
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Ijah, nduk ada apa ..... ? " Ucap perempuan paruh baya itu.
Seketika langkah gadis itu terhenti, dia mulai mengatur nafasnya.Mencoba menyunggingkan senyum diwajahnya yang mungil, badannya berbalik dan menatap wanita paruh baya itu. Debaran jantungnya kian terasa lebih cepat saat menatap wajah yang mulai keriput itu. Wanita itu menghampirinya, dengan senyum yang tersungging di wajah yang mulai keriput itu.
" Assalamualaikum, Bude Darmi. "
" Walaikumsalam, nduk. "
" Mas Pandu dimana bude ? "
" Ada apa nduk, eh kenapa ini kok matanya merah ? "
" Tidak papa Bude mungkin kena debu saat Ijah perjalanan kemari. " Sambil mengusap matanya yang merah itu.
" Kenapa kok nyari Pandu, apa sudah kangen hayo ...... " Canda Bu Darmi kepada calon menantunya itu.
" ehmz, ....... ada hal penting yang ingin saya bicarakan Bude. "
" Masuk saja ke dalam, dia sedang berkumpul dengan saudara - saudara sepupunya. "
" Terimakasih bude "
Tari melangkahkan kakinya menyusuri lebih dalam rumah besar itu, sampai saat seorang anak kecil berlari kearahnya lalu menabraknya.
" Maaf Kakak Zul tidak sengaja. "
" Tidak apa - apa sayang lain kali jangan berlari ya, mana yang sakit ? " ucapnya sambil memeriksa bagian tubuh anak berusia 5 tahun itu. Tari mensejajarkan tubuhnya dengan anak laki - laki itu, dicubitnya pipi anak itu dengan gemas.
" Abisnya Zul dikejar sama om, jadi Zul lari sekencang mungkin jangan sampai tertangkap. "
" Zul sayang, kalau lari mesti hati - hati dan juga tidak boleh lengah. "
" Jatuh sedikit Zul kuat kakak, kan Zul laki - laki, tidak boleh cengeng." Sambil berkacak pinggang.
" Anak pintar. " Ucap Tari sambil mengacak rambut lurus anak itu.
" Zul ayo dimana kamu, awas ya kalau sampai om menangkapmu. " Terdengar suara teriakan dari ruang keluarga, suara yang begitu dia kenal.
Laki - laki itu terkejut ketika melihat pemandangan didepannya mendapati wanita yang begitu dia cintai ada dihadapannya. Dengan segera laki - laki berwajah hitam manis itu menghampiri mereka.
" Hayo Zul ketangkap. " Pandu menangkap tubuh kecil itu lalu mengilitiki bocah itu tanpa ampun. sementara Zul hanya berteriak dan memohon untuk Pandu menghentikan kegiatannya itu.
" Om sudah, berhenti om, ampun, ampun, ampun. "
" Kali ini Om lepaskan tapi awas ya !!!!!...... "
Sementara Tari hanya bisa menatap laki - laki didepannya itu dengan tatapan penuh dengan pertanyaan. Sekuat tenaga dia menahan emosi di dadanya, mencoba seolah - olah tidak terjadi apa - apa.
" Adek, ada apa sampai sampean datang kesini ? "
" Ada hal penting yang ingin aku tanyakan mas, "
__ADS_1
" Owh memangnya mau tanya apa, ayo kita duduk dulu. " Sambil mempersilahkan Tari duduk diruang keluarga.
" Tunggu dulu mas aku sedang menunggu seseorang, terimakasih alangkah baiknya bila kita duduk disana saja. " Dia menunjuk kursi diruang tamu.
" Baiklah ayo, sebenarnya ada hal penting apa dek ?"
" Sebentar mas, nanti sampean juga akan mengerti.
Sementara itu, sebelum masuk kerumah Tari terlebih dahulu menyuruh Irhas untuk menjemput ayah Dinda. Sedangkan Irsyad yang sudah ditelepon untuk membawa Pak Rahmat kerumah Pandu. Tak lama berselang semua orang yang ditunggu Tari datang. Mereka satu persatu masuk kedalam rumah besar itu. Pandu mulai merasakan keanehan yang terjadi, tapi sebisa mungkin dia tidak memperlihatkan kecurigaannya.
Setelah semua orang sudah ada di ruangan itu, dengan sejuta pertanyaan mereka masing - masing karena tidak tahu maksut dan tujuan untuk apa mereka berkumpul disini. Sedangkan Dinda, masih berada diluar pagar rumah Pandu, dia akan masuk begitu Tari memberi tanda.
" Nduk sebenarnya ada apa ini, kok sampean mengepulkan kami semua disini ? " Tanya Pak Rahmat mencoba memecah keheningan, entah mengapa suasana di dalam rumah itu sedikit tegang meskipun pembicaraan mereka belum dimulai.
" Begini yah, disini Tari hanya ingin meluruskan suatu hal. "
" Meluruskan apa nduk ?, kok manggil Pak Kades segala. Memang ada hubungannya dengan Pak Kades ?
" Tentu Bude, semua orang yang ada disini berkaitan dengan hal yang akan saya sampaikan. "
" Loh kok bisa ada kaitannya dengan saya, ? " Pak Riadi yang merupakan ayah dari Dinda sekaligus Ketua Desa di desa Tari merasa terkejut dengan perkataan Tari.
" Enggeh pak, ini berhubungan dengan njenengan saya harap njenengan bersabar dan menerima penjelasan saya. "
Tari menatap satu persatu orang yang dituangkan itu, dia menghela nafas panjang dan menghembuskan ya dengan kasar. Dia segera menggenggam tangan ayahnya yang pada saat itu duduk disampingnya. Pandu yang mulai tau apa yang akan terjadi terlihat gusar, sesekali dia membenarkan posisi duduknya.
" Maaf sebelumnya, kalau saya sudah merepotkan njenengan semua untuk kesini. Saya harap apa yang saya katakan tadi tidak akan mengubah hubungan kita semua. " Matanya lurus menatap Pandu yang berada didepannya.
" Sebenarnya sampean mau mengatakan apa to nduk ? "
" Dek, sungguh semua yang dikatakan Dinda itu tidak benar adanya. "
" Sungguh mas ? Apakah sampean sekarang sedang berusaha membohongiku. "
" Sungguh dek, aku tidak mungkin berbohong sama sampean. "
" Sungguh perkataan sampean bisa dipertanggung jawabkan, atas nama Allah ? "
Pandu yang ditanya seperti terdiam, dia mengusap wajahnya kasar. Sungguh wajah tenangnya berubah menjadi wajah yang gelisah, sedangkan semua orang tua disana masih merasa bingung percakapan kedua anak muda itu. Tak begitu lama Dinda masuk, dengan wajah tertunduk, dia duduk disebelah ayahnya.
" Ada apa Din, kenapa keadaanmu seperti ini " Tanya Pak Riadi ketika melihat anaknya yang biasanya selalu tampil rapi kini terlihat sangat acak - acakan dan mata sembabnya.
Dinda tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya, tangisnya kembali pecah. Dia langsung memeluk ayahnya dengan erat mencoba menumpahkan segala keluh kesahnya ke bahu lelaki paruh baya itu.
Ayah Dinda bertambah heran dengan keadaan putrinya, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada putrinya.
" Mas Pandu, masihkah sampean tidak mengakuinya ? "
" Apa yang harus aku akui dek, apakah sampean lebih memmpercayai wanita ini dari pada aku calon suami sampean ? "
" Maaf mas, aku ingin tidak mempercayai ucapan Dinda. Aku ingin semua yang diucapkan Dinda itu bohong. Tapi semua fakta dan bukti mengatakan iya, jelaskan bagaimana aku harus menyikapi ini semua."
" Nduk, Le sebenarnya ada apa jangan membuat kami semua bingung. Jelaskan semua agar kami tahu, jangan hanya dengan isyarat yang kami tidak tahu arti dan maksutnya. " Ucap Bu Darmi.
__ADS_1
" Sungguh Bude, Tari juga dalam posisi yang sulit saat ini. "
Ayah Tari sedikit faham dengan arah pembicaraan yang sedang berlangsung. Beliau menggenggam tangan Tari dengan erat seraya membelainya lembut, menatap Tari dengan tatapan penuh keyakinan dan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Tari mengerti dengan maksut ayahnya, dia menghela nafas kasar sesungguhnya yang paling membuatnya khawatir adalah ketika ayahnya mengetahui hal itu. Melihat ekspresi ayahnya seperti itu sungguh membuat Tari sedikit bernafas lega.
" Bude, ..... Dinda hamil "
Suasana ruangan itu kembali tenang, semua orang sibuk dengan fikiran mereka masing - masing. Pak Riadi sangat kaget dengan apa yang baru didengarnya, dia menatap Putrinya itu penuh amarah.
" Jangan bilang Pandu yang menyebabkan semua ini. " Ucap Bude Darmi sembari bibirnya bergetar diiringi kristal bening yang begitu saja lolos dari matanya.
" Apa benar yang mereka bicarakan Pandu ? Ucap Pak Yadi dengan nada tinggi ......
Tidak ada satupun jawaban dari bibir laki - laki berlesung pipi itu, dia hanya tertunduk.
" Diammu Bapak anggap jawaban iya Pandu. "
" Kamu harus bertanggung jawab kepada putriku Pandu. " Ucap Pak Riadi yang sudah memegang kerah kaos yang dikenakan Pandu sudah siap dengan genggaman yang kapan saja bisa melayang.
" Saya akan menikahi Putri bapak tapi setelah saya menikah dengan calon istri saya. " Ucap Pandu.
" Apa, saya tidak akan menerima keputusan seperti itu. Berani - beraninya kau permainkan putriku. " Sebuah Bogeman mendarat di pipi yang hitam manis itu.
" Tolong semua ditahan amarahnya, istighfar, istighfar, semuanya bisa diselesaikan asalkan tanpa adanya emosi. Ayo mari kita bicarakan semua ini dengan kepala yang dingin. " Ucap Pak Rahmat mencoba menengahi suasana yang memanas ini.
Semua orang seketika terdiam, terlihat mereka mencoba menetralisir emosi pada diri mereka masing - masing.
" Nak Pandu, saya ingin bertanya sama sampean saya harap sampean menjawab dengan sejujur - jujurnya. " Ucap Pak Rahmat.
" Iya, Pak Lik "
" Apa bener sampean menghamili Dinda ? "
Pandu hanya terdiam dengan pertanyaan Pak Rahmat, dia bagaikan memakan buah simalakama. Sampai beberapa saat pun, Pandu tetap konsisten dengan jawaban diamnya.
" Nak Pandu, diammu saya anggap bahwa hal itu benar adanya. Dengan demikian sampean harus mempertanggung jawabkan perbuatan sampean. " Ucap Pak Rahmat, sebenarnya hatinya berdesir mengatakan hal ini. Tapi Tari membelai pelan tangan lelaki paruh baya itu, dan tersenyum sambil menganggukkan kepala.
" Saya akan tanggung jawab pak dengan anak yang dikandungnya tapi tidak dengan ibunya. "
" Kamu pikir anak saya apa, setelah merenggut manisnya kamu akan membuangnya hah...... " Jawab Pak Riadi berapi - api beliau terprovokasi dengan perkataan Pandu.
" Semua perkataan anda salah Pak, asalkan sampean tahu sebelum dengan saya pun anak bapak sudah sering melakukan hal seperti itu. Masih untung saya mau bertanggung jawab dengan anaknya, "
" Tapi aku yakin ini anakmu, karena setelah melakukan dengan mu aku tidak pernah melakukan dengan laki - laki lain. " jawab Dinda diiring isakan.
" Sudah saya katakan saya akan tanggung jawab, setelah saya menikah. " Jawab Pandu seraya menatap Tari dalam dan menekankan kata menikah.
" Maaf mas, aku tidak akan pernah membiarkan seorang anak lahir tanpa adanya ayah. Apalagi apa jadinya bila seorang anak yang lahir tanpa adanya ijab qobul. "
" Kalau mau sampean begitu aku akan minikahinya secara sirih setelah kita menikah.
Tari yang mendengar hal itu seketika hatinya sakit sekali, kegagalan untuk yang kedua kalinya sekarang begitu terasa. Butiran kristal bening yang sedari tadi ditahannya sekarang pecah begitu derasnya.
" Maaf mas, sesuai dengan namaku Khodijah. Sebagaimana Siti Khodijah Rhodiallah Huanhu akupun sama seperti beliau aku tidak sanggup untuk dimadu. Karena hatiku belum tentu ihklas karena bagiku menikah adalah menyempurnakan separuh dari agamaku. Bagaimana agamaku akan sempurna bila aku belum bisa ihklas. Biarkanlah aku mundur, karena sesungguhnya sampean bukanlah yang Allah tuliskan untukku. " Ucapnya diiringi butiran kristal bening yang sudah tidak bisa dibendung.
__ADS_1
Bersambung............