
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
" Walaikumsalam. "
Tari mencoba terlihat setenang mungkin, menutupi kegugupannya dengan seulas senyum. Bertemu dengan dia mengingatkan sesuatu yang membuat kepalanya berdenyut nyeri.
" Apa benar berita tentang pernikahanmu itu ? "
" Iya benar. "
" Kenapa secepat itu, kamu mengambil keputusan ? "
" Memang ini takdir saya, "
" Takdir, kamu bicara soal takdir. "
Laki - laki itu mendekat ke arahnya, secara refleks dia mundur berlahan. Namun laki - laki itu terus mendekat yang di ikutinya dengan terus mundur sampai dia membentur tembok. Apa yang sebenarnya yang akan dilakukan laki - laki di depannya ini, Tangannya memegang erat lengan Tari.
" Pandang aku, " Bentaknya seraya mencengkeram lengan Tari.
Dia tetep menundukkan wajahnya, sembari menutup matanya. Bentakan terus diucapkan laki - laki itu, yang membuat Tari seketika meneteskan air mata, kejadian beberapa tahun lalu kembali ke dalam ingatannya. Badannya sudah lemas bahkan keringat dingin sudah membanjiri seluruh tubuhnya.
" Pandang aku jangan seperti ini. "
" Kenapa kamu tidak mau memandangku, apa kamu jijik denganku Hah. "
" Kamu yang membuat ku begini jadi jangan salahkan aku bila aku seperti ini. "
Laki - laki itu memegang dagu Tari dengan kasar, untuk membuat Tari melihatnya. Dia tidak perduli dengan keadaan Tari yang sekarang, wajah gadis itu di penuhi air mata yang bercampur dengan keringat dingin.
" Kamu masih tidak mau membuka mata hah ? "
" Baiklah aku akan menciu mu kalau itu bisa membuka mata. "
Pandu terus mendekatkan wajahnya, hanya tinggal kurang beberapa senti saja dan .......
Brugh ..........
" Beraninya kamu menyentuh milikku. " Ucap Gus Syam keras.
Setelah itu, entah berapa pukulan yang dia layangkan pada laki - laki itu. Dia seperti seorang yang kesetanan, memukulinya tanpa ampun.
" Kamu kira kamu siapa hah, bisa melakukan itu pada milikku. " Ucapnya dengan nafas yang memburu.
Brugh ..... brugh .... brugh ......
Wajah dan tubuh laki - laki itu menjadi sasaran kemarahan Gus Syam. Orang yang biasanya tenang dan bertindak dengan penuh perhitungan itu sekarang sudah menjadi seekor singa buas ketika istrinya itu di ganggu. Dengan cepat laki - laki itu pergi ketika Gus Syam melepaskannya, kembali ke mobil dan melesat secepat mungkin.
Sedangkan Tari dia terduduk di trotoar, dengan air mata yang masih mengenang tangannya masih tremor dan pandangannya kosong. Gus Syam menghampirinya, menggenggam tangannya dan menghapus air matanya.
" Dek, maafkan aku. "
Seketika Tari memeluk berhambur memeluk erat tubuh tegap sang suami. Dia menangis sejadi - jadinya mencoba menumpahkan semua rasa sakit yang dia alami barusan. Gus Syam membalas pelukannya yang tak kalah erat sembari mengelus pelan punggung ya dan menghujani puncak kepalanya dengan ciuman.
" Maafkan aku Dek. " Hanya hal itu yang bisa Gus Syam katakan.
__ADS_1
Setelah dirasa pelukan Tari meregang dan isakan tangisnya yang mulai berkurang. Gus Syam menjauhkan tubuhnya untuk menatap wajah istrinya itu, ditangkupnya pipi Tari menggunakan tangannya yang besar. Kemudian di hapusnya air mata Tari menggunakaan kedua jempolnya, lalu mencium kedua bola mata itu bergantian.
" Ayo kita pulang dulu. "
Tari mengangguk dengan apa yang diucapkan sang suami, dia berjalan dengan di tuntun sang suami ke arah mobil. Gus Syam membukakan pintu mobil dan menyuruh istrinya masuk, kemudian dia menutup pintu mobil jalan memutari mobil dan masuk ke sisi mobil lainnya.
Mobil mulai berjalan membelah jalanan yang sudah petang ini. Sepanjang perjalanan Tari hanya diam tertunduk sambil memainkan ujung jilbabnya. Gus Syam yang mengetahui hal itu menggenggam tangan istrinya, yang membuat Tari terkejut dan menoleh kearahnya.
" Suaminya pulang kok malah merhatiin ujung jilbab, emang ngak kangen ni sama suami. "
" Mas ....... " Jawab Tari yang masih tertunduk.
" Dek, Mas mu itu disini loh, bukan dibawah situ. Sudah ada sesuatu untuk sampean. "
Gus Syam memacu mobilnya ke arah yang berlawanan jalan menuju ndalem. Sedangkan Tari dia tertidur, mungkin karena dia terlalu lama menangis. Setelah perjalanan cukup lama sampailah mereka di pelataran sebuah hotel terkenal di kota Batu. Hawa dingin langsung menyeruak seketika, yang membuat Tari semakin meringkuk di kursi. Gus Syam berfikir dia tidak mungkin membawa istrinya itu pulang ke ndalem dengan keadaan yang seperti ini. Jadi dia memilih membawanya ke sini, setelah terlebih dahulu mengabarkan kepada kedua orangtuanya bahasa malam ini dia membawa istrinya untuk menginap di hotel.
Karena tak tega membangunkan sang istri yang tertidur dengan lelap, dia mengendong sang istri ke cottech tempatnya menginap. Meletakkan tubuh kecil itu diatas ranjang empuk yang berbalut sprei putih itu. Dia memandangi wajah sang istri yang nampak penuh dengan gurat lelah, mencium kening istrinya dalam lalu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sejak semalam dia sudah merencanakan memberi kejutan untuk sang istri, dengan kepulangannya yang tiba - tiba. Namun yang ada disini dia yang terkejut saat mendapati peristiwa tadi, yang membuat amarahnya memuncak sampai ke ubun - ubun. Untung saja dia tadi tidak terlambat, entah apa yang terjadi bila sampai dia terlambat membayangkan itu membuatnya semakin mengeratkan pelukannya. Dia menyesali peristiwa yang baru saja terjadi, andai saja dia tidak meninggalkan istrinya di sini mungkin saja wanita yang dicintainya itu tak mengalami hal seperti tadi.
" Maaf kan Mas, dek. " Ucapnya lirih sembari menghujani istrinya kecupan di kening.
Tari mengeliatkan badannya ketika dia merasa sesak karena pelukan sang suami yang cukup erat. Berlahan dia membuka mata, dan mendapati wajah sang suami yang tersenyum hangat padanya. Di pandinginya wajah sang suami, rahang kokoh, hidung mancung, alis yang tebal dan sorot mata yang tajam namun selalu penuh kelembutan saat menatapnya. Tanpa sadar dia mengelus pipi sang suami, merasakan bulu - bulu halus di rahang yang mulai menumbuhi wajah putih itu.
" Kenapa berhenti ..... ?" Ucap Gus Syam saat dia rasa belaian istrinya itu berhenti.
" Ti.... tidak. " Jawabnya gugup, pipinya sudah memerah karena tanpa sadar dia tadi membelai wajah sang suami.
" Kenapa tidak diteruskan, padahal aku mulai menikmatinya. "
Rasa panas seketika menjalar ke seluruh wajahnya, dan sekarang wajahnya benar - benar memerah. Di kala suaminya itu membelai pipinya pelan, sembari memandangnya intens padanya.
Dengan sesegera dia bergegas bangkit dari tidurnya, menuruni ranjang. Dan saat itu dia baru sadar jika ini bukan kamar mereka, hingga dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan kamar mandi.
Gus Syam menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
" Di sana kamar mandinya, sampean bersih - bersih dulu. " Sambil menunjuk pintu di depan mereka.
Gus Syam hanya menggeleng saat istrinya itu masih malu - malu padanya, dan akan segera lari darinya ketika dia menggodanya. Dia teringat kejadian yang baru dialami istrinya tadi, yang membuat hatinya kembali berdesir. Bagaimana masa lalunya itu bisa kembali mendatangi istrinya, dan dia merasa ini karena dia yang lalai dalam menjaga istrinya. Semoga setelah ini tidak ada kejadian semacam ini, hatinya sakit melihat keadaan istrinya yang seperti ini.
" Mas ..... "
Gus Syam langsung berjalan mendekat ke arah kamar mandi saat Tari memanggilnya.
" Dalem, ada apa Dek ? "
" Bisakah sampean ambilkan handuk, dan ambilkan mukena di tas ku. "
Ya karena gugupnya dia sampai lupa untuk membawa handuk, dan lagi baju yang dipakai sekarang sudah tak layak untuk dia pakai. Hanya mukena yang selalu dia pakai satu - satunya pilihannya terakhir.
Gus Syam, mengambil apa yang di perintahkan oleh Tari tanpa bertanya dan berpikir bahwa sang istri sekarang sedang memperlukan baju ganti.
Tok .... tok .... tok ....
" Dek ini. "
__ADS_1
" Terimakasih Mas. "
Tari keluar dengan menggunakan mukenanya, sementara Gus Syam dia sedang berkutat dengan tablet ditangannya. Tidak memperhatikan istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Mas sampun, sholat Isyak ? "
" Sudah Dek, maaf ya aku tadi duluan. Tidak tega membangunkan sampean. " Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
" Tidak apa-apa mas.
Tari segera menggelar sajadahnya, melakukan kewajibannya yang tadi sempat tertunda karena dia ketiduran. Setelah selesai, dia merasa lapar karena seharian tadi berpuasa dan hanya meminum air mineral saat dia menunggu kedatangan Pak Atmo.
Cottege yang disewa sang suami ini termasuk cottage yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Ada sebuah mini kitchen set, sofa lengkap dengan sebuah televisi besar dan sebuah ranjang yang luas dan nyaman. Dia menghampiri mini kitchen set dengan meja bar di tengahnya itu, menikam beberapa makanan yang tertutup tudung saji. Seketika perutnya berbunyi ketika dia membuka tutup tudung saji.
kkkrruuukkkk ........
Seketika Gus Syam menoleh ke arahnya, dia hanya bisa tersenyum sambil mengusap perutnya. Gus Syam mematikan tabletnya, dan berjalan menghampirinya yang masih berdiri di disalah satu sisi meja bar.
" Maafkan aku ya Dek, sampai tidak mengerti kalau istriku ini kelaparan. "
" Hehehehe ....... aku lapar Mas, "
" Baiklah ayo kita makan, jangan sampai istriku ini kelaparan. "
Dan Gus Syam menyadari bahwa sang istri belum membuka mukena yang dia kenakan.
" Kenapa masih di pakai mukenanya ? "
" Eh, anu itu .... "
" Anu apa ? " Ucapnya sembari mendekat kearah istrinya bermaksud untuk membuka mukena istrinya.
Langsung saja Tari refleks menjauh saat sang suami akan merengkuhnya, karena saat ini dia tidak mengenakan apapun baju dibalik mukenanya.
" Dek, sampean kenapa aku hanya ingin melepaskan mukena sampean tidak lebih. Tenang saja aku masih bisa menahannya sampai sampean siap. "
" Bu .... bukan seperti itu Mas, hanya saja aku ..... " Jawabnya menggantung dan dia memandang kearah tubuhnya sendiri.
Gus Syam yang melihatnya langsung faham yang dimaksud sang istri, dan dia langsung mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian dia berjalan menuju tas ranselnya, mencari sesuatu di dalamnya yang mungkin bisa digunakan oleh sang istri. Dia menemukan kaos dan celana training miliknya,
" Bagaimana kalau ini ? " Tanyanya kepada Tari sambil mengangkat baju miliknya.
" Baiklah mas. " Tari segera menyambar baju milik suaminya itu dan segera berlari ke arah kamar mandi, yang langsung memancing gelak tawa sang suami.
Tari keluar dengan kaos yang kebesaran milik sang suami, dengan training yang dia tekuk ujungnya karena jelas terlalu panjang untuknya. Sang suami sudah menunggunya di meja makan, yang langsung disambut dengan senyum lembar oleh sang suami saat melihatnya.
" Sini dek, aku sudah memanaskan semua. Kebesaran ya bajunya ? "
Dia langsung duduk, di samping suaminya. Rasa laparnya benar - benar membuatnya ingin segera melahap semua makanan yang ada diatas meja. Saat dia akan mengambil piring tiba - tiba sang suami.
" Aaakk ...... buka mulutnya, biar aku suapi dek. "
Yang langsung disambutnya dengan membuka mulut yang lebar, suap demi suap tanpa terasa satu piring sudah dia habiskan. Ternyata makan dengan suapan tangan sang suami itu terasa begitu nikmat baginya.
" Wah, istriku ini biarpun kecil badannya namun makannya cukup banyak ternyata. Wah membuat ku harus lebih giat dalam bekerja. ". Goda Gus Syam padanya.
__ADS_1
Yang langsung dia sambut, dengan mencubit perut sang suami.
Bersambung ......