Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
16. Niat Baik


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, karena hal tersebut bagaikan dua sisi uang yang berjalan beriringan sejalan namun tak seirama.


Tari sudah selesai dengan urusannya dengan sang Penciptanya, kemudian bergegas menuju ruang tamu rumahnya yang beralaskan semen namun nampak begitu rapi dan bersih. Kedua pasang orang tua itu masih saja mengobrolkan hal hal yang tidak jauh dari seputar sawah dan kehidupan mereka di desa.


" Sini nduk " Sapa ibuk ketika mengetahui putrinya masuk keruang tamu, sambil menepuk bangku kosong disebelahnya.


" Enggeh buk "


" Mas Rahmat langsung saja saya disini mengutarakan niat kami berdua kesini karena ada satu hal yang ingin kami sampaikan, dan ingin meminta supaya hal sama sampean "


" Mas Yadi saya rasa sampean tanyakan langsung dengan menjalani, kalau kami berdua selaku orang tua menerima semua keputusan Ijah "


Pak Yadi kemudian memandang kearah Tari yang duduk di seberangnya.


" Nduk, apakah sampean bersedia menjadi isteri untuk anak pak de ? "


" Pak de maaf sebelumnya, Apakah pak de bisa menerima keadaan Ijah yang seperti ini ? " ucap Tari yang masih menunduk sembari meremas ujung kerudung yang dipakainya. Sebenarnya perasaanya tidak tenang dengan keadaan yang dia lalui sekarang.


" Keadan yang seperti apa nduk ? " jawab Bude mencoba meminta penjelasan kepada Tari.


" Bude, keluarga Ijah hanya seperti ini berbeda sekali dengan keluarga Pak de dan Bude. Ijah takut nantinya hal seperti ini menjadi pergunjingan "


" Nduk sampean ngomong apa, Menurut kami berdua orang itu bukan dinilai dari hanya dan kekayaannya. Sungguh kami tidak mempermasalahkan hal seperti ini. Yang kami mau anak kami bahagia dengan wanita pilihannya "


" Sungguh menurut Bude sampean terlalu pantas untuk Pandu nduk. Pandu akan sangat beruntung bisa menikah sama sampean. Jadi jangan sedikit pun berfikir seperti itu "


Kegundahan Tari sedikit berkurang mendengarkan perkataan kedua orang tua Pandu. Keluarga Tari memang keluarga sederhana tapi mereka terkenal keluarga yang sangat baik di masyarakat. Sedangkan keluarga Pandu merupakan salah satu keluarga terpandang jadi merasa tidak mungkin keluarga Pandu begitu saja menerimanya. Tapi kenyataan malah sebaliknya keluarga Pandu dengan senang hati merimanya.


" Mas Rahmat saya segera melamar Ijah dalam waktu dekat ini "


" Maaf Pak de, Ijah minta waktu terlebih dahulu sampai Ijah wisuda "


" Apakah masih lama nduk wisudanya ? "


" Mboten bude, Insyaallah kalau lancar tidak sampai 5 bulan "


" Bagaimana pak, Pandu kan mintanya kita segera melamar Ijah "


" Begini Lo nduk, dilamar dulu nanti kalau sudah dilamarkan fikiran Pakde dan Bude ini tenang. Begitu juga Pandu disana kerjanya juga bisa fokus "


" Nduk bener kata Pak de Yadi, sebaiknya dilamar dulu. Sebagai pertanda sampean itu sudah ada yang menginginkan dan itu juga sebagai pertanda bahwa hubungan kalian itu sudah serius. Bukannya sampean tidak ingin berpacaran lamaran itu sama halnya dengan hitbah " ucap ibu berusaha meyakinkan putrinya itu.


" Nduk ayah dan ibu tidak memaksamu hanya saja lamaran itu sama halnya dengan pengikat kalian berdua bahwa ada niatan baik antara kalian berdua "


Tari menghela nafas panjang, entah mengapa perasaanya belum bisa yakin untuk menerima Pandu secepat ini. Namun kebahagian dari kedua malaikatnya itu tak bisa dia pungkiri. Dengan berat hati dia mengiyakan permintaan orang tua Pandu untuk segera melamarnya.


" Pak de, insyaallah Ijah siap "


" Alhamdulillah " ucap kedua pasang orang tua tersebut. Rona bahagia terpancar sampai - sampai ibu Fatma meneteskan kristal beningnya.


" Maz Rahmat sampean tidak usah khawatir masalah lamaran ini biar saya dan istri saya yang ngurus. Pokoknya sampean tau beres hehehehe "

__ADS_1


" Mas Yadi saya percayakan semua sama sampean, tolong pilihkan hari yang baik "


" Siap Maz Rahmat "


" Maaf sebelumnya, Tapi Ijah minta lamarannya yang sederhana saja. Karena mas Pandu juga sedang tidak berada disini "


" Sederhana tapi berkesan ngunu Lo pak, meskipun Pandu ngak ada tapi kan harus meninggalkan kenangan yang indah" jawab Bude Darmi.


Obrolan mengenai persiapan tentang lamaran berlanjut kedua pasang orang tua itu sangat antusias karena hal ini pengalaman pertama mereka. Tari yang melihat raut bahagia dari kedua orang tercintanya begitu terharu, dengan sekuat tenaga dya menutupi semua keraguan yang dia rasakan dengan senyum yang selalu tersungging dari bibir mungilnya.


Tak lama berselang terdengar suara panggilan di handphone Tari. Tari berjalan menuju kamarnya menghampiri handphone yang memanggil - manggil dengan cepat dia menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang sedang menelfonnya.


📞 Assalamualaikum


📞 Walaikumsalam, bagaimana kabarmu Tar ? maaf baru bisa menghubungimu sekarang.


📞 Mas Pandu, ?


📞 Iya ini aku,


📞 Maaf tadi aku tidak tahu, Alhamdulillah mas baik. Bagaimana kabar mas sendiri ?


📞 Alhamdulillah baik Tar, Apakah orang tuaku sudah kerumahmu ?


📞 Kebetulan mas, Pakde dan Bude sekarang disini.


Tari berjalan keluar kamarnya menuju ruang tamu, berniat memberikan handphone nya kepada orang tua Pandu.


📞 Owh, mereka gerak cepat rupanya bagus memang itu yang aku mau. Tar tolong berikan handphone mu kepada ayah mu, aku akan memintamu secara langsung.


📞 Tapi tidak afdol Tar kalau aku tidak memintamu secara langsung pada ayahmu.


" Ayah, mas Pandu ingin bicara " ucap Tari sembari memberikan hp yang dipegangnya. Dia kembali duduk di samping ibunya, menemani ibunya yang masih berbincang dengan calon mertuanya.


Ayah Tari berjalan meninggalkan ruang tamu rumahnya menuju teras samping. Disana lelaki tua itu nampak bicara dengan serius sambil menggenggam handphone di telinganya sesekali dia mengangguk - angguk. Setelah beberapa saat ayah sudah menyudahi pembicaraan mereka, dan berjalan menuju ruang tamu kembali.


Adzan Ashar berkumandang dari mushola disekitar rumah Tari, hal ini menghentikan obrolan kedua keluarga itu.


" Pakde, Bude maaf Tari harus kebelakang untukn segera bersiap - siap untuk kembali ke Malang "


" Sudah mau berangkat to nduk ?"


" Enggeh Bude, nanti takutnya kemalaman Bude sampai diasramanya "


" Kenapa tidak besok pagi saja to nduk, kembalinya Kemalang ? "


" Mboten Pakde memang biasanya Tari kembali setelah ashar seperti saat ini. Kalau kembali hari Senin takut kesiangan sampai di sekolah, belum lagi kalau hari Senin angkutan sering penuh pak de "


"Wes pak bagaimana kalau kita antar saja ? Itung - itung ngantar calon mantu, ibuk gak tega kalau melepas Tari naik Bus sendiri "


" Mboten usah bude, Tari sudah terbiasa naik bus. Nanti Pakde sama Bude repot malahan "


" Wez nduk tidak ada penolakan, sampean siap - siap mnti pak de kesini satu jam lagi. Mas Rahmat , Mbak Fatma sekalian ikut sekalian kita mau jalan - jalan " ucap pak Yadi sambil berdiri untuk bersalaman.

__ADS_1


" Kami juga ikut Mas ? "


" Iya pak Rahmat, sekalian kita antar anak gadis kita ini hehehehe. Selama calon suaminya ngak ada kita jadi satpamnya Mas Rahmat " Ucap pak Yadi sambil terkekeh.


" Sampean kok aneh - aneh to Mas Yadi ada ada saja "


" Wes ayo Mbak Fatma kita siap - siap satu jam kami akan menjemput kalian. Saya permisi dulu ya. Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


Mereka pun mandi secara bergantian karena kamar mandi dirumah Tari hanya satu, setelah selesai mandi mereka bersiap - siap. Entah mengapa kedua orang tua itu begitu nampak bahagia, senyum cerah selalu tersungging dari bibir mereka berdua.


Tari duduk diruang tamu sembari, membuka handphone nya. Melihat beberapa pesan chat dalam handphone nya yang kebanyakan dari grup chat yang dia ikuti. Senyum tersungging dari bibirnya ketika dya membuka pesan dari salah satu chatnya


✉️ Tari, aku sudah tidak sabar ingin segera menikahimu jaga hati dan cintamu hanya untukku. Aku selalu mencintaimu 💖💖💖. Bersabarlah sedikit lagi sampai aku datang menghalalkanmu.


Dengan cepat jari jemarinya mengetik balasan untuk pesan dalam chatnya itu untuk lelaki yang akan melamarnya.


✉️ Insyaallah mas, mari kita bersama - sama menjaga niat baik ini sampai halal untuk kita.


" Nduk kok senyum - senyum sendiri seperti itu ? "


" ayah, hanya membaca pesan dari mas Pandu yah "


" Alhamdulillah nduk, semoga niat baik ini membawa kebahagiaan dalam hidupmu. Semoga Allah meridhoi niat baik kita ya nduk, dimudahkan dan dilancarkan semua niatan kita "


" Amien yah "


Mereka berbincang mengenai banyak hal, kemudian ibu masuk keruang tamu. Melihat putrinya dengan seksama, tanpa disadari kristal bening meluncur dipipinya yang mulai keriput itu. Dengan cepat wanita tua itu menghapus kristal bening itu, setelah mendengar tawa kecil dari kedua orang tercintanya itu. Niat baik yang membawa kebahagian kepada semua orang dirah ini.


Ibu Fatma menghampiri putri dan suaminya, membelai kepala putrinya yang tertutup kerudung itu dengan lembut. Dengan seketika pemilik kepala itu menoleh, dan segera memeluk tubuh wanita kesayangannya itu sembari mengusap kristal bening yang kembali meluncur di pipi yang mulai keriput itu.


" Buk, kok nangis ? Apakah Ijah sudah berbuat salah ? "


" Ini air mata bahagia nduk, anak ibuk sekarang sudah mau dilamar orang. Sungguh ibuk rasa baru kemarin ibuk masih menggendong sampean nduk "


" Maaf ya buk, kalau selama ini Ijah sudah banyak salah sama ibuk dan ayah. Selama jadi anak ibuk sama ayah belum bisa membahagiakan kalian " Pipi Tari sudah dipenuhi dengan kristal bening miliknya yang tak henti - hentinya mengalir.


" Nduk, Sampean adalah anugerah dalam hidup ayah dan ibuk. Karena sampean lah ayah dan ibuk melewati semua kesulitan hidup. Sampean itu sumber kebahagian ayah dan ibuk "


Meraka bertiga berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain, tapi tangisan kali ini adalah tangisan bahagia. Banyak hal sulit yang sudah mereka lalui bersama, tetapi selalu kebersamaan yang menguatkan mereka satu sama lain.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " ucap mereka serempak.


" Ayo Mas Rahmat, kita segera berangkat. Lo kenapa ini kok semuanya pada sembab seperti itu ? "


" Anu Mas, ehmz ....... "


" Kami hanya terlalu bahagia Mas Yadi sampai - sampai terharu dan kami menangis bersama karena bahagia "


" Saya fikir kenapa Mbak Fatma, ayo istri saya sudah menunggu di mobil "

__ADS_1


Mereka pun mengunci semua pintu, dan berjalan menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Tari berjalan mengikuti kedua orang tuanya yang berjalan di depannya. Guyonan - guyonan terdengar sepanjang perjalanan menuju kota Malang, kedua pasang orang tua itu sangat kompak dalam hal guyonan. Tapi tidak dengan Tari dya hanya sekali - kali melemparkan senyuman kecil, pandanganya lurus keluar jendela ........


Bersambung .......


__ADS_2