Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
37. Terbangun


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Sungguh kuasa Allah atas semua ketetapan yang beliau berikan kepada makhluknya. Tiada pernah Beliau menguji makhluknya melebihi batas kemampuannya. Karena hanya Beliaulah yang mengerti kuantitas dan kualitas yang kita miliki. Dan bukanlah ujian itu tanda kasih -Nya yang paling nyata.


Suara diujung telefon itu tetap melantunkan Kalam Ilahi dengan merdunya. Sementara gadis mungil itu matanya mulai terbuka tapi pandangannya masih kosong menatap langit-langit kamar tempatnya dirawat. Kristal bening berjatuhan dengan derasnya dari pelupuk matanya, sembari bibirnya bergumam ikut melantunkan Kalam Ilahi yang dia dengar dari handphone itu. Semua orang didalam ruangan itu hanya terdiam menyaksikan kejadian itu, mereka tak mampu berkata-kata.


📞" sodzakhaAllah Hull Adzim ..... "


📞 Tut Tut Tut Tut ..........


Dan seketika itu sambungan telefonnya terputus. Tari masih terdiam, dia berusaha menatap semua orang yang mengerubungi brangkarnya. Kemudian dia menyunggingkan bibirnya di wajah yang masih pucat itu. Dengan suara lirih dan pelan dia berbicara


" Aku dimana Bulik ?, kenapa kalian semua menangis."


" Sampean di rumah sakit nduk, Alhamdulillah sampean akhirnya sadar juga nduk. " Ucap Bu Yuli sambil menyeka air matanya.


" Mana Ayah dan Ibu Bulik ? "


" Sebentar nduk, Ibumu masih pulang sebentar lagi Mbak Fat pasti segera datang. "


" Tar, sudah jangan dipaksakan bicara dulu. "


" Sebentar Irhas akan panggilkan Dokter dahulu. " Laki - laki yang beranjak dewasa itu berdiri dan keluar ruangan perawatan Tari.


Tak lama berselang Irhas datang di ikuti Seorang Dokter dan beberapa perawat dibelakangnya. Mereka segera masuk keruangan perawatan itu, dan memulai untuk melihat kondisi Tari melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui keadaan Tari pasca bangun dari komanya. Perawat mulai memeriksa dan menanyakan beberapa hal yang di jawab gelengan dan anggukan oleh Tari. Semua alat medis yang dipasang di tubuh Tari akhirnya satu persatu dilepas, Hanya menyisakan selang infus yang ada ditangannya.


" Sesuai perkiraan saya bahwa keadan pasien sebenarnya sudah baik tetapi beliau hanya sedang berjalan - jalan saja di dunia mimpi. " Ucap Dokter sembari menyelipkan kata candaan untuk mengurangi kegugupan diruang itu. "


" Perlukah melakukan pemeriksaan lanjutan Dok ? "


" Sepertinya tidak perlu pak, karena tidak ada keluhan pada pasien. "


" Bagaimana mbak Tari, semua baik kan "


" Iya Dok, " Jawab Tari mengangguk sembari tersenyum.


" Hanya perlu observasi pada luka bekas operasi saja, dan pasien harus cukup istirahat itu saja. Baiklah saya permisi. Assalamualaikum "


" Terimakasih Dok, Walaikumsalam. " jawab semua orang dalam ruangan itu.


" Sudah Tar, sampean istirahat dulu ya. " Ucap Rina lembut sembari merapikan selimut Tari. Dan dia berjalan di sofa dimana Gus Reyhan dan Irhas duduk.


Sedangkan Bu Yuli diluar beliau menelfon Irsyad untuk mengabarkan pada Bu Fat kalau Tari sudah siuman dan keadaanya sekarang baik - baik saja. Setelah memberi kabar pada Irsyad Bu Yuli kembali masuk keruangan Tari dan ikut duduk di sofa. Sedangkan Tari sudah kembali terpejam entah karena apa dia sudah tertidur lagi.


" Gus, saya tidak asing dengan suara tadi " Ucap Irhas karena dia sepertinya mengenali suara itu.


" Benarkah ?, "


" Enggeh Gus, seperti suara Gus di pondok saya. "


" Suara siapa le, kan yang suaranya begitu banyak le kayak yang dimurottal - murrottal itu kan. "Ucap Bu Yuli


" Mboten buk, saya yakin itu suara Gus Gazzan, salah satu pengasuh di pondok saya buk. Gus favoritnya Irsyad itu Lo buk. "


Gus Reyhan dan Mbak Rina hanya saling pandang dan tersenyum melihat pengakuan Irhas.


" Itu suara sepupu saya, yang sudah seperti adek kandung saya. " Jawab Gus Reyhan seraya tersenyum, tanpa ingin menjelaskan lebih jauh lagi.

__ADS_1


**********


Bu Fatma beristirahat cukup lama di rumahnya, semenjak kedatangannya siang tadi dan sampai sekarang menjelang Maghrib wanita paruh baya itu belum keluar dari kamarnya. Sedangkan Irsyad menunggu Bude yang sudah dianggap seperti ibunya itu di ruang tamu. Dia tidak berniat memberitahu Bu Fatma kalau Tari sudah sadar, karena ingin wanita paruh baya itu istirahat. Nanti setelah beliau bangun dia akan memberitahunya.


" Le sudah jam berapa ini ? "


" eh Ibuk, baru jam 5 lebih buk. Sampean kok sudah bangun to ? "


" Sudah cukup le istirahatnya. "


" Buk ayo segera bersiap setelah Maghrib kita kembali ya, Mbak Tari sudah siuman. "


" Apa le ? "


" Iya buk Mbak Tari sudah siuman, dari tadi siang. Maaf Irsyad tidak langsung memberitahu ibuk, karena pengen ibuk istirahat dulu. "


" Alhamdulillah, ....... Anak lelaki ibuk sekarang sudah dewasa ya. " Ucap Bu Fatma dengan tersenyum ke arah Irsyad, sambil mengacak rambut laki - laki itu.


" Ayo buk segera bersiap, Tadi Ayah sudah berangkat karena beliau takut tidak ada bis kalau kemalaman. "


Wanita paruh baya itu segera pergi ke kamar mandinya, untuk membersihkan diri. Setelah melakukan kewajibannya dia mempersiapkan beberapa keperluan keluarganya untuk dia bawa. Mereka pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor yang dikendarai Irsyad menuju rumah sakit.


************


Laki - laki paruh baya itu mempercepat langkah kakinya untuk segera sampai keruangan dimana putrinya dirawat. Senyum simpul selalu tersungging di wajah keriputnya, Seolah beban hidupnya telah berkurang.


" Assalamualaikum " Ucapnya sembari masuk kedalam ruangan.


" Walaikumsalam " sahut semua orang yang ada didalam.


Pak Rahmat menyalami satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian dia berjalan kearah brangkar Tari, mendudukkan tubuhnya pada kursi tepat disebelah Tari. Diambilnya tangan putrinya itu, di genggam kemudian tangan kirinya membelai pelan pucuk kepala Tari yang tertutup jilbabnya. Merasa ada yang membelainya Tari membuka matanya dengan perlahan, senyumnya mengembang ketika melihat laki - laki yang paling dicintainya itu.


" Nduk sampean sudah siuman, "


" Maafkan Tari yah, sudah membuat ayah khawatir. "


" Enggak nduk, apakah masih ada yang sakit ? " Ucap Pak Rahmat ingin mengalihkan pembicaraan, karena beliau tidak ingin membuat putrinya itu bersedih.


" Tidak ayah, hanya saja tubuh Tari sedikit lemas. "


" Alhamdulillah nduk, sampean harus cepat sembuh. " Sambil mencium pucuk kepala putri semata wayangnya itu.


" Enggeh Yah. " Kedua ayah dan anak itu mencurahkan isi hati mereka masing - masing sampai terdengar tawa dari bibir Tari.


Mbak Rina dan Bu Yuli menghampiri Tari, mereka mengulas senyum di wajahnya.


" Suaranya sudah keras Bulik, bisa - bisa besok sudah dibawa pulang ini. " Ucap Mbak Rina menggoda Tari.


" Iya mbak Rina, sepertinya sudah sembuh ini. " Bu Yuli menimpali.


" Iya Mbak Rina sepertinya sudah sehat sekali ini, sudah mulai manja lagi pada ayahnya. "


" Enggeh yah, kalau ada njenengan keluar deh manjanya. Coba pas sama orang lain, diam saja kayak kul sawah itu loh yah. "


Seisi ruangan ikut tertawa mendengar candaan Mbak Rina pada Tari, sedangkan yang di goda hanya tersenyum simpul. Karena memang benar yang dikatakan Mbak Rina. Tari akan menjadi pendiam dan bicara hanya seperlunya dengan orang - orang yang baru dia kenal. Tetapi dia akan menjadi gadis manja dan periang bila berhadapan dengan orang - orang terdekatnya.


" Assalamualaikum "

__ADS_1


" Walaikumsalam "


Wanita paruh baya itu langsung berjalan kearah brangkar Tari. Senyumnya tersungging di wajah keriputnya saat mendapati putri semata wayangnya itu sudah siuman. Bahkan gadis itu terlihat baik - baik saja dengan senyum yang mengembang di wajah mungilnya. Bu Fatma tak henti - hentinya bersyukur ketika melihat keadaan putrinya sekarang, dengan segera wanita paruh baya itu memeluk putrinya menumpahkan segala perasaan yang ada dalam hatinya. Suasana di kamar itu berubah menjadi haru, beberapa orang disana pun ikut meneteskan air mata.


" Maafkan Tari buk, "


" Iya nduk, Terimakasih sampean sudah mau bangun. " Sambil mencium pucuk kepala putrinya.


Rina bahagia begitu terasa di ruangan itu, Kedua pasang kembar itu bola bersama ada saja tingkah mereka yang membuat orang seisi ruangan tertawa. Selama Tari dirawat mereka selalu menemani, terlebih Irhas dia begitu merasa bersalah karena dia berfikir karenanya lah Tari begini.


" Mbak Rina perutnya di sambat Lo, nanti ketularan tingkah lakunya dua anak itu. "


" Enggeh Bulik, dari tadi saya sambat Bulik. lalu ketularan Nganteng ya mboten nopo - nopo Bulik. Kalau pas yang bulat usilnya, "


Seisi ruangan tertawa mendengar percakapan Bu Yuli dan Mbak Rina.


" Ibuk, jangan begitu. Gini - gini anaknya ibuk itu banyak yang naksir "


" Iya le banyak yang naksir belum tau kelakuan kalian yang sebenarnya. Masak selama dirumah sakit sini sudah berapa perawat yang tiap kali nunggu di depan ruangan situ. "


" Buk, mereka menyadari kegantengan kedua anak Ibuk ini. Makanya mereka pinter tau manfaatkan kesempatan dengan baik. Kapan lagi ketemu orang Nganteng kayak gini cobak. "


" Buk sepertinya seneng ya punya anak ganteng itu. " goda Gus Reyhan.


" Seneng gimana Gus, kalau anaknya pendiam ngak papa Gus. Laini malah sebaliknya, di manapaun berada selalu ada saja tingkahnya. "


" Disyukuri saja buk, punya dua anak ganteng dan Sholeh seperti mereka sikap yang lainnya itu anggap saja bonusnya yang harus tetap disyukuri. "


Obrolan terus saja bergulir di ruangan itu, mereka memang sudah dekat layaknya keluarga. Ketika pukul tepat 21:00 Gus Reyhan dan Mbak Rina berpamitan untuk pulang karena hari sudah malam.


Setelah mereka berpamitan, mereka segera berjalan menuju parkiran menuju mobil mereka. Suara mesin terdengar dan mobil itu melaju meninggalkan parkiran rumah sakit menuju jalan raya.


" Mas, kok bisa seperti itu ya "


" Apanya yang seperti itu ? "


" Tari langsung sadar ketika mendengar suaranya "


" Mungkin hanya kebetulan, " Ucap Gus Reyhan seraya masih berkonsentrasi dengan kemudinya.


" Aku hanya berharap Tari mendapatkan yang benar - benar pantas untuknya Mas. "


" Tidak kah ada keinginan dia untuk mengkhitbah Tari mas ? "


" Ehmz, kalau masalah itu Mas kurang tau dek Mas juga tidak berani menanyakan. "


" Seharusnya biasakan Mas dia mengkhitbahnya terlebih dahulu, bukankah hal baik itu sangat dianjurkan untuk disegerakan. Aku khawatir kejadian seperti ini terulang kembali mas. "


" Iya dek Mas tau kekhawatiran sampean, bukankah jodoh kita itu sudah pasti dan untuk hal itu kita hanya bisa mendoakan mereka benar - benar berjodoh. Biarkanlah mereka saling memantaskan dulu dek saling mempersiapkan diri mereka masing-masing. "


" Semoga ya mas, aku takut bila Tari sampai mendapatkan orang yang salah lagi. " Ucapnya sambil memperlihatkan wajah yang khawatir.


" Tenang sayang, insyaallah tidak. Jodoh itu cerminan diri kita, Tari anak yang baik dan insyaallah juga dia pasti akan mendapatkan yang baik pula." Sambil mengelus perut istrinya yang mulai membuncit itu.


" Mas jangan mulai, aku ngak mau muntah disini loh. Eman makanan yang tadi sudah masuk. "


" Sayang jangan terlalu sensitif kalau sama Abi, sampai rumah Abi akan mengunjungimu ya. " Ucap Gus Reyhan diiringi senyum licik diwajahnya.

__ADS_1


Bersambung .........


__ADS_2