Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
3. Rumahku


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


"Ijah"


Sontak saja suara itu membuyarkan lamunanku seketika.


"assalamualaikum buk" sambil ku rengkuh tangannya yang terulur dan kucium penuh dengan hikmat, dari tangan tua inilah hidupku berawal.


"walaikumsalam, nyapoto nduk kok ngelamun, wong ibuk manggil manggil kok tetap berdiri tanpa ada respon. Opo ora kangen to karo ibuk ?"


"mboten buk, ijah lupa meninggalkan sesuatu saja dalam bus itu buk"


"apa nduk yang ketinggalan ? terus penting opo ora ?"


"mboten buk, ayo buk wangsul Ijah capek" sambil ku rengkuh tubuh tua itu ku gandeng untuk melanjutkan perjalananku ke rumah.


Setelah sekitar berjalan 30 meter dari pertigaan itu sampailah kami di depan rumah kami, rumah kecil yang sangat sederhana. Tapi inilah surgaku dikala aku dunia, banyak hal yang aku lalui disini suka maupun duka. Dari kejauhan nampak seorang laki laki paruh baya diemper duduk menunggu kedatangan kami, iya dya ayahku senantiasa menanti anaknya yang hari ini sedikit terlambat


"assalamualaikum"


"walaikumsalam, kok tumben pulange malam nduk ?"


"tadi pekerjaan banyak yah disekolah harus mengerjakan laporan akhir semester, belum lagi tadi bosnya macet di depan pabrik gula itu pak" sambil ku raih tangannya, kucium dengan penuh hikmat tangan yg selalu memberi kehangatan bagiku


"Oalah, wes sampean bersih bersih dulu terus maem nduk"


"enggeh yah"


Dengan langkah yg sedikit cepat dya bergegas masuk dalam kamarnya, meletakkan tas selempang dan menggambil handuk untuk dya mandi. Tak lama berselang dya sudah menyelesaikan mandinya, dan sudah berganti pakaian rumahan dengan jilbab kaos. Nampak diruang tamu yang juga difungsikan sebagai ruang serbaguna dirumah itu, kedua malaikat dalam hidupnya yg sedang berbicara. Dengan pandangan hangat dya memandang kedua orang itu dan melemparkan senyum termanisnya kearah tersebut dengan langkah kecilnya dya mendekat dan duduk berhambur diantara orang paruh baya itu.


"nduk bagaimana kuliahmu ?"


"Alhamdulillah lancar pak hanya nunggu bimbingan terakhir pak, insyaallah segera bisa sidang"


"Alhamdulillah kalau begitu nduk, perjuanganmu selama ini ngak dia sia" dengan mata yg berkaca kaca memandang anaknya dengan iba.


"sampun yah, Ijah sekarang hanya ingin bahagia dengan kalian berdua malaikat ku. sungguh Ijah bersyukur selama ini kalian ada disini selaluendukung Ijah" sambil ku peluk orang paling tampan pada hidupku itu, mencoba menetralkan hawa sesak diantara kita bertiga.


"buk, Ijah lapar"

__ADS_1


"Oalah nduk, ibuk sampai lupa kalau sampean belum makan. Ayo makan dulu ibuk tadi masak makanan kesukaan mu"


"ayo buk, sambil ku rengkuh tangan ibukku "yah ayo makan dulu" ajak ku pada ayah


"ayah sudah maem nduk, pean maem yang kenyang mumpung dirumah"


"enggeh yah, Ijah maem dulu ngeh"


betapa matanya berbinar binar ketika membuka tudung saji, tampak oseng pare bercampur teri dan tahu goreng serta kerupuk yang ada di toples. iya begitu sesederhana itu hidangan malam ini tapi bagi tari itu lebih enak dari masakan Padang sekalipun karena itu masakan dari malaikatnya. Dengan lahapnya dya makan, sesekali tersenyum sambil memandang ibunya yg setia menunggu anak gadisnya yang sedang makan. setelah selesai dengan makanya dya membersihkan alat makan yg dya gunakan karena ini sudah menjadi kebiasaan dirumah ini apabila siapapun yang makan dya juga yang harus membersihkan alat makan yang dya gunakan tanpa terkecuali pada ayahnya yg notabennya seorang laki laki


"buk, Ijahmasuk kamar ngeh agak sedikit mengantuk"


"iya nduk, sana istirahatlah"


"enggeh buk"


ceklek, dibukanya kamar tidurnya kamar yang tidak begitu besar tapi terlihat nyaman dengan tidak begitu banyak barang didalamnya. Benar saja tidak membutuhkan lama mata gadis mungil itu sudah tertutup dengan sempurna dan nafasnya pun sudah beraturan menandakan bahwa pemilik tubuh itu sudah sampai pada alam mimpi.


Hanya terdengar dentuman jam dirumah kecil itu, tidak begitu lama nampak tari menggeliat karena dya mulai tersadar dari alam mimpinya dilihatnya ke arah jam yg terletak didinding. Sambil mengucek matanya dya melihat jam menunjukkan pukul 03:00, dengan bergegas dya bangun dan keluar kamar untuk bersih bersih dan mensucikan diri.


Tak lama berselang dya sudah bercinta dengan pencipta-Nya duduk dengan hikmatnya diatas sajadahnya, memejamkan mata dan membasahi bibirnya dengan Kalam Illahi selalu dya lakukan disepertiga malam terakhir. Bukan untuk menyebut nama seseorang yg dya kehendaki jadi pendampingnya, melainkan nama kedua malaikatnya untuk meminta pengampunan atas dirinya sendiri dan kedua malaikatnya.


Sementara anak gadis satu satunya dirumah itu masih berkutat dengan tanaman yang ada didepan rumah kecil itu. Keluarga ini memenuhi rumah mereka dengan tanaman obat dan tanaman sayur sehingga kebutuhan makan mereka terpenuhi dengan hasil panen di halaman rumahnya.


"nduk"


"ngeh buk"


"tolong ibuk ambilkan lombok sama kangkung dibelakang nduk, hari ini tumis kangkung ya nduk ?"


"ngeh buk, semua masakan ibuk itu palin enak buk, apapun itu"


"Halah bisa bisanya pagi pagi sudah merayu ibuk"


"beneran buk" sambil bergelendot ditangan ibuknya manja.


"wez ayo sana, nanti keburu siang kasihan nanti ayah nunggunya lama"


"enggeh ibu ratuku" sambil ku ciummi pipi keriput itu.

__ADS_1


dilangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumahnya, nampak beberapa kolam ikan, kandang ayam, kandang kambing dan tentu saja kebun sayuran yang tertata rapi berjajar, sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Diambilnya beberapa cabai dan kangkung pesanan ibunya matanya beralih melihat tomat yang matang dengan warna merah yg begitu menggoda sampai tidak sadar dya menelan liurnya dengan kasar.


"buk sampun"


"bantu ibuk menyiangi ya nduk"


"enggeh buk"


"nduk, terlihat tatapan ibuk sedikit berbeda ingin dya menanyakan sesuatu tapi takut pertanyaan itu menyakiti hati anaknya.


"enggeh, wonten nopo buk ?"


"enggak nduk, ayo cepat diselesaikan nanti ayah keburu lapar ini sudah agak siang"


"siap ibu ratu" dengan senyum yang selalu merekah.


Tak berselang lama akhirnya kedua wanita beda generasi itu menyelesaikan pekerjaannya pagi ini. memasak makanan yang begitu sederhana bagi sebagian orang tapi begitu istimewa bagi keluarga mereka. Makanan pun siap, sudah ditata rapi dalam rantang mereka pun bergegas mengganti pakaian dan jilbab mereka untuk ke sawah mengantar bekal ayah karena jam sudah menunjukkan pukul 07:00 itu menandakan kalau sudah cukup siang untuk ukuran orang yang bekerja diluar rumah apa lagi ayah Tari yang sudah berangkat semenjak seusai subuh.


"buk sampun siap ?"


"uwwz nduk, sampean ngak sarapan dulu ?"


"mboten buk, mau kesawah rugi kalau makanya dirumah buk"


"alah enek enek wae nduk"


"enggeh buk, maem disawah itu nikmatnya luar biasa buk"


"ya udah, ayo berangkat kunci semua pintu nduk"


"enggeh buk, ibuk tunggu didepan saja Ijah ngunci pintu dulu"


"iya nduk"


ceklek, pintu pun tertutup dengan senyum yg selalu tersungging di bibir mungil itu dya menghampiri ibunya untuk membawakan rantang makanan yg dibawa ibunya. dan tangan satunya menuntun tangan ibunya, mereka pun berjalan menuju sawah yg tak begitu jauh dari rumah mereka tapi perlu melewati pertigaan besar yang ada didekat rumah itu. Saat tiba dipertigaan itu, saat hendak menyeberang ingatan Tari tertuju pada peristiwa yang terjadi semalam. Entah mengapa tubuh mungil itu sejenak diam, menyelami ingatannya tentang sesuatu yang tertinggal itu.


"nduk"


bersambung

__ADS_1


__ADS_2