
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
POV. Ghasan IV
" Bagaimana lega rasanya ? "
" Apa maksud sampean Mas ? " Tanya ku seolah tidak mengerti apa yang sedang dimaksud oleh Mas Reyhan.
" Memangnya aku Fisa, ayang tidak bisa membaca situasi. " Jawabnya penuh sarkas kepadaku.
" Syukurlah kalau sampean tau, jadi aku tidak perlu menjelaskan. " Jawabku santai.
" Sungguh, ini bukan Ghasan yang aku kenal. "
Segera aku menyodorkan tanganku ke arahnya, yang ditanggapinya dengan wajah yang bingung.
" Katanya belum kenal, makanya ayo kenalan. " Yang langsung dapat pukulan yang sempurna mendarat di bahuku.
Tidak ada hal yang bisa aku sembunyikan dari Mas Reyhan, dia akan langsung mengetahui sesuatu b sedang terjadi padaku hanya melihat ekspresi dan gerakan tubuhku saja. Ya hal ini terjadi karena kami sudah terbiasa bersama sejak kami kecil. Perbedaan usia kami hanya 1 tahun, semasa kecil pun Mas Reyhan diasuh oleh Abbah dan Ummi. Mereka beralasan bahwa Mas Reyhan biar menemaniku.
Kami sudah kembali ke ndalem terlebih dahulu sebelum kajian itu selesai. Terlalu lama disana membuat ku kurang nyaman. Ya tentu saja, makanya aku lebih memilih menghindar.
" Mas, tolong bantu aku " Ucapku tiba - tiba.
" Ada apa ? "
" Bantu aku mengkhitbahnya. "
" Sudah sampean pikir benar - benar hal ini ? "
" Insyaallah. " Jawabku pasti.
Sebelum waktu ashar aku mengajak semua anggota keluargaku berkumpul, ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Kami semua sudah duduk di ruang belakang, Ummi, Abbah, Fisa dan Mas Reyhan tentunya. Setelah berbicara ngalor ngidul akhirnya ku utarakan juga, alasanku kenapa aku ingin mereka semua berkumpul disini.
" Ummi, Abbah aku ingin Mengkhitbah seseorang. " Kata ku dengan pasti tanpa sedikitpun keraguan.
Kedua orangtua ku saling memandang satu sama lain, ku lihat di sana ada setitik keraguan. Yang membuat ku merasa tak karuan, tak mungkin ku lakukan sesuatu hal tanpa ridho kedua orangtua ku.
" Apakah sampean sudah yakin dengan keputusan yang sampean ambil Le ? "
" Insyaallah Mi, Syam sudah yakin "
" Kami sebagia orang tua hanya bisa memastikan jika sampean jangan sampai salah dalam mengambil keputusan, itu harus sudah dipikirkan berulang - ulang, bukan hanya karena nafsu sesaat saja. Apalagi pernikahan adalah ibadah terlama yang kita jalani. "
Benar apa yang dikatakan Abbah, pernikahan adalah suatu hal yang suci ibadah terlama yang kita jalani. Namun keyakinan ku sudah bulat, dan ridho kedua orang tua ku adalah sebuah syarat yang harus terpenuhi.
" Insyaallah Bah, Syam yakin dengan keputusan yang Syam ambil. Dan Ridho dari Njenengan berdua yang akan membuat Syam akan lebih yakin. "
" Jikalau sampean sudah yakin, maka lakukanlah apa yang ingin sampean lakukan. Semoga dimudahkan dan dilancarkan niatan sampean. "
" Terimakasih, Ummi, Abbah. "
__ADS_1
Sungguh lega rasanya, jikalau sesuatu yang akan kita lakukan mendapat restu dari kedua orang tua kita. Langkah yang semula berat terasa lebih ringan. Sore itu juga aku Ke Blitar, untuk menemui kedua orangtuanya.Keberangkatan ku diantar oleh Mas Reyhan, yang akan menemaniku sekaligus wakil dari kedua orang tuaku yang tidak bisa hadir karena ada suatu hal. Mobil membelah jalanan sore itu, perjalanan terasa amat lama apa karena hatiku yang tak sabar.
" Hasilnya nanti seperti apapun, sampean harus bisa menerimanya San. "
" Insyaallah Mas, tapi aku yakin semua akan di permudah Mas. "
Tak lama berselang mobil kami yang dikendarai Mas Reyhan mulai menepi, di sebuah rumah yang terletak dipinggir jalan. Rumah yang tak begitu besar, namun nampak asri karena halamannya dipenuhi dengan berbagai tanaman. Meskipun kami tiba disana saat hari mulai petang namun masih bisa terlihat jelas banyak tanaman di halaman itu.
Hatiku mulai tak karuan ada perasaan khawatir disana, takut niatanku tidak bisa diterima. Ya karena kedatangan kami yang mendadak tanpa adanya pembicaraan terlebih dahulu. Hanya dengan modal keyakinan itu yang ku lakukan untuk membuat niatku menjadi kenyataan.
" Assalamualaikum " Ucap kami bersama.
" Walaikumsalam " Jawab seseorang dari arah dalam.
Diikuti sosok wanita paruh baya, yang datang dari arah dalam. Yang langsung mempersilahkan kami duduk, tak lama berselang seorang laki - laki paruh baya datang dari arah yang sama yang langsung menyalami kami, tentu saja aku sambut dengan menyalami dan mencium tangannya.
Kami membicarakan banyak hal, Mas Reyhan nampak sekali akrab dengan mereka. Ya karena Mas Reyhan sudah sering kesini tentunya, tepat sekali jika aku mengajaknya. Dan ketika Mas Reyhan mulai menyinggung maksud kedatangan kami, dengan memperkenalkan ku terlebih dahulu.
" Pak, Bu, ini Ghasan putranya Abbah Baharudin dan Ummi Salamah. "
Aku hanya bisa, menyembunyikan kegugupanku dibalik senyum yang terus terkembang.
" Kami kesini karena ada suatu hal yang ingin kami minta. " Mas Reyhan mulai mengutarakan maksud kedatangan kami.
" Apa Gus, yang bisa kami beri. "
Kemudian Mas Reyhan menatapku, dia mengangguk diiringi dengan senyum yang terkembang. Aku tahu yang di maksud olehnya, dengan dada yang gemuruh dan keguguban yang cukup besar aku mengutarakan niatku.
Kedua orang itu nampak terkejut, ya jelas saja mereka terkejut dengan apa aku ucapkan. Tiba - tiba ada orang datang, yang tidak mereka kenal dan langsung meminta anak mereka satu - satunya.
" Maaf sebelumnya, ini terlalu mendadak buat kami Gus, "
Hanya ku balas dengan seulas senyum di wajahku, hal yang sangat aku maklumi. Dan saat itu ku ceritakan semua tentangku dan putrinya, dari awal pertemuan kami sampai tadi dia acara kajian tidak ada satu hal pun yang aku lewatkan. Dan terakhir aku menunjukkan sesuatu yang mungkin bisa meyakinkan mereka berdua. Ini pertama kalinya setelah kejadian itu aku lepaskan dari tanganku.
" Pak, Bu, ini bukankah milik Mbak Tari. " Ucapku sembari menyerahkan gelas tasbih kepada Ayahnya.
" Benar, Yah ini milik Ijah yang beberapa tahun lalu hilang. "
Ayahnya nampak berpikir dan hanya terdiam, sedangkan kami bertiga terus melanjutkan perbincangan. Namun belum ada jawaban atas permintaanku.
" Gus Ghasan ..... "
" Enggeh Pak, "
" Apakah sampean benar - benar yakin dengan putri saya ? "
" Insyaallah Pak, saya yakin. " Jawabku pasti.
" Jika memang seperti itu, tolong jaga dia untuk saya. Saya percayakan dia kepada sampean, jadikanlah dia wanita salehah yang sesungguhnya. "
" Insyaallah Pak, saya akan membahagiakan Tari dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. " Ucapku penuh dengan keyakinan.
__ADS_1
Lega sekali yang aku rasakan, hal yang aku yakini kurang selangkah lagi bisa aku wujudkan. Setelahnya banyak hal yang Ayahnya sampaikan padaku, pada intinya beliau menitipkan putri semata wayangnya padaku. Banyak hal yang kami bicarakan setelah itu, sampai kami lupa waktu. Dua sosok paruh baya yang sangat menarik ketika aku sudah mengenalnya. Hidup keduanya dipenuhi dengan kesederhanaan, namun terlihat begitu bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani.
Setelahnya kami berpamitan, karena hari sudah cukup larut. Ayahnya tak henti - hentinya berterimakasih padaku, sebenarnya itu adalah hal yang terbalik. Karena sebenarnya yang harusnya berterimakasih adalah aku, mereka sudah memberikan putrinya padaku.
" Pak, Buk, saya permisi karena hari sudah malam. Insyaallah setelah sumpah jabatan saya selesai saya akan melamar secara resmi. Maafkan juga kali ini orangtua saya tidak bisa kesini karena ada satu hal. Tolong, rahasiakan ini dulu dari Tari karena saya ingin dia mengetahui saya setelah adanya ikatan pasti diantara kami. Maaf jikalau saya terlalu memaksa, saya menghindari hal buruk untuk kami berdua. "
Malam ini ku putuskan untuk pulang ke Malang, karena ada satu hal yang harus ku urus lagi. Malam ini ku lalui terasa berbeda. Kami berdua lebih memilih mengubah di hotel karena hari sudah cukup malam.
Sesampainya hotel tempat kami menginap, segera ku bersihkan diri dan menunaikan kewajiban ku. Lama sekali tanganku menengadah karena banyak hal yang harus aku katakan pada-Nya.
Ya Allah sungguh seisi dunia hanyalah milikMu, tiada satu hal pun di dunia ini terjadi tanpa seizin Mu. Ya Allah ampuni hamba ketika hamba pernah meragukan kuasaMu. Ridhoi jalan hamba dalam menyempurnakan agama hamba, jadikanlah dia yang menjadi penyempurna dalam hidup hamba. Berkahi hamba dengan semua kebaikan yang Engkau punya, agar setiap langkah langkah hamba menjadi ringan. Mudahkanlah, Lancarkanlah apa yang menjadi niatan hamba Amien .......
Pagi di kota Malang ini terasa berbeda, udara disini dingin sampai menusuk tulang rasanya. Aku sudah bersiap sudah kupakai seragamku, lengkap dengan topi baret ku. Sekilas ku lihat pantulan diriku ke cermin, pagi ini entah mengapa wajahku terlihat lebih berseri dari biasanya.
" Ayo kalau sudah siap, aku rasa dia sudah berada di kantor. " Ucap Mas Reyhan sembari melihat arloji di tangan kanannya.
" Ayo Mas. "
Ku kemudikan mobil ku membelah kota malang menyusuri jalan kota. Kota kecil ini sekarang sudah berubah menjadi kota dengan lalu lintas yang cukup sibuk. Beberapa menit kami berkendara, akhirnya kami sampai segera ku parkiran terlebih dahulu.
Hal pertama yang aku lakukan adalah melakukan kewajiban ku, melaporkan keberadaan ku. Setelahnya aku ingin menemui seseorang di sini. Kami berjalan menuju lantai dua, tempat dimana ruangannya berada.
Tok ..... Tok ...... Tok ......
Ku ketik terlebih pintu itu, kemudian ku buka pintu itu. Menampakkan sosok tinggi tegap di depanku, seseorang yang menjadi panutan ku. Dia menyambut ku dengan langsung memeluk ku.
" Ingat jalan pulang juga arek iki. " Ucapnya sembari menepuk pundak ku keras.
" Siap kapten, " Ku jawab dengan hormat, dengan nada tegas khas prajurit.
" Mari silahkan duduk, monggo Gus "
" Arek iki lo, dikasih kebebasan malah ngak ingat jalan pulang. "
" Diberi hukuman saja Pak Fahmi. "
Suasana begitu menyenangkan, Pak Fahmi merupakan kapten di tempat ku berdinas. Beliau sosok pemimpin yang sangat aku kagumi, dia selalu pandai menempatkan diri dimana pun dia berada. Mengayomi, dan menghormati kepada semua orang meskipun itu bawahannya.
" Pak sebenarnya maksud kedatangan saya disini untuk suatu hal. "
" Benarkah, ada apa ? "
Semalam Mas Reyhan memberitahuku jikalau yang dimaksud dengan Ayah Hawa adalah Pak Fahmi atasan di kesatuanku. Aku sedikit terkejut, namun semua tidak ada yang tak mungkin.
" Maaf sebelumnya Pak jika pertanyaan saya menyinggung anda "
" Silahkan San. "
" Pak saya sudah mengkhitbah Tari. " Ku ucap itu dengan pasti, sedetik kemudian ku lihat air mukanya berubah.
" Benarkah ?, akhirnya dia berada di tangan yang tepat. Semoga kalian menjadi pasangan sesurga. "
__ADS_1
Bersambung .........