Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
66. Tetap Sama


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Kajian siang ini sudah selesai, mereka semua kembali ke ndalem yang masih ramai. Selama kajian berlangsung Bunyai Salamah meminta Tari untuk selalu bersamanya. Duduk di samping beliau, dan memperkenalkannya kepada setiap orang yang mereka temui. Sebelum acara berakhir beliau memintanya untuk jangan pulang terlebih dahulu.


Jadilah kini Tari menunggu diruang tadi yang digunakannya sebelum acara kajian berlangsung, duduk di sofa melingkar. Sementara Wardah gadis itu masih saja diam hanya saja sekarang dia bisa sedikit tersenyum saat dia menggendong Mikhail.


" Mbak Tari bermalam disini ? "


" Tidak Ning, Mbak Tari masih ada tugas yang harus diselesaikan. "


" Padahal Fisa senang sekali, pas tahu Mbak Tari datang. Fisa kan belum menunjukkan koleksi boneka Fisa. " Gadis kecil itu bergelayut manja di lengan Tari


" Insyaallah lain kali mbak Tari datang ya. Dan melihat boneka Ning Fisa. " Jawabnya sambil mengulas senyum.


Adzan Ashar sudah berkumandang, hari sudah cukup sore. Tari ingin segera kembali ke asrama tapi dia merasa tidak enak karena permintaan Bunyai Salamah tadi yang menyuruhnya untuk tinggal sebentar setelah kajian selesai. Dia terus mendengar semua cerita gadis kecil di sebelahnya itu, dan sesekali menjawab serta melempar pertanyaan. Yang membuat gadis kecil itu semakin bersemangat dalam bercerita.


" Fisa seneng kalau punya saudara kayak Mbak Tari, enak ada yang dengerin cerita Fisa. Kalau Mas pas di rumah Fisa ajak cerita suka bilang Fisa bawel dan cerewet. "


" Ning Fisa itu ngak bawel, ngak cerewet juga cuma ....... banyak sekali ngomongnya. " Jawab Tari sambil mencubit ujung hidung gadis itu yang mancung.


" Bener kan, memang Mas itu gitu sukanya ngusilin Fisa aja. Ngak kayak Mbak Tari yang ngertiin Fisa banget. "


Wardah dan Tari langsung saja saling memandang setelahnya mereka tertawa bersama. Tari sedikit kaget karena beberapa kali bertemu dengan Nafisa dia terlihat gadis kecil yang manis, tingkahnya dewasa melebihi usianya, dan pembawaannya tenang. Namun dia juga memiliki sisi lain dalam dirinya yang ternyata cukup bawel dan cerewet.


" Mbak Tar, kemana ya Ning Rina dan yang lain ? Kita pulang jam berapa belum juga sholat Ashar. "


" Kita tunggu sebentar lagi Dah, sini biar Mikha aku yang gendong. "


Bayi gembul itu sudah berpindah ke gendongan Tari, dengan gaya khasnya dia mulai mencari - cari sumber kehidupannya. Tari segera berdiri mengetahui hal itu, mengayunkan bayi itu pelan sambil menepuk - nepuk pelan bokong bayi gembul itu.


" Sssstttttttt, Ning Fisa suaranya dikecilkan ya adek Mikhanya mu bobok. " Ucapnya pelan seraya menempelkan jari telunjuknya di depan bibir pada Nafisa yang sudah mulai akan berbicara.


Gadis kecil itu membuat tanda OK dengan jarinya, kemudian beralih memandang Wardah yang duduk di seberangnya. Kemudian mulai berbicara dengan Wardah dengan berbisik - bisik, sementara Wardah menanggapinya dengan wajah yang antusias.


" Maaf ya Tar, tak suruh nunggu. " Ucap Tina yang baru masuk dari arah dalam ndalem dengan intonasi yang lumayan nyaring.


Oeekk ...... ooeeekkk...... oeekkkk


Pecah sudah tangisan bayi gembul itu, karena dia sudah sedikit tertidur dengan timangan Tatdi Tapi suara ibunya membangunnya dia kembali.


" Eh, maaf sayang Mikha sudah tidur ya tadi. Maaf Ami ya sayang cup cup ni kan sudah sama Ami. " Rina berusaha menenangkan putranya yang sekarang sedang menangis cukup kencang.


" Di nen saja dulu Mbak. "


" Sebentar ya aku tinggal, Fisa temani Mbak Tari ya. "


" Iya Ning Rina. "


Tak berapa lama, ada beberapa ibu - ibu paruh baya yang juga masuk ke ruangan itu. Mereka duduk di sofa sebelah Tari dan Wardah duduk. Dari pembicaraan yang Tari dengar sepertinya mereka keluarga dari Kiyai Baharudin. Dari beberapa orang itu ada wajah yang tak asing bagi Tari. Dia berusaha mengingatnya, dan dia sekarang teringat siapa beliau.


Tak ada yang berubah bahkan gaya bicaranya pun tetap sama hanya saja wajahnya terlihat menua dan kulitnya sudah mulai keriput. Tari terus mengamatinya, dan tanpa disengaja wanita itupun menoleh kearahnya. Tari mengulas senyum kearah wanita itu seraya mengangguk. Wanita itu nampak sedikit bingung yang nampak dari alisnya yang mengkerut.


" Mbak Tari kenal sama orang itu. " Tanya Wardah sembari berbisik


" Kenal Dah. "


Tak lama wanita itu berjalan menghampirinya, Tari segera berdiri lalu menyalaminya dan mencium tangannya dengan takzim. Wanita itu masih belum mengenalinya, dan berusaha mengingat siapa Tari sebenarnya.


" Pripun kabare Buk ? " Tanya Tari kepada wanita paruh baya itu.

__ADS_1


" Sampean siapa ya, saya merasa tidak asing tapi saya lupa siapa nama sampean. " Jawab wanita paruh baya itu, yang justru bertanya pada Tari. "


" Ibuk lupa dengan saya ? "


" Iya Mbak, siapa ya saya kok bisa lupa. "


Tiba - tiba masuk beberapa orang lagi termasuk Rina, dan Bunyai Salamah dari arah ruang tengah ndalem.


" Mbak Rom, sampean di sini to ternyata lah sampean juga disini rupanya Nduk. " Sapa Bunyai Salamah pada wanita yang sedang duduk disping Tari.


" Enggeh Bunyai, Monggo Njenengan lenggah ten mriki. " Tari berdiri dari tempat duduknya, untuk mempersilahkan Bunyai Salamah duduk di tempatnya.


Mereka duduk di sofa melingkar, Tari duduk tepat di sebelah Bu Nyai Salamah. Mereka terus saja membicarakan beberapa hal, dengan diselingi tawa kecil dari mereka. Wanita yang disapa Bu Romlah itu sesekali mencuri pandang ke arah Tari berusaha mengingat sesuatu, karena wajah Tari tidak asing baginya.


Satu persatu dari mereka berpamitan, karena hari semakin sore. Sementara Wardah dan Tari baru saja kembali setelah meminta ijin untuk sholat Ashar terlebih dulu di Masjid yang terletak diarea ponpes.


" Nduk Tari, sudah mau pulang ? "


" Enggeh Bunyai, hari semakin sore. "


" Sebentar lagi ya nunggu Abbah dulu kalau mau pulang. "


Tak berapa lam Kiyai Baharudin, Gus Reyhan dan Rizki datang. Mereka duduk di sofa sebelah dan dari yang terdengar mereka sedang membahas rumah singgah.


" Enggeh Yai insyaallah amanatnya akan saya sampaikan, memang masih perlu perbaikan dari segala hal terutama menejemennya. Insyaallah akan segera saya perbaiki dengan struktur organisasi yang jelas. Kami juga berencana mendaftarkannya ke dinas sosial agar memiliki badan hukum yang jelas yang diakui pemerintah. "


" Apa baiknya saja Mas Rizki, anak satu itu ya begitu merepotkan orang lain banyak maunya tapi dia malah mengejar yang lain. "


" Pak Lik mboten usah khawatir setelah ini saya juga akan membantu. "


" Enggeh Yai, sebelum dia berangkat kemarin semua sudah dia persiapkan dengan baik dari segala hal. Terutama beck up dari segi financial, sehingga kami sedikit percaya diri sekarang kalau ingin melaksanakan sebuah gagasan. "


" Enggeh Yai, terus terang saja saya sedikit kuwalahan. " Ucap Rizki sembari mengusap tengkuknya.


Beberapa Mbak Santri datang dari arah dapur membawa beberapa bungkusan, kresek - kresek besar .


" Bunyai Niki sampun. "


" Ditaruh disana saja Mbak, " Perintah Bunyai.


Setelah dirasa cukup, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang. Mereka membawa beberapa bungkusan kresek yang entah apa isinya namun cukup berat sebagai bingkisan. Mobil Rizki berjalan membelah kota Kediri yang cukup ramai pada sore menjelang petang ini.


Tari sedikit heran, karena secara khusus tadi Kiyai Baharudin memintanya untuk keruang perpustakaannya. Tari tak sanggup menolak, dia ke sana ditemani Bunyai Salamah. Banyak hal yang di sampaikan Kiyai Uddin kepadanya. Banyak hal yang Kiyai Udin katakan padanya, nasihat serta beberapa permintaan. Salah satunya permintaan Kiyai Uddin memintanya berkunjung ke ndalemnya apa bila tidak pulang ke rumah.


" Mbak Tar ini di bawa masuk semua ? " Tanya Wardah dari belakang mobil Rizki. Saat dia akan mengeluarkan kresek - kresek dari Nyai Salamah. "


Namun tidak ada jawaban dari Tari yang ada di samping mobil. Wardah menggeleng melihat Tari yang kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.


" Mbak Tari. " Sambil menyentuh pelan lengan Tari.


" Eh Wardah, ..... Iya kenapa. "


" Tuman, suka ngelamun. Itu kreseknya bagaimana Mbak ? "


" Satu milik Pak Rizki yang berwarna putih, yang lainnya masukkan ke dalam katanya Bunyai tadi. "


Rizki tiba - tiba datang dan mengambil alih kresek yang di bawa Wardah yang nampak kesulitan karena cukup berat.


" Makannya banyak tapi, bawa segini saja tulangnya udah pada mau lepas kemana larinya makanan itu." Ucap Rizki sembari berjalan meninggalkan Wardah.

__ADS_1


" Mulutnya beuh, minta disikat apa ...... !!!!!! " Wardah menjawabnya dengan suara lantang.


" Heh, anak gadis ngomongnya ngak usah teriak - teriak.


Semua kresek sudah disimpan di meja dapur, setelah dikeluarkan semua isinya ternyata cukup memenuhi meja. Berbagai macam makanan dan beberapa bahan makanan dalam jumlah yang cukup banyak. Bahkan jajanan pasar seperti onde - onde, naga sari, Mendut jumlahnya cukup untuk semua penghuni asrama.


" Nduk ini rendangnya langsung di simpan di kulkas saja ya. "


" Enggeh Buk, "


" Mbak Tar, ngak salah ini Bunyai memberikan kita makanan sebanyak ini. "


" Ngak tahu Dah, sampean tadi kan juga dengar pas beliau memberikannya. "


" Alhamdulillah gitu aja Mbak, "


" Buk, nanti yang jajan pasarnya di taruh di depan saja biar cepat dimakan kalau tetap disini takutnya ngak ada yang tahu. "


" Iya nduk. "


Setelah selesai melakukan kewajibannya dia sempatkan membuka mufrodnya yang beberapa hari ini jarang dia buka, karena akhir - akhir ini dia jarang mempunyai waktu yang luang. Cukup lama dia tenggelam dalam hafalannya sampai 2 surat selesai tepat sebelum Adzan Isya berkumandang.


" Mbak Tar tidak ke bawah ? "


" Sepertinya tidak Dah, "


Tari pergi ke kamar mandi mengambil air, dan membawanya ke cendela di mana ada beberapa tanaman disana. Menyiramnya dengan jumlah air yang sedikit, karena tanaman yang dimilikinya adalah tanaman kaktus dan sukulen yang merupakan tanaman yang tidak memerlukan banyak air.


" Mbak tidak pernah ingin tahu ini dari siapa ? "


Tari menoleh, menggeleng sambil tersenyum. Sama dengan buku, tanaman ini juga tanaman yang dikirim seseorang untuknya.


" Kalau sudah waktunya pasti akan tahu siapa pengirimnya. "


" Ngak penasaran Mbak ? "


" Tidak, "


Tari mengembalikan ember kecil dan gayung ke dalam kamar mandi, kemudian kembali ke tempatnya semula. Duduk di sebuah sofa kecil yang berada di depan jendela dengan pemandangan ke arah kampung di belakang asrama.


" Bagaimana ? " Tanyanya kepada Wardah.


" Masih ragu Mbak. "


" Apa yang membuatmu ragu, sudah sholat istikharah ? "


" Sudah, " Wardah tertunduk sambil memainkan ujung jilbabnya.


" Lalu ? "


" Jawabannya sama Mbak, keraguan datang dari diriku sendiri Mbak. "


" Kenapa mesti ragu ?, kalau sudah diberi jawaban dan selalu sama bukankah itu hal yang diridhoi. "


Gadis itu memandang lurus ke arah jendela pandangannya nampak menerawang jauh, helaan nafas panjang dia hembuskan.


" Terlalu banyak perbedaan diantara kita berdua Mbak, bahkan saya tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Tapi saya merasa nyaman bila bersama dengannya. "


Bersambung .........

__ADS_1


__ADS_2