Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
26. Mau buka counter


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Pandu menyelesaikan lagu itu dengan diiringi alunan tepuk tangan keras dari pengunjung restaurant itu. Dengan santai dia lalu melangkahkan kakinya menuju dimana Tari dan keluarganya makan diiringi dengan tatapan semua pengunjung kearahnya. Mencoba mencari tahu siapa gadis beruntung yang sudah membuat kekasihnya itu terang - terangan melamarnya di tempat umum. Padahal kenyataan mereka sudah mengikat satu sama lain dalam sebuah ikatan lamaran semenjak 3 bulan yang lalu.


Pandu berjalan dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya yang membuat lesung pipinya sempurna bertahta diwajah manisnya menuju kearah Tari.


" Terimakasih calon istriku Nyimas Khodijah Bramastari yang sudah bersedia menjadi pendamping hidupku, melengkapi semua kekurangan ku dengan semua kelebihanmu, menjadi sandaranku disaat aku lemah, menjadi rumahku yang senantiasa membuatku ingin selalu pulang, tetaplah menjadi bidadari dalam rumah yang akan kita bangun kelak, tetaplah menjadi bintang yang selalu menyinari kegelapan malam ku, dan tetaplah menjadi genggam tanganku saat kita mengarungi bahtera rumah tangga yang akan kita jalani " sambil menatap dalam Tari yang masih enggan mengalihkan pandangannya.


Tepukan dan sorakan terdengar begitu sangat keras, sampai - sampai ada beberapa pengunjung restaurant itu meneteskan air mata karena merasa terharu dan ikut terbawa suasana. Tari masih saja tertunduk dia mencoba menyembunyikan wajahnya yang sesudah memerah, jantungnya berdebar tidak karuan dengan ritme yang begitu cepat. Pandu yang mengetahui hal itu, melangkah mendekati Tari yang masih terduduk, dipegangnya tangan Tari yang sedari tadi meremas ujung jilbab pashminanya karena mencoba menghilangkan kegugupannya. Tari yang kaget dengan perlakuan Pandu pun hanya bisa terdiam mengingat banyak orang yang menyaksikan mereka berdua sejujurnya dia tidak begitu suka bila ada yang menggenggam tangannya sekalipun itu Pandu yang notabennya calon suaminya.


" Bersediakah kamu menjadi ibu dari anak - anak ku ? " ucapnya sembari menggenggam kedua tangan tari dengan lembut.


" insyaallah mas "


Kemudian Pandu menghujani tangan Tari yang digenggamnya dengan beberapa kecupan. Teriakan dan Sorakan kembali terdengar riuh dari beberapa pengunjung restaurant. Tari kaget dengan apa yang dilakukan Pandu, tapi dia tidak berdaya ingin sekali dia menghentikan aksi Pandu tapi hal ini akan mempermalukan Pandu. Akhirnya Tari hanya berusaha tersenyum atas semua perlakuan Pandu kepadanya walaupun hatinya berkata lain.


" Aduh kalian itu seneng banget buat orang lain dek - dek see begitu "


" Le ayo sudah duduk, makanannya sudah mau datang. Pertunjukannya dilanjutkan mati setelah perutnya terisi biar bisa lebih merasapi " Ucap Bu Darmi.


Tanpa menjawab perintah ibunya Pandu duduk disebelah Tari karena bangkunya memang masih kosong, tanpa ingin melepaskan genggamannya ditangan Tari. Tak lama berselang pesanan mereka semua datang, mereka segera menyantap hidangan di atas meja yang begitu menggugah selera siapapun yang melihatnya.


" Mas Rahmat, bagaimana saudaranya sudah dipastikan bisa hadir semua ? "


" Alhamdulillah Mas, kebanyakan bisa hadir hanya beberapa saja yang tidak bisa hadir karena memang pekerjaan mereka yang tidak bisa ditinggal "


" Syukurlah Mas kalau seperti itu, semoga saja acaranya berjalan lancar sesuai dengan harapan kita "


" Amien Mas "


" Pandu, bagaimana semua persiapan mengenai WOnya ? "


" Semua sudah siap sesuai keinginan kita Pak, hanya perlu pembenahan sedikit saja "


" Mas Yadi nak Pandu, saya berterimakasih sekali sudah mempersiapkan ini semua, seharusnya saya sendiri yang menyiapkan acara seperti ini putri saya, tapi malah seperti ini. "


" Mas Rahmat, jangan berfikiran seperti itu memang ini sudah kewajiban kami selaku pihak laki - laki dan kami pun tidak merasa direpotkan dengan hal ini. Sampean sudah jangan berfikiran yang macem - macem, berdoa saja semoga acara yang akan kita lakukan itu berjalan dengan lancar sesuai harapan kita. "


" Iya Mas Yadi. "


" Sudah Mas Rahmat, Mbak Fatma kami sekeluarga sama sekali tidak merasa direpotkan dengan hal demikian. Dengan Ijah mau menjadi menantu kami itu sudah hal yang sangat menggembirakan, jadi hal seperti ini tidak sebanding dengan adanya Ijah dalam hidup kami. " Ucap Bu Darmi berusaha ikut dalam obrolan laki - laki.


" Sudah ayo segera dihabiskan makanannya, biar semuanya kuat. Kita memerlukan tenaga ekstra untuk segera mendapatkan cucu hehehehe. " Pak Yadi berusaha mencairkan suasana.


" Siap pak, mau cucu berapa sih sebenarnya ?"


" Kalau Bapak sih maunya 6 "


" Ngak kurang " Jawab Pandu santai.


" Kalau lebih Bapak tambah seneng. "


" Enaknya Bapak ini ngomong 6, lihatlah tubuh calon istriku ini, tubuh sekecil ini harus melahirkan 6 anak mana tega aku melihatnya. "


" Jangan salah le, wanita akan selalu sanggup ukuran tubuh tidak jadi tolak ukur. "


" Tapi tetap saja Bu Pandu tidak tega, lagian kalau punya anak 6 mana ada waktu buat Pandu. " sambil menggerutu, dan seketika terdengar tawa semua orang.


" Oalah ternyata takut tidak ngak dapat perhatian " jawab Bu Darmi.


Acara makan pun selesai saat adzan Isyak berkumandang, dengan segera Pandu membayar tagihan mereka ke kasir. Sedangkan semua orang berlalu meninggalkan meja restaurant menuju moshola yang berada disamping bangunan utama restaurant.


Saat berjalan Terdengar bunyi handphone Tari, yang berada di dalam tasnya. Dengan segera tangannya mengambil handphone itu, dan melihat siapa yang menghubunginya. Terlihat nama kontak Gus Reyhan sejenak Tari berfikir kenapa Gus Reyhan menghubunginya, mungkin ada suatu hal yang penting. Sambil menghentikan langkahnya dia menggeser tombol hijau pada handphonenya.

__ADS_1


📞" Assalamualaikum, enggeh Gus "


📞" Walaikumsalam "


Terdengar suara sahutan suara wanita, dengan suara serak khas bangun tidur.


📞" Halo Tar, bagaimana wisudamu, maaf ya ngak bisa datang. "


📞 " Oalah mbak Rina, Alhamdulillah lancar mbak, tidak apa - apa selalu ada pengucualian untuk ibu hamil hehehehe. Saya kira siapa mbak apa lagi telfonnya pakek nomor Gus Reyhan. "


📞 " Males Tar nyari handphone ku sendiri, yang dekat saja. "


📞 " Bagaimana mbak, masih belum belum bisa kemana - mana ?, masih muntah terus ya ?. "


📞 " Masih sama Tar, "


📞 " Sabar ya mbak, demi Gus Reyhan junior hehehehe "


📞 " hemz, ya sudah aku mau tidur lagi. Assalamualaikum "


📞 " iya, walaikumsalam "


" Ada - ada saja tingkahnya mbak Rin. " Tari bergumam sembari tersenyum merasa lucu dengan kehamilan sahabatnya itu.


" Hayo telefon dari siapa "


" Astaghfirullah, mas kenapa harus mengagetkan seperti itu.


" Habisnya sampean dek, begitu asiknya telefon tanpa sadar ada orang. Memangnya dari siapa ? "


" Rahasia ..... " Sambil berlalu mempercepat langkahnya meninggalkan Pandu yang masih berdiri ditempatnya.


" Adek ya, awas main rahasia - rahasian "


Setelah selesai dengan sholat Isya mereka bergegas menuju mobil yang terparkir disebelah depan restaurant yang berjajar rapi dengan mobil pengunjung lainnya. Semua orang masuk kedalam mobil, tapi kali ini Pak Yadi yang duduk dibelakang kemudi. Pandu beralasan tangannya terlalu pegal kalau harus menyetir perjalanan pulang, yang sebenarnya hanya alasan Pandu saja karena dia ingin duduk disebelah Tari.


📞 " Assalamualaikum "


📞 " Walaikumsalam Bu Tari, "


📞 " Enggeh Bu Siti, wonten nopo tumben jam Segini kok telfon apa ada hal yang penting ? "


📞 " Mau menanyakan hasil laporan progres anak - anak untuk akhir semester Bu, bahana apa sudah selesai ?"


📞 " Sampun Bu, rencananya nanti malam akan saya kirim ke email nya Pak Anto Bu. Maaf saya ini masih diperjalanan "


📞 " Maaf ya Bu Tari, masih saja merepotkan. "


📞 " Tidak apa - apa Bu memang ini kan tugas saya "


📞 " Terimakasih Bu Tari, Assalamualaikum "


📞 Enggeh Bu, Walaikumsalam "


Tari sudah berhenti mengejar sejak seminggu lalu, karena persiapan wisuda dan juga persiapan pernikahannya yang tinggal hanya beberapa hari saja. Meskipun semua persiapan pernikahan sudah diatur oleh Pandu tapi, Pandu juga meminta Tari untuk berhenti dari aktifitasnya agar Tari lebih fokus ke acara mereka. Karena merasa tanggung jawab dengan pekerjaannya dia masih saja mengerjakan laporan untuk akhir semester.


" Siapa dek yang telefon ? " Terdengar suara Pandu bertanya.


" Bu Siti kepala sekolah tempatku mengajar dulu Mas, menanyakan laporan progres akhir semester mas. Sebenarnya sudah selesai dari kemarin tapi tadi malam aku lupa mengirimkannya karena terlalu gugup mengahadapi wisuda "


" Terus, apa harus dikirim nanti malam ??.... Apa sampean ngak capek dek ? "


" Iya mas, Masih mau diolah lagi sama Pak Anton. Dan memang besok waktu terakhir pelaporan. "

__ADS_1


" Sepenting itukah dek " Dengan menoleh kearah belakang dimana Tari duduk, dilihatnya Tari menatap Lap topnya dengan serius


" Kenapa mas, " Tari merasa tidak seharusnya Pandu tidak mendebatkan hal seperti ini toh iniemang tanggung jawabnya bukan hal yang harus dibesar - besarkan.


" Tapi ini sudah malah dan tentu saja sampean mesti capek " Masih saja memandang Tari, begitu juga Tari tidak berniat menghentikan aktivitasnya.


" Mas " Tari mendesah menghentikan aktivitas nya kemudian memandang laki - laki yang duduk di depannya dengan senyum yang dipaksakan.


Melihat suasana agak memanas diantara kedua calon manten itu dengan segera Bu Darmi menepuk pundak anak laki - lakinya itu yang terlihat sudah mulai tidak enak hati.


" Le, kenapa kan cuma tinggal mengirim email saja prosesnya itu akan cepat. Tidak perlu jadi perdebatan "


" Ibuk, Pandu cuma ngak pengen Tari itu capek. Lagian Tari kan sudah keluar dari pekerjaan itu. "


" Maaf mas, memang aku sudah keluar tapi posisinya sekarang mbak Rina sedang hamil muda dan beliau tidak mengerjakan, dan ......"


" Wez nduk sampean kerjakan nanti kalau banyak protes si Pandu biar Bapak yang marahi" sahut Pak Yadi membela calon mantunya.


Pandu masih juga tidak mengalihkan tubuhnya yang condong kebelakang, untuk mengamati Tari. Senyum kecut yang dipaksakan tersungging di wajah manisnya. Nampak Tari mengernyitkan alisnya, sambil sesekali melihat handphone nya, dan mengangkat handphone nya tinggi - tinggi.


" Kenapa dek ?"


" Susah sekali mas sinyalnya, dari tadi hanya munyer - munyer ditempat "


" Terus kalau handphone nya dikeatasin begitu sinyalnya bagus " Tangannya dengan senyum yang menyeringai.


" Namanya berusaha mas, ngak ada salahnya bukan ? "


" Sudah matikan saja theathering dari handphone adek, pakek hanphone mas saja. Mungkin ngak ada pekerjaan datanya makanya ngak bisa " Ucap Pandu mencoba menggoda calon istrinya.


" Namanya juga anak kuliahan mas, ya dimaklumi saja kalau paketannya sering telat. "


" Coba dek handphonenya sini mas mau lihat "


" Mau dilihat apanya mas " Sambil mengulurkan hanphonenya.


Pandu mengernyitkan alisnya saat melihat handphone Tari yang terlihat ketinggalan jaman. Dia membuka handphone itu yang ternyata tidak ada kata sandinya, senyum kecil tersungging di wajah manisnya saat menatap handphone milik Tari. Sungguh sesederhana inikah gadis yang akan dinikahinya, tiada sesuatu yang istimewa dalam handphone itu tapi sungguh membuat senyum sumringah mengembang di wajah Pandu.


" Dek handphonenya tukeran ya, "


" Kenapa mas ??..... "Tari memandang Pandu yang berada didepannya dengan setia menolehkan tubuhnya menghadap Tari yang duduk dibelakangnya.


" Hanphonenya tukeren, sampean pakek punya mas. Ini biar mas pakek "


" Ndak usah mas, handphone Tari masih bisa kok "


" Iya masih bisa tapi dek, "


" Ketinggalan jaman gitu ya " ucap Tari menebak niatan Pandu yang ingin mereka bertukar hp.


" Mas handphone ini dulunya Tari bersusah payah Lo jadi sayang kalau mesti diganti apalagi ini masih bisa. Mubasir juga kalau membuang - buang uang untuk hal yang masih bisa. "


" Kan pembaharuan itu ya perlu dek, gini saja pean pakek handphone mas punya sampean bisa dipake atau disimpan saja."


" Alhamdulillah selesai, akhirnya terimakasih mas " Sambil memberikan handphone Pandu.


" Wes sampean pakek dek, ngak usah dikembalikan. "


" Ndak usah mas, beneran ini masih digunakan "


" Tenang dek, mas masih ada handphone lain, " sambil membuka tas kecilnya dan mengambil 2 handphonenya yang lain, lalu menunjukkan kepada Tari.


" Mau buka counter to mas ? " pertanyaan yang begitu saja lolos dari mulut Tari.

__ADS_1


Dan seketika disambut tawa dari semua orang yang berada di mobil itu, mobil yang semula hening berubah menjadi ramai untuk sesaat.


Bersambung ......


__ADS_2