Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
87. Rumah Kita


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


" Bagaiman hasil CTscan istri saya dok ? "


" Seperti beberapa tahun yang lalu, hasilnya tetap sama tidak ada masalah. Trauma yang mengakibatkan alam bawah sadarnya saja menstimulasi otaknya. Tidak perlu khawatir, hanya saja harus menghindari hal - hal yang memicu traumanya. Luka bekas operasi terdahulu juga bagus. " Ucap dokter Dahlan dokter yang menangani Tari.


Gus Syam keluar dari ruang dokter, berjalan menyusuri koridor rumah saki menuju kamar istrinya di rawat. Suasana ruangan terdengar cukup ramai di luar, dia membuka pintu dan mendapati seluruh keluarganya di sana.


" Assalamualaikum. "


" Walaikumsalam. " Jawab mereka kompak.


Abbah, Fisa, Irsyad, Irhas dan Gus Renyah nampak duduk di sofa, sedangkan Ummi, ibuk, dan Rina nampak duduk di bangku di sebelah tempat tidur Rina.


Dia menyalami semua orang yang berada di sana, kemudian mengecup kening istrinya samar sebelum ikut mendudukkan tubuhnya di sofa. Yang sukses mendapat sorakan dari semua orang, namun tidak diindahkannya yang hanya membalas sorakan itu dengan berkata.


" Sudah halal. " Jawabnya santai.


Yang sukses membuat semua orang menggelang dengan kelakuan Gus Syam.


" Bagaimana Mas perkembangan rumah singgah ? "


" Proposal sudah di masukkan beberapa hari yang lalu oleh Rizki, selanjutnya kita harus menunggu. "


" Alhamdulillah kalau begitu, sepertinya Minggu depan aku harus kembali ke Jakarta. " Ucapnya pelan sembari melihat kearah istrinya.


Tanpa sengaja Tari juga sedang memandang kearahnya, seketika wajahnya nampak kecewa mendengar apa yang baru saja suaminya katakan. Namun dia berusaha menutupi hal itu, dengan kembali tersenyum ketika Bunyai Salamah mengajaknya bicara.


" Nduk, sampean istirahat yang tenang disini biar keadaan sampean cepat pulih. Ngak usah mikir yang macam - macam, kami semua yang disini sekarang keluarga sampean. "


" Enggeh Ummi. "


" Ning Fisa, tolong ambilkan tas Ummi. "


" Enggeh Mi. " Gadis kecil itu datang membawa tas milik Umminya kemudian memberikannya.


Bunyai Salamah menerima tas yang diberikan gadi kecil itu, kemudian nampak mencari sesuatu yang ada di dalamnya. Senyumnya terkembang ketika dia menemukan barang yang sedang di carinya. Tangannya nampak memegang sebuah kotak beludru berwarna merah, yang kemudian dia berikan kepada menantunya.


" Nopo niki Ummi ? " Ucap Tari ketika menerima kotak beludru yang diserahkan oleh mertuanya.


" Sampean buka nduk, itu milik sampean. "


Tari mengangguk kemudian membuka kotak beludru yang berada ditangannya. Sebuah gelang berwarna putih polos tanpa hiasan apapun tapi tidak mengurangi keindahan dari gelang itu. Bunyai Salamah kemudian mengambil gelang itu dari tempatnya kemudian memakaikannya di tangan kanan miliknya.


" Ini sudah Ummi persiapkan lama untuk istrinya Syam. Ummi harap sampean menyukainya. "


" Terimakasih Ummi, Tari sangat menyukainya. "


" Cepat sembuh ya nduk, cepat pulang Ummi sudah tidak sabar nunggu sampean pulang ke ndalem. "


" Insyaallah Ummi. "


Hari ini hari terakhir Tari di rawat, makanya semua keluarganya menjemput. Sedari tadi pagi Bu Fatma sudah mengemasi barang milik putrinya itu ke dalam beberapa tas. Setelah acara tujuh hari Bu Fatma langsung menemani Tari di rumah sakit. Sedangkan Irsyad dan Irhas mereka tidak pernah sekalipun tidak mengunjungi Tari di rumah sakit.


" Bagaimana sampean sudah mengurus persyaratan administrasinya ? "


" Sampun Bah, hanya tinggal menunggu sidang saja, hanya saja ada sesuatu yang menganggu pikiran Syam Bah. "


" Tentang istrimu ? "


" Enggeh "

__ADS_1


" Apa yang menjadi pikiran sampean Le ? "


" Sesuatu yang hanya kami berdua yang bisa memutuskan Bah. "


Beberapa orang sudah terlebih dahulu pulang hanya tinggal Irsyad, Irhas, dan Bu Fatma yang masih tinggal dan akan pulang bersama mereka. Semua Tas dan beberapa barang sudah di siapkan dikumpulkan dalam satu tempat agar tidak ada yang tertinggal. Sementara administrasi rumah sakit sudah di selesaikan oleh Gus Reyhan sebelumnya.


" Syad, Has tolong barangnya bisa di bawa ke mobil terlebih dahulu. "


" Siap Gus, " sepasang kembar itu mulai mengambil beberapa barang untuk di bawa ke dalam mobil.


Sementara Tari, tengah Menganti bajunya di kamar mandi dia sudah bisa beraktifitas normal lagi. Bu Fatma sedang duduk di sofa bersama Gus Syam. Tari keluar dari kamar mandi, yang langsung di sambut oleh suaminya. Kemudian dia menuntun istrinya itu sampai ke sofa di mna Bu Fatma sedang duduk.


" Bagaimana apa masih pusing, atau lemas dek ? "


" Saya sudah sehat Mas. "


" Jangan semua dipaksakan dek, "


" Mas, saya memang benar-benar sudah sehat. "


Bu Fatma tersenyum ketika mendengar putri dan suaminya itu, ternyata menantunya itu tidak seperti yang terlihat dari luar. Dia sangat perhatian terhadap istrinya, bahkan juga pada dirinya sebagai mertuanya. Dan dia juga seorang yang pencemburu dan posesif, padahal dari luar dia terlihat sangat cuek. Tapi lain halnya dengan urusan yang mengenai keluarganya di kan menjadi orang yang sangat posesif.


" Dek, Buk ada hal yang ingin saya sampaikan. Tapi sebelumnya saya minta maaf kalau keputusan saya ini terkesan memaksa. "


" Apapun itu Mas, saya akan menerima. "


" Hari ini kita akan pulang ke rumah kita, saya harap Ibuk juga ikut dengan kita. " Ucapnya pelan dia takut menyinggung perasaan kedua orang di depannya itu.


" Saya akan menerima semua keputusan sampean Mas, bukan begitu Buk. " jawabnya sembari menatap ke Bu Fatma.


Sore ini jalanan kota Malang cukup lengang, matahari pun tak begitu terik, menjadikan perjalanan sore ini cukup menyenangkan. Irhas yang berada di belakang kemudi, Gus Syam duduk disebelahnya sedangkan Tari dan Bu Garam duduk di bangku belakang. Irsyad dengan setia mengekori mobil SUV putih di depannya menggunakan sepedah KLX miliknya.


Irhas mengemudikan mobil itu sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Gus Syam. Masuk kesebuah komplek perumahan, dan masih meneruskan perjalanan yang cukup panjang melewati beberapa blok. Irhas menghentikan mobil yang dia Kendari sesuai instruksi yang di berikan oleh Gus Syam, di depan sebuah rumah bergaya minimalis.


" Hati - hati dek, Has tolong barangnya ya sekalian. "


" Siap Gus. "


Mereka berjalan memasuki pagar rumah, dengan Gus Syam yang menuntunnya dengan posesif. Rina hanya menggeleng melihat kelakuan pengantin baru itu. Yang satu masih malu - malu, sedangkan yang satu begitu posesif.


" Assalamualaikum. " Ucap Tari ketika pertama kali melangkahkan kakinya di teras rumah itu.


" Walaikumsalam, Ayo langsung masuk saja semua sudah menunggu di dalam. " Jawab Rina.


Mereka masuk ke dalam rumah, dan ternyata di sana sudah cukup banyak orang. Termasuk beberapa saudara Gus Reyhan dan kedua orang tuanya juga di sana. Merek segera menyalami semua orang yang berada di sana, suasana rumah itu benar - benar ramai.


Di ruang keluarga yang cukup luas mereka semua berkumpul, para orang tua duduk di sofa sedangkan yang muda - muda duduk di karpet sedangkan anak - anak kecil sudah berlarian kesana kemari. Sedangkan Ibu - ibu sibuk menyiapkan makanan di dapur yang menyatu dengan ruang tengah itu.


" Sampean seneng dek dengan rumahnya ? "


" Seneng Mas, "


" Maaf ya kalau interiornya ngak sesuai sama selera sampean, seumpama sampean kurang suka sampean bisa mengubahnya. "


" Tidak Mas, saya seneng dengan apa yang sampean pilihkan. " Jawabnya sambil menepuk - nepuk pantat Mikhail yang berada di gendongannya.


Rumah bergaya minimalis modern dengan dua lantai, lantai bawah yang terdiri dari satu ruang tamu, ruang tengah yang menyatu dengan dapur bersih dan ruang makan, di tambah dua kamar di bawah dengan kamar mandi di dalamnya. Lantai atas yang terdiri dari dua kamar satu ruangan yang dipergunakan sebagai ruang perpustakaan dan balkon yang cukup luas. Dan sebuah taman belakang yang cukup luas yang di penuhi berbagai macam bunga dan lagi beberapa hewan piaraan milik Gus Syam. Rumah yang cukup besar untuk mereka tempati hanya berdua.


" Dek, "


" Dalem Mas. " Dia hanya menoleh sebentar ke arah suaminya kemudian beralih lagi memandang Mikhail yang mulai terlelap di gendongannya. "

__ADS_1


" Dek, "


" Dalem "


" Dek "


Lagi - lagi suaminya itu memanggilnya, dengan wajah yang sulit diartikan olehnya. Yang dijawabnya dengan jari telunjuk yang ditempelkan di mulutnya. Mikhail bayi gembul itu sudah terlelap dalam gendongannya.


" Dek "


Dan sekali lagi suaminya itu memanggilnya, dengan reflek dia mencubit lengan suaminya itu. Sedari tadi Suaminya itu duduk menempel di sampingnya, tidak mau bergabung dengan yang lain. Cukup membuatnya menggeleng kan kepala.


" Dek, Miha sudah bobok ? "


" Sampun Mas, "


" Kalau begitu biar tak panggilkan mbak Rina. "


" Jangan Mas, Mbak Rina masih repot membantu di dapur. "


" Tapi Dek, ..... "


" Sampean temani yang lain Mas, tidak enak dengan mereka. Sampean tuan rumah tapi malah di sini, sudah sana sampean temani Abbah dan yang lain. "


Dengan terpaksa Gus Syam meninggalkan istrinya, menuju sofa di depan tv dimana beberapa orang sedang mengobrol. Sedangkan Tari hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya itu. Dia mengendong Mikha yang sudah tertidur dengan jarik gendong, menghampiri Rina yang menyiapkan makanan di meja makan.


" Mikha sudah tidur Tar ? "


" Sudah Mbak, masak apa mbak sepertinya banyak sekali. "


" Kita hanya tinggal menghangatkan dan memindahkan saja, semuanya di pesan sama suamimu syukuran istrinya sudah sehat kembali. "


" Ohh........ "


" Gimana rumahnya, seneng ngak ? "


" Seneng Mbak, Bagus. "


" Kalau ngak seneng, berarti ngak menghargai usaha keras ku. Suamimu itu menggangguku sepanjang waktu menanyakan bagaimana rumah impianmu dan hasilnya seperti ini. "


" Terimakasih ya mbak, tapi harga rumah di sini kan lumayan Mbak. "


Memang rumah ini hampir mendekati rumah yang menjadi rumah impiannya, namun pemilihan warna dan perabotan serta desain interiornya mendekati rumah impiannya. Apalagi taman belakang yang cukup luas itu benar - benar hal yang paling diinginkannya ketika memiliki rumah sendiri.


" Kata terimakasih saja tidak cukup, jangan khawatir suamimu itu uangnya banyak sekali. Beli satu lagi di sini pun uangnya masih banyak. "


" Insyaallah Mbak tak bantu momong Mikha setiap hari sebagai gantinya. "


" Mana bisa dek Sampean momong Mikha setiap hari, la waktu untuk akunya kapan. " Ucap Gus Syam yang tiba - tiba sudah berada di belakangnya bahkan sudah menempelkan dagunya diatas pundaknya.


" Astaghfirullah, Mas. "


" Ngak ada acara momong Mikhail setiap hari, Soal ucapan terimakasih ke Mbak Rina itu biar jadi urusanku. Ini lagi sampean itu belum boleh kerja berat, kenapa kok pakek gendong Mikha segala.


" Mas, aku itu sudah sehat kapan mengendong menjadi pekerjaan berat. "


" Dek, nanti kalau sampean kecapekan bagaimana apalagi Mikha gendut sekali seperti itu. " Ucapnya sambil menggerutu.


" San, kenapa sampean sekarang cerewet sekali, ngalah dong sama Mikha. Sudah cepat bantu angkat galon, ari pada ngomel ngak jelas dari tadi. "


" Ayo cepat Mas, sampean angkat dulu galonnya.

__ADS_1


Dengan langkah gontai dia meninggalkan istrinya, mengecupnya puncak kepala istrinya singkat sebelum berjalan ke depan mengambil galon yang masih berada di depan. Hal baru yang sangat dia sukai, mengecup puncak kepala istrinya dan menghirup dalam - dalam aroma tubuh istrinya.


Bersambung .........


__ADS_2