
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
POV. TARI
Ku rasakan hawa di sekelilingku teramat dingin, namun melihatnya meneteskan air mata itu lebih membuat hatiku terasa sakit. Setiap air mata yang aku jatuhkan tak sebanding dengan air mata yang dia jatuhkan untukku. Sungguh hati ini terasa amat sakit melihat keadaanya sekarang, rambutnya tak serapi biasanya, bajunya nampak kusut, dan yang paling membuat ku khawatir adalah matanya terlihat sayu dengan kantong mata yang melingkar. Menandakan bahwa sang pemilik manik tajam itu tak mengistirahatkan indera penglihatannya itu dengan cukup.
Dunia ku seakan runtuh saat Mas Setyo tiba - tiba menyeretku kesini dan yang membuat ku tak habis pikir, kenapa dia sampai berbuat hal se nekat ini. Sungguh bukan Mas Setyo yang aku kenal dulu, dia menjadi sosok lain saat emosi menguasai jiwanya. Aku ihklas dengan segala takdir yang diberikan oleh-Nya tentang hidup ku karena ketetapan -Nya adalah sesuatu yang mutlak.
Namun ada sesuatu yang mengganjal dalam hati dan pikiranku, karena sejujurnya aku belum ingin hidupku berakhir seperti ini. Karena sosok laki - laki yang sekarang sedang menangis di depanku itu membuatku sedikit memiliki harapan. Darah yang mengalir dari pipiku tak terasa perih ataupun sakit, tertutupi dengan rasa sakit melihat laki - laki ku yang tak hentinya meneteskan air mata.
Ya Allah hamba ihklas dengan apa yang sudah Engkau takdirkan kepada hamba-Mu ini bila umur hampa hanya sampai disini, dan takdir hamba meninggal dengan sebab seperti ini pun hamba ihklas. Namun berikanlah kebahagian untuk laki - laki yang sedang meneteskan air matanya untuk hamba. Senantiasa berkahi dan ridhoi disetiap langkahnya dan curahi hidupnya dengan segala kebaikan-Mu........
Amien, Amien, Amien .....
" Awas saja kamu berani melukainya, ku pastikan aku akan membunuh mu dengan tangan ku sendiri. " Ucap Mas Syam tegas dengan rahang yang mengeras dan mata yang merah, sungguh aku tak pernah melihat suamiku seperti itu, bahkan suaranya itu terdengar sangat ngeri sekali.
Aku bisa merasakan dinginnya pisau yang mulai menembus kerudungku, namun senyum terus aku sunggingan di bibirku. Karena aku tidak ingin melihat laki - laki di depanku itu khawatir, namun sepertinya upayaku untuk tidak membuatnya khawatir tidak berhasil. Terbukti dia sudah tidak peduli dengan ucapan Mas Setyo, dia melangkahkan kakinya lebar bersamaan dengan.
" Sudah terlambat. " Ucap Mas Setyo saat ku rasa tajamnya pisau itu sudah menggores leherku.
**********
" Dek bangun, Dek ...... "
Gus Syam membawa tubuh sang istri ke dalam pangkuannya, dia menepuk - nepuk pipi sang istri untuk membuatnya membuka mata.
" Dek, Dek sampean sudah aman ayo bangun jangan membuat Mas khawatir. " Ucapnya sembari mengusap luka goresan di pipi istrinya.
" Ayo Shan, kita harus membawa Tari ke rumah sakit. " Ucap Gus Reyhan yang tiba - tiba berada di sebelahnya yang ikut berjongkok seperti dirinya.
Sementara itu Setyo sudah diamankan oleh anggota tim Nono, dia menderita luka tembakan di kaki sebelah kanan. Nono terpaksa melumpuhkan Setyo dengan memuntahkan timah panas ke kakinya, untuk menghentikan aksinya mencelakai orang lain. Suasana yang membuat semua orang disini merasa tegang akhirnya usai, tanpa menimbulkan korban jiwa. Meskipun keadaan Tari tidak bisa dikatakan dalam keadaan baik - baik saja.
Setyo digiring beberapa anggota tim menuju mobil polisi bandara, dengan tangan diborgol dan jalan yang terseok - seok dia menuju mobil yang terparkir. Sementara orang - orang disana mulai membubarkan diri,kembali ke aktifitas mereka masing - masing.
" Ayo Gus mari saya yang akan menyetir. " Ucap Nono, saat menghampiri US Reyhan dan Gus Syam yang masih memeluk tubuh sang istri.
" Ayo Shan kita harus cepat. " Perintah Gus Syam pada sang adik, yang nampaknya tidak ingin beranjak dari sana karena tidak mengucap satu katapun dan hanya memeluk tubuh sang istri erat.
__ADS_1
" Ayo. " Ucapnya lagi sembari memukul punggung Gus Syam pelan.
Yang membuat Gus Syam tersadar, dan mengalihkan pandangannya ke arah Gus Reyhan.
" Ayo cepat angkat istrimu, dia membutuhkan pertolongan medis. "
" Iya Mas. "
Dia langsung mengendong tubuh kecil sang istri, melangkahkan kakinya lebar - lebar menuju mobilny yang sudah terparkir tidak jauh dari tempatnya sekarang. Entah siapa yang sudah membawa mobilnya kesini yang jelas terakhir kalinya dia memarkirkan mobilnya jauh dari sini. Persetan siapa yang telah membawa mobilnya kesini, yang terpenting sekarang adalah cepat membawa wanita dalam gendongannya itu ke rumah sakit terdekat.
" Dek, tolong bertahanlah aku sangat mencintai mu. " Kata - kata yang Gus Syam bisikkan ditelinga sang istri.
Mobil meninggalkan tempat itu dengan cepat, Nono duduk di belakang kemudi dan Gus Reyhan duduk disebelahnya, sedangkan Gus Syam duduk di bangku tengah dan memangku sang istri. Jalanan cukup ramai sehingga Nono cukup kesulitan untuk cepat sampai ke rumah sakit terdekat. Dengan memandang jalanan dan layar monitor GPS secara bergantian laki - laki gondrong itu nampak tegang dengan suasana di dalam mobil. Gus Reyhan pun tak kalah tegang dia nampak menoleh kebelakang melihat keadaan Tari kemudian kembali melihat keadaan jalanan di depannya, berharap mereka segera menemukan rumah sakit terdekat. Apalagi saat dia bisa melihat darah yang terus saja keluar, perasaan khawatirnya semakin besar.
Sementara itu, Tari tak juga membuka matanya, pipinya juga mulai dingin dan wajahnya tampak lebih pucat. Kerudung yang dia pakai sekarang sudah mulai basah dengan darah, Gus Syam bahkan harus melepas jaket yang dia pakai untuk mengikat leher sang istri untuk menghentikan pendarahannya.
" Dek sampean harus bertahan, ingat janji kita sampean harus kuat. " Ucapnya lagi sembari mengecup puncak kepala sang istri berkali-kali.
Ya Allah sungguh berikanlah kuasa-Mu untuk istri hamba, hamba mohon jangan dulu Kau ambil dia dari ku karena aku belum bisa menepati semua janji yang pernah aku buat aku belum bisa membahagiakannya. Ambilah nyawaku bila aku bisa menggantikan posisinya saat ini, berilah dia kesembuhan Ya Allah Engkau Maha kaya atas dunia beserta isinya, dan Engkau adalah obat dari segala luka yang ada di dunia ini. Hanya pada-Mulah aku meminta dan memohon Amien, Amien, Amien .........
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit swasta yang letaknya paling dekat dengan bandara, mobil diparkirkan Nono tepat di pintu UGD. Dengan segera Gus Reyhan keluar dan segera membuka pintu belakang, dengan segera Gus Syam menggendong tubuh sang istri keluar dari mobil. Yang langsung di sambut dengan petugas UGD yang membawa brankar pasien.
" Maaf Pak,. Anda bisa melengkapi administrasi pasien terlebih dahulu sembari menunggu pasien mendapatkan pertolongan. " Ucap salah satu suster kepada Gus Syam.
" Biar administrasinya saya yang mengurusi Sus, sudah sampean mendampingi Tari saja masalah administrasi biara aku yang urus. " Jawab Gus Reyhan yang berjalan di belakang Gus Syam. "
" Baiklah, mari pak ikut saya. "
Gus Reyhan, mengekori suster tadi untuk mengisi data pasien untuk memenuhi syarat administrasi. Sementara Gus Reyhan tetap setia mendampingi sang istri yang tengah mendapatkan perawatan untuk luka yang dideritanya. Dia tetap mengandeng tangan sang istri, bahkan sesekali menciuminya, hingga tiba tepat di mana istrinya akan mendapatkan pertolongan.
Beberapa suster datang, dan 3 orang dokter jaga UGD yang datang, dengan segara memberikan pertolongan.
Luka sayatan pada leher Tari tidak begitu dalam, namun luka sayatannya cukup membuat dia banyak kehilangan darah. Tak berapa lama luka itu juga sudah selesai dijahit termasuk luka di pipinya. Namun dia belum keluar dari masa kritisnya karena kehilangan banyak darah dia membutuhkan transfusi darah, apa lagi dengan tekanan darah yang semakin menurun.
" Bagaimana Dok, kita harus segera menyiapkan transfusi darah. "
" Iya, harus sesegera mungkin Sus. "
__ADS_1
" Pasien bergolongan darah B Rhesus negatif Dok, saya akan segera konfirmasi ke bank darah terlebih dahulu. " Ucap sang perawat sambil berlalu.
Sementara perawat yang lain nampak membersihkan sisa darah yang mulai mengering dengan kapas dan kain kasa. Sementara dokter jaga UGD belum beranjak dari tempatnya berdiri memperhatikan sosok di seberangnya yang sedang tertunduk sembari menciumi tangan wanita yang tengah terbaring.
" Maaf, Mas Fariq apakah itu bener sampean ? "
Seketika dia menoleh kearah sumber suara yang berada di seberangnya ketika seorang yang berjas putih itu memanggil namanya. Sosok yang tidak asing baginya, berdiri berseberangan dengannya, sosok yang dikenalnya dengan cukup baik.
" Saya tidak salah, ternyata benar Sampean. " Dengan senyum yang mengembang di wajah putihnya.
Namun tidak ada jawaban dari Gus Syam, dia seperti sedang dikejutkan oleh sesuatu dan sebisa mungkin dia segera menguasai dirinya. Menutupi keterkejutannya dengan sebuah anggukan yang diiringi dengan sebuah senyuman. Bertemu dengannya dengan keadaan dan dalam suasana yang seperti ini jauh dari bayangannya. Sebuah bayangan peristiwa masa lalu sekelebatan terlintas di benaknya menari - nari memenuhi pikirannya.
" Apakah sampean ada hubungan, dengan pasien ......? " Tanyanya lagi.
Dia seakan dipaksa keluar dari seatu hal yang membuatnya kembali ke dunia nyata, setelah tanpa sadar bayangan masa lalu menyeretnya kembali mengenang masa itu. Mendengar pernyataan dari seseorang itu seakan membuat dia kembali menemukan alasannya kenapa dia sekarang berada disini. Dia kemudian menatap Wajah sang istri yang masih terlihat pucat, kembali menggenggam tangannya.
" Iya dia istri Ku. " Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari menatap sang istri.
Suasana cukup hening beberapa saat, karena keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Tampak guratan kekecewaan dari seseorang yang tengah berdiri menatap kedua pasangan itu, karena sedari tadi Gus Syam tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari sang istri.
" Shan bagaimana keadaan Tari ..... ? " Ucap Gus Reyhan yang baru saja datang menghampiri mereka setelah menyelesaikan urusan administrasi untuk Tari.
" Alhamdulillah, Mas sudah melewati masa kritis. "
" Syukurlah kalau begitu. " Jawab Gus Reyhan.
Saat Gus Reyhan mengalihkan pandangannya menatap seseorang yang berada di sebelah brankar tempat Tari berbaring, betapa terkejutnya dia dengan seseorang itu. Bahkan kata sapaan yang sudah akan terucap, terhenti begitu saja ketika melihat sosok yang berjas putih itu.
Ya Allah apa lagi ini, kenapa takdir- Mu benar - benar sedang mempermainkan kami. Sungguh semua ini di luar kendali kami, namun hamba minta jangan sampai ada yang tersakiti karena hal ini diantara mereka.
" Assalamualaikum, Mas Reyhan. Aku tidak menyangka kita semua bisa bertemu disini. "
Belum sempat Gus Reyhan menjawab salam dari seseorang itu, seorang suster datang dengan tergesa.
" Dok, urgent " Katanya sambil tangannya membuat tanda untuknya segera mengikuti dia.
Dan tanpa berbasa - basi dia segera meninggalkan Gus Syam dan yang lainnya, melangkahkan kakinya lebar mengikuti suster yang tadi memanggilnya.
__ADS_1
Bersambung .......