Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
86. Paket Komplit


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Berjuanglah, jika kamu yakin dengan apa yang kamu pinta siang dan malam. Jangan pernah menyerah, karena hal besar itu butuh waktu, teruslah berusaha dan berdoa. Bukankan Allah maha mendengar dan maha mengabulkan.


Ini sudah hari ke lima semenjak Tari, di bawa oleh suaminya ke rumah sakit setelah dia tidak sadarkan diri. Dan selama lima hari ini dia belum membuka mata, pernah dia sekali membuka mata tepatnya di hari ketiga namun itu hanya seperti orang yang mengedipkan mata. Sesudahnya dia kembali menutup mata, seolah dia sedang menikmati tidur panjangnya itu.


" Gus, monggo sudah Adzan Njenengan buka terlebih dahulu. " Ucap Irsyad sambil menganggsurkan sebotol air mineral kearahnya.


" Terimakasih Syad. " Jawabnya sembari menerima botol yang diberikan Irsyad.


Segera dia membuka tutup botol itu, kemudian meneguk isinya hingga habis setengahnya. Di lihatnya wajah sang istri, kemudian dia mengelus pipi istrinya itu pelan sambil mengecup keningnya sekilas. Kemudian dia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, karena dia duduk dalam waktu yang cukup lama.


" Jamaah di sini saja Syad. "


" Enggeh Gus, tapi nunggu Bang Irhas dulu Gus sebentar lagi pasti datang. "


" Iya, saya mau bersih - bersih dahulu. "


Selama Tari dirawat tidak sekalipun dia meninggalkan istrinya, bahkan setiap malam pun dia akan selalu terjaga. Dia akan menolak ketika ada yang menyuruhnya untuk pulang atau sekedar menginap di hotel agar dia bisa beristirahat dengan nyaman.


Dia berfikir bagaimana bisa meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini. Apa lagi mengingat peristiwa panjang yang baru saja mereka alami. Tak rela rasanya jika meninggalkan wanita yang menjadi separuh jiwanya itu. Apa lagi mengingat kejadian kemarin ketika istrinya itu membuka mata dan dia tidak berada disampingnya. Membuatnya semakin enggan meninggalkan istrinya, seharian akan dihabiskan dengan duduk di samping istrinya.


" Monggo Gus, Njenengan imamnya. " Irhas menunjuk sajadah yang masih kosong di depannya.


" Sekali - kali, aku Yo pengen dadi makmum lo rek. "


" Mboten pantes Gus, ora ilok jare Mbah buyut. " Jawab Irsyad.


Allahu Akbar .........


Setelah melakukan kewajiban mereka, dan menghabiskan makanan yang dibeli Irhas. Mereka duduk di sofa, Irhas dan Irsyad yang sudah menyelesaikan UAN mereka bisa bersantai dan setiap malam akan menemani Gus Syam untuk menjaga Tari.


Kehadiran mereka cukup membantu untuk Gus Syam, karena mereka akan dengan senang hati apabila dimintai pertolongan.


" Setelah ini rencananya mau kemana ? "


Mereka segera mengangkat pandangan mereka, beralih pada Gus Syam sedang menatap mereka bergantian. Kemudian mematikan layar handphone yang sebelumnya memperlihatkan game online yang sedang mereka mainkan.


" Insyaallah ikut seleksi Akmil Gus. "


" Kalau saya sudah mendapat undangan dari salah satu universitas negeri. "


" Wah pada hebat semua, bagaimana dengan hafalan kalian ? "


" Alhamdulillah sudah selesai sebelum UAN kemarin. "


" Hebat, " Gus Syam mengacungkan kedua jempol nya kearah mereka berdua.


" Saya masih ngak percaya lo Gus, kalau kita sekarang saudara. "


" Kenap ngak percaya ? "


Mereka terus saja membicarakan banyak hal, Gus Syam adalah sosok idola mereka semenjak mereka mondok. Gus yang terkenal mumpuni dalam ilmu kitabnya, seorang hafiz Quran, seorang prajurit dan sekarang bahkan seorang dokter. Di tambah lagi ketika melihat bagaimana Gus Syam memperlakukan Kakak sepupunya dengan begitu lembut bertambah pula rasa kagum mereka.


Gus Syam berdiri dari sofa kemudian mendudukkan tubuhnya di tempat duduk di sebelah tempat tidur tari. Dia mengambil tangan Tari, kemudian mengelus pelan tangan kecil itu. Dia sedikit terkejut ketika tangan Tari yang berada di genggamannya balas menggenggam tangannya. Dilihatnya mata yang tertutup itu sekarang tampak mengerjap yang kemudian meneteskan air mata.


" Dek, ayo bangun sampean tidurnya sudah cukup lama. " Ucapnya pelan ditelinga Tari.


Matanya kembali mengerjap, seakan sulit sekali untuknya kembali membuka mata. Ditangkupnya wajah Tari dengan tangan sebelah kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap menggenggam tangan tari yang dirasa semakin kencang menggenggam tangannya. Dielusnya pelan pipi istrrinya, berharap wanita yang dia cintai itu segera terbuka.


" Dek, aku mencintai mu, sangat mencintaimu " Bisiknya pelan, yang kemudian mengecup keningnya dalam.

__ADS_1


Dengan perlahan Tari membuka matanya, walaupun dia terlihat bingung dan masih nampak mengumpulkan kesadaran.


" Terimakasih bidadari surgaku. " Sambil kembali mengecup kening istrinya dalam.


************


" Ih, Mbak Tari curang. "


Tari hanya tersenyum simpul ketika sahabatnya itu sedari tadi tak henti - henti menggodanya. Gadis itu baru saja datang dengan Rizki, dan langsung menggodanya ketika melihat Tari yang sedang di suapi oleh Gus Syam.


" Minum dulu Dek. " Gus Syam menyodorkan segelas air putih kearahnya, yang langsung dia terima kemudian langsung meminumnya.


" Mbak rencana balik ke Kediri kapan ? "


" Ih jones, dari tadi ngomong nerocos terus. " Sindir Irsyad yang pagi itu juga sedang berada di ruangan perawatan Tari.


" Arek cilik ojok sotoy, ini Lo dilihat. " Ucapnya sembari memperlihatkan cincin pertunangannya yang melingkar di jari manisnya.


" Halah kuwi mesti imitasi, "


" Wah arek cilik iki yo, " Jawab Wardah berapi - api karena Irsyad tampak meragukan dengan cincin yang dia pakai.


" Aku ngak percoyo mbak, mosok enek seng gelem karo sampean. Secara sampean kan cewek jadi - jadian, hanya laki - laki sejenis pula seng mau Karo cewek model begini. "


Tidak mengenal tempat ataupun waktu, mereka akan selalu saling mengejek satu sama lain bila bertemu. Irsyad dan Irhas belum mengerti jikalau Wardah dan Rizki akan segera menikah. Rizki yang baru saja dari toilet langsung masuk ke ruangan itu dan duduk di sebelah Wardah.


" Mas Rizki, ni Mak Lampir ngaku - ngaku sudah bertunangan. " Ucap Irsyad polos tanpa tahu jika Rizki adalah tunangan Wardah.


" Memang bener Syad sudah tunangan kok, bahkan tidak sampai satu bulan akan menikah. "


Wardah yang mendengar perkataan Rizki nampak tersenyum bangga ketika calon suaminya itu membelanya.


" Wah wah, berita besar ini. Kira - kira laki - laki seperti apa yang bisa menjinakkan Mak Lampir macam dia. " Ucap Irsyad polos.


" Wah, jangan suka ngeprank Mas. " Irsyad masih belum percaya jika Rizki dan Wardah sudah bertunangan.


Tari dan Gus Syam hanya menggeleng mendengar pembicaraan mereka bertiga, suasana pagi itu cukup ramai dengan kehadiran mereka. Setelah visit dokter pagi tadi, dokternya memastikan bahwa keadaan Tari sudah baik Tidka perlu ada yang dikhawatirkan. Tapi tidak mengurangi kekhawatiran Gus Syam pada istrinya itu. Sehingga setelah ini dia harus melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk benar - benar memastikan bahwa keadaannya baik - baik saja.


" Mas, sampun saya sudah kenyang. "


" Kurang beberapa sendok saja dek. "


" Maaf Mas, saya benar - benar sudah kenyang sedikit kurang nyaman di perut. " Tari berusaha menyembunyikan rasa mual yang dia alami.


" Kenapa Dek, ada yang sakit. " Dia menaruh mangkuk diatas nampan kemudian tangannya meraih tubuh istrinya memeriksa apakah ada sesuatu yang salah pada istrinya.


" Tidak apa - apa Mas. " Jawab Tari malu.


Pasangan pengantin baru itu menjadi pusat perhatian dalam ruangan itu. Gus Syam memperlakukan Tari dengan sangat lembut dan penuh perhatian, bahkan tatapannya saja seolah memuja kepada sang istri. Sedangkan Tari dia akan tersipu malu ketika sang suami menghujaninya dengan berbagai bentuk perhatian. Bahkan hanya dengan di tatap oleh sang suami atau pandangan mereka yang tiba - tiba bersibobrok sudah mampu membuat pipinya memerah.


" Lama - lama di sini aku bisa jadi obat nyamuk, yang mati bukan nyamuknya tapi aku karena ngenes. " Irsyad berdecak kesal.


" Hahahaha, udah sana pulang unta. Heran aja aku di Indonesia kok ada unta Arab nyasar Sampek sini. "


" Eh, kadal gurun pengen ngrasain di injek onta gak ? Sini ....... "


Tak henti - hentinya mereka terus saling mengejek sehingga suara gelak tawa memenuhi ruangan itu. Tari sudah menyelesaikan sarapannya, sudah kembali berbaring. Gus Syam ikut duduk dengan Rizki dan Irsyad di sofa, sedangkan Wardah sekarang sudah duduk di kursi sebelah Tari.


" Mbak Tar, bagaimana rasanya ,? "


" Rasa apa Dah ? "

__ADS_1


" Sudah nikah, punya suami yang ehem .......... begitu ...... ? "


" Begitu apa ? "


" Halah Mbak Tari tu pura - pura tidak tahu. "


" Aku kan memang tidak tahu Dah, sampean saja yang tahu bahkan tidak mau memberitahuku. "


Pagi tadi Wardah datang dengan Rizki, mereka baru sempat mengunjungi sahabatnya itu hari ini. Kebetulan di saat Tari sudah terbangun dari komanya. Semenjak dia menerima Rizki, Wardah mengetahui tentang Gus Syam namun dia juga menyembunyikan itu dari Tari. Pada awalnya Wardah mengira jika Rizki memiliki perasaan lebih kepada Tari, namun di hari dimana Rizki mengutarakan perasaannya dia menceritakan semuanya


Flashback on


" Aku tidak mau mengulangi pertanyaan ku jadi dengarkan baik - baik. Kamu mau tidak jadi istriku ? "


" Hah, pertanyaan macam apa itu ?!!! " Jawab Wardah kaget. "


" Jawab saja tidak usah kaget seperti itu. "


" Mudahnya berkata seperti itu, bagaimana dengan Mbak Tari ? "


Wardah bertanya dengan sedikit emosi, mudahnya laki - laki di depannya itu mengucapkan kata seperti itu. Mengingat selama ini dia selalu memberikan perhatian lebih kepada sahabatnya itu dan sekarang apa yang dia lakukan. Malah memintanya untuk menjadi istrinya.


" Memangnya ada apa dengan Tari ? "


" Semua orang juga tahu kalau sampean selalu memberikan lebih kepadanya. " Jawabnya berapi - api.


" Wah ceritanya ini cemburu ? ....... " Sembari menaik turunkan alisnya menggoda gadis yang dia minta menjadi istrinya itu.


Wardah semakin tersulut emosi saat melihat reaksi Rizki yang malah menggodanya.


" Terserah. "


Dia merasa jengkel dan ingin pergi dari sana, namun Rizki terlebih dahulu menarik tangannya. Membuatnya kembali duduk, kemudian Rizki menceritakan semua tentang dia dan Tari, mengapa dia memberi perhatian lebih kepada gadis itu. Yang ternyata itu permintaan dari sahabatnya, bukan atas kemauan dia sendiri.


Flashback of


" Mbak Gus Syam soo sweat banget ya, aduh paket komplit. "


" Apanya yang paket komplit ? "


" Ya semuanya, padahal aku loh yang rencananya yang mau menikah ngak taunya keduluan sampean. "


" Mana aku tahu Dah, aku saja juga masih merasa ini mimpi. "


Tiba - tiba dia teringat bahwa dia sekarang sudah kehilangan ayahnya, laki - laki pertama yang di cintai ya di dunia ini. Tanpa tersadar butiran kristal bening itu jatuh tak tertahankan, rasa kehilangannya begitu dalam sampai beberapa hari ini dia tidur dalam mimpi yang panjang. Seolah hanya ingin berada dalam mimpi karena di dunia nyata dia merasa sakit harus kehilangan cinta pertamanya itu.


" Mbak kenapa menangis ........ " Ucap Wardah khawatir melihat sahabatnya itu yang tiba - tiba menangis.


Gus Syam yang mengetahui itu segera bangkit dari duduknya, dan menghampiri istrinya. Duduk di sebelah ranjang yang kosong, sembari mendekatkan tubuhnya ke arah Tari. Mengambil pelan tangan Istrinya menggenggamnya, kemudian menghapus air matanya dengan jempolnya kemudian mengecup keningnya.


" Dek kehilangan cinta pertama itu memang terasa sakit, namun InsyaAllah aku akan menjadi cinta terakhir sampean. " Ucapnya pelan sambil membawa Tari dalam pelukannya.


Bersambung .....


Assalamualaikum .....


Semoga kita selalu diberi nikmat kesehatan jasmani dan rohani, diberi rezeki berlimpah dan barokah, diberi rumah tangga yang tentram, di mudahkan dan dilancarkan segala urusan, dilapangkan dalam segala hal, diberi jalan keluar atas kesulitan yang sedang kita alami Amin, Amin, Amin πŸ™πŸ™πŸ™


Boleh ya curhat dikit, curahan hati Mak author🀭. Ngak nyangka kalau Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu bisa sampai sekarang. Pas awal nulis semangat sekali dengan berbekal nekat tanpa pengalaman nulis sama sekali. Mohon di maklum ini novel pertama author 🀭. Pas di tengah - tengah insecure karena ada yang bilang kenapa nulis novel padahal ngak dapat **** ( taukanlah maksutdnya Mak. )😩😩. Tapi disini tujuan saya menulis untuk menyampaikan pesan yang ada dalam novel yang saya tulis. Dan membuat saya melanjutkan apa yang sudah saya awali.


Alhamdulillah semakin kesini raiders semakin banyak, saya sangat bersyukur karya saya ada yang menghargai dengan memberi like dan komen. Terimakasih teruntuk raiders tersayang yang sudah setia dengan Tari dan Gus Syam. Tapi kadang saya sedikit sedih ketika mengetahui jumlah viewer dan jumlah like yang begitu ........ πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“. Teruntuk raiders tersayang, like bagi saya seperti sebuah apresiasi yang begitu luar biasa dibandingkan dengan sebuah nominal. Apalagi dengan adanya komen itu seperti tanda sayang kalian untuk author yang haus akan perhatian ini.

__ADS_1


Terimakasih apresiasi kalian semua, peluk dan sayang dari saya πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2