
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Kita boleh merencanakan tentang apapun, namun untuk menjadi kenyataan itu semua diluar kendali kita. Apalah daya kita, memang sudah kodratnya seperti demikian. Ada kalanya sifat kekanak-kanakan kita muncul bila takdir tidak sejalan dengan rencana yang kita buat. Tidak menerima dan merasa kecewa itu sudah pasti.
Bukankah itu hal yang manusiawi, untuk kita yang seorang hamba. Bersabar dan menerima semua dengan ihklas merupakan hal yang terbaik yang bisa kita lakukan, meskipun pada kenyataannya hal itu sangat sulit dilakukan.
Jam kelas sudah selesai sejak beberapa menit lalu, namun Tari tidak beranjak dari bangku guru yang didudukinya. Semenjak kemarin rasa sakit di kepalanya enggan sekali pergi, tidak biasanya hal seperti ini terjadi. Yang membuat dia sedikit kesusahan dalam menjalani harinya.
Ditariknya nafas dalam, dan mengeluarkannya secara perlahan. Berharap rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang namun nyatanya rasanya tetap sama. Ditambah lagi sedari tadi bayangan ayahnya memenuhi pikirannya.
📞 assalamualaikum
📞 walaikumsalam
📞 Yah sampun minum obat ?
📞 Sudah nduk, belum pulang sampean ?
📞 Sebentar lagi yah,
📞 Ada apa nduk, kok suara sampean terdengar serak.
📞 Tidak apa - apa yah, hanya saja Ijah kurang tidur, Oiya besuk Insyaallah Ijah pulang.
📞 Iya nduk, hati - hati kalau pulang.
📞 Baiklah Yah, Ijah tutup dulu, Ijah akan kembali ke asrama. Ayah baik - baik dirumah, Assalamualaikum.
📞 Sampean disana juga hati - hati ya nduk, Walaikumsalam.
Seulas senyum melengkung menghiasai wajah manis itu, hatinya tenang ketika dia mendengar suara sang Ayah. Semenjak tadi pagi bayangan ayahnya selalu hadir di pelupuk matanya, yang membuat hatinya merasa ada hal yang kurang mengenakkan.
Namun mendengar suara Ayahnya barusan membuatnya sedikit tenang, hilang sudah kekhawatirannya selama setengah hari ini. Suara ayahnya bagaikan obat baginya. Dia kemudian bangkit dari duduknya, membersihkan kelas sebentar kemudian menutup kelas.
Suasana Raung guru masih ramai, ternyata masih banyak diantara mereka yang duduk di meja mereka masing-masing. Tari membuka laptop miliknya memasukkan data, dan laporan harian untuk anak didiknya
" Bu Tari, Pak Rizki apa benar akan segera menikah ? " Tanya salah satu dari mereka.
" Enggeh Bu, "
" Sama guru disini juga ya Bu ? "
" Enggeh Bu, "
" Masak Bu Yenni belum tau, itu lo Bu orangnya yang tinggi kurus yang biasanya selalu sama Bu Tari. "
" Oalah yang itu to, saya dulu mengiranya Pak Rizki itu sukanya sama Bu Tari. "
" Mboten Bu saya sama Pak Rizki itu atasan dan bawahan apabila di sekolah, dan teman bila diluar. " Jawab Tari sembari menggelengkan kepala diiringi senyuman.
Semua orang diruang itu membicarakan berita yang cukup membuat heboh seisi yayasan. Berita tentang pernikahan kepala yayasan mereka yang akan mengakhiri masa lajangnya, dengan salah satu tenaga pengajar.
" Lah Pak Rizki nikah, jadi banyak yang patah hati. "
" Yo biarin to Bu, memang sudah waktunya. "
" Iya juga sih Bu, padahal masih mau tak kenalkan sama anak saya ngak taunya sudah mau nikah. "
" Jangan - jangan habis ini Bu Tari yang menikah. " Ucap salah satu dari mereka, yang diikuti seisi ruangan yang juga menatapnya.
Tari yang saat itu ditatap semua orang, hanya mampu tersenyum kecut. Bagaimana dia akan segera menikah, sedangkan dia sedang tidak dengan siapapun.
" Tidak Bu, saya masih lama. "
" Jangan begitu Bu jodoh tidak ada yang tahu kapan datangnya. "
" Kalau Bu Tari nikah, dijamin banyak yang patah hati. "
" Bener itu kata Bu Yenni, kalau sekarang biar yang patah hati penggemarnya Pak Rizki dulu saja. "
Gelak tawa langsung memenuhi ruangan itu. Tari termasuk sosok yang cukup menarik bagi orang - orang disekitarnya. Sifatnya yang kalem dan tenang cukup membuat orang memberikan perhatian lebih padanya.
Bukannya tidak ada lawan jenis yang mendekatinya, di yayasan ini hampir semua lawan jenis berusaha mendekatinya namun dia selalu membuat batasan. Di rumah singgah pun begitu, bahkan perangkat desa dimana rumah singgah berada menaruh perhatian lebih padanya.
Satu persatu dari mereka berpamitan untuk pulang, dan hanya tinggal beberapa yang masih disana termasuk Tari. Setelah selesai membuat laporan dia segera menutup laptopnya kemudian memasukkannya ke dalam tas ranselnya.
__ADS_1
" Sampean sudah selesai ? "
" Sudah Mbak. "
" Ayo kita pulang, "
" Mari Mbak. "
Mereka berjalan menuju asrama, disertai dengan obrolan. Siang ini suasana kompleks sekolahan itu masih cukup ramai, banyak siswa yang masih mengikuti kelas ekstrakurikuler.
" Ke rumah singgah apa tidak Tar ? "
" Sepertinya tidak Mbak. "
" Kenapa tidak, Temannya Rizki datang lo nanti. "
" Temannya Pak Rizki Mbak ? "
" Iya, orang yang mendirikan rumah singgah itu Tar. Ayolah Tar, kaan lagi bisa bertemu dengan dia. Dia jarang sekali bisa berkunjung. "
" Insyaallah Mbak. "
" Beneran ya nanti datang, biar sampean tahu orangnya. "
Hanya dijawab dengan anggukkan oleh Tari, tak lama mereka telah sampai asrama. Beberapa orang terlihat duduk di sofa ruang tamu tak seperti biasanya padahal ini masih jam 02:00 siang.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " Jawab mereka bersama.
Tari segera melangkah menuju tangga, dia bermaksud segera ingin ke kamarnya sedangkan Rini dia berhenti ikut duduk dengan yang lain. Baru saja dia berpijak pada anak tangga yang pertama seseorang memanggilnya.
" Tar .... "
Langsung saja dia menoleh kearah suara yang memanggilnya.
" Iya Pak Rizky "
" Ayo segera bersiap kami tunggu, kita harus segera ke rumah singgah ada satu hal yang segera kita persiapkan. "
Tari tak menjawab apa yang diperintahkan Rizki, sejujurnya hari ini dia tidak ingin pergi kemanapun karena kepalanya yang masih sakit.
" Ada apa Mbak ? " Wardah berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri sahabatnya itu.
" Ada apa, apakah kepala sampean masih pusing ? "
Setelah mendekat melihat wajah sahabatnya itu nampak pucat, sedangkan dahinya nampak dipenuhi dengan butiran keringat. Kemudian gadis kurus itu mengambil tangan Tari untuk memastikan keadaan sahabatnya itu.
" Mbak kenapa tangannya dingin sekali, ya sudah ayo kita ke kamar lebih dahulu. "
" Tidak apa - apa dah, sedikit pusing dan mual saja. Insyaallah kalau dibuat pasti sudah enakan. "
Tari menapaki tangga satu persatu, dengan sisa tenaga yang dia punya. Sedangkan Wardah senantiasa berjalan disampingnya dengan memegangi bahunya. Sesampainya dikamar dia segera berbaring di kasurnya, kepalanya terasa berputar - putar dengan perut yang terasa mual.
Wardah mengambilkan obatnya yang berada didalam nakas, kemudian memberikan padanya. Setelah meminum obatnya kemudian dia berbaring, karena setiap kali dia membuka mata matanya terasa semakin berputar - putar.
**************
📞 Assalamualaikum
📞 Walaikumsalam
📞 Sampean dimana sekarang Ki ?
📞 Aku masih di asrama San, sebentar lagi berangkat ke rumah singgah.
📞 Sepertinya aku tidak bisa ke rumah singgah sekarang. Ada hal lebih penting yang harus aku lakukan.
📞 Ada apa ?
📞 Hal yang sangat penting, maaf tidak bisa menepati janjiku.
📞 Kalau itu memang hal penting tidak masalah. Oiya Tari sepertinya dia sedang sakit wajahnya terlihat pucat sekali.
Laki - laki itu menutup panggilannya, kemudian menatap layar handphonenya yang sedang menampakkan wajah seseorang. Di ulasnya senyum, sembari helaan nafas panjang, mencoba melapaskan kekhawatiran yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
bersabarlah sebentar lagi, aku yakin sampean wanita yang kuat. Insyaallah semua akan indah pada waktunya .
Tidak biasanya dia segugup ini ada perasaan khawatir dan cemas apa lagi semenjak mimpinya tadi malam. Diusapnya kasar wajahnya berkali - kali mencoba membuat dirinya tenang, nyatanya malah membuat dirinya semakin gugup.
" Ada apa ? " Ucap seseorang yang baru datang sembari menepuk bahunya.
" Mas Han, bikin orang kaget saja. "
" Ada apa, dari tadi aku memperhatikanmu. Kenapa, tidak biasanya sampean terlihat cemas seperti itu. "
" Entah Mas, semenjak kemarin perasaan ku tidak enak ada hal yang mengganjal dalam pikiranku. "
" Apa belum yakin ? "
" Insyaallah sangat yakin. "
" Terus apa yang membuat sampean khawatir ? "
" Entahlah, seakan ada hal buruk yang akan terjadi. "
Ingatan pria itu beralih pada mimpinya semalam, yang mampu membuatnya terbangun di tengah malam yang kemudian terjaga sampai waktu subuh.
" Sudah ayo kita berangkat, sampean sudah bilang ke Rizki kalau tidak jadi ke rumah singgah. "
" Sudah Mas. "
Dua laki - laki itu mengendari sebuah mobil SUV membelah jalanan kota Kediri yang sore ini cukup ramai. Tak banyak yang mereka obrolkan selama perjalanan hanya Sura lantunan ayat - ayat Alquran yang terdengar dari audio mobil yang menjadi teman perjalanan mereka sore ini.
Setelah dua jam perjalanan mereka lalui, akhirnya mereka sampai. Di parkiran mobilnya di pinggir jalan di depan rumah yang nampak asri dengan halaman yang dipenuhi berbagai bunga dan tanaman obat.
Di ketuknya pintu rumah itu yang masih tertutup, hingga beberapa kali. Hingga nampak wanita paruh baya membukakan pintu itu.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam, Monggo masuk "
" Enggeh Buk, " Jawab mereka bersama - sama.
Mereka terlebih dahulu menyalami wanita paruh baya itu dan menciumnya dengan takzim. Baru kemudian duduk di sofa ruang tamu itu.
" Sebentar dulu ya, saya panggilkan Ayahnya Ijah. "
" Enggeh Monggo Buk. "
************
Gadis itu tertidur hingga lewat adzan Isya tak terlihat tanda-tanda dia akan bangun. Entah karena pengaruh obat yang diminumnya atau memang ada hal lain. Sedangkan Wardah dengan setia menunggu di sebelah gadis itu, berharap temannya itu segera terbangun.
Namun kenyataanya gadis itu tetap saja tidak bangun, padahal jam sudah menunjukkan jam 10:00 malam. Sementara di luar kamar mereka Rizki berdiri dengan cemas, bahkan dia terkadang terlihat mondar mandir. Sementara Handphonenya sudah berdering entah berapa kali.
📞 Halo, belum bangun juga ?
📞 Belum,
📞 Ya sudah bangunkan saja, ini keadaan yang genting.
Laki - laki itu mengusap kasar wajahnya, kemudian memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya. Diketuknya pintu yang beberapa jam ini dia tunggu.
Tok ..... Tok ...... Tok ......
Ceklek ..........
" Belum bangun juga ? "
Hanya dijawab dengan gelengan saja oleh gadis yang berada di depannya itu.
" Ya sudah bangunkan pelan - pelan, namun jangan di beri tahu apa yang sebenarnya terjadi. "
" Aku harus bilang apa, sedari tadi keringat dingin keluar dari dahinya badannya pun sangat dingin. "
Tiba - tiba Bu Tini datang dari arah lorong, wanita paruh baya itu menghampiri mereka berdua.
" Belum bangun juga ? "
" Belum buk. "
__ADS_1
" Biar ibuk yang membangunkan. "
Bersambung .......