
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
"nduk"
"dalem buk"
"kok ngelamun lagi"
"mboten buk, cuma teringat sesuatu"
"ada yang tertinggal ?"
"mboten, mari buk ayah mungkin sudah menunggu"
Setelah menyeberang dari pertigaan besar itu, sampailah pada jalan sempit yang menuju sawah. Obrolan kecil dan suara tertawa nampak terdengar samar - samar dari dua orang wanita itu, Tari akan menjadi wanita periang dan manis ketika dia berada dekat kedua orang tuanya. Tak lama berselang sampailah Tari di sawah yang menjadi ladang rezeki bagi keluarganya. Nampak sang ayah sedang menyiangi rumput yang ada pada pematang sawah.
"assalamualaikum ayah, ayo makan dulu" teriak Tari pada sang ayah
"walaikumsalam iya nduk, sana tunggu di gubuk ayah cuci tangan dulu"
Dengan senyum yang selalu diulas di bibir mungilnya Tari berjalan menuju gubuk, yang berada di sisi sawah bagian atas dari sini nampak pemandangan sekeliling sawah yang masih sangat alami dan diikuti oleh sang ibu dibelakang.
"sungguh nikmat apa yang kau dustakan" ucap Tari saat melihat pemandangan di sawah
"kenapa harus dusta nduk, kalau kita bisa mensyukuri semua nikmat -Nya semua akan selalu indah terlepas nikmat seperti apapun, atau sebesar apapun. Kunci hidup itu ikhlas dan sabar nduk, banyak - banyak bersyukur insyaallah semua akan terasa ringan"
"enggeh buk, maaf buk kalau Tari masih belum bisa sabar dan ikhlas"
"sabar dan ikhlas itu belajarnya setiap saat nduk, wez Ndak usah difikir. Ayo ditata makanannya, itu ayahmu sudah berjalan kesini"
"siap ibu ratu" jawabnya dengan senyum cerianya
Dengan sigapnya Tari membuka tentengan rantang yg dibawanya, di tatanya semua di dudukan gubuk itu. Nampak oseng kangkung, lele goreng, tempe goreng, dan kerupuk, juga tidak ketinggalan wedang jahe yang selalu jadi menu wajib dikala di pagi hari.
"baunya sedap sekali nduk"
"enggeh pak, menu sepesial pakek cinta"
"wez kumat, ayo cepat dimakan"
"ambilkan nasinya untuk bapak nduk"
"siap Baginda rajaku"
Seketika terdengar suara mereka tertawa bersama, kelurga kecil Tari menikmati waktu kebersamaan mereka di sawah. Setelah selesai sarapan mereka semua mengerjakan pekerjaan masing - masing, ayah masih menyiangi pematang sawah, sedangkan ibu dan Tari mencabuti rumput yang ada disela - sela tanaman padi.
"jah, Ijah" nampak suara laki - laki memanggil nama Tari.
"assalamualaikum Dalem" jawabnya sambil menoleh.
"walaikumsalam, kapan pulang ?"
"ehms, anu tadi malam. Mas Pandu sendiri kapan pulangnya ?"
"aku sudah hampir sepuluh hari dirumah tapi aku tak pernah melihatmu"
"iya mas, saya jarang dirumah"
"kenapa tak pernah membalas pesanku?"
"maaf mas, saya sedang melakukan bimbingan untuk sekripsi"
"oh, sudah mau sekripsi ?"
"Alhamdulillah mas"
Pandu Aji Bramantyo nama lelaki itu, teman masa kecil Tari meskipun usia mereka tak sepantaran tapi mereka adalah teman sepermainan Tari dikala masih kecil. Dya bekerja di sebuah kapal pesiar jadi tidak setiap hari dya bisa pulang jadi waktu - waktu tertentu saja dya ada.
"jah, nanti sore kita Ki bendungan ya?"
Bendungan yang dimaksud disini adalah Bendungan Ngreco yang terletak antara perbatasan kabupaten Malang dan kabupaten Blitar. Disore hari memang banyak sekali muda mudi yang menjadikan tempat favorit untuk sekedar duduk menikmati waktu sore disana.
"maaf maz, selepas ashar saya sudah harus kembali ke Malang"
__ADS_1
"kamu naik apa"
"saya naik bis"
"kalau begitu saya antar ya"
"Ndak usah maz"
"kenapa, saya tidak ada pekerjaan"
"mas, saya tidak enak dengan pandangan orang"
"kamu jangan berlebihan seperti itu tidak ada orang yang akan berfikir aneh tentang hal ini, wong cuma mengantar saja. Apa kamu malu karena mobil jelekku itu ?"
"bukan begitu mas, saya disini hanya menjaga diri saya"
"aku tau batasan kita kok Ijah"
"maaf mas saya tidak bisa"
Nampak segurat kekecewaan di wajah ganteng itu, penolakan Ijah sedikit membuat kepercayaan dirinya menurun. Tanpa mereka berdua sadari percakapan itu didenger ibuk Tari.
"mas Pandu"
"enggeh buk"
"tumbenan maen kesawah ?"
"ini buk saya mau mancing di bawah sana" tangannya sambil menunjuk arah sungai yg terletak di bawah sawah yang digarap keluarga Tari.
"Oalah, masih lama mas dirumahnya ?"
"mboten buk, kurang 4 hari lagi sudah kembali buk"
" cepet ya mas"
"enggeh buk, dalam satu kali cuti saya hanya memperoleh 14 hari buk"
"walah, sampean sudah sarapan belum, kalau belum sana di gubuk masih ada sedikit nasi"
"sana nduk sampean temani mas Pandu makan, sana cuci tangan sama kakimu dulu"
"nanggung buk, ini lumpurnya agak dalam ibuk mawon" Tari mencoba mencari alasan untuk tidak menerima perintah ibunya.
"sampean Ki lek dibilangin ibuk kok Yo mbantah to"
"maaf buk, bukan maksut Tari seperti itu"
"ya makanya sampean cuci tangan dan kakinya itu, temani mas Pandu makan"
"enggeh buk" nampak kekecewaan di wajah gadis itu,
Akhirnya dya segera keluar dari sawah dan mencuci tangan serta kakinya. Lalu berjalan menuju gubuk sawah yang diiringi langkah seorang laki - laki tampan di belakangnya. dengan cepat duta membuka rentengan rantang itu dan menyusunnya.
"mas, monggo sampean makan"
"aduh, saya ini tadi mimpi apa ya semalam pagi - pagi sudah dapat rezeki yang begitu besar"
"cepat dimakan mas" sahut Tari tanpa memandang lawan bicaranya.
"Ijah, cantik tapi jutek mana Ijah yang manis dulu ?" kata - kata itu meluncur begitu saja tanpa memperhatikan yang punya wajah.
"sudah cepat dimakan"
Suasana tak terasa hangat sama sekali yang ada kebisuan diantara mereka berdua. Ijah hanya tertunduk dengan lamunan dan segala fikirannya lain halnya dengan Pandu, dya nampak berciri pandang dan sesekali tersenyum kecil ke arah Tari.
"nngllleeekk, Alhamdulillah"
"kebiasaan mu mas sama sekali tak berubah" ucap tari dengan sedikit senyum tanpa menoleh ke arah orang yang diajaknya bicara.
"masih ingat sama kebiasanku ?, kalau sama perasaanku bagaimana apa masih ingat ?
"sampean itu ngomong apa, ini minumnya" Tangan Tari sambil menuangkan wedang jahe ke dalam gelas.
__ADS_1
"ya ngomong sejujurnya lah, kalau kebiasanku masih ingat barang kali masih ingat sama perasaanku sama sampean"
Tidak ada jawaban sama sekali dari Tari hanya seulas senyum kecil yang penuh kekecewaan, entah perasaan kecewa kepada siapa.
"perasaanku tetap sama seperti dulu tidak sedikit pun berubah, boleh kah AQ menaruh harapan disini" kata Pandu pelan sambil merengkuh tangan Tari.
"maaf mas, aku bukan harapan yang patut untuk engkau perjuangkan" ucapnya tegas seraya menampik tangan Pandu.
"kenapa ?"
"saya tidak pernah berfikir untuk menjadi harapan seseorang"
"mulai sekarang berfikir lah untuk menjadi harapanku"
"maaf mas saya tidak bisa"
"kenapa tidak bisa ?"
"saya tidak bisa, jangan pernah memaksakan kehendak mas pada orang lain" suara Tari penuh penekanan.
"beri satu alasan"
"saya rasa saya tidak perlu memberi alasan"
Nampak mata Tari mulai berkaca - kaca, yang iya sembunyikan dalam kepalanya yang selalu tertunduk. Pandu hanya terdiam mencoba menerima apa yang diucapkan Tari, yang sebenarnya tidak bisa iya terima.
"sudah selesai makannya mas Pandu ?"
"owh, sampun buk enak sekali Alhamdulillah Pandu sampai kekenyangan"
"Oalah"
"buk, ayo pulang Tari belum sholat dhuha"
"kok pulang, wong masih ada mas Pandu disini Lo nduk"
"dya kan mau mancing buk"
"enggeh buk, saya mau mancing dulu" seolah tau apa yang ad di kepala Tari, Pandu menjawab sekenanya.
"ya wez nduk, sampean bereskan dulu"
"buk, Ijah saya permisi dulu ya, terimakasih sarapannya"
"iya mas Pandu"
Tubuh tegap itu meninggalkan gubuk itu dengan langkah berat sebenarnya dya ingin berlama - lama dengan Tari tapi apa daya. Dengan segera ibu menghampiri Tari yang merapikan rantang dan alat makan untuk dimasukan kedalam tas anting (tas anyaman dari plastik).
"nduk kenapa, kok Sampean Ki seolah ngusir mas Pandu ?"
"mboten buk, memang benar Tari belum sholat Dhuha"
Terlihat Tari mencoba menyembunyikan wajah sedihnya dya tertunduk dengan mata yg berkaca - kaca.
"sampun buk, ayo pulang"
"nduk jangan menyembunyikan sesuatu dari ibuk"
"mboten buk" seiring dengan butiran kristal yg jatuh begitu saja, dengan tergesa dya menyeka dengan kasar berharap sang ibu tidak melihat kejadian itu.
"sudah sana pamit sama ayahmu"
"enggeh buk"
Tari berjalan sambil menenteng anting yang berisi rantang, lalu dya berpamitan dengan sang ayah yang masih mau menyelesaikan pekerjaannya.
"yah Tari pulang duluan ngeh, nanti ayah pulangnya jangan siang -siang"
"iya nduk ini sebentar lagi selesai"
"assalamualaikum"
"walaikumsalam salam"
__ADS_1
ibu Tari tahu kejadian dimana anak gadisnya menyeka air mata itu, tapi dya pura - pura tidak mengetahui hal itu dya juga tidak mau bertanya hal itu. muncullah berbagai macam pertanyaannya dalam fikirannya, apakah luka itu masih ada, apa rasanya sesakit itu, apa putrinya itu benar baik - baik saja.
bersambung .....