Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
47. Kecanggungan


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Pagi selalu bisa membuat semua orang bersemangat untuk mengharapkannya. Akan menjadi sebuah pengharapan baru, untuk menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Berharap semua hal yang dilalui sesuai dengan kehendak yang kita inginkan meskipun terdengar sangat egois, tapi tidak ada salahnya bila kita mengharapkan hal demikian. Seperti pagi ini suasana di dapur rumah itu terlihat sudah sibuk oleh aktifitas dua wanita beda generasi itu. Menyiapkan masakan untuk hari diiringi obrolan dari keduanya.


" Alhamdulillah nduk kalau sampean betah di sana. "


" Enggeh Bu, mengajar di sana sangat menyenangkan buk. Meskipun jumlah jam kerjanya panjang tapi tidak sedikitpun membuat Ijah bosan. Fasilitas di sana juga sangat lengkap buk. "


" Ya memang beda nduk sekolah elite sama sekolah biasa. Ngomong - ngomong teman sampean kemarin rumahnya mana ? "


" Iya buk, biaya sekolah disana juga lumayan buk. rumahnya Kepanjen Buk. "


" Oalah orang Kepanjen to, tumben Hawa kok belum bangun ya nduk ? "


Gadis kecil semalam tidak mau diajak pulang oleh ayahnya meskipun sudah dibujuk dengan berbagai cara. Dia tetap ingin menginap di rumah Tari, karena dia beralasan sangat merindukan Tari.


" mungkin dia kelelahan buk, tunggu sebentar buk Biar Ijah lihat dia di kamar dulu. "


Gadis itu berdiri dari kursi yang sedari tadi dibuatnya untuk dadaku, melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dibukanya kenop pintu pelan- pelan, agar tidak menggangu seseorang yang masih tertidur di dalamnya. Di dorongnya daun pintu kayu jati itu pelan sambil dia memasukkan kepalanya, di arahkan pandangannya langsung ke kasur tempat dimana Hawa sedang tidur. Tapi tubuh gadis kecil itu tidak berada disana, bahkan tempat tidur sudah rapi dengan selimut yang sudah terlipat dan bantal yang sudah ditumpuk. Tari langsung memasukkan tubuhnya ke dalam kamar. Dan didapati gadis kecil itu sedang di depan meja yang berada di dalam kamarnya, tangan mungilnya sedang menata buku yang ada di atas meja itu. Seulas senyum dia sunggingkan di bibirnya


" Pinternya Hawa, bangun tidur langsung merapikan tempat tidur. " Diusapnya pucuk kepala gadis kecil itu.


" Wawa dah ecal Unda dadi halus pintal, halus Ica antu Unda. "


" Iya Hawa pinter sekali, ayo sekarang Hawa mandi terus kita siap - siap nunggu Ayah jemput. "


" Ote " Sambil mengangkat jari jempolnya.


Pagi ini Tari akan pergi ke Malang untuk menghadiri acara pengajian di pondok pesantrennya dulu. Pengajian yang dilakukan dalam rangka syukuran sekaligus acara 7 bulan kandungan Mbak Rina. Kemarin Fahmi sudah berjanji akan mengantarkan Tari dan putrinya untuk menghadiri acara tersebut.


Tari segera bersiap - siap di terlebih dahulu memandikan Hawa, karena keadaan Hawa dia tidak bisa mandi sendiri meskipun gadis kecil itu memaksa untuk mandi sendiri. Setelah selesai memandikan Hawa, dia memakaikan baju gadis kecil itu dan menyisir rambutnya. Karena merasa tubuhnya lengket dan sedikit bau asap tungku kayu bakar dia pun mandi. Kemudian bersiap - siap menggunakan gamis warna putih, dipadukan dengan kerudung syar'i warna senada.


Tok, Tok, Tok


Suara pintu depan diketuk.


Tari yang berada di kamarnya segera berjalan kearah ruang tamu, memutar kenop pintu rumahnya dan membuka pintu dengan perlahan. Nampak tubuh tegap yang membelakangnginya memakai baju Koko putih dengan bawahan sarung warna hitam serta peci warna hitam.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


Mata mereka saling bertabrakan dan berhasil membuat keduanya merasa canggung. Kejadian tadi malam di pelataran parkir membuat kedua orang ini menjadi canggung satu sama lain.


" Yayah, dah atang. Tok alah diam "


Ucapan gadis kecil yang datang dari belakang di ikuti Bu Fatma itu berhasil memecah kecanggungan diantara dua orang dewasa itu.

__ADS_1


" Eh Hawa, Ayah baru saja datang. " Ucap Fahmi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Pak Fahmi mari ayo duduk, piye to nduk tamunya kok ngak di suruh duduk. Ayo sini Hawa hak dulu makannya tinggal sedikit lagi ini lo. "


" Hawa kalau sedang makan ngak boleh sambil jalan seperti itu. " Ucap Fahmi kepada putri semata wayangnya itu.


" Wawa dak dalan, Wawa adi dengal cuala Yayah. Matana Wawa atang nini yah. " Jawab gadis kecil itu berusaha menjelaskan kepada ayahnya.


" Pak Fahmi Monggo sarapan dulu "


" Sudah Bu, saya sudah sarapan di jalan pas tadi perjalanan ke sini. "


Karena waktu sudah menunjukkan pukul 08:00 mereka berpamitan kepada Bu Fatma untuk segera berangkat menghadiri pengajian, karena perjalanan dari rumah Tari ke Malang membutuhkan waktu satu jam lebih. Bu Fatma tidak bisa ikut dalam pengajian ini karena beliau sedang membantu memasak di tetangganya yang sedang hajatan. Sedangkan Pak Rahmat sudah sedari pagi tadi membantu di tempat tetangganya itu.


Selama di perjalanan suasana terasa canggung sekali, meskipun Hawa tak henti-hentinya berbicara tak mampu mengusir kecanggungan diantar kedua orang dewasa itu. Fahmi hanya menatap kaca di depannya sedangkan Tari fokus pada gadis kecil yang berada di pangkuannya. Mereka pun sampai di sebuah lahan parkir di depan pondok. Halaman luas pondok semua telah tertutup oleh tenda dan dibawahnya berjajar kursi kursi yang ditata dan sebuah panggung.


" Pak Hawa biar sama saya saja, nanti anda langsung menuju bagian laki - laki saja. "


" Apa tidak merepotkan Bu Tari. "


" Hawa tidak pernah merepotkan saya Pak. Dan satu lagi panggil saya Tari saja Pak, "


" Saya juga punya satu permintaan Tar, jangan lagi panggil saya Pak. " Mereka keluar mobil tanpa ada satu percakapan lagi.


Semua penumpang mobil itu turun, dan berjalan menuju halaman tempat dimana acara tersebut dilaksanakan. Tempat itu di bagi menjadi dua sebelah kanan untuk jamaah laki - laki sedangkan sebelah kiri untuk jamaah perempuan. Mereka berpisah tepat di depan tenda, sudah banyak para undangan yang datang hampir memenuhi semua tempat duduk yang disediakan.Tari berjalan dengan menggandeng tangan Hawa memasuki tenda yang disambut beberapa pengurus pondok.


" Unda tu Bu Nina ya ? "


" Iya sayank "


" Eyutna Bu Nina becal ya ada adekna ya Nda ? "


" Iya sayank, karena Bu Rina sedang mengandung. "


" Tapan ya, Peyutna Unda becal teyus Wawa Puna adek yang lutu. " Ucap gadis kecil itu sambil melihat ke arah perut Tari yang tertutup gamis dan kerudungnya.


Saat mendengar perkataan Hawa Tari hanya bisa tersenyum, dan berusaha mencari jawaban yang bisa di mengerti anak seusia Hawa.


" Sayank, bunda kan masih kerja jadi belum bisa punya adek. Nanti kalau Bunda sudah menikah pasti Bunda akan hamil juga. "


" Wawa ahu, Unda nitah ama Yayah ada ya. " Dengan senyum di wajah gembulnya diiringi mata yang mengerling.


Tari menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung itu, kenapa penjalasannya malah ditanggapi seperti itu oleh gadis kecil ini. Wah sepertinya Hawa cara berfikirnya tidak terbatas seperti keterbatasan yang dimiliki oleh fisiknya.


" Ayo sayang denger ceramahnya, biar dapat pahalanya buanyak. " Ucap Tari mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Unda Wawa mau pis "

__ADS_1


" Ayo sini Bunda gendong saja, biar cepat sampai toilet. Di tahan dulu ya pipisnya. "


Dengan cepat Tari membawa gadis kecil itu dalam gendongannya menuju Toilet yang tak begitu jauh dari tempat duduknya. Memang benar dugaan Tari kalau nanti pasti Hawa akan pergi ke toilet di tengah - tengah acara pilihannya untuk di bangku paling pinggir benar - benar tepat. Sebenarnya Hawa masih memakai diapers tapi semenjak seminggu lalu saat dia menginap di rumah Tari, Gadis kecil itu mau melepasnya. Karena dia sudah besar jadi tidak perlu memakai diapers lagi, Dan hasilnya dia harus lebih sering ke kamar mandi.


" Ayo sini Bunda rapikan dulu bajunya. "


" Unda tita nana agi ? "


" Iya sayank acaranya belum selesai, sebentar tunggu Bunda jalannya pelan sayang. " Teriak Tari saat gadis itu berjalan meninggalkannya dengan langkah yang sedikit cepat.


Bbbrruuuuuukkkkk........


" Huwa, aaaaaaaaaa huwa aaaaaaaa "


Karena tergesa dan Hawa memang sedikit kesulitan saat berjalan dia menabrak seorang gadis kecil yang berjalan di depannya. Dengan tergesa menolong dua gadis kecil yang sama - sama terduduk itu.


" Makanya Tadi kan Bunda bilang harus hati - hati jangan tergesa-gesa. Ayo sudah diam, cup, cup, cup Hawa kan anak pintar." Ucapn Tari sambil membantu Hawa berdiri dan membersihkan baju gadis kecil itu.


Sementara gadis yang ditabrak Hawa, dia sudah berdiri dan membersihkan roknya yang kotor.


" Adek kecil tidak apa - apa ? " Tanya gadis yang menabrak Hawa.


" Eh kakak cantik, adeknya tidak apa - apa. Maaf kan adeknya ya kakak tadi adeknya tidak sengaja. "


" Kakak Tari ..... "


Sejenak Tari mengalihkan pandangannya pada gadis kecil di depannya, kemudian tersenyum.


" Ning Nafisa ? "


" Iya kakak, ternyata kakak di sini juga ya ? "


" Iya Ning, Ning Nafisa disini dengan Abah dan Ummi ? "


" Iya kak, Abah dan Ummi sedang di sana. " Gadis kecil itu menunjuk kearah tenda bagian depan.


" Ning mau kemana ? "


" Tadinya mau ke toilet tapi sekarang sudah tidak lagi rasa mau pipisnya sudah hilang hehehehe. "


" Unda ni capa ? " Ucap Hawa yang sedang memegang ujung gamis Tari.


" Aduh Bunda sampai lupa, ayo kalian kenalan. Hawa ini namanya Ning Nafisa, Ning Nafisa ini Hawa. Tari memperkenalkan keduanya.


kedua gadis kecil itu saling bersalaman, dan memperkenalkan diri. Sebenarnya mereka seumuran tapi karena Hawa mengalami ketidak sempurnaan dalam bentuk fisik jadi badannya lebih kecil dibanding Nafisa. Sedangkan Nafisa memang terlihat lebih besar di bandingkan anak - anak seusia dirinya. Kedua gadis kecil itu terlihat akrab meskipun baru saja bertemu. Tari mengajak mereka duduk di teras bangunan kantor pondok pesantren karena pengajian sudah akan berakhir. Seumpama kembali ketempat duduknya semula pasti akan sulit untuk keluar.


Bersambung ..........

__ADS_1


__ADS_2