Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
63. Mencoba terbebas


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


POV. TARI


Seperti biasa malam hari merupakan saatnya kami berkempul, seperti malam - malam sebelumnya. Kami semua duduk memenuhi ruang tamu banyak hal yang kami lakukan, melihat tv, mengobrol bercanda bahkan mengejek satu sama lain. Itu sudah biasa kami lakukan yang membuat kami semakin akrab satu sama lain. Meskipun diluar sedang hujan tapi di dalam sini kurasa cukup hangat.


Entah mengapa tiba - tiba aku ingin sekali keluar, padahal di luar sedang gerimis. Seolah - olah ada hal yang mendorongku untuk melangkah ke teras. Ku lihat tanah depan asrama yang tergenang air di beberapa titik. Aku berdiri cukup lama sehingga badanku merasa sedikit dingin.


" Mbak kenapa disini ? " Ucap Wardah sembari menepuk bahuku pelan.


" Hanya ingin mencari udara dingin saja. "


" Ouwh, ya sudah aku keatas dulu ya mbak. "


" Iya sebentar lagi aku menyusulmu. "


Gadis kurus itu selalu saja menghawatirkan ku, dibalik sifatnya yang sedikit pecicilan, dia sangat perhatian terhadap orang lain. Angin tiba - tiba bertiup sepoi meniup wajahku berlahan,


Deg ....... deg ...... deg ......


Debaran macam apa ini, kenapa jantungku seperti ini. Aku berusaha mengontrol jantungku yang seakan mau keluar dari tempatnya. Saat ku menatap ke arah pintu samping, nampak dua sosok yang datang kearah ku. Satu wanita dan laki - laki disampingnya, Namun wajah mereka tak nampak dari tempatku berdiri. Wanita itu terus berjalan ke arahku, namun laki - laki itu berhenti di halaman.


" Assalamualaikum, Tar kenapa masih disini ? "


" Walaikumsalam, Mbak Lenni. "


Akhirnya kami masuk bersama namun sebelum aku mencapai pintu aku menoleh ke belakang karena ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku terkejut ketika ku dapati siluet wajah yang tidak asing bagiku, bahkan aku sangat mengenalnya.


Pagi ini cukup mengejutkan tanpa sengaja aku menumpahkan air panas ke tanganku. Jujur saja kejadian tadi malam membuatku sedikit gugup, dan berhasil membuatku kurang nyaman.


Dan tidak cukup disini saja saat aku akan berangkat bekerja betapa aku terkejut ketika ku dapati dia sudah duduk di sofa asrama kami. Sungguh aku tidak baik - baik saja, namun aku mencoba untuk mengabaikannya seolah - olah aku tidak mengenalnya. Bahkan aku sempat melemparkan senyuman saat tanpa sengaja pandangan kami bertemu.


Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat itu, selama setengah hari ku lalui dengan dada yang terasa amat sesak. Luka yang kurasa sudah mengering seakan kembali terbuka. Sebisa mungkin ku sembunyikan rasa sesakku dari semua orang.


Bukannya aku tidak mengikhlaskan takdir yang ditentukan Allah padaku namun aku hanya manusia biasa. Kenangan itu manis tapi terlalu pahit untuk ku rasa saat ini. Nyatanya waktu pun tak sanggup menghapusnya.


Kami dahulu memiliki kisah, hampir 3 tahun kami dekat. Hingga suatu ketika kami berdua sepakat untuk membawa hubungan itu ke sebuah ikatan pernikahan. Padahal saat itu aku baru lulus SMK, jarak usia kami cukup jauh aku yang masih berusia 18 tahun dan dia yang sudah berusia 28 tahun. Tapi hal itu tidak menghalangi niatan kami untuk bersama.


Kami menjalani hubungan jarak jauh hanya sesekali bertemu, tapi komunikasi kami lakukan setiap hari selama hampir 3 tahun itu. Banyak mimpi yang kami bangun bersama, rencana - rencana indah mengenai kehidupan indah setelah pernikahan. Dan aku menyadari betapa naifnya aku disaat itu, yang hanya memandang dunia dari sisiku.


Aku ingat betul pagi - pagi sekali aku berangkat ke Kediri bersamanya untuk memperkenalkan ku ke keluarganya sekaligus meminta restu. Itu pertama kalinya bagiku bertemu keluarganya ada rasa gugup dan tidak percaya diri tapi dia selalu meyakinkan ku kalau keluarganya akan menerimaku.

__ADS_1


Tapi kenyataan berkata lain setelah aku bertemu dengan keluarganya ternyata semua tidak seperti yang kami harapkan. Keluarganya menentang hubungan kami, dengan alasan aku tidak sepadan dengannya. Mereka menyuruhku pulang, dan waktu itu aku masih ingat aku diberi uang 50 ribu sebagai ongkos ku pulang.


Tak cukup memperlakukan aku seperti itu, selang beberapa hari setelah kejadian itu, dia datang ke rumahku dengan keluarganya aku saat itu berpikir kalau orang tuanya akan merestui hubungan kami. Aku senang sekali karena sesungguhnya aku waktu itu sangat berharap kalau hubungan kami akan tetap berlanjut.


Namun, Orangtuanya datang hanya untuk memperingatkan orang tua ku agar tau kualitas dan kuantitas anak gadisnya. Harus tahu diri kata mereka dahulu, orang yang seperti ini jodohnya orang yang seperti ini. Kedua orang tua ku hanya tertunduk dengan semua perkataan yang mereka ucapkan terlalu menyakitkan sehingga orang tua ku sampai tak mampu menegakkan kepala.


Luka yang ditimbulkan bukan hanya untukku saja tetapi untuk kedua malaikatku. Pelajaran itu sangat berharga, yang akan menjadi pengingat untukku dalam setiap langkah.


Tapi dada ini masih saja sesak mengingatnya, jantung ini pun seolah berkhianat dengan tak tahu dirinya berdebar tak karuan dikala setiap bertemu dengannya. Tiba - tiba kepala ku sakit sekali ya, ini hal yang biasa terjadi ketika aku memikirkan hal terlampau berat. Ngilu sekali rasanya, seperti ada paku yang menancap disana. Tidur mungkin hal ini bisa mengusir rasa sakit ini, sebelumya sudah ku minum obatku untuk menghilangkan rasa sakit ini.


Aku terbangun di tengah malam, ternyata tidur tidak dapat menghilangkan sesak ini. Aku segera menyucikan diri, ku gelar sajadahku lalu ku tumpahkan semua Kelik kesah ku kepada-Nya sebaik - baiknya tempat untuk mengadu.


Ya Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, hamba tahu Engkau tidak akan pernah memberi cobaan melebihi kemampuan hamba-Mu. Hamba percaya Engkau selalu memilihkan jalan yang terbaik untuk hamba-Mu. Pertemuan ini jadikanlah penyembuh untukku dari rasa sakit yang selama ini aku rasakan. Hilangkan prasangka diantara kami berdua agar kami bisa saling mengikhlaskan satu sama lain.


Aku kembali berdiri, ku tunaikan sholat istikhoroh 2 rakaat sebagai penguat hatiku. Kepada siapa lagi kita mengadu selain kepada-Nya karena hanya Dialah yang mempunyai jawaban atas semua pertanyaan yang kita punya. Setelah itu hatiku mulai tenang, dan dadaku juga sudah tak merasa sesak lagi.


Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, kami dipertemukan kembali, aku sudah tidak merasa gugup seperti sebelumnya.


'" Apakah kalian akan terus diam begini. " Ucap Mbak Lenni tiba - tiba.


Aku tidak menjawabnya, dan memang tiada niatan diriku untuk membahas hal yang lalu dengannya. Bagiku kami benar - benar sudah selesai.


" Apa yang harus saya bicarakan mbak ? "


" Len tolong, jaga bicaramu. " Ucap Mas Setyo keras.


" Saya sedang tidak berpura - pura, dan saya rasa memang tidak ada yang harus saya bicarakan Mbak. "


" Kalian harus bicara, karena perasaanya tidak pernah terselesaikan kepadamu. " Mbak Lenni memandang Mas Setyo dengan rasa penuh Kecewa.


" Maaf Mbak sepertinya sampean benar - benar salah faham. "


Beberapa menit kemudian Mas Fahmi datang, dia memintaku untuk ikut bersamanya untuk memeriksakan kepalaku. Seolah dia bisa membaca keadaan yang sedang aku alami sehingga perintahnya kali ini tidak bisa aku tolak, jadilah kami meninggalkan kedua pasangan itu.


" Aku bisa menjadi pendengar yang baik bila kamu ingin bercerita ? "


" Masa lalu mas, yang dipertemukan kembali. "


" Masih ingin kembali mengulang masa lalu ? Tanya sambil menoleh ke arahku ? "


" Tidak sama sekali, " Jawabku pasti.

__ADS_1


" Gadis pintar, belajarlah dari sebuah kesalahan dan jadikan itu sebagai pengingat jangan pernah kembali kebelakang apabila di depan masih terbentang jalan yang lain. "


" Tentu saja Mas. "


Ini Minggu terakhir aku mengajar karena Minggu depan sudah masuk libur panjang akhir semester. Karena aku mengajar pendidikan kelompok bermain (TK) jadi sekolahku libur seminggu lebih awal dibanding tingkat pendidikan diatasnya. Semenjak kejadian itu Mbak Lenni tidak pernah mau membalas ketika aku menyapanya. Tapi aku tidak memasukkan hal itu dalam hati, mungkin dia belum tau yang sebenarnya bigitulah fikirku.


Aku terkejut saat ku dapati dia sudah berdiri di depan pintu gerbang mengandeng seorang gadis kecil. Ku sapanya dengan ramah sambil ku raih tangan gadis kecil yang digandengnya. Saat tiba jam pulang pun dia sudah di halaman menyunggingkan senyum di wajahnya menjemput keponakannya. Itu hanya alasan saja atau memang dia sebaik itu. Hal itu terjadi sampai seminggu lamanya dan tiada obrolan diantara kami. Aku menyapanya hanya sekedar ramah tamah yang kulakukan kepada semua wali murid yang mengantar atau menjemput anaknya.


Saat liburan tiba, aku kembali ke Blitar rumahku tempat ku pulang. rumah yang beberapa minggu ini tidak aku singgahi karena kesibukan ku. Rumah yang selalu membawa ketenangan, tempat ku merasa aman dan nyaman. Aku tidak berani menceritakan hal yang ku alami kepada kedua malaikatku aku takut itu bisa membuat luka yang sudah menutup terbuka kembali.


Aku terheran ketika memperoleh panggilan dari sebuah nomer baru.


📞 Assalamualaikum.


📞 Walaikumsalam.


📞 Bagaimana kabarmu ?


📞 Alhamdulillah baik.


📞 Tidakkah kamu menanyakan kabarku ?


📞 Aku rasa kamu jauh lebih baik dari yang terlihat.


📞 Kita harus bicara, agar ini terselesaikan.


📞 Itu sudah selesai, semuanya sudah selesai.


📞 Mudah sekali bagimu mengatakan itu, kamu tak tahu betapa hancurnya aku setelah kejadian itu.


📞 Maaf ini sudah malam, Assalamualaikum. "


Ku tutup panggilan itu, karena aku merasa jengah kenapa kita berjalan mundur padahal jalanan di depan sana lebih indah itu pikirku. Walaupun sejujurnya kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di depan sana. Setelahnya rentetan beberapa pesan masuk ke handphone ku, tiada niatan aku membukanya.


Hari ini Gus Reyhan menghubungi ku untuk meminta tolong kepadaku, aku sanggupi permintaan beliau untuk menemani istri dan anaknya ketika beliau sedang ada urusan di luar kota. Aku menginap dirumahnya 4 hari, cukup mengalihkan pikiranku dari dia. Tapi dia tidak henti - hentinya mengirim pesan kepadaku. Yang membuat ku geram ketika dia mengancam akan mendatangi kedua orang tua ku apabila aku tidak menuinya.


" Apa yang harus aku lakukan Mbak ? "


" Temui dan jelaskan semua, itu hal yang paling baik. Tapi ingat jangan sampean temui sendiri setidaknya ajaklah teman baik yang sampean oercaya. "


Begitulah kata - kata mbak Rina, semua ku ceritakan padanya karena bagiku sedikit banyak dia tau tentang ini. Kemudian aku menghubungi Wardah menanyakan keberadaannya ternyata dia sudah di rumah orang tuanya. Kebetulan sekali lalu aku memintanya untuk menemaniku, tanpa bertanya apapun dia langsung mengiyakan permintaanku.

__ADS_1


Dan jadilah kami disini .......


Bersambung .......


__ADS_2