Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
49. Rasa Sakit Ini


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


" Ao Unda Yayah tundu "


" Hawa, ngak salim sama Bu Rina dulu. "


" Bu Nina, Loh eyutna besal da dekna ya ? " Ucap Hawa sembari menyalami mantan gurunya itu.


Pandangan gadis kecil itu tak beralih dari wanita yang dulu pernah menjadi gurunya. Perut Mbak Rina yang sudah membesar begitu menarik perhatiannya.


" Hawa tadi kesini sama siapa ? " Tanya wanita itu


" Ma Unda dan Yayah Bu Nina, " Gadis itu menghampiri wanita itu dan menyalami tangannya.


" Bunda ? "


" Ya Unda " Tangannya menunjuk kearah Tari.


Berhasil membuat pertanyaan baru dibenak orang - orang yang ada disana. Dan semua orang menatap kearah Tari dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka. Apalagi Mbak Rina dia begitu penasaran kenapa gadis kecil itu memanggil sahabatnya itu dengan panggilan Bunda.


" Bu Nyai saya mohon pamit. " ucap Tari seraya menyakini tangan Nyai Sadiyah dan Nyai Salamah bergantian.


" Iya mbak Tari, hati - hati di jalan. Kalau ada waktu seringlah berkunjung kesini. " Jawab Nyai Sadiyah.


" Mbak Tari kalau ada waktu sampean sempatkan kerumah saya kalau pas di Kediri. "


" Enggeh, Insyaallah Nyai Salamah. "


" Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam "


Tari keluar dari ruang tengah menuju ruang tamu untuk berpamitan dengan Kyai Haris ditemani Mbak Rina. Sebenarnya wanita itu masih banyak sekali pertanyaan di benaknya tentang hubungannya dengan Hawa. Tenyata di bale suasananya sudah tidak seramai tadi hanya tinggal Kyai Haris, Gus Reyhan, dan Pak Fahmi tentunya.


" Yai, saya mohon pamit. " Ucap Tari sembari menangkupkan tangan di depan dadanya.


" Monggo Mbak Tari, Semoga selamat sampai rumah. "


" Saya juga mohon pamit Yai, Insyaallah Minggu depan saya akan kesini. "


" Enggeh Pak Fahmi kedatangan sampean selalu ditunggu disini. "


" Assalamualaikum. "


" Walaikumsalam. "


" Monggo saya antar Pak Fahmi. " Ucap Gus Reyhan yang ikut berdiri dari duduknya. Mengantar tamunya itu keluar dari rumah orangtuanya.


Mereka berjalan menyusuri area asrama putri, menuju parkiran yang berada didepan dengan membicarakan beberapa hal. Hawa yang seharian tadi terlalu bersemangat karena mendapatkan teman baru terlihat kelelahan saat berjalan diantara dua wanita dewasa yang menuntunnya. Dengan sigap Tari mengendong tubuh kecil itu dengan kedua tangannya. Mbak Rina sudah tidak sabar lagi untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang sedari tadi Terngiang - ngiang di benaknya.


" Tar, sampean ada hubungan apa sama Pak Fahmi sepertinya aku sudah melewatkan banyak hal akhir - akhir ini ? " Sebuah pertanyaan penuh selidik.


" Tidak ada mbak, kami berhubungan baik karena Hawa saja tidak lebih dari itu. "


" Jangan menyembunyikan sesuatu dariku Tar, Mbak akan bahagia kalau sampean juga bahagia. "


" Mbak memang benar tidak ada hubungan apapun diantara kami mbak, mengenai Hawa yang memanggilku Bunda itu karena dia menginginkannya mbak. Hidup ku sudah sangat bahagia mbak dengan kehadiran orang - orang disekitarku yang selalu menyayangi ku, itu sudah lebih dari cukup bagiku mbak. "

__ADS_1


" Aku hanya ingin kamu bahagia Tar, dan maaf tadi soal perkataan Ummi. " Menghentikan langkahnya kemudian menatap sahabatnya itu lekat.


Persahabatan keduanya memang sudah cukup lama, sosok Rina yang dewasa dan mandiri mampu menjadi sosok Kakak bagi Tari. Persahabatan mereka berawal ketika Tari memutuskan untuk mondok di pesantren setelah peristiwa kelam yang dia alami. Dan Rina lah salah satu orang terdekat Tari setelah keluarganya.


Sementara dua orang laki - laki yang berjalan di belakang mereka berjalan dengan berlahan ada hal yang mereka bahas entah apa yang jelas mereka terlihat serius dengan pembicaraan mereka. Sesekali mereka menunjuk ke arah depan dan sesekali mereka tersenyum ditengah - tengah pembicaraan mereka.


" Insyaallah Gus, saya akan menyingkirkan fikiran yang demikian. "


" Iya Pak Fahmi, harus segera disingkirkan karena kehidupan sampean itu harus berlanjut. Putri sampean itu juga butuh sosok seorang ibu. " Ucap Gus Reyhan seraya memandang gadis kecil yang berada di gendongan Tari.


" Saya akan berjuang demi dia Gus. "


" Memang harusnya seperti itu Pak Fahmi. "


Tari dan Rina sampai di parkiran terlebih dahulu, kemudian Tari menurunkan Hawa dari gendongannya. Mereka menunggu kedua laki- laki itu di depan mobil milik Fahmi. Tak lama kemudian kedua laki-laki itu sampai.


" Gus Reyhan saya pamit dulu Insyaallah seperti janji saya sama Pak Kyai Minggu depan saya pastikan menyempatkan datang kesini kembali. "


" Enggeh Pak Fahmi, kami mengucapkan terimakasih atas semua bantuan sampean. "


" Mari Gus ..... "


" Monggo Gus saya pamit dulu, Mbak Rina saya pamit. " Ucap Tari berpamitan kepada Gus Reyhan dan Menjadi Bak Rina.


" Monggo Mbak Tari, dunia itu sempit ya Mbak Tari. " Ucap Gus Reyhan yang diiringi senyum penuh arti yang membuatnya mendapat cubitan kecil dari sang istri.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam "


Mobil itu meninggalkan parkiran menuju gerbang meninggalkan area pondok pesantren itu, menuju jalan raya.


" Mbak sampean kok sepertinya akrab sama Mbak Tari tadi. "


" Lumayan akrab dek, dulu waktu mondok disini sering membantu disini bersama Rina, setelah Rina menikah jadi semakin sering kesini dan kami akrab dek. Dulu saya sempat berfikir untuk menjodohkan dia, dengan salah satu putramu. Tapi beberapa bulan lalu keluar dari sini dan keluar dari tempatnya mengajar juga karena dia akan menikah dek. "


" Saya juga pernah mampir kerumahnya mbak, keluarganya sederhana tapi sangat santun. "


" Kenapa dek kok sampean bertanya seperti itu, dia sudah menikah Lo dek. "


" Jadi sampean belum tahu to mbak, Mbak Tari itu tidak jadi menikah lo. "


" Masak to mbak ? "


Bu Nyai Sadiyah terlihat kaget dengan perkataan adik iparnya itu, dia teringat kata - katanya tadi yang selalu membahas pernikahan kepada Tari. Tapi dia belum percaya dengan perkataan adik iparnya itu dan ingin menanyakan hal itu kepada anak menantunya. Karena dulu sebelum kepergian Tari dia ingat sekali kalau dia berpamitan dengan kedua orang tuanya dan juga calon suaminya.


" Eh Ning Rina, tamunya tadi sudah pulang ? "


" Sampun Bulik, "


" Sampean kesini dulu Nduk, ada yang Ummi ingin tanyakan. "


" Enggeh Ummi wonten nopo ? " Ucap Mbak Rina seraya berjalan menuju dua wanita paruh baya yang sedang duduk diruang tengah.


" Nduk, Mbak Tari itu apa ngak jadi nikah, kata bulikmu kok ngak jadi nikah ?...... "


" Enggeh Ummi, Tari memang ngak jadi nikah Ummi. Dua hari sebelum acara akad ada peristiwa yang membatalkan acara tersebut. Dan Tari memutuskan untuk mundur dari pernikahan itu karena dia tidak sanggup bila harus di madu. "

__ADS_1


" Astaghfirullah, lah tadi Ummi bahas pernikahan terus sama Mbak Tari. Sampean tidak cerita, Ummi benar - benar tidak tahu.


Wajah wanita paruh baya itu nampak kecewa dengan hal yang dia lakukan tadi. Karena sedari tadi dia hanya membahas masalah pernikahan kepada Tari. Padahal kenyataanya Tari tak melakukan pernikahan, pantas saja tari gadis tak pernah membalas perkataannya.


" Enggeh Ummi, kami orang terdekatnya memang tidak pernah membahas hal itu, apalagi ada sedikit peristiwa juga yang membuat Tari celaka dan harus dirawat di rumah sakit. "


Rina terus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Tari, dari awal hingga akhir. Dua wanita paruh baya itu mendengarkan dengan seksama, tanpa sadar mereka sampai menitipkan air mata.


" La tari gadis kecil yang sama dia siapa Ning Rina ?, kenapa memanggil Mbak Tari dengan panggilan Bunda. Setahu saya tadi dia datang putri dari muridnya Mas Haris. "


" Itu bukan Bundanya Hawa Ummi, karena Hawa sayang sama Mbak Tari dan menganggap Mbak Tari sudah seperti ibunya jadi dia manggil Mbak Tari itu Bunda. " Sahut Nafisa yang baru saja keluar dari kamarnya.


" Bener Bulik, apa yang dikatakan Ning Fisa. Setahu saya Pak Fahmi dan Tari tidak ada hubungan apapun, mereka akrab karena Hawa. "


Wajah wanita paruh baya itu kembali berseri entah apa yang ada dalam benaknya. Pertemuan pertamanya dengan gadis yang bernama Tari itu sudah membuat hatinya tertarik. Entah apa yang berada dalam benaknya, tapi dari wajahnya yang berseri nampak ada suatu hal yang sedang dia fikirkan dan itu membuatnya bahagia.


" Wes Bulik Amman harus gerak cepat, keburu diambil orang Lo. " Gus Reyhan yang baru masuk pun ikut menimpali obrolan mereka.


" Wez Mas Reyhan sok ngerti. "


" Yey memang Mas ngrti dek, Paling ngomongin soal Tari. " Sambil memeluk adik sepupunya itu.


" Ihhh..... Sudah ah jangan peluk- peluk ngak mau aku, " Sambil berusaha melepaskan pelukan Reyhan.


" Apa bilang ngak mau, dari kecil itu siapa yang ngasih kamu, yang ngendong kamu siapa. Udah gede malah banyak tingkah sok jual mahal. " Reyhan malah mempererat pelukannya itu pada tubuh gadis kecil itu, sedangkan Nafisa dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan pelukan kakak sepupunya itu.


**********


Sementara itu mobil membelah jalanan kota Malang yang selalu ramai apa lagi ini malam Minggu jadi keadaan jalanan tambah ramai. Suasana mobil hening hanya terdengar suara audio mobil yang Fahmi nyalakan memperdengarkan lagu - lagu pop yang sedang menjadi trend. Hawa tertidur di jok mobil bagian tengah, entah mengapa tidak seperti biasanya gadis itu minta duduk sendiri. Karena menurut dia sekarang harus bisa mandiri kata - kata yang dia dapat dari sahabat barunya Nafisa. Hawa sangat mengagumi Nafisa gadis kecil seusia dia yang sangat mandiri.


Sementara dua orang dewasa yang duduk di Jak depan hanya terdiam sibuk dengan fikiran mereka masing - masing. Tari melemparkan pandangannya jauh ke arah jendela di sampingnya, dia ingat betul dengan kata - kata Bu Nyai Sadiyah tadi. Andai saja bila takdir berpihak kepadanya mungkin saja dia sekarang akan menjadi wanita yang teramat bahagia memiliki seorang Pandu disampingnya.


Tapi apalah daya kita, untuk melawan takdir yang telah dibuat oleh-Nya untuk kita. Tiada kuasa untuk kita menolak apa yang sudah dituliskan untuk kita. Setidaknya masih ada orang - orang disekitarnya yang begitu menyayanginya. Sebuah lengkungan khas di bibirnya ketika dia mengingat kedua malaikatnya yang begitu berharga untuknya.


" Tari "


Sebuah suara bariton yang mampu membangunkannya dari lamunan.


" Eh, iya Mas ....... "


" Apa yang sedang kamu fikirkan ? "


" Tidak ada Mas. "


" Boleh kah aku mengatakan suatu hal, "


" Tentu saja silahkan sampean katakan. "


Fahmi tampak menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Tanpa mengalihkan pandangannya dari kemudi yang dia jalankan dia mulai berucap.


" Tar saya harap setelah saya mengungkapkan ini, tidak akan mempengaruhi sikap kamu ke saya dan khususnya Hawa. Jangan pernah kamu rubah sikap dan perhatianmu kepada Hawa. "


" Insyaallah, saya tidak akan merubah sikap saya. "


Entah mengapa Fahmi sedikit khawatir dengan apa yang akan dia ucapkan akan merubah sikap Tari terhadap dia dan putrinya. Dia tidak ingin membuat putrinya itu merasa sedih karena kehilangan perhatian dari Tari. Tapi dia tidak akan menunda apa yang akan dia sampaikan pada Tari.


" Tari sejak pertama saya bertemu denganmu saya sudah merasakan hal lain. Tapi saat itu kamu datang dengan laki - laki itu dan saat itu pula saya menutup rasa itu. Kenyataan berkata lain kita dipertemukan lagi dengan keadaanmu yang seperti sekarang. Dan aku berniat untuk melanjutkan rasaku yang dahulu, tetapi aku tidak yakin terhadap diriku sendiri dan juga terhadapmu. Sejak kepergian Ibunya Hawa hatiku selalu ingin membuka lembaran baru, tetapi rasa bersalahku terlalu besar sehingga selalu menghalangi setiap langkahku. Untuk saat ini aku ingin kamu membantuku untuk melangkah dari rasa sakit ku ini. "

__ADS_1


Bersambung ...........


__ADS_2