Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
18. Doa


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


POV. TARI


Aku percaya akan semua yang ditakdirkan Allah kepadaku, tapi kadang aku masih ragu dengan semua perasaan yang aku rasakan. Sungguh kenapa diri ini masih juga tidak tahu diri dengan sikap yang masih seperti ini keraguan yang selalu muncul setiap waktu itu. Entahlah yang harus aku lakukan hanya meyakinkan diriku saja, tanpa menoleh luka lamaku. Tapi satu hal yang pasti dan selalu aku yakini bahwa janji- Nya tidak akan pernah ingkar. Disetiap sujudku selalu ku sampaikan keluh kesah ku pada - Nya, tempat semua muara doa dan kehidupan.


" Allahu Akbar "


Suara itu, membuat debaran jantungku q yang beradu di tengah-tengah sholatku. Mengalun begitu indah bersenandung penuh suka cita dengan lafadz - lafadz Kalam ilahi berjalan beriringan dengan merdunya. Sungguh mampu menguncangkan dadaku, jantung yang tak tahu diri ini begitu berdetak dengan kerasnya seolah olah akan loncat dari tahtanya. Saat ku dengar lantunan surat Al- Kafirun di rakaat pertama itu, hatiku tambah berdesit surat yang begitu dalam bagiku. Suara yang begitu aku kenal tapi aku tidak tahu siapa pemiliknya, yang mampu memberi ketenangan bagiku.


Sholatku kali ini tak seperti sholatku biasanya, debaran serta ketenangan yang berjalan beriringan. Sampai suara itu mengakhiri sholat ini, dan saat itu pula aku tersadar. Ku lanjutkan dzikir yang biasa aku lantunkan, sampai - sampai tanpa terasa buliran kristal bening lolos melewati pipiku. Fikiran ku tertuju pada Hawa, sampai suatu suara kembali mengusikku suara yang sama, suara yang memimpin sholatku.


Al - Waqiah dilantunkan dengan begitu jelasnya, sungguh begitu menenangkan hati yang rapuh ini. Sungguh lancangnya diri ini yang ingin mengetahui siapa pemilik suara itu, sampai tak sadar ku langkahkan kaki ini menghampiri satir pembatas di mushola ini. Ku dapati bayangan seseorang bertubuh tegap dengan punggung yang lebar, seakan - akan memberikan perlindungan untuk siapapun.


Tenang dan tenang itu yang saat ini kurasakan walaupun debaran jantung ini tak menentu. Saat suara itu terhenti aku tersadar dan melepas mukena yang ku pakai dengan segera ku berlari menuju pintu mushola dengan cepat ku arahkan mataku menyapu area dalam yang terbagi dua ruangan itu. Namun tak ku dapati siapapun disana.


Ku alihkan pandanganku, ke luar mushola saat ku dapati punggung yang lebar serta tubuh yang tegap itu berbalut sarung berwarna hitam dan kemeja koko.


Apakah benar dya pemilik suara itu, kenapa mendengarkan suaranya saja membuatku setenang ini,


Ku balas pesan dari Mbak Rina yang menanyakan keadaan Hawa, sambil berjalan meninggalkan kantin menuju koridor rumah sakit tempat dimana Hawa dirawat. Sampai tubuhku ini tertabrakbrak seseorang yang berjalan tergesa - gesa dari arah belakang ku.


Brbbrruuukkk


Sontak saja tubuhku ini terhuyung akan jatuh, tapi dengan sigap seseorang yang menabrak ku menangkap tubuh mungil ku ini. Dan kenapa juga jantung ini kembali berdetak tak karuan, aku yakin orang yang sedang menabrak ku ini mendengar jantung yang tak tau diri ini.

__ADS_1


" Mbak sekali lagi saya minta maaf, saya terburu - buru "


" Mari dok, kita tidak punya banyak waktu"


Sungguh aku tak mempunyai cukup keberanian untuk menatap wajah pemilik tubuh itu. Hanya saja mataku tak mengalihkan pandangan pada pergelangan tangannya, Arloji serta gelang tasbih itu dapat kulihat dengan jelas. Kedua bendai itu mampu membuat ku mengingat kejadian kemarin yang aku alami.


Saat aku sudah tersadar dengan semua itu, segera ku arahkan pandangan ku untuk mencari kedua orang itu. Tapi tak ku dapati mereka berdua, tubuh mereka hilang entah kemana. Sungguh jujur saja aku sangat tidak tahu diri kenapa bisa seperti ini mulai dari suara sampai pemilik arloji itu sekarang memenuhi fikiranku. Banyak sekali pertanyaan yang ada dalam fikiranku.


Kenapa kejadiannya berlalu terlalu cepat, tetapi kenapa rasanya begitu tenang. Seperti sesuatu yang selama ini ku cari, dan kenapa selalu diiringi debaran jantung yang tak tau diri ini. Entahlah yang jelas ku pasrahkan semua yang ada kepada-Nya, sang pemilik hati ini.


Untuk saat ini aku tidak mengharapkan apa pun kecuali kedua malaikatku, hal apapun yang mampu membuat mereka bahagia akan aku lakukan dengan senang hati. Karena bagiku Beliaulah Tuhan yang nampak bagiku sekarang, jadi apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan ridho mereka karena hal itu pertanda ridho-Nya untuk ku.


Ya Allah pemilik hati ini, Engkau maha mengetahui atas semua yang terjadi pada hambaMu. Hamba pasrahkan semua hidup hamba padaMu tiada sedikitpun keraguan dalam hati hamba atas takdir dan ketetapan yang Engkau berikan pada hidup hamba. Berikanlah hamba keihklasan dan kesabaran dalam menerima takdir dan ketetapan yang Engkau berikan Amien Amien Amien.


Entah apa perasaan yang dirasakan mas Pandu padaku, aku tidak begitu ingin tahu tentang hal itu. Hal yang aku takutkan pun terjadi dia merasakan perasaanya padaku, sungguh aku tidak nyaman dengan hal ini. Dia begitu teguh dengan pendiriannya untuk membuat ku membuka hati untuknya. Dan betapa bodohnya aku ini, ternyata pertahanan Ku tak Sekokoh itu.


" Mulai sekarang cobalah, menulis namaku di hatimu "


"Insyaallah mas"


Dengan munculnya kata itu, aku pasrahkan semua pada Mu sang pemilik hati. Walaupun keyakinan itu belum ada tapi kenapa kata itu meluncur begitu saja dari bibirku. Apalah daya ku siapa aku yang mampu menolak takdir Mu, aku yakin semua yang didasarkan atas dasar ingin mencari ridho - Mu pasti akan berakhir dengan baik. Itu hal yang selalu aku percayai.


Sungguh semua ini berjalan begitu saja, aku hanya bisa mengiyakan semua permintaan dari mas Pandu. Serta semua dorongan yang diberikan orang - orang disekitar ku membuat ku seakan mendapatkan dukungan atas semua yang aku lakukan. Padahal dalam hati ini tiada sedikitpun tertulis namanya. Sebenarnya aku takut memulai sebuah hubungan tanpa dasar fondasi yang bernama cinta.


Tapi aku menoleh kebelakang ketika cinta itu pernah menggores hati ku dengan meninggalkan luka yang begitu dalam. Lantas ku putuskan untuk tidak mengikut sertakan cinta dalam hubunganku kali ini. Saat ini fikirku menjalin sebuah ikatan demi menyempurnakan agamaku, dan membahagiakan orang - orang disekitar ku.

__ADS_1


Tiba saatnya Mas Pandu meninggalkan aku, dia harus kembali menjalankan tugasnya sebagai kapten kapal di sebuah perusahaan kapal pesiar. Tidak ada rasa kehilangan atau sekedar rasa kecewa karena dia meninggalkanku. Tapi kata - katanya yang selalu sama yang membuat aku sedikit sesak nafas terkadang membuat pipiku berona merah.


" Kamu juga hati - hati disini. Terus kabari aku tentang keadaanmu dan persiapkan dirimu karena kepulangan ku yang akan datang aku akan menjadikanmu milikku"


" Insyaallah mas, mari kita sama - sama berdoa agar Allah meridhoi keinginan kita"


Kata - kata yang sukses membuatku tidak tidur semalaman karena memikirkannya. banyak sekali timbul pertanyaan mengenai hal ini, tentang kesiapanku, keyakinanku, perasaanku dan rasa cinta pastinya. Biarkanlah waktu yang menjawab semua pertanyaanku itu, aku hanya bisa menjadi lebih baik lagi untuk mendampingi mas Pandu.


Ternyata kabar ini sudah sampai ke kedua malaikatku, aku kurang begitu tau mereka tau dari mana. Tapi yang aku lihat tampak sekali harapan serta kebahagian yang begitu besar. Apakah hal seperti ini yang sebenarnya di inginkan mereka ?? Tanyaku dalam batinku. Aku teringat perasaan ku kepada mas Pandu karena tidak ada rasa Cinta disana apakah bisa sebuah ikatan suci tanpa didasari hal itu ?. Mengingat wajah kedua malaikatku yang begitu berbinar dengan kabar ini sedikit memberikan celah pada tembok yang aku bangun didalam hati ini.


Ada satu hal lagi yang aku takutkan, bukankah satu ikatan suci tu bukan hanya penyatuan dua insan atas nama cinta. Melainkan juga penyatuan dua kelurga antara keduanya, apakah kedua orang tua Mas Pandu meridhoi ikatan yang akan kami bangun. Ya kami dari keluarga yang berbeda Mas Pandu dari keluarga berkelebihan dalam segala hal, sedangkan aku dari keluarga kekurangan dalam segala hal pula.


" Nduk, apakah sampean bersedia menjadi isteri untuk anak pak de ? "


" Pak de maaf sebelumnya, Apakah pak de bisa menerima keadaan Ijah yang seperti ini ?


Diluar dari dugaan ku ternyata keluarga Mas Pandu tidak seperti yang aku bayangkan. Bapak serata ibu Mas Pandu menerima ku dengan tangan terbuka, tidak ada kalimat penolakan sama sekali. Tak ada henti - hentinya mereka berucap syukur ketika aku mau menerima lamaran putra tunggal mereka. Hal ini membuatku sedikit menghilangkan keraguan atas perasan ku kepada Mas Pandu ......


Ya Allah Azza Wa Jalla seng pemilik hati ini, Tiada yang tidak mungkin bagi - Mu. karena Engkau pemilik dari setiap hembusan nafas ini, karena hanya engkau yang mampu membolak balikkan hati umatmu. Engkau Maha mengerti semua yang ada, tanpa hamba berlisan. Dekatkanlah, hilangkan semua rasa keraguan ini apabila beliau memang imam bagi sisa hidup hamba, dan jauhkanlah beliau bila dia bukan imam yang kau pilihkan untuk hamba tanpa rasa sakit untuk kami berdua. Amin Amin Amin


Itulah yang selalu yang aku ucapkan disetiap sepertiga malam ku, tak lupa selalu ku ucap namanya disetiap doa ku. Salah satu caraku untuk membuahkan cinta dalam diriku.


Aku tidak serta Merta setiap hari berkirim pesan untuk bertukar kabar. Mau bagaimana aku harus memahami pekerjaan dia mengarungi samudra luas pasti sinyal sudah dipastikan tidak ada. Tapi dia selalu menyempatkan diri untuk memberiku kabar disaat dia sandar di suatu kota. Sungguh dia tipe lelaki yang bisa membuat wanita tersipu malu hanya karena membaca pesan darinya, kata - katanya sungguh benar - benar lembut dan penuh kehangatan. Mampu membuat lubang pada dinding hatiku, yang memang seharusnya kubuka saat aku mengiyakan niatan baiknya.


Bersambung ........

__ADS_1


__ADS_2