
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jodoh, maut, rezeki semua adalah kuasa Allah yang semestinya harus kita terima dengan berlapang dada. Sesuatu yang disebut dengan takdir aadalah sepenuhnya hak mutlak yang di miliki Sang Pencipta sebagai pemilik kehidupan ini. Namun Dia akan mengabulkan sesuatu yang diminta sungguh - sungguh oleh umat-Nya. Oleh seseorang yang menjadi sebenar - benarnya hamba.
Hakikatnya seorang hamba tidak akan pernah meragukan terlebih menolak apa yang menjadi takdir bagi dirinya. Namun ada kalanya seseorang hamba akan akan meragukan dan menolak takdirnya jika itu bertentangan dengan apa yang dia yakini.
Seperti bisa keadaan bandara sudah ramai meskipun hari masih cukup petang, waktu terbit saja masih kurang sekitar 16 menit lagi. Mereka tiba di bandara lebih cepat dari waktu yang diperkirakan oleh Setyo. Dia mengeluarkan seluruh barang yang akan mereka bawa dari bagasi mobilnya. Sementara Tari sudah berdiri di samping mobilnya menunggu dirinya yang sedang mengeluarkan barang dari bagasinya.
" Ayo kita bisa check-in sekarang. " Ajaknya kepada Tari ketika dia sudah menaikkan barang bawaannya keatas trolly.
Tari hanya mengikutinya dari belakang, menuju tempat check-in. Setyo segera mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangannya. Mereka berjalan beriringan menuju tempat check- in yang sudah di penuhi dengan beberapa orang yang mengantri. Setyo menuntunnya untuk duduk di ruang tunggu bandara, dan dia yang akan melakukan check-in untuk mereka.
" Tunggulah di sini terlebih dahulu. "
" Iya. "
Ya Allah sungguh aku tidak meragukan semua kuasa-Mu, sampai saat ini hamba masih meyakini apa yang telah Engkau gariskan untuk hamba.
Dia duduk termenung menunggu Setyo menyelesaikan check-in untuk mereka. Pikirannya melanglang jauh entah kemana, pandangannya menatap gelang yang berada di tangannya. Diusapnya gelang itu, dengan jelas indera perabanya mampu mengenali tulisan yang dirabanya, Pikirannya mulai bisa menemukan sesuatu, satu Nama yang mampu menggetarkan hatinya kembali ' Muhammad Ghasan Fariq As-Syammimi '.
Sejenak kemudian dia seperti dibawa kembali ke dunia nyata, rasanya seperti dijatuhkan dari gedung tinggi terhpas sampai ke bawah ketika dia mengingat nama itu yang membuatnya tersadar dari alam bawah sadarnya. Semenjak kemarin alam bawah sadarnya hanya mengingat masa di mana dia tengah menunggu kedatangan Setyo. Namun dia tahu ada yang salah dalam dirinya sehingga dia menulis sebuah catatan kecil saat dia berganti pakaian. Makanya kemarin hanya diam saat Setyo mengatakan apapun bahkan saat Setyo menyentuhnya.
Dia menoleh ke sekelilingnya dengan bingung, sejenak dia mencoba memahami keadaannya sekarang. Dia mengingat semua kejadian yang telah terjadi beberapa jam lalu, sehingga dia bisa berada di sini. Setelah beberapa saat dia mulai tenang dan mampu menguasai dirinya. Bersamaan dengan Setyo yang datang ke arahnya.
" Ini minumlah terlebih dahulu " Ucapnya sembari menganggsurkan sebotol air mineral.
" Te ..... Terimakasih. " Ucapnya sedikit terbata, sambil menerima botol air mineral yang diberikan oleh Setyo.
Setyo duduk di sampingnya, menikmati air mineral yang berada ditangannya. Sejujurnya Tari gugup berada di samping Setyo seperti saat ini, namun sebisa mungkin dia menutupi kegugupannya saat ini.
" Ayo, kita bisa masuk sekarang. "
Tari tidak menjawab perkataan Setyo, di sedang mencari kata yang pas untuk menolak apa yang Setyo perintahkan padanya.
" Maaf sepertinya aku tidak bisa berangkat. " Ucapnya pelan namun terdengar jelas.
Seketika itu pula segera menoleh kearahnya, seperti di sambar petir di siang bolong yang Setyo rasakan saat ini. Seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, Setyo mencoba meraih tangan Tari yang sedang menggenggam botol air mineral. Namun langsung saja di tepis oleh Tari, tidak seperti sebelumnya.
" Maaf sepertinya aku tidak bisa berangkat. " Ucapnya kembali.
__ADS_1
" Jangan bercanda seperti ini. "
" Aku tidak sedang bercanda. " Ucap Tari dengan penuh keyakinan.
Sejenak Setyo mengacak rambutnya kasar, menyalurkan emosi yang seperti ingin meledak sehingga membuat kepala terasa sakit. Dia menunduk sembari memegang tengkuknya, mengatur nafasnya yang terasa sesak karena menahan emosi.
" Apa mau mu setelah kita melangkah sejauh ini ? ini kesempatan untuk kita berdua. " Tanyanya dengan posisi yang sama.
" Bukan aku yang menginginkan hal ini, tapi kamu aku sudah pernah berkata kita sudah selesai saat kamu meninggalkan ku. Aku tidak pernah berkeinginan meninggalkan suamiku " Ucapnya sembari menegakkan wajahnya memandang Setyo penuh dengan keyakinan akan hal yang dia ucapkan.
Setyo pun menatapnya tak kalah penuh dengan emosi, bagaimana tidak bayangan akan keberhasilannya membawa lari Tari yang tinggal di depan mata sekarang hancur berkeping - keping. Semenjak kemarin dia selalu mengingatkan segala hal tentang mereka dahulu untuk membuat pikiran dan keyakinan Tari goyah.
" Aku harap jangan jadi bodoh karena ***** menguasai pikiranmu, nyatanya kamu benar - benar tidak pantas untuk memiliki seorang wanita di sisimu. Caramu memperlakukan ku saat ini membuatku semakin mengenal siapa dirimu sebenarnya dan seperti apa kamu sesungguhnya. Dulu mungkin kamu berhasil merebutnya dari Mas Syam tapi tidak dengan ku saat ini aku bukan wanita bo doh. " Ucapnya dengan pandangan lurus ke depan menerawang jauh.
" Jangan pernah kamu kobarkan perasaan orang lain demi kebahagiaanmu, terlebih lagi jangan kamu usik sebuah ikatan suci Demi memenuhi hasratmu. Kamu sekarang di mataku tak lebih seperti seseorang yang menjijikan yang harus benar - benar ku hapus dari memoriku. "
Setyo hanya terdiam mendengar semua perkataan Tari, dia sedang mengendalikan emosinya yang akan meledak. Andai saja sosok di depannya itu bukan Tari sudah bisa dipastikan, bogeman miliknya sudah mendarat di wajahnya. Memikirkan hal apa yang akan dia lakukan selanjutnya setelah usahanya sejauh ini ternyata gagal. Dia berdiri dari tempat duduknya ketika sebuah ide terlintas di benaknya.
************
Kedua mobil itu bergerak menyusuri jalanan dengan kecepatan tinggi, jalanan pagi yang masih lenggang membuat perjalanan yang mereka lalui lebih mudah. Perjalanannya yang seharusnya ditempuh satu jam lebih, hanya mereka tempuh dalam waktu setengah jam. Saat tiba di Bandara mereka segera berpencar ke segala arah mencari keberadaan dua orang yang sedang mereka cari.
" Yang lain sisir setiap sudut, jangan sampai ada tempat yang terlewat dan waspada dengan orang - orang yang terlihat bertingkah mencurigakan. " Perintah Nono lagi kepada anggota timnya.
" Siap. " Jawab mereka bersamaan sambil mulai berpencar.
Sementara Gus Syam dan Gus Reyhan juga ikut berpencar ke menyisir setiap tempat. Raut wajah Gus Syam nampak lebih khawatir dari sebelumnya, segala pikiran dan prasangka buruk memenuhi pikirannya.
Tak lama Nono menghampiri mereka, dengan berlari.
" Mereka sudah check-in " Ucapnya sambil terengah.
" Benarkah ? " Tanya Gus Reyhan
" Iya, pesawat mereka tumpangi akan take off beberapa menit lagi. "
Dengan secepat kilat ke tiga orang itu berjalan menuju pintu masuk check-in. Tentu saja mereka di larang masuk karena mereka bukan calon penumpang yang akan melakukan penerbangan. Namun Nono memperlihatkan tanda pengenalnya dan mengutarakan maksudnya untuk masuk ke dalam ruang tunggu.
Mereka bertiga berlari ke sana kemari, menyusuri segala tempat toilet, food court, ruang tunggu dalam semua tak luput dari perhatian mereka. Namun hasilnya tetap nihil mereka tidak dapat menemukan Tari di manapun. Gus Syam mulai putus asa dengan keadaan ini.
__ADS_1
POV. REYHAN
Aku tidak habis pikir kenapa lagi - lagi dia berbuat seperti ini pada Ghasan. Tidak cukupkah dulu di menyakiti Ghasan seperti itu, rasanya aku sudah ingin menghajarnya kalau saja dia ada di depanku sekarang. Saudara macam apa itu yang membawa lari istri saudaranya sendiri.
Aku tidak bisa tinggal diam jika terjadi sesuatu pada Ghasan, dia bukan saudara kandungku tapi ikatan diantara kami lebih dari itu. Bahkan aku menyayangi dia melebihi saudara - saudara kandungku yang lain, mungkin karena sejak kecil kami selalu bersama. Ghasan mungkin bagi semua orang dia adalah sosok yang berhasil dalam semua hal namun tidak ada yang tahu bahwa dia sebenarnya adalah sosok yang sangat rapuh.
Kejadian itu sudah lama sekali tapi meninggalkan bekas luka yang dalam untuk Ghasan. Semenjak kejadian itu Ghasan seolah menjauh menutup hatinya dengan lawan jenis, dan pada akhirnya menemukan cintanya pada sosok Tari. Dua orang yang tidak asing bagiku Ghasan dan Tari, aku bisa di bilang dekat dengan keduanya.
Masih teringat jelas di ingatanku, saat dia membahas sesuatu di telefon dengan istriku
" Iya Mbak aku akan. tetap konsisten dalam pilihanku mencintainya dalam diam dengan segenap keyakinan ku kepada Allah. "
Itu katanya yang aku dengar dari sambungan telefon, kata yang menurutku sudah lama tak aku dengar dari seorang Ghasan. Aku bersyukur sekali saat itu, akhirnya adik ku itu menemukan jati dirinya kembali, bagaimanapun seseorang kodratnya harus berpasang - pasangan.
Semoga ini menjadi awal kebahagian untuk mereka berdua, karena ku tau keduanya itu pernah di uji dengan yang namanya penghianatan sebuah cinta. Dan yang lebih mengejutkan lagi penyebab luka diantara keduanya adalah satu orang yang sama, ya dia adalah Setyo. Aku berharap cukup masa lalu saja yang menyakiti mereka masa depan jangan lagi menyakiti mereka.
Namun kenyataan berbeda, laki - laki itu kembali datang dan parahnya lagi dia mengulang kesalahannya dulu mencoba merebut cinta Ghasan kembali. Aku benar - benar geram dengan laki - laki itu dengan apa yang dia lakukan, sudah aku pastikan aku akan membalasnya dengan caraku.
Sungguh aku tak tega melihat keadaan Ghasan saat ini, keadaanya jauh lebih hancur dari beberapa tahun yang lalu. Semula dia berusaha sebisa mungkin tidak memperlihatkan kesedihannya namun pada saat dia meremas gelas sampai hancur di sana aku tahu bahwa dia tidak sedang baik - baik saja. Sepanjang perjalanan kami menuju bandara aku mengatakan apapun yang bisa mengurangi rasa khawatir dan kesedihannya.
" Shan, kita harus tetap optimis aku yakin pasti kita akan di beri jalan oleh Allah. "
" Sampean harus tetap menahan emosi dan ingat jangan bertindak grusa grusu. "
" Kita harus tetap optimis, aku yakin kita pasti akan bisa menemukan Tari secepatnya. "
Yang pada kenyataanya semua kata - kata ku hanya masuk ke telinga kirinya dan langsung keluar ke dari telinga kanannya. Dia sudah menggigiti kuku jarinya pertanda jika di mulai mengalami kepanikan yang berlebih. Terlebih saat kami sampai di bandara dan Nono mengatakan bahwa.
" Mereka sudah check-in "
Dan ku lihat keadaanya semakin buruk, saat kami pun tak bisa menemukan keberadaan mereka di ruang tunggu bandara. Sementara keberangkatan pesawat yang akan mereka tumpangi hanya menyisakan beberapa menit. Itu berarti bahwa tentunya mereka sudah pasti berada ada di dalam pesawat itu.
Bersambung .....
Assalamualaikum wr. wb.
Apa kabar readers semua ? semoga dalam keadaan sehat selalu, maaf bila jadwalnya tidak tentu. Banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan up namun selalu diusahakan up jika sikon memungkinkan. Seperti satu bab ini sebab ke pending selama beberapa hari, ketika si gigi mulai meminta perhatian ekstra lagi 😓😓.
Untuk para readers like dan komen selalu di tunggu untuk author, sebagai pemicu semangat dalam menulis.
__ADS_1
Peluk dan sayang untuk kita semua, semoga kita selalu dalam lindungan Allah dan segera di ijabah segala doa - dia kita Amien .....