
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Nduk ...... " Panggil wanita paruh baya itu, disertai tepukan pelan di tangan gadis itu.
Sementara gadis itu hanya menggeliat kan tubuhnya, nampak enggan sekali dia bangun dari tidurnya. Kedua wanita yang sedang di samping Tari hanya saling pandang.
" Mbak, Mbak, " Ucapnya pelan.
" ahhhh, aahhhh ....... "
Pada akhirnya gadis itu membuka mata, dia masih mencoba mencari kesadarannya yang nampak masih mengerjap - ngerjapkan mata. Kemudian setelah dirasa kesadarannya sudah penuh dia duduk bangkit dari tidurnya. Dia sedikit heran ketika mendapati Bu Tini dan Wardah menatapnya dengan ekspresi yang tidak biasa.
" Buk, ada apa ? "
" Ehmz, sampean itu lo nduk tidurnya kok ngak bangun - bangun. Sudah sholat isya apa belum ? "
" Astaghfirullah, sudah jam berapa ini Dah ? "
" Sudah jam sepuluh malam mbak. "
Tari segera bangkit dari duduknya, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Dia segera menggelar sajadahnya untuk melakukan kewajibannya. Sementara Wardah dan Bu Tini tidak beranjak dari tempatnya semula, menunggu gadis itu hingga selesai.
Tari merasa heran ketika kedua orang itu memandangnya dengan pandangan yang lain. Setelah mengembalikan mukena ketempatnya dia berjalan kearah mereka berdua.
" Buk, Dah ada apa sepertinya ada hal ..... ? "
Sebelum sempat selesai menyelesaikan pertanyaannya Bu Tini sudah memotong perkataanya.
" Nduk, tolong sampean temani Mas Rizki sama Wardah pulang. "
" Memangnya ada apa Dah ? "
" Anu Mbak, ada hal penting yang mengharuskan saya pulang. Tolong temani saya, tidak mungkin saya pulang hanya dengan Mas Rizki. " Wardah tampak meyakinkan Tari dengan kebohongan yang sedang dia buat.
" Ayo Dah, sampean siap - siap. "
" Enggeh Buk. "
Tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi, Tari segera Menganti gamis rumahannya dengan gamis syar'inya memasukkan beberapa barang yang dirasa perlu dibawa ke dalam sling bagnya. Sementara Wardah dan Rizki sudah bersiap dari tadi menunggunya di lantai bawah.
" Tadi sampean alasan apa sama Tari. "
" Saya beralasan untuk menemani kita, ada kepentingan yang harus kita urus. "
" Baiklah, ku rasa itu alasan yang tepat. Kita langsung ke rumah sakit. "
Tidak lama Tari turun dari tangga, kemudian mereka berpamitan kepada Bu Tini. Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan malam yang lumayan lengang menuju kota Malang.
Wardah duduk di sebelah Rizki yang sedang mengemudi, sedangkan Tari duduk dibelakang. Gadis itu sudah nampak tertidur kembali sembari meringkuk memeluk sling bagnya.
📞 Sudah sampai mana ?
📞 Sebentar lagi masuk kota
📞 Ya sudah, hati - hati
📞 Bagaimana keadaannya ?
__ADS_1
📞 Keadaannya terus menurun, tapi semoga tidak terjadi apa - apa.
📞 Ya sudah aku lanjutkan perjalanan terlebih dahulu.
Mobil itu sampai di sebuah parkiran rumah sakit, Wardah segera membangunkan Tari yang tengah duduk di bangku belakang.
" Mbak kita sudah sampai ? "
" Ehh....... Sudah sampai Dah ? "
" Iya ayo sampean turun. "
Tari segera keluar dari mobil itu, dia sedikit terkejut ketika mereka berada di parkiran sebuah rumah sakit. Namun dia enggan bertanya kenapa mereka berada ditempat ini. Sedangkan Wardah segera menuntunnya untuk memasuki bangunan itu menyusuri koridor rumah sakit menuju sebuah ruangan.
Dia mulai sadar dengan keadaan sekitar, dan seketika itu bayangan wajah ayahnya memenuhi pikirannya. Pikirannya tak lagi bisa fokus, bahkan langkahnya pun seakan ringan. Wardah yang mengetahui hal itu segera merangkul bahu kecilnya. Sementara Rizki membuka pintu dengan perlahan, betapa terkejutnya dia saat mendapati ibunya di ruangan itu.
Wanita paruh baya itu segera meraih tubuh kecil itu yang mulai bergetar kedalam pelukannya. Pelukan itu disertai dengan tangisan dari ibunya sembari mengelus pelan punggungnya. Dia mencoba meyakinkan dirinya jikalau semuanya baik - baik saja.
" Buk ......... "
Pandangannya beralih pada tirai yang menutupi tempat tidur pasien, yang kebetulan dibuka oleh seseorang dari dalam. Dan nampak wajah sang Ayah diatas tempat tidur itu. Sontak saja dia melepaskan pelukan ibunya, sedikit berlari menghampiri tempat tidur itu.
Butiran kristal bening itu sudah luruh begitu saja, memenuhi wajah gadis itu. Diraihnya tangan keriput itu lalu menciuminya, mencoba menyalurkan hasrat dalam dadanya.
" Nduk ....... "
" Buk, Ayah kenapa ? Maafkan Ijah. "
" Yang sabar, yang ihklas ya nduk kita sedang diuji. "
Hanya itu yang bisa wanita paruh baya itu sampaikan, dadanya terlalu sesak jika harus mengatakan banyak hal. Melihat keadaan suaminya saat ini sungguh membuatnya kehilangan kekuatan dari dirinya. Namun melihat sang putri menjadi dorongan terhadapnya agar bisa lebih kuat dalam menghadapi cobaan ini.
Dentingan jam dan alat pendukung kehidupan, mereka seolah berlomba berpacu dalam menyuarakan suara mereka. Dan lantunan ayat suci dari bibir gadis itu seolah menjadi penengah untuk keduanya. Wanita paruh baya itu datang menghampiri putrinya, mengusap pelan bahu kecil milik putrinya.
" Nduk istirahatlah sebentar, biar Ibuk yang menjaga Ayah. "
" Jam berapa sekarang Buk ? "
" Masih jam 03:00. "
Dia segera menutup mufrod yang berada ditangannya, kemudian menatap wajah ayahnya yang nampak seperti orang tidur itu.
" Yah, Tari tinggal sebentar ngeh. "
Kemudian dia berdiri dari duduknya, berjalan kearah kamar mandi untuk mensucikan dirinya. Setelah keluar dari kamar mandi dia sedikit terkejut ketika dia melihat ruangan yang ditempati ayahnya. Sebuah ruangan perawatan VIP yang terlihat dari fasilitas yang berada di dalamnya.
Namun fokusnya kembali pada apa hal yang ingin dia lakukan sekarang. Segera dia mengambil sling bag miliknya yang ternyata berada di sofa, di sebelah tas ransel bermotif doreng. Tak mengambil pusing soal itu, dia segera mengambil mukena yang berada di dalamnya.
Digelarnya sajadah miliknya, kemudian dia menenggelamkan diri diatasnya. Mengadu kepada sang pemilik kehidupan, tentang semua hal yang kini telah dia alami.
Ya Allah, sungguh tiada Tuhan selain-Mu tiada hal yang dapat berjalan tanpa kehendak-Mu. Jadikanlah semua ini pengingat bagi hamba dan sarana penggugur dosa bagi Ayah hamba. Ya Allah, Engkau sebaik-baiknya obat yang ada atas dunia dan seisinya. Berikan keihklasan dan kesabaran kepada hamba, serta berikan kesembuhan kepada Ayah hamba. Angkatlah segala penyakit yang beliau rasakan saat ini gantikan dengan nikmat kesehatan jasmani serta rohani. Berikan jalan keluar atas kesulitan yang kami rasakan saat ini ............. Serta, Wafatkanlah beliau dalam keadaan Khusnul khatimah. Amien ...........
Gadis itu terus saja, bergelut dengan sajadahnya hal yang bisa menenangkan hati dan pikirannya untuk saat ini. Tanpa dia sadari ada sosok yang sedang mengamatinya dari jendela yang kebetulan tirainya sedang terbuka. Seulas senyum samar melengkung di wajah yang berdagang kokoh itu ketika menatap gadis yang sedang diperhatikannya.
" Sudah sana segera sampean temui, jangan menatapnya seperti ini. Sudah seperti pencuri saja sampean kalau seperti ini. "
" Belum saatnya, waktunya pula sedang tidak tepat. "
__ADS_1
" Kenapa, dia sudah halal untuk sampean. "
" Tidak mungkin tiba - tiba mengatakan yang sebenarnya terjadi, paling tidak aku harus menunggu keadaan Ayah membaik. "
Laki - laki itu menjauh dari jendela, dan duduk di bangku yang berada tidak jauh darinya. Diambilnya sebungkus rokok yang berada di saku celananya. Kemudian dia mengambilnya sebatang lalu menyalakannya.
" Pak Dokter kok ngerokok to San ? "
" Lah, memang ada aturan seorang Dokter tidak boleh merokok ? Lanang ora ngerokok kurang Ki. " Jawabnya disertai senyum khas miliknya.
" Kata siapa, buktinya aku tidak merokok ya tetap tidak mengurangi kegantengan ku. "
" Ra nyambung. "
Satu hari ini di lalui ya dengan banyak hal baru, bahkan dia masih belum percaya dengan keputusan penting yang baru saja diambilnya. Apa memang seperti ini jalan yang dipilihkan untuknya, atau memang suratan takdir miliknya yang harus seperti ini.
Di tatapnya tasbih yang selalu dia pakai ditangan kanannya itu, seulas senyum melengkung nampak diwajahnya. Biarkan takdir bermain dengannya saat ini, namun keberpihakan takdir kepadanya tidak dapat dipungkiri.
" San, aku harus kembali ke Kediri. "
" Kenapa tidak besuk pagi saja, ini masih dini hari. "
" Maaf ada pekerjaan yang menanti ku, maaf tidak bisa menemani sampean lebih lama. "
" Aku yang harusnya minta maaf sama sampean, karena sudah merepotkan sampean. "
" Tidak apa - apa, semoga mertuamu segera sembuh. Aku tinggal terlebih dahulu. Assalamualaikum. "
" Terimakasih, Walaikumsalam. "
Laki - laki itu menggerus puntung rokok yang telah habis di sesapnya. Kemudian dia kembali mengambil sebatang lagi dan menyalakannya, mencoba mengusir ngantuk yang sudah mulai menyerangnya.
Sementara di dalam ruangan Tari sudah menyelesaikan sholatnya, dia. melipat mukena miliknya dan menaruhnya ke dalam Sling bagnya. Kembali duduk di pinggir tempat tidur ayahnya, memperhatikan wajah laki - laki paruh baya itu dengan lekat.
Tak berapa lama, mata yang tertutup itu mulai mengerjap - erjap kemudian terbuka dengan perlahan. Tari dan ibunya saling berpandangan mengetahui hal itu, sedangkan laki - laki paruh baya itu nampak tersenyum ke arah kedua wanita itu.
" Kenapa, kok melihat Ayah seperti itu ? " Tanyanya dengan suara serak.
" Yah, sudah jangan dipaksakan untuk berbicara terlebih dahulu. "
" Ayah tidak apa - apa Buk, lah sampean kok sudah disini nduk ? "
" Enggeh Yah, maafkan Ijah Yah tidak bisa menemani Ayah. " butiran kristal bening itu sudah luruh tanpa bisa ditahannya lagi.
" Lah Ojo nangis nduk. Ayah baik - baik saja sampean jangan menangis. "
" Nduk panggil perawat agar. bisa melihat kondisi Ayahmu. "
Tari segera berjalan keluar ruangan, tanpa memperhatikan orang yang sedang duduk di bangku depan pintu. Fokusnya hanya ingin mencari keberadaan perawat atau dokter jaga, untuk segera memeriksa Ayahnya. Dia menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya,
Dia kaget ketika dia belum memakai kerudungnya, dan terburu - buru keluar karena mendapati ayahnya yang sadar. Tanpa mengenakan kembali kerudungnya setelah melepasnya ketika akan sholat malam tadi. Dia langsung saja membalikan tubuhnya dan kembali berjalan kearah kamar Ayahnya.
Bbbrruuukkkk .........
Tubuhnya terhuyung ketika dia menabrak sosok tegap yang berada di depannya, badannya terjatuh ke belakang. Namun sebelum sempat tubuhnya menyentuh lantai, sebuah tangan kekar menarik pinggangnya. Sehingga dia berada di pelukan tubuh tegap itu, dan bau kayu Cendana seketika memenuhi indera penciumannya. Membuat gelenyar aneh yang tiba - tiba datang.
Apalagi ini debaran jantungnya, sudah tak lagi bisa dia kendalikan bahkan mungkin saja terdengar jelas oleh orang yang sekarang tengah memeluknya.
__ADS_1
" Aku tak ingin milikku dilihat oleh orang lain. " Ucap laki - laki itu seraya menutup kepalan gadis itu dengan sorban miliknya di iringi senyum di wajahnya.
Bersambung .............