Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
11. Calon Suami


__ADS_3

"Sayang sekali Tari aku tidak menerima penolakan, terimalah walaupun kamu tidak mau memakinya setidaknya kamu bisa menyimpannya " ucahpPandu sedikit kecewa.


"Tapi, ......"


"Sudah simpan saja, kita mau kemana lagi ?"


"Saya rasa ini sudah sore, sampean antarkan saya ke asrama saja"


Mobil pun melaju menuju pinggiran kota Malang dengan kecepatan sedang. Sejujurnya Pandu masih ingin berlama - lama dengan Tari. Suasana senyap masih terasa hanya terdengar suara alunan tembang kenangan yang dinyalakan Pandu untuk memecah kecanggungan mereka berdua.


Tari menghela nafas panjang, saat mobil itu melaju melewati rumah sakit dimana Hawa dirawat. Ingatannya kembali kepada si pemilik suara itu, dan ingatan kepada si pemilik arloji dan gelang tasbih juga menyeruak. Kenapa pertumuan yang hanya seperti itu saja sudah cukup bisa menimbulkan debaran yang berbeda. Tari masih sibuk dengan pikirannya tanpa dya sadari dya tengah di perhatikan dengan Pandu.


"Apa yang sedang kamu fikirkan ?" pertanyaan Pandu membuyarkan segala lamunan Tari.


"Ti ... Tidak ada mas, hanya teringat dengan salah satu muridku yang sedang sakit"


"Aku harap Kamu tidak berbohong padaku"


"Tentu saja tidak"


"Tari aku bersungguh padamu, aku dan kamu sudah sama - sama dewasa aku harap kamu tau niat baikku"


"Tari tau mas, "


"Tolong jaga hatimu untuk ku saja, pada saatnya tiba aku akan segera melamarmu"


"insyaallah mas, kita pasrahkan semua pada yang diatas semoga Beliau merestui hubungan ini, kalau kita memang ditakdirkan berjodoh kita akan bersatu mas"


Pandu menatap Tari dengan penuh perasaan cinta dengan senyuman terkembang di bibirnya. Dya merasa usahanya selama ini mengejar Tari sudah berhasil.


Mobil pun sampai di depan pintu asrama, mereka sampai saat waktu sudah menjelang adzan magrib


" Mas terimakasih untuk hari ini, saya masuk dulu sampean hati-hati pulangnya"


" Iya Jah, tolong sekarang jangan kau acuhkan pesan - pesan ku"


"insyaallah mas, kalau saya tidak sibuk sebisa mungkin saya balas pesan sampean"


"Ingat jaga hati itu untukku saja,"


Tari mengangguk seraya tersenyum kecil, melihat senyuman Tari yang seperti itu saja sudah mampu membuat Pandu gelimpungan tak karuan.


" saya masuk dulu, Assalamualaikum"


" Hati - hati ya, Walaikumsalam "


Tari keluar dari mobil itu, dan berdiri disamping mobil itu. kemudian melambaikan tangannya, seraya mobil itu mulai meninggalkan pintu gerbang asrama melaju ke jalan utama. Tari tetap menatap mobil itu sampai menghilang di belokan menuju jalan utama. Dya tersenyum kecut, kenapa dya bisa mengiyakn semua perkataan Pandu padahal bertolak belakang dengan semua yang ada dalam hati kecilnya.


Kemudian dya berjalan menuju, gedung dimana kamarnya dengan tergesa - gesa. Setelah di depan pintu kamar terdengar suara kamar yang sedikit gaduh, hal ini memang sudah biasa karena penghuni kamar yang bisa dibilang masih ABG.


"assalamualaikum"


"Walaikumsalam" jawab mereka kompak.


"Mbak kok baru pulang" tanya Hanan mencoba mencari tau alasan kenapa Tari pulang terlambat karena dya tahu Tari sudah tidak ada jam kuliah lagi.


" Ada sedikit urusan yang harus diselesaikan, ya sudah mbak mau mandi dulu"


Seperti biasa Tari melakukan sholat magrib berjamaah di masjid asrama, kemudian dilanjutkan sersan sampai waktu sholat Isyak. Kali ini dya bermaksud setor hapalan karena beberapa hari terakhir ini tidak iya lakukan karena kesibukannya.


"Tari"


"Dalem," seraya menoleh mencari sumber suara.

__ADS_1


Ternyata mbak Rina yang memanggil Tari, mbak Rina sudah memasak muka penuh selidiknya karena kejadian tadi siang yang cukup membuat dya penasaran.


"Masih mau setor hapalan ya ?"


"Iya mbak"


"Kamu berhutang penjelasan padaku"


Mendengar kata - kata mbak Rina, Tari terlihat bingung apa yang harus dya jelaskan kepada mbak Rina. Tak lama berselang dya sudah selesai menyetor hapalannya, kemudian bergegas meninggalkan mushola.


Dya sampai di kamarnya, kamar masih dalam keadaan sepi. Lalu dya menyimpan Mukenanya dilempari bajunya, kemudian membaringkan tubuhnya di kasur. Dya mengingat sesuatu, dan mengambil handphone dalam tas nya. Dan membuka pesan satu persatu yang sudah menumpuk dari beberapa grup chat. Dilihatnya juga pesan dari Pandu.


✉️ Aku senang sekali kamu sudah membuka hati untuk ku, akan ku jaga rasamu dengan sebaik - baiknya. Dan percayalah padaku untuk menjaga hatimu, pada saatnya nanti aku akan membawa hubungan ini sampai pada satu ikatan yang pasti.


Tari menatap layar handphonenya dengan sedikit perasan ragu, tak sedikitpun dya ingin membalas pesan dari pandu itu. Entah mengapa banyak sekali keraguan pada Pandu dan tentunya dengan dirinya sendiri.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" jawab mereka kompak dengan celotehan khas mereka masing - masing.


"Tadi siapa yang mandi dengan air dingin ? ayo tunjuk tangan"


" Saya Bu, saya Bu " jawaban mereka sangat antusias,


"pinter sekali, anak ibu sekarang sudah pinter semua tidak ada yang mandi air hangat. semuanya ibu kasih bintang 4 ya"


"Ayo kita ambil alat tulis sama bukunya"


Begitulah suasana kelas Tari meskipun tingkatannya sudah Mi atau setingkat SD tapi cara pembelajarannya berbeda terkesan seperti belajar sambil bermain.


Ttreeeetttt, tttrrrreeeetttttt, terdengar bunyi bel tanda istirahat, dengan segera murid - murid itu berhambur keluar kelas menuju halaman sekolah.


" Tar, kemarin itu siapa ?"Tanya mbak Rina penuh selidik.


" Teman masa kecil saya mbak"


" Benar mba hanya sebatas teman, Bagaimana mbak keadaan Hawa sekarang ?" Tari bertanya mencoba mengalihkan topik pembahasan.


" Seumpama teman lebih pun itu tidak apa - apa Tar, aku rasa dya lelaki yang cukup baik. Hawa dya sudah sadar, kemarin dya menanyakan keberadaan mu kenapa kamu tidak ikut "


"Benar mbak Hawa menanyakan aku ?"


"Iya, dya terlihat sangat kecewa ketika tahu kamu tidak ikut"


"Kalau begitu nanti aku akan menjenguknya mbak"


Waktu istirahat pun telah usai, pembelajaran dikelas pun dimulai. Jam pun menunjukkan pukul 11:30 akhirnya jam pembelajaran usai. Tari bergegas menuju kantor, untuk mengambil tasnya dya berjalan dengan cepat karena dya berfikir akan menjenguk Hawa.


Tari berdiri sebelah gerbang sekolah, dya nampak menunggu angkutan. Tanpa dya sadari ada mobil yang berhenti didepannya, kemudian pengemudi mobil itu turun dan menghampiri Tari.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam, maz Pandu " Tari kaget mengetahui pengemudi itu adalah Pandu. Lalu pandangannya beralih pada mobil yang terparkir di depannya, benar saja itu memang mobil Pandu.


"Kenapa pesanku tidak kamu balas ?"


"Maaf mas, tadi malam saya sibuk dengan hapalan saya"


"Tolong lain kali balaslah pesanku, walaupun kamu sesibuk apapun"


"Insyaallah mas"


"Ayo temani aku kesuatu tempat"

__ADS_1


"Maaf mas, Tari mau ke rumah sakit "


"Aku antar, anggaplah aku jadi sopirmu satu hari ini" sambil berjalan membuka pintu depan mobilnya, Tari segera masuk menghindari perdebatan, karena percuma saja dya berdebat dengan Pandu.


Mobil melaju kearah rumah sakit, dengan kecepatan sedang. Perasaan Pandu begitu senang karena Tari mulai menerimanya. Tak lama berselang mobil itu sampai diparkiran sebuah rumah sakit. Mereka berjalan beriringan menuju ruang rawat dimana Hawa dirawat.


"Assalamualaikum" ucap tari sambil membuka pintu ruangan.


"Walaikumsalam" Jawab pak Fahmi yang langsung menoleh kearah pintu. Wajahnya sedikit terkejut melihat Tari.


"Pak Fahmi, bagaimana kabar Hawa ?"


"Alhamdulillah Bu Tari sudah banyak sekali perubahannya "


Tari menghampiri tempat tidur, dan dya mendapati Hawa yang tengah terlelap. Dengan pelan dya mengelus pucuk kepala Hawa dengan lembut dan sesekali menciumnya. Pak Fahmi yang melihat hal itu hatinya terasa sangat tersentuh nampak sekali pandanganya tak beralih dari sosok Tari.


Tiba - tiba ada suara mengetok pintu, seketika saja hal itu mengagetkan pak Fahmi. Dengan cepat beliau berjalan menuju arah pintu dan membukanya.


ceklek, nampak sesosok pria bertubuh tegap berwajah manis. Pak Fahmi mencoba mengingat atau sekedar berfikir siapa sosok pria di depannya ini.


"Mas Pandu" ucap Tari sambil berjalan menuju pintu.


"Assalamualaikum"


"walaikumsalam" jawab pak Fahmi dan Pandu berbarengan.


"Pak Fahmi, ini teman saya, beliau tadi ke toilet terlebih dahulu" Tari mencoba memperkenalkan Pandu kepada Pak Fahmi.


Kemudian kedua lelaki itu berjabat tangan, dan saling memperkenalkan satu sama lain. Sedangkan Tari duduk disebelah tempat tidur Hawa, dan sesekali menciumi pipi Hawa yang masih saja tertidur.


Entah karena apa tiba - tiba Hawa menggeliat, mengerjapkan matanya. Betapa senengnya dya mengetahu Tari duduk disamping tempat tidurnya.


"Utal, Awa ayang utal" ucapnya sambil berusaha bangun untuk memeluk Tari. Dengan sigap Tari memeluk Hawa terlebih dahulu dan menghujani Hawa dengan ciuman.


"Iya sayang, Bu Tari juga sayang Hawa. Hawa cepat sembuh ya sayang"


"Iya utal, Yayah ana ?"


Kedua mata laki - laki itu tak melepaskan pandangannya kepada Tari, entah mengapa sosok itu sangat menarik bagi mereka berdua. Mendengar Hawa bangun mereka bergegas menghampiri tempat tidur Hawa.


"Iya sayang, ayah disini" Fahmi menghampiri Hawa sambil membelai kepala Hawa.


"Halo Hawa, om punya sesuatu buat Hawa" Pandu memberikan sebuah boneka kelinci yang dia beli sebelum menuju rumah sakit tadi. Tari yang melihat hal itu sedikit terkejut, dya tidak berfikir kalau Pandu tadi berhenti untuk membeli boneka itu.


"acih om, Awa uka" Hawa begitu antusias sekali menerima boneka itu.


" Terima kasih mas Pandu" ucap Fahmi, dya juga sedikit kaget dengan perhatian yang diberikan Pandu.


"om, papa utal "


"ini namanya om Pandu sayang, temannya Bu Tari"


"om, calon suaminya Bu Tari sayang" Ucap Pandu mencoba menegaskan sesuatu hal. Entah mengapa dya merasa kalau Fahmi menyimpan rasa kepada Tari, yang begitu dalam pada saat menatap Tari dapat dilihatnya dengan jelas.


Benar saja, Fahmi yang mendengar perkataan Pandu langsung menunjukan ekspresi wajah yang kecewa. Tari pun juga tidak kalah kaget dengan perkataan Pandu. Sedangkan Pandu yang mengucapkan itu seakan tidak terjadi apa - apa.


"Alon uami, papa yayah ?"


Fahmi yang ditanya hal seperti itu oleh anaknya tidak bisa menjawab apapun, sedangkan dya saja masih mengatasi hatinya yang kecewa mendengar hal itu.


"Sayang calon suami itu adalah teman, jadi om Pandu itu temanya Bu Tari " jawab Tari berusaha menjelaskan pada Hawa.


"owh, eman"

__ADS_1


Kemudian keadan kamar itu hening, hanya sesekali terdengar ocehan Hawa. Ketiga orang dewasa itu terlihat sibuk dengan fikiran mereka masing - masing.


Bersambung......


__ADS_2