Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
60. Kembali Bertemu


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Padahal ini sudah masuk musim kemarau, tetapi pagi ini hujan turun dengan derasnya.


menimbulkan hawa dingin yang cukup menusuk tulang. Semua penghuni asrama berkumpul di ruang tamu, dengan Hawa yang menjadi pusat perhatian. Riski, Irsyad, Irhas dan beberapa orang luar asrama juga ikut berkumpul disana karena memiliki janji untuk menghadiri acara pengajian di sebuah Ponpes.


" Sudah jam berapa sekarang ?, kenapa hujannya tidak reda - reda " Ucap Irhas yang berdiri diambang pintu.


" Nanti kalau hujannya tidak reda kita tidak bisa berangkat. "


" Semoga sebentar lagi reda. "


" Hawa sini, duduk sama om Rizki. "


" Oce om Titi. " Gadis kecil itu berjalan menghampiri Riski yang duduk di sofa paling pojok.


Mereka masih menunggu hujan yang belum juga reda padahal jam sudah menunjukkan pukul 08:00. Tari yang sebelumnya masih di kamarnya turun seraya menenteng Sling backnya di pundak. Sebelum kakinya sampai pada di tangga paling bawah dia berpapasan dengan Lenni. Sejak hari itu Lenni seperti menghindarinya, tidak pernah mau berbicara. ataupun membalas sapaan Tari.


" Mbak Lenni. "


Tidak ada jawaban dari gadis itu, sekedar untuk memandang Tari pun tidak. Tari tidak mengambil perasaan hal itu, dia meneruskan langkahnya menuju sofa panjang yang masih nampak ada satu tempat duduk yang kosong.


" Nduk Tari, sudah sarapan tadi ? " Tanya Bu Tini.


" Lagi perlu Buk "


" Oalah, Hawa sudah di suapi juga ? "


" Sampun Buk sebelum saya memandikannya. "


" Mbak Tar, Pak Ndan balik Malang to ? " Tanya salah satu dari temannya.


" Tidak Mbak Rin, beliau menginap di hotel. Mungkin sebentar lagi sampai Mbak. "


" Ikut kita juga Mbak, ?"


" Iya Mbak karena Hawa memaksa untuk ikut. "


Sungguh bukan kebetulan semata, orang yang mereka bicarakan nampak berjalan dari arah pintu samping sambil membawa payung ditangannya. Yang cukup menyita semua perhatian orang - orang yang berada di dalam.


" Heh awas liurmu menetes. " Ucap Rizki yang mengusap wajah Wardah dengan tangannya.


" Heh sembarangan sekali ya, PAK RIZKI ........ !!!!!!!!! Pak Rizki itu sudah di bilang jangan suka pegang - pegang. Wajarlah ada pemandangan seperti itu kok ngak dinikmati, mubasir tau. "


" Wanita, kok mata keranjang. "


" Om Titi, ata anjang tu pa ? " Tanya Hawa polos.


" Di filter Pak mulutnya, ada anak kecil itu monggo dijelaskan. "


" Bukan apa - apa, tu Ayah sudah datang. " Ucapnya sambil menunjuk kearah pintu dimana Fahmi sedang menutup payung.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " jawab mereka serempak.


" Monggo Pak masuk dulu, Sambil menunggu hujannya reda. "


Fahmi masuk dan duduk di sofa yang letaknya tidak jauh dari pintu, tempat dimana para laki - laki duduk sambil menikmati kopi. Mereka semua larut dalam obrolan masing-masing tanpa terasa hujan akhirnya reda.


" Pak Rizki, apa sebaiknya kita berangkat sekarang. "


" Iya Pak Fahmi, sebaiknya kita berangkat sekarang. Mari semua kita berangkat sekarang, untuk mbak - mabk bisa menumpang mobil saya dan Pak Fahmi kalau buat mas - mas bisa membawa kendaraan sendiri ya. "

__ADS_1


" Wah ngak adil ni namanya Mas, masak yang ditebengi hanya mbak - mbak aja. " Irsyad mencoba mengganggu Rizki.


" Sudah tidak ada bantahan, mengerti. " Jawab Rizki sembari melotot kearah Irsyad.


" Mbak Tari, Mas Rizki mau memakan ku, "


Tari yang mendengar ocehan mereka hanya tersenyum, Irsyad berjalan dengan mengandeng Tari dengan posesif, hal yang selalu dilakukan saudara sepupu itu.


Tak lama Irhas datang menyusul dan mengandeng tangan sebelah Tari.


" Heh Upin Ipin gimana Mbak Tari mau dapat jodoh kalau kalian nempel terus kayak gitu. Mana gandengnya kayak gitu berasa Tari gandeng dua berondong ngak ada ahklak. " Wardah dengan santainya menyindir Irsyad dan Irhas ketika dia jalan melewatinya.


" Eh Mbak Cungkring yang ngenes mohon maaf ya jomblo akut dilarang iri. "


" Eh Unta ngomong opo Kowe, rene tak paringi jurus andalan. " Wardah sudah siap - siap memasang kuda-kuda.


Sepertinya perang dunia sebentar lagi akan pecah, Rizki yang berjalan dari belakang segera mendorong tubuh gadis kurus itu untuk segera berjalan. Karena mereka kalau sudah bertengkar tidak ada yang mau mengalah, dan itu sangat merepotkan.


" Ehem, " Suara deheman yang cukup membuat suasana menjadi tenang.


Perjalanan mereka lakukan dengan menggunakan 2 mobil dan 4 kendaraan bermotor, setelah sampai disana ternyata pengajian sudah di mulai mereka dapat tempat duduk di bagian belakang. Tari membawa Hawa bersamanya, karena gadis kecil itu tidak bisa berpisah dengannya.


Tari sedikit terkejut ketika samar - samar dia mendengar suara Gus Reyhan yang sedang memberi sambutan. Diarahkan pandangannya ke arah panggung, karena jaraknya yang cukup jauh sehingga tak nampak jelas olehnya tapi dia yakin kalau yang sedang memberi sambutan itu suami dari sahabatnya. Dia teringat kalau beberapa hari ini dia sama sekali belum berkirim kabar dengan sahabatnya itu.


✉️ Assalamualaikum Mbak, bagaimana kabarnya maaf belum sempat bertukar kabar. Kalau sudah ada waktu aku akan segera berkunjung.


Ternyata Ponpes AL Hikmah ini lumayan besar, dia sudah lumayan lama tinggal di sini tapi belum pernah mengunjungnginya. Ponpes modern dengan banyak santri dan santriwan, dengan bangunan yang cukup megah dan besar.


" Dalam Islam diajarkan bahwa semua pemeluk agama Islam itu bersaudara. Satu sama lain memiliki hubungan ukhuwah. "


" Kitab suci Alquran sendiri membahas tentang cinta dan kasih sayang yang terkait dengan cinta Allah pada hamba-Nya, cinta manusia kepada duniawi (harta benda), senang dan menyukai. Intinya, cinta yang benar adalah cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad."


" Nabi Muhammad sendiri menggambarkan ciri-ciri sebuah cinta diantaranya adalah lebih suka berbicara dan berbincang dengan yang dicintainya, lebih suka berkumpul atau dekat dengan yang dicintainya, serta lebih suka mengikuti kemauan atau memberi yang diinginkan oleh yang dicintainya. Jika kita mencintai Allah, kita haruslah mengutamakan Allah di atas segala kepentingan dunia."


" Hal inilah yang menunjukkan kebesaran atas kekuasaan Allah sebagai Sang Maha Pencipta memang tidak bisa ditandingi oleh siapapun."


Qul ing kuntum tuhibbunallaaha fattabi'unii 


yuhbibkumullaahu wa yagfir lakum zunubakum, 


wallaahu gafurur rahiim


Artinya: "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Surat Ali Imran ayat 31


" Unda, Wawa au pis "


" Ngak bisa ditahan sebentar sayang ?, "


" Biar sama aku Mbak Tar, ayo Wa sini sama Mbak Dah " Gadis kurus itu membawa Hawa pergi meninggalkan area pengajian.


Sementara kajian masih berlangsung, masih membahas topik yang sama Cinta menurut pandangan Islam. Sungguh topik yang bagus, untuk kaum muda apalagi sebagian besar peserta kajian adalah kaum muda. Saat ini kaum muda kadang sering kali terjebak dengan cinta yang kadang menjerumuskan mereka ke hal - hal yang dilarang dalam agama.


Sudah cukup lama Wardah dan Hawa pergi ke toilet, tapi mereka belum kembali juga. Membuat Tari sedikit kuatir, meskipun Wardah cukup mengenal Hawa tapi ada beberapa hal yang belum diketahui oleh Wardah. Tari memutuskan untuk menyusul mereka ke toilet, namun saat tiba di toilet tidak ditemukan kedua sosok itu. Hal itu membuat Tari semakin khawatir, dia berkeliling ke sekitar Ponpes namun tidak juga ditemukan


Diambilnya handphone yang berada di sling backnya, lalu menghubungi nomer Wardah. Panggilan tersambung namun hanya deringan saja yang dia dengar. Dia sibuk menelepon sambil berjalan ke arah luar area Ponpes.


Bbbrruuukkkk .........


Tubuhnya menabrak seseorang yang mengakibatkan dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tanah. Handphonenya pun ikut jatuh karena lepas dari genggamannya. Sedangkan orang yang ditabraknya tetap berdiri kokoh di depannya.


Deg ...... deg ..... deg .....


" Mbak, apa tidak apa - apa ? " Suara yang mampu membuat bulu kuduknya meremang.

__ADS_1


Tari hanya terdiam, dia memegang dadanya yang berdebar kencang ada perasaan aneh yang dia rasakan.


" Mbak, bisa berdiri tidak. Apakah perlu saya bantu ? " Laki - laki itu mengambil handphonenya yang terjatuh ke tanah.


Tari masih tetap tidak menjawab, dia mencoba mengingat sesuatu sepertinya ini bukan hal asing baginya tapi apa dia belum bisa mengerti. Dia mencoba berdiri, membersihkan roknya yang kotor karena jatuh terduduk di tanah.


" Ini Mbak Hanphonenya. ..... " Ucap laki - laki yang menabraknya sambil mengangsurkan Handphone miliknya.


Pandangannya terarah ke tangan laki - laki yang menabraknya, dia melihat sesuatu yang cukupbuatnya terkejut.


Deg .....


Apa tidak salah itu, .........


" Mbak kenapa diam saja. "


Tari mengangkat wajahnya memandang laki - laki di depannya, karena ingin memastikan suatu hal. Laki - laki di depannya tersenyum dengan tangan yang masih mengangsurkan handphone miliknya.


" Maaf .... "


" Iya Mbak, bukankah ini milik sampean ? "


" Iii, ya terimakasih, " Ucap Tari sambil menerima handphonenya.


" Mari Mbak, Assalamualaikum " Laki - laki itu pergi meninggalkan Tari sambil tersenyum.


Sedangkan Tari masih terpaku dan hanya terdiam di tempatnya, sembari menggenggam handphone miliknya. Tak lama dia berbalik badan menatap punggung laki - laki itu yang mulai jauh dari tempatnya.


Ya itu punggung yang sama, apakah mungkin dia


" Unda ........ "


Teriakan Hawa berhasil membawanya kembali ke alam nyata, dan segera mencari sumber suara itu.


" Apa Unda amun ? " Gadis kecil itu sudah menubruk kaki Tari.


" Dari mana Jangan bikin Bunda khawatir. " Ucap Tari sambil jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Hawa.


" Eli tu, Wawa inin, eyus ntak Ante dah eli. "


" Ini mbak Tari, Hawa minta beli permen kapas terus kebetulan penjualnya sedang ramai jadi harus mengantri. "


" Ya sudah ayo kita kembali. "


Mereka pun kembali ke tempat pengajian, karena kajian masih berlangsung tapi dengan pemberi materi yang berbeda. Suasana sedikit riuh karena pemberi materi saat ini menimbulkan kegaduhan. Wardah menyenggol Tari, sambil menunjuk - nunjuk ke arah panggung.


" Ustadz nya cakep abis Mbak Tar, "


" Semua kok dipanggil cakep To Dah. "


" Kalau yang tadi cakep tapi sudah beristri tapi yang ini cakep tapi jomblo, liat aja Mbak belum bersuara masih pegang mic aja udah adem rasanya. "


" Sudah diam jangan banyak bicara, itu sudah mau mulai. "


Seketika suasana riuh tadi menjadi tenang ketika seseorang yang memakai peci putih kemko panjang warna putih bermotif di dada sebelah kanan tak ketinggalan sarung warna hitamnya mulai mengucap salam.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarrokatuh "


" Walaikumsalam warahmatullahi wabarrokatuh "


Entah karena apa Tari berdiri dari duduknya memandang ke arah panggung di mana laki - laki itu berdiri. Tari menatapnya dalam sejurus kemudian laki - laki itu juga menatap Tari. Sehingga pandangan mereka bertemu, sampai beberapa detik lalu laki - laki itu mengangguk sambil tersenyum kearahnya.


" Unda duduk, angan eldili ayo Unda duduk. "

__ADS_1


" Mbak kenapa berdiri, ayo duduk ada - ada saja ayo duduk kok malah diam ........ "


Bersambung ........


__ADS_2