Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
90. Aku Bang Syam


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Menghindar bukan satu - satunya hal yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan suatu masalah. Menghadapinya mungkin satu - satunya jalan, walaupun kadang hasilnya nanti tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan tapi setidaknya kita sudah berusaha.


Tari nampak ragu ketika dia ingin mengangkat wajahnya, namun dia yakin bahwa orang di depannya itu pasti dia.


" Walaikumsalam. " Jawabnya gugup, namun sebisa mungkin dia menutupi kegugupannya.


" Kita harus bicara. "


" Sudah tidak ada hal yang harus kita bicarakan, maaf saya harus pulang. Assalamualaikum. "


Dia berjalan meninggalkan sosok berlesung pipi itu tanpa menunggu salamnya dijawab. Yang masih memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Mungkin saat ini menghindar adalah satu - satunya hal yang bisa dia lakukan, menghirup udara yang sama dengan sosok itu cukup menyesakkan baginya. Untung saja ketika dia sampai di depan gerbang Mbak Juriah sudah menunggunya di sebelah sepeda motor matic miliknya.


" Sudah lama Mbak, "


" Baru sampai Ning, " Jawabnya sembari memberikan helm padanya.


Mereka pun berboncengan menyusuri jalan membelah jalanan siang itu yang lumayan terik. Perjalanan menggunakan sepeda motor memang lebih cepat, dari pada menggunakan mobil.


" Mbak saya masuk dulu ya. "


" Iya Ning, sudah di tunggu Ummi sama Abbah. "


" Iya Mbak Ju, saya sholat dhuhur terlebih dahulu sampean bilang ke Ummi. " Jawabnya sambil memasuki kamar Gus Syam yang saat ini dia tempati.


Kamar ukuran 4×4 ini kamar milik suaminya, meskipun tak seluas kamar milik mereka di malang namun kamar ini cukup nyaman baginya. Ranjang yang tidak begitu luas, dengan lemari kayu, sebuah meja, dan rak buku yang hampir memenuhi satu sisi tembok. Suaminya itu memang sangat senang membaca, terlihat dari koleksi buku yang dia miliki yang jumlahnya termasuk banyak.


Tari segera menyelesaikan kewajibannya, kemudian dia berganti pakaian. Mengenakan gamis syar'i warna peach bermotif bunga sakura, dia menyampirkan sling bag miliknya di pundaknya. Berjalan menghampiri kedua mertuanya yang sedang menunggunya di bale.


" Maaf Mi, sudah menunggu lama. "


" Tidak apa - apa nduk, acaranya masih nanti selepas Ashar. "


" Kalau semua sudah siap mari kita berangkat. "


" Monggo Bah. "


Mereka berangkat diantar Pak Atmo, orang kepercayaan Abbah yang menjadi sopir Abbah. Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan kota Kediri bergerak menuju selatan, tempat dimana pengajian itu dingelar, di rumah salah satu keluarga Ummi. Tepat sebelum Ashar mereka sampai, yang langsung di sambut semua orang apalagi kehadiran Tari yang cukup menarik perhatian semua orang.


" Oalah ini to istrinya Syam, Mbak ? "


" Iya, perkenalkan namanya Tari. "


Bunyai Salamah memperkenalkan anggota baru dalam keluarganya itu, sebagai putrinya bukan menantunya.


" Saya dengar kamu kerja di Al - Azhar ya ? " Tanya wanita yang usianya tak jauh dari dirinya.


" Enggeh Bulik, "


" Sebagai apa ? "


" Saya tenaga pengajar di TK Bulik, "


" Wah, sekarang masih bekerja "


" Alhamdulillah masih, "


" Kenapa masih bekerja, apa Syam tidak memberi nafkah yang cukup ,? " Tanya salah satu dari mereka yang penampilannya paling mencolok diantara yang lain.


" Alhamdulillah nafkah yang diberikan Mas Syam lebih dari cukup Bulik, namun mengajar adalah hal yang saya sukai. Ketika ilmu yang kita punya bermanfaat bagi orang lain itu rasanya lebih puas dibandingkan dengan nominal yang kita dapat. " Jawabnya pelan dan tenang.


" Memang apa salahnya dengan wanita yang bekerja ? selama suami mengijinkan dan kita tidak melupakan kewajiban kita sebagai istri. " Jawab wanita yang usianya tak jauh darinya.


" Kebetulan Mas Syam mendukung setiap apa yang menjadi keputusan saya. "


Mereka semua terdiam ketika Bunyai Salamah datang mendekat, dimana pun berada pro dan kontra selalu ada hanya saja bagaimana kita menyikapinya.


" Nduk, ayo saya perkenalkan dengan yang lain. " Ucapnya sambil merangkul bahu mantunya itu.


*************

__ADS_1


Sementara itu Gus Syam sedari tadi tidak beranjak dari ruang UGD, karena semenjak tadi jumlah kedatangan pasien di UGD cukup banyak. Di sini dia termasuk salah satu dokter yang cukup menyita perhatian bagi perawat, rekannya sesama dokter bahkan juga bagi para pasien.


" Masih ada lagi sus, yang harus mendapatkan rekomendasi transfer ke ruang ? "


" Sementara semua sudah Dok, semoga saja sore ini tidak seramai tadi malam ya Dok. "


" Semoga Sus, lumayan kalau setiap hari harus seperti tadi malam. "


" Iya Dok, tumben Dok belum menghubungi istri ? "


Di sini hanya beberapa orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah, dan salah satunya adalah suster Nani asistennya di ruang UGD ini. Hampir seminggu ini setelah kembalinya dia memiliki kegiatan baru, hampir setiap jam dia selalu menghubungi istrinya. Entah itu panggilan Vidio, panggilan suara ataupun berkirim pesan.


" Dia masih menghadiri pengajian Sus, pasti hanphonenya dimatikan. "


" Pengantin baru masih anget - angetnya malah sudah ditinggal Dok. Kalau saya jadi istrinya Dokter ngak akan saya biarin suami saya jauh, dunia luar ini terlalu bahaya untuk orang seperti Dokter Syam. " Ucapnya sembari menyeringai.


Apa yang diucapkan suster Nani memang ada benarnya, di sini sudah tak terhitung berapa orang yang memberikan perhatian lebih kepadanya. Bahkan bukan hanya sekedar perhatian saja mereka terkadang, memberinya banyak makanan dan barang yang tidak pernah satu pun dia tanggapi, ataupun menerima pemberian mereka.


" Insyaallah saya akan menjaga kepercayaan istri saya sus, "


" Dokter sudah mengajukan intership? "


" Belum Sus, setelah sumpah dokter baru saya mengajukan intersip. "


" Wah istrinya alamat tambah ditinggal lama itu Dok. "


" Insyaallah di bawa Sus, saya yang ngak bisa kalau terlalu lama jauh. " Ucapnya sembari tersenyum simpul.


Suasana UGD kembali ramai ketika datang seorang pasien datang kondisi yang cukup darurat. Urat nadinya terpotong, sehingga mengakibatkannya kehilangan banyak darah belum lagi kesadaran pasien yang mulai menurun.


Dengan sigap semua bersiap, di posisi masing - masing termasuk Gus Syam. Dia memeriksa seberapa parah luka pada nadi pasien itu, yang ternyata cukup dalam.


" Sus, siapkan oksigen dan infus. "


" Iya Dok, "


Suasana semakin tegang ketika sang pasien benar - benar kehilangan kesadaran. Semua orang yang berada di UGD cukup tegang dengan keadaan sekarang.


" Baik Dok.


**************


Rombongan keluarga Kiyai Baharudin sampai ke ndalem selepas Maghrib. Selama acara pengajian tadi Tari benar - benar menjadi pusat perhatian. Bunyai dengan bangga memperkenalkan menantunya itu.


" Mbak Tari, nanti Fisa belajar sama sampean ya ? "


" Iya, sekarang sampean ganti baju dulu. Setelah itu mbak Tari tunggu di kamar ya. "


" Oke. "


Semenjak kedatangan Tari di ndalem, membuat suasana ndalem semakin ramai. Banyak kegiatan yang dia lakukan di sini, termasuk kegiatan mengaji kitab yang dilakukan dimalam hari jika dia sempat. Bukan cuma itu saja, dia akan menyiapkan semua keperluan kedua mertuanya yang biasanya dilakukan Mbak Juriah sekarang dia yang melakukan. Apa lagi Nafisa gadis kecil itu selalu mengekori kemanapun dia pergi.


" Mbak Ju, minumnya Abbah sudah disiapkan ? "


" Ning Tari, ....... Ini masih di rebus, baru sampai Ning ? " Jawab Mbak Juriah.


" Iya Mbak, ternyata yang hadir cukup banyak Mbak. "


" Ini Mbak minum dulu perutnya biar ngak mual lagi. Iya kalau saudaranya Ummi itu memang banyak Ning, beragam pula orangnya. Tadi ketemu Bu Romlah ngak Ning ? " Mbak Juriah menyodorkan segelas parutan kunyit dan madu ke arahnya.


Saat mendengar nama Bu Romlah Tari langsung terdiam, pepatah dunia tak selebar daun kelor tak sesuai dengan keadaanya sekarang. Tadi di pengajian dia tidak melihat wanita paruh baya itu, karena yang dia dengar dari obrolan orang disana. Keluarga Bu Romlah sedang sibuk mempersiapkan acara pertunangan untuk anaknya. Entah anak yang mana Setyo atau saudaranya karena anak Bu Romlah ada tiga yang belum berumah tangga.


" Ngak ada Mbak Ju, terima kasih ya Mbak kunyitnya membuat mual saya hilang. " Ucapnya sembari menghabiskan kunyit madu yang masih tersisa separuh gelas.


" Ya jelas Mbak, orang di rumahnya sibuk mempersiapkan lamaran anaknya. Tadi selepas menjemput sampean saya disuruh Ummi ke sana mengantarkan beberapa bahan makanan. "


Tari membawa teko kecil berisi jahe hangat yang ditambahkan madu dan jeruk nipis untuk di bawa ke kamar mertuanya. Dia mengantarkan minuman itu ke kamar mertuanya, sepasang paruh baya itu ternyata masih larut dalam obrolan mereka. Sementara Tari dia segera kembali ke kamar karena pasti Nafisa dia sudah menunggu di kamarnya.


Ternyata benar, gadis itu ternyata sudah duduk manis di karpet bulu yang ada di kamarnya. Sebelum keberangkatannya suaminya menambahkan karpet bulu, yang dia jadikan sebagai tempat melakukan segala aktifitasnya. Seperti saat ini dia menginput data dan menemani Fisa juga diatas karpet bulu, karena dengan posisi di bawah itu membuatnya lebih nyaman.


" Sudah selesai apa belum Mbak ? "

__ADS_1


" Hampir sebentar lagi, ......... oiya Mbak Tari melupakan sesuatu. "


Dengan cepat dia mengambil sling bag miliknya yang dia letakkan di atas meja belajar. Dia segera mengambil handphone miliknya, sejak pengajian di mulai tadi dia mematikannya. Dan dia lupa sampai saat ini belum mengaktifkannya kembali. Saat layar handphone mulai menyala, beberapa notifikasi masuk secara bersama - sama.


✉️ Dek sudah selesai ?


✉️ Dek,


✉️ Dek, sampean dimana ? kenapa belum dibalas pesanku.


✉️ Dek kenapa teleponku tidak sampean angkat.


✉️ Dek sampean ngak kenapa - napakan ?


Beberapa pesan dari sang suami masuk secara bersama - sama. Sedetik kemudian sebuah panggilan masuk, dia langsung menggeser ke tombol hijau.


📞 Sampean Diaman sekarang, kenapa tidak menjawab telepon ku ?


📞 Assalamualaikum Mas, Aku sudah dirumah maaf tadi baru teringat mengaktifkan handphone.


📞 Walaikumsalam Dek, Sampean membuatku khawatir Dek.


📞 Maaf, aku benar - benar lupa.


📞 Aku alihkan panggilan Vidio saja ya Dek.


Layar Handphonenya sekarang di penuhi sosok laki - laki yang memenuhi seluruh hatinya. Pipinya bersemu merah ketika sang suami menatapnya, bahkan hanya melalui layar Handphone.


📱 Dek, aku kangen sekali.


📱 Iya Mas,


📱 Iya apa ?


📱 Iya kayak yang sampean bilang.


📱 Emang aku bilang apa ? ,


Melihat istrinya dengan pipi yang bersemu merah, membuat rasa capeknya menguat begitu saja. Andai saja dia sekarang sedang di sampingnya sudah pasti dia akan membawa istrinya itu ke dalam pelukannya dan menghujani istrinya dengan kecupan di keningnya.


📱 Sudah makan Mas ?


📱 ini lagi nunggu makanan datang.


📱 Nanti pulang jam berapa ?


📱 Jam 11 dek baru oper siftnya. Sampean sedang apa ?


📱 Baru selesai input data Mas.


📱 Tumben Fisa ngak ada.


Tari mengganti kameranya ke kamera belakang, mengarahkannya ke arah Nafisa yang sudah tertidur dengan buku yang masih terbuka di depannya. Gadis itu sudah tertidur padahal tadi ketika dia menelfon, gadis itu masih menyelesaikan membaca buku.


📱 Setiap hari tidur sama sampean Dek ?


📱 Iya Mas, biakan hanya tidur setiap hari dia kan selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi.


📱 Biar sekarang Nafisa yang tidur sama sampean, kalau aku pulang aku yang akan menemani sampean tidur.


📱 Sama Nafisa pun sampean cemburu mas ?


📱 Iya aku cemburu sama semua orang yang merebut perhatian istriku.


Tari hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan suaminya, yang mengucapkannya dengan gaya yang santai seolah tidak ada beban.


📱 Aku bukan bang Toyib yang betah tidak pulang tujuh puasa tujuh lebaran. Aku bang Syam Yang Tujuh malam tujuh hari tanpa istriku rasanya seperti tujuh puasa tujuh lebaran lamanya.


Seketika tawanya langsung terdengar ketika mendengar apa yang suaminya katakan, apalagi Gus Syam mengucapkannya sembari mengacak - acak rambutnya.


Bersambung .........

__ADS_1


__ADS_2