Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
2. Aku Nyimas Khodijah Bramastari


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


POV. TARI


Tidak pernah terfikir oleh ku akan berada diposisi ini, apakah aku sedang dipermainkan nasib ? itu yg selalu ada dalam benak ku. Setiap hari hanya pandangan kosong dan penyesalan dan ingin mengakhiri hidup yg aku rasakan tapi ada dua malaikatku yang senantiasa menyadarkan ku untuk kembali iya beliau adalah kedua orang tuaku yang selama ini selalu kuat mendukungku salah satu alasanku berada dalam posisi ini. Sebenarnya kembali ke dunia itu sungguh berat ku lakukan kesalahan yang begitu besar yang sudah kulakukan menyeretku begitu dalam, dalam ruangan kehampaan dalam hidupku, menangis dan menangis hanya itu yang bisa aku lakukan. Tapi ada satu hal yang harus aku lakukan ,aku harus terlihat tegar mengulas senyum jika berhadapan dengan mereka berdua, mereka surgaku dalam dunia yang tak pernah berpihak kepadaku. Beruntungnya aku memiliki mereka berdua sebagai lentera dalam kehidupanku yang sudah gelap semenjak peristiwa yang merenggut semua yang ada dalam diriku.


Tak sanggup rasanya bila kuingat peristiwa itu, peristiwa yang menghancurkan semua. Semua ku tutup dalam relung hatiku yg paling dalam sejujurnya sesak sekali hatiku mengingat masa itu, tapi karena kedua malaikatku itu sekarang aku bisa berdiri meskipun aku tetap tertunduk menghadapi kenyataan yang ada, aku merasa tak pantas jika aku menatap dunia ini dengan kepala terangkat. Dan semenjak itu aku berjanji kepada diriku untuk menutup pintu hatiku rapat dengan semua hal yg berhubungan dengan cinta.


Sampai suatu malam, aku hendak keluar dari kamarku kulangkahkan kakiku menuju dapur rumahku yang masih beralaskan tanah itu, aku melewati mushola kecil yang sering disebut sholatan oleh keluargaku ku dengar isakan kecil dari ayahku. Betapa tercengangnya aku mengetahui ayahku seseorang yg selalu terlihat keras itu menangis terisak mengadukan nasib putri satu satunya pada sang pemilik hidup yang begitu pilu. Aku meninggalkan hal itu karena jujur AQ tidak sanggup mendengar isakan itu, hatiku terlalu sakit merasakannya dibanding peristiwa yang aku alami. Keesokann malamnya sengaja aku bangun dijam yang sama dan masih kudengar isakan itu, sungguh ini menyayat hatiku kecilku. Begitupun malam malam selanjutnya masih sama seperti itu. Sampai pada satu titik aku merasa benar benar aku harus mencari-Nya .....


Ternyata dunia tak sekejam yang aku pikirkan, atau kah memang ini balasan Allah untuk ketaatan kedua orang tua ku. Entah lah yg pasti aku tau ini pengabulan doa doa kedua malaikatku. Aku dulu yang begitu jauh dengan-Nya, sekarang terasa enggan aku berada jauh dari-Nya. Benar pula kata pepatah "kita harus tau dari mana asal usul kita" iya Aku berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya pula itulah sekarang sekiranya jadi moto hidup ku. Setelah sekian lama aku mencoba mencari-Nya akhirnya aku menemukannya dan benar, ini sungguh sungguh menentramkan hatiku. Perasaan tenang, damai, aku mendapatkan diriku yang hilang dulu, aku menemukan jalan pulang setelah sekian lama aku tersesat, itu yang aku dapatkan sampai aku lupa akan peristiwa buruk itu.


Setelah aku mendekat pada-Nya satu persatu rasa yang membelengguku hilang aku terasa damai, sampai suatu saat aku benar benar siap menghadapi dunia luar kembali.


Jadilah aku disini, menjadi guru yang kata orang Jawa digugu lan ditiru semua anak anak ku adalah anak anak istimewa yang diciptakan oleh-Nya. Aku serasa menemukan kembali hidupku yang hilang beberapa tahun yang lalu, dengan berada ditengah tengah mereka banyak pelajaran hidup yang aku dapat. Aku harus berjauhan dengan malaikatku karena pekerjaan ini aku berpisah dengan mereka tapi dengan pekerjaan ini pula aku bisa membanggakan mereka meraih mimpi yang sempat tertunda karena suatu hal. Setiap hariku ku isi dengan mengajar di pagi hari, dan kuliah di waktu siang selepas dhuhur dan malamnya aku masih harus mengaji ya sekarang aku tinggal di pondok pesantren yang cukup terkenal di kota Malang. Bisa dibilang aku terlambat dalam memperdalam ilmu agama tapi tidak masalah bagiku karena ini sungguh sangat aku ingin kan. Entah mengapa aku takut sekali sekarang bila jauh dari-Nya.


Diusia ku yang sekarang 25 tahun jangan pernah menanyakan pasangan hidup kepadaku, sungguh aku tidak ada rencana untuk sekedar memikirkan atau membayangkan saja. Aku sudah mewanti wanti hati ini agar jangan sampai jatuh cinta pada mahluk ciptaan-Nya karena sesungguhnya cinta itu adalah cinta kepada sang pencipta, sekiranya itu jadi landasan hidupku. Kenapa seperti itu karena bagiku laki laki dan cinta itu akan membuka luka lama yang kurasa hampir kering, walaupun fitrahnya Allah menciptakan makhluknya secara berpasang pasangan.

__ADS_1


Aku sudah mengubur sifat ku yang dulu, gadis periang, manis, manja, cerewet, dan sedikit centil ya aku dulu memang seperti itu. Tapi sekarang AQ jadi pendiam, tertutup, dingin dan hanya bicara seperlunya saja, aku juga menutup diri dari orang baru bahkan dari saudara sepupuku pun menutup diri. Semua ku lakukan demi menjaga hati ku, dan menjaga hatiku agar hati ku hanya dipenuhi rasa cinta pada-Nya. Aku tidak memiliki sahabat bahkan teman itu memang sengaja aku lakukan karena aku tidak mau waktuku tersita hal hal lain kecuali pada-Nya. Tapi tidak aku punya satu teman yg lebih aku anggap seperti kakak mbak Rina namanya iya hanya dya satu satunya teman yang aku punya kenapa aku bisa berteman padanya itu karena dya teman mengajarku dalam satu kelas.Walaupun hubungan kami tidak seakrab itu tapi setidaknya aku masih punya teman yang mengajak ku bicara


Iya aku Nyimas Khodijah Bramastari, yang mungkin kalian anggap orang aneh tapi ini aku, ya seperti ini aku entah kalian suka atau tidak. Karena bagiku karena kalian menganggap ku ada atau tidak itu bukan masalah bagiku.


Setiap Sabtu aku tidak ada mata kuliah, selalu aku gunakan untuk pulang ke rumah menemui malaikatku karena ini semacam mood booster bagiku setelah Senin sampai Sabtu berkutat dengan kesibukanku pulang ke rumah seperti mengisi penuh bateraiku. Tapi hari ini berbeda pukul 4 sore aku masih di kantor tempatku mengajar ini karena ada beberapa hal yang harus aku lakukan.


Aku pulang ke asrama dengan tergesa gesa untung saja, angkot yang biasanya lama tidak berlaku untuk hari ini. Dengan segera aku sampai di terminal senang sekali batinku setidaknya aku Maghrib sudah dirumah .....


Tapi semua tak sesuai dengan hayalan ku lama sekali aku mencari bus yang menuju ke arah rumahku, sampai kutatap bus besar berwarna orange itu dan kiranya hanya itu satu satunya bus yang akan membawaku pulang.


Kubulatkan tekad ku untuk naik mengabaikan perasaanku yang berkecamuk, bayangan masa itu datang tapi ku coba untuk menahan kulangkahkan kaki ku dengan pasti tapi saat tiba di depan pintu belakang depan bus langkahku terhenti sepertinya tak sanggup aku melanjutkan ini tapi aku harus pulang begitulah sekiranya gejolak yang ada. Tanpa aku sadari keringat dingin keluar dari pelipisku, tubuhku lunglai dan serasa tak bertulang entah berapa lama aku dalam mode ini, tapi dengan sadar AQ masih beristighfar untuk menetralkan fikiranq yang berkecamuk.


"astaghfirullah, maaf kataku pelan"


"gak papa mba, gimana sudah enakan ?" katanya sambil menyodorkan botol minuman mineral padaku


"terimakasih" ucapku sambil mengambil botol itu dan meminumnya

__ADS_1


Kembali aku terdiam dan aku mulai menutup mataku hal itu ku lakukan karena untuk menutupi kegugupanku aku mulai bercinta dengan Kalam Illahi yang sedikit aku hafal tapi kenapa hatiku terasa sakit lagi, kenapa dadaku terasa sesak dimana kehangatan yang aku rasa tadi kenapa rasanya tidak sama semua itu muncul begitu saja. Tanpa kusadari aku mulai terisak dengan cepat aku mendengar sesuatu


"udah mba, jangan dipaksakan"


Aku langsung membuka mataku dan hafalan yg biasanya begitu fasih ku ucapkan langsung begitu saja dengan cepat aku berkata,


"maaf maz, kita bukan mahram"


Seketika itu pula dya berkata.


"insyaallah mba, aku akan menghalalkan mu"


Seketika duniaku terhenti disitu, entah mengapa kata2 itu berhasil membuat ku tersentak dan dadaku penuh dengan debaran tak karuan entah perasaan apa ini. Kenapa takdir mempermainkan aku lagi, belum cukupkah Beliau mempermainkan aku.


Saat kenek mengucapkan tempatku turun sudah dekat lalu aku segera berdiri mendekati pintu. Sesungguhnya aku bingung dengan apa yang terjadi, kemudian aku turun dengan pikiran yg kosong.


"astaghfirullah" itu kataku teringat meninggalkan sesuatu dalam bus itu

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2