
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Kududukkan kembali tubuhku di atas kursi usang diruang tamu rumahku, perjalanan 1 jam itu cukup membuatku merasa kelelahan. Kupandangi kedua wajah malaikat ku penuh dengan kasih sayang nampak sekali guratan kelelahan di muka mereka yang sudah nampak keriput. Perlakuan seperti ini selalu aku dapatkan ketika aku pulang ke rumah disambut dengan kasih sayang mereka cukup membuatku merasa sangat istimewa. Kasih sayang yang mereka curahkan kepadaku tanpa sedikit pun meminta balasan, sungguh beruntungnya aku dengan kehadiran mereka berdua disisiku.
" Nduk, sampean sudah makan ?"
" Sampun buk, tadi mbak Rina membawa bekal nasi untuk kami berdua "
" Kok baik sekali ya, Ning Rina itu. Semoga Allah membalas semua kebaikan beliau "
" Memang mbak Rina seperti itu buk, Beliau baik sama semua orang "
" Iya nduk, ayu, kalem, lemah lembut. Makanya Gus Reyhan bisa sampai jatuh hati padanya "
" Namanya juga jodoh buk "
Perasaan ku selalu tenang seperti ini, ketika aku dekat dengan kedua malaikat ku. Semua beban kehidupan yang berat, begitu saja sirna ketika melihat wajah keriput mereka. Pelukan hangat selalu aku rasakan yang membawa ketenangan dalam keresahan yang selalu melanda hatiku. Sungguh disinilah tempat terindah ku, di rumah kecilku dimana kedua malaikatku bertahta.
" Nduk bagaimana sekripsimu ? "
" Alhamdulillah yah, Ijah diberi kelancaran dalam mengerjakannya. Insyaallah Minggu depan sampun sidang pertama "
" Alhamdulillah, nduk. semoga semua sesuai harapanmu"
" Enggeh yah "
" Buk, uang buat persiapan wisuda Ijah apa sudah terkumpul ? " Tanya Ayah kepada ibuk Fatma karena keadaan keluarga Tari yang serba pas - pasan membuat keluarga ini harus berhemat dalam segala hal.
" Sampun yah, kemarin memang sempat keambil pak untuk membeli pupuk. Tapi Alhamdulillah sudah terganti pak.
" Yah, buk masalah uang untuk persiapan wisuda Insyaallah Ijah sudah punya "
" Simpan saja uangmu nduk, kalau wisuda ini tanggung jawab Ayah dan Ibuk " jawab Ayah, dya sama sekali tidak ingin membebani Tari dengan biaya kuliah yang menjadi tanggung jawabnya walaupun keadan kedua orang Tari serba pas - Pasan.
" Disimpan saja nduk uangnya, bener kata ayah "
" Tapi buk, "
" Wez ayo, cepetan mandi sudah sore nduk "
" Enggeh buk "
Tari berjalan menuju kamarnya yang terletak di belakang ruang tamu, kamar kecil yang selalu mampu menidurkannya dengan lelap. Direbahkan badannya di atas kasur, sejurus kemudian pandanganya menatap genteng rumahnya yg terlihat. Pikirannya berputar kembali dan mengingat tentang Pandu. Mau tidak mau dia harus memberi tahu kepada kedua orang tuanya tentang hubungannya dengan Pandu, tapi hal tersebut sulit untuk dia lakukan.
Terdengar suara adzan Maghrib saat Tari menyelesaikan mandinya. Dia berjalan ke kamarnya untuk segera melakukan kewajibannya. Hal ini yang selalu terjadi dia selalu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengadukan semua beban hidup kepada pencipta-Nya. Karena hanya dengan Beliaulah Tari merasa nyaman mengadukan keluh kesahnya.
" Buk, Ijah lapar "
" Kok tumben, sampean bilang lapar nduk ? "
" Enggeh buk, kalau dirumah Ijah lebih sering lapar. Ayah belum pulang buk dari masjidnya ? "
__ADS_1
" Ibuk seneng nduk, kalau sampean seneng makan dirumah. Lihatlah badanmu itu sudah kecil kurus pula. Mungkin di masjid sedang ada pengajian atau apa nduk "
" Enggeh buk
" Wes sampean maem dulu nduk, biar ibuk yg nunggu Ayahmu "
" Mboten buk, Ijah nunggu ayah. Ijah akan kalau hanya menunggu beberapa jam saja"
Sampai adzan Isyak berkumandang pun Ayah yang ditunggu - tunggu tak kunjung datang. Tapi kedua wanita itu senantiasa menunggu kedatangan Ayah untuk makan bersama. Mereka memutuskan untuk sholat Isyak terlebih dahulu, kemudian mereka kembali menunggu di ruang tamu sambil melihat tv yang ada disana.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
" Kok semua tumben di depan tv ? "
" Enggeh yah, Ijah nunggu Ayah "
" Tumben to pak jamaah di Masjidnya terusan dari Maghrib sampai Isyak ? "
" Ohh, tadi ada sedikit urusan buk " Ayo kita makan Ayah sudah sangat lapar " Sambil melangkahkan kakinya menuju dapur rumahnya.
Dengan sigap Bu Fatma menyendokan nasi dan lauk kedalam piring suaminya, setelah itu ke piring Ijah. Kali ini mereka makan di dapur rumahnya dengan menu makanan yang sederhana. Tapi dengan bersama keluarga sesederhana apapun makanan itu tetap saja terasa lezat.
" Buk saya tadi ke rumahnya Mas Yadi, karena beliau memaksa saya untuk mampir "
" Tumben pak, memangnya ada hal penting diantara kalian "
" Ini mengenai Ijah buk "
" Mereka, berniat melamar Ijah untuk Pandu "
" Terus ayah menjawab bagaimana ? "
" Ya saya jawab kalau masalah itu biar Ijah yang memutuskan buk, ayah tidak mau mengambil keputusan sendiri. Bagaimanapun yang akan menjalani itu Ijah jadi biar dya sendiri yang memutuskan "
" Iya pak, benar " Dengan menghela nafas panjang.
" Mari buk kita kedepan "
Tari duduk diruang tamu, dya sedang berkutat dengan lap topnya mengerjakan laporan akhir semester untuk sekolahnya. Setiap ada waktu longgar dia pergunakan untuk mengerjakan hal - hal seperti ini, karena mengingat waktunya yang akan sedikit sibuk dengan jadwal sidang sekripsinya juga membutuhkan perhatian ekstra.
Wajahnya nampak serius sekali, kalau sudah didepan laptop. Tak nampak lagi wajah yang gugup dan ketidak percayaan diri. Semua hilang begitu saja tergantikan dengan wajah gadis pintar dan penuh tanggung jawab.
" Nduk, ini minum tehnya dulu " Ibuk datang menghampiri dengan membawa nampan yang berisi teh dan pusing goreng.
" Enggeh buk, Sampean taruh di meja dulu "
" Banyak nduk pekerjaannya ? " Tanya ayah yang baru saja datang dari belakang.
" Mboten yah, hanya laporan evaluasi akhir semester pak. Setiap ada waktu luang Ijah mencicilnya yah "
__ADS_1
" Owh, ...... "
Nampak Pak Rahmat dan Bu Fatma saling berpandangan, ingin mereka menanyakan sesuatu hal tapi takut mengganggu anak gadisnya itu. Dengan sabar mereka menemani Tari, banyak hal yang mereka berdua bicarakan.
" Alhamdulillah buk, akhirnya selesai. Satu kewajiban terselesaikan "
" Ayo diminum tehnya dulu nduk "
"Enggeh buk " Tangannya terulur mengbil teh yang ada diatas meja disamping laptop nya kemudian menyesapnya dengan pelan.
Keadan hening sejenak, dan Tari sudah menghabiskan separo tehnya. Diletakkan kembali gelas itu diatas meja, kemudian dia berniat untuk mengatakan sesuatu kepada kedu orang tuanya.
" Yah buk, ada suatu hal yang ingin Ijah katakan "
" Apa nduk "
" Mengenai mas Pandu yah, beliau beberapa hari ini menemui Ijah di Malang yah "
" Lantas "
" Beliau ingin menghalalkan Ijah yah dikepulangan Beliau yang akan datang "
" Nduk, sebenarnya tadi sehabis sholat Maghrib Mas Yadi mengajak ayah kerumah Beliau untuk membicarakan hal ini juga "
Wajah Tari masih tetenduk, dengan tangan yang meremas ujung jilbab yang dikenakannya. Ibu Fatma yang menyadari hal itu segera duduk mendekat dan membelai lembut bahu anak gadisnya itu.
" Nduk, Ayah sama ibuk tidak menuntut banyak padamu hal ini semua kami serahkan sepenuhnya padamu. Ijah sudah dewasa anak gadis ibuk ini bukan gadis kecil ibuk yang manja lagi. Semua keputusan ada ditangan mu nduk "
" Iya nduk, jangan dijadikan beban hal yang seperti ini kalau Ijah merasa yakin ya diteruskan kalau tidak ya sebaiknya ngak usah diteruskan "
" Insyaallah ya buk, Ijah akan berusaha menerimanya "
Jawaban yang cukup membuat kedua orang tua itu kaget, karena mengingat sikap Tari 5 tahun terakhir ini. Yang selalu dingin terhadap lawan jenis dan selalu menutup rapat hatinya meskipun itu kepada kedua orang tuanya. Senyum bahagia tersungging di wajah kedua orang tua itu, senyum yang sudah lama tak nampak di wajah keriput mereka
" Mantap kan hatimu nduk, lakukan ini semata - mata karena kecintaan mu pada Allah. Insyaallah semua akan mudah bukankah kita hidup untuk mencari ridho-Nya ? "
" Enggeh buk, insyaallah "
" Hilang kan semua keraguan mu nduk, pernikahan adalah ibadah yang paling lama dan juga paling indah. Tentu saja dengan landasan semua karena mencari ridho-Nya "
" Mulai sekarang pantaskanlah dirimu untuk dia nduk, belajarlah menerima semua kekurangannya "
" Enggeh buk, yang Ijah butuhkan adalah restu dan keridhoan ayah serta ibu. Berat langkah Ijah buk ketika Ijah tak mendapatkan hal itu " Nampak matanya berkaca - kaca yang sebentar lagi pecah dan berhamburan keluar.
" Ayah dan Ibuk, akan selalu merestui dan meridhoi keputusan mu nduk. karena kebahagiaanmu adalah tujuan hidup kita berdua nduk"
Mereka berpelukan dengan air mata yang mengalir dari setiap pelupuk mata, air mata kebahagiaan tentunya. Sungguh ini diluar dugaan pak Rahmat dan Bu Fatma, putrinya sudah kembali membuka hatinya untuk lelaki. Hanya satu harapan mereka melihat putri satu - satunya bahagia dengan pilihannya, dan hilang dari bayang - bayang masa lalunya.
Tari melihat kebahagian yang begitu besar di kedua pasang mata orang tuanya itu, sebegitu bahagianya kah mereka dengan keputusannya. Kenapa sulit bagiku memberi kebahagiaan ini pada mereka apa aku benar - benar putri yang tak mengerti tentang kedua orang tuaku. Hal seperti inikah yang mereka inginkan ??....... begitu banyak pertanyaan dalam hatinya tapi hal tersebut hilang begitu saja ketika melihat tawa dan tatapan mata kebahagiaan yang mereka suguhkan malam ini.
Bersambung .......
__ADS_1
Assalamualaikum kak, jangan lupa komen, like dan vote ya ......
Semoga kita selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam segala hal Amien, Amien, Amien 🥰🥰🥰🤗🤗🤗