak.
" Mencari siapa mbak ? " Tanya Bu Tini.
" Maaf Bu, saya disuruh Bunyai Salamah untuk menjemput Mbak Tari. "
" Oalah ini orangnya sudah siap. " Jawab Rini.
" Monggo Mbak Tari, "
" Buk, Mbak Rin saya berangkat terlebih dahulu. Assalamualaikum "
" Walaikumsalam. "
Kedua gadis itu melewati pintu samping, sepeda motor matic sudah terparkir di sana yang akan mengantar mereka ke ndalem Bunyai Salamah. jarak antara dan ndalem dan asrama cukup dekat apalagi kalau ditempuh menggunakan sepeda motor. Sepanjang perjalanan mereka isi dengan saling memperkenalkan diri.
Setelah 15 menit perjalanan akhirnya mereka sampai, Mbak Juriah nama mbak santri yang menjemputnya. Dia mengajaknya untuk masuk lewat pintu belakang yang langsung mengarah ke dapur ndalem, yang katanya mempersingkat perjalanan mereka. Mereka melewati dapur yang siang itu cukup ramai dengan kehadiran beberapa mbak santri yang tengah memasak.
" Assalamualaikum " Ucap Juriah ketika membuka pintu dapur.
__ADS_1
" Walaikumsalam " Jawab mereka serempak.
" Mbak Ju sudah sampai, di tunggu Bunyai di ruang belakang Mbak. "
Semua Mbak santri di sini terlihat memandang ke arah Tari dengan penuh tanda tanya, Yang membuat Tari sedikit kurang nyaman. Dia mengikuti langkah Mbak Juriah yang berjalan di depannya menuju ruang belakang.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " Jawab semua orang yang berada di ruang belakang.
Tari segera mendekat ke arah Bunyai Salamah dan menyalaminya dengan takzim, kemudian beralih menyalami semua orang yang berada disana. Bunyai memanggilnya untuk duduk di sebelahnya, gadis itupun mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah Bunyai duduk.
" Bagaimana nduk keadaan ayah sampean ? "
" Alhamdulillah Bunyai, sampun sekeco. "
" Maaf ya belum sempat kesana, disini masih repot. "
" Mboten nopo - nopo Bunyai. "
Hanya itu saja yang mereka bicarakan karena tamu Bunyai pun waktu itu cukup banyak. Bahkan Bunyai meninggalkannya seorang diri diruang belakang, karena harus mengantar tamu - tamunya. Tari menunggu dengan memainkan handphone di tangannya berkirim pesan dengan temannya.
✉️ Mbak sampean dimana ? Aku sudah sampai di asrama.
✉️ Di ndalem Bunyai Salamah.
✉️ Wow, ada apa mbak kok kesana. cie ...... cie ...... deketin Bunyai dulu ni ceritanya biar dapat Gus ini ceritanya.
✉️ Ngomong apa sampean ngak jelas. Bagaimana sudah beres suratnya ?
" Mbak Tar, ditunggu Kiyai samai Bunyai di ruang perpustakaan. "
" Iya Mbak Ju. "
" Mari ikut saya Mbak. "
Tari mengikuti gadis bertubuh gemuk itu dibelakangnya, ndalem milik kiyai Baharuddin ini cukup besar. Dengan beberapa ruang dan lorong - lorong panjang, cukup membuat orang bingung bagi orang yang pertama memasukinya. Setelah berjalan melewati beberapa lorong dengan kamar - kamar di sisi kanan kirinya sampailah dia di depan sebuah pintu yang cukup besar.
Juriah mengetik pintu itu pelan, setelah terdengar suara dari dalam yang menyuruh mereka masuk, baru Juriah membuka pintu itu lalu mempersilahkan Tari masuk.
" Sini nduk " Ucap Bunyai Salamah kepada Tari sembari menepuk sisi sofa yang kosong, sedangkan kiyai Baharuddin duduk di sofa depan mereka.
" Enggeh Bunyai. "
" Bagaimana keadaan Ayah sampean nduk ? "
" Alhamdulillah, sampun sekeco Kiyai. "
" Alhamdulillah kalau begitu nduk, yang ihklas dan sabar ketika sedang diuji. "
" Insyaallah kiyai. "
" Nduk, apa bener yang dikatakan Ning Rina ? " Tanya wanita paruh baya itu hati - hati. ,"
Tari yang mengetahui maksud dari ucapan Bunyai Salamah, hanya bisa mengangguk mengiyakan pertanyaan Bunyai Salamah.
" Enggeh Bunyai. "
" Memang Mbak Romlah sifatnya dari dulu seperti itu. Meskipun kami saudara dekat, namun kami tidak dekat ya karena sifat kita yang berbeda. Namun saya tidak membenarkan sifatnya yang seperti itu, sejak dahulu dia selalu memaksakan kehendaknya terhadap orang lain. "
" Mau bagaimana lagi Bunyai, sejak awal saya sudah menjelaskan kepada Bu Romlah. Mungkin penjelasan saya tidak bisa diterima oleh beliau. Namun yang saya sayangkan kenapa harus mendatangi orang tua saya. "
" Maka dari itu, bagaimana perasaan mu sekarang kepada Setyo nduk bicaralah sejujurnya. "
" Sejujurnya Bunyai, saya sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada Mas Setyo. Memang dulu kami pernah memiliki sebuah hubungan, namun waktu sudah mengubah semuanya.
Tidak biasanya Tari bisa menceritakan semua masalahnya kepada orang lain, namun kali ini dia menceritakan semua yang dia rasakan kepada Bunyai Salamah yang juga disaksikan Kiyai Baharuddin. Tentang hubungannya dengan Setyo, sampai rasa kekhawatirannya terhadap ayahnya semua dia ungkapkan disertai butiran kristal bening yang memenuhi pipinya.
" Nduk, apapun yang orang tua sampean pilihkan untuk sampean, insyaallah akan menjadi yang terbaik untuk sampean. " Ucap Kiyai Baharuddin.
__ADS_1
Bersambung .......