Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
56. Masih Terkenang


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


" Oye, oye Wawa emu Unda ..... " Celoteh Hawa sepanjang perjalanannya menuju kota Kediri.


Gadis kecil itu semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak dan badannya sempat panas karena sudah beberapa Minggu terakhir tidak bertemu Tari. Semula yang awalnya tidak akan berkunjung ke asrama Tari akhirnya pun Pak Fahmi tak kuasa untuk menolak keinginan putri kecilnya itu.


Sebenarnya banyak tugas yang menantinya diakhir pekan ini tapi apa boleh buat putrinya adalah hal paling penting baginya. Selain itu bertemu Tari semacam mood booster baginya sekarang, meskipun hubungan mereka masih tetap saja ditempat belum ada perkembangan yang signifikan.


Subuh-subuh sekali beliau berangkat membelah jalanan Kota Malang yang masih sepi apalagi akhir pakan seperti hari ini. Mobil yang dikendarainya membelah jalanan yang masih sepi melaju menuju kota yang terkenal dengan Tahu Takwanya.


" Yayah, pir ampai ? "


" Sebentar lagi sayang. " Jawabnya sambil mengelus puncak kepala putrinya.


" Yayah, eli jan ya ...... "


" Iya nanti kita cari sarapan sekaligus jajan buat oleh - oleh buat Bunda ya. "


" ce..... " sambil melemparkan senyum terbaiknya kepada sang ayah.


***************


Setelah kejadian malam Jum'at itu Tari sudah kembali seperti biasa, tidak ada seorangpun yang berani menanyainya apa yang sebenarnya terjadi padanya. Semua orang memiliki pertanyaan yang sama tetapi enggan langsung menanyakan kepada siempunya. Hanya Wardah yang sesekali menyindir setiap kali mempunyai kesempatan, sebuah sindiran untuk membagi kesedihan bersama.


Pagi ini suasana Asrama lumayan sepi hanya ada beberapa penghuni yang tidak pulang. Karena menjelang ujian akhir semester, mereka pastikan pulang terlebih dahulu karena bisa dipastikan pada saat ujian akhir semester mereka tidak bisa pulang karena kesibukan yang ada.


" Dah bagaimna sudah diACC pengajuan soalnya ? "


" Alhamdulillah sudah Mbak, waktunya juga sudah terlalu mepet dengan tanggal ujian kalau seumpama ngak diACC. Padahal tidak ada perubahan yang berarti ngak tau mungkin hanya akal - akalan Pak Rizki saja. "


" Mana bisa hal itu di buat akal - akalan nduk. " Sahut Buk Tini yang baru masuk ke dapur.


" Langeh Buk, mungkin memang masih ada yang kurang makanya Pak Rizki belum memberi ACC. "


" Iya Mbak Tari, masak apa to nduk ayu ki ? "


" Buat jenang grendul Buk, Pak ndan mau datang. " jawab Wardah sambil bersikap seolah - olah sedang hormat.


Bu Tini hanya menjawab sambil manggut-manggut dan tersenyum tipis, mendudukkan tubuhnya di kursi dekat meja. Meletakkan kresek yang dibawanya ke atas meja lalu mengeluarkan isinya.


" Njenengan dugi pundi Buk ? " Tanya Wardah yang sudah duduk disampingnya.


" Kuwi Lo Nang Pasar mau nyariin cucu sarung la dalah ternyata tau bakul jajan pasar malah kepincut, sampean ambilkan piring. " tangannya sibuk mengeluarkan berbagai macam jenis jajan pasar dari kresek yang dibawanya.


" Alhamdulillah Buk, rezeki anak Sholehah dapat makanan enak - enak pagi ini. "


" Iya, makanya bawa kesini cepat piringnya. "


" Monggo Buk, saya nanti double lo ya jatahnya ? " Sambil mengangsurkan piring ke Buk Tini.


" Mbok Yo ngambil double apa triple Yo boleh wong ini banyak. Jangan khawatir. "


Suasana di ruang makan pun berlahan menjadi ramai karena satu persatu penghuni asrama turun. Kegiatan rutin yang selalu mereka lakukan di pagi hari, mengisi perut mereka dengan berbagai makanan sebagai modal untuk menjalani hidup untuk hari ini.


Karena hari ini sudah hari libur sebagian dari mereka menonton tv untuk mengisi Sabtu pagi mereka. Dan sebagian lagi kembali ke kamar mereka.


" Mbak Tar, besuk jadi ikut pengajian ? "


" Insyaallah ikut Dah, sampean ikut juga kan ? "


" Insyaallah Mbak, Hawa jadi kesini mbak ? "


" Iya jadi, tapi kurang tahu sampai disini jam berapa. Karena tadi malam Mas Fahmi bilang kalau tidak bisa mengantar sendiri mungkin diantar ajudan sama perawatnya. "


" Yah, Mbak ......... " Wajahnya tampak murung semangat diwajahnya tampak menguap entah kemana.


" Memangnya kenapa ? "

__ADS_1


" Gagal wes, mau lihat Pak Ndan cakep. " Matanya sambil menerawang.


" Masalah itu, Beliaunya sedang sibuk Dah. "


" Kalau aku ni jadi Sampean wez ngak bisa move-on sama Pak Ndan cakep, langsung pepet ngak kasih kendor pokoknya. "


" Ngomong apa cobak sampean itu. Hust ayo cepet diberesin lipat bajunya .....,......... !!!! " Sambil melempar sebuah boneka kearah Wardah.


" Beneran lo Mbak, apa cobak kurangnya Pak Ndan cakep suamiable banget, dan sholeh pula. Coba aku yang jadi sampean langsung wes, nikahin Hayati Bang " Sambil memeluk boneka yang dilempar Tari kearahnya seolah-olah itu Fahmi.


" Sudah ngomongnya jangan kemana - mana, tadi kamu belum Dhuha lo ......... "


Tari melanjutkan melipat baju miliknya dan memasukkannya ke dalam lemari, kemudian merapikan balas yang ada disamping tempat tidurnya. Banyak buku dan beberapa kitab yang letaknya berserakan. Mulai ditatanya buku - buku itu diatas nakas. Gerakan tangannya terhenti saat dia mengambil sebuah buku bersampul putih dengan gambar kupu-kupu sebuah buku kumpulan syair dari seorang penyair terkenal.


Ingatannya kembali berputar pada saat dimana dia mendapatkan buku itu, masih teringat jelas kenangan itu sama sekali tidak bisa terhapus meskipun sudah cukup lama terjadi. Kemudian seulas senyum simpul tersungging di bibir tipisnya, meraba pelan sampul buku itu, mulai membuka lembar pertama senyumnya semakin mengembang, dibukanya lagi lembar per lembar. Hingga tiba di bagian akhir buku itu, diusapnya perlahan halaman terakhir tanpa terasa butiran kristal bening yang ditahannya dengan sekuat tenaga akhirnya jatuh juga.


Digigitnya bibir bagian bawahnya agar tangisnya tak terlihat oleh teman sekamarnya itu. Bayangan masa itu menyeruak kembali, dan bayangan wajah yang ditemuinya beberapa hari lalu terlintas begitu saja. Dadanya terasa makin sesak menahan tangis yang coba disembunyikannya, nyatanya dia belum benar - benar bisa mengikhlaskan kejadian yang beberapa tahun lalu yang sudah berlalu.


" Ini mbak ngak usah ditahan, " Ucap Wardah sambil memberikan tisu kearahnya, kemudian duduk disampingnya.


Gadis tinggi itu mengambil buku yang ada ditangan Tari, diperhatikannya buku itu kemudian dibukanya lembar per lembar. Sampai di halaman paling terakhir dari buku itu.


Mungkin takdir tak mengizinkan aku memilikimu


Tapi ingatlah satu hal bahwa kau satu - satunya pemilik hatiku


Entah sekarang atau esok tidak akan ada yang berubah


Hatiku tetap milikmu


Wardah menutup buku itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Tari. Diambilnya tangan Tari secara perlahan kemudian digenggam tangan itu.


" Apa aku berdosa karena belum bisa mengikhlaskan ini semua ....... ? " Ucap Tari di sela - sela tangisnya.


" Tidak Mbak, dalam keyakinan kita tidak melarang seseorang memiliki rasa kita, hanya saja sebagai seorang muslimah kita harus tau batas - batasan kita Mbak. "


Tari hanya terdiam, butiran kristal bening itu jatuh seiring dengan pelukan yang diberikan oleh Wardah. Mencoba melepaskan beban yang dirasakan beberapa hari ini, yang dirasanya sangat menyesalkan dada.


Diurainya pelukan itu, dihapusnya air mata Yanga dan pada pipi gadis bertubuh kecil itu. Senyum lebar mengembang diwajah gadis bertubuh kurus itu, seolah menyalurkan energi semangat yang ada pada dirinya kepada Tari.


" Sudah jangan menangis lagi, ngak jadi cantik loh kan lagi otewe cari jodoh jadi ngak boleh nangisan. Apalagi ingat - ingat mantan huftd........ Big no …........!!!!!!!!!!! "


" Ngomong apa coba kayak gitu, " terbitlah seulas senyum diwajah manis itu saat mendengar kata - kata yang diucapkan sahabatnya itu.


" Nah gitu donk, senyum cantik. Jangan nangis terus Mbak, aku aja dengarnya sesak kalau pas Mbak Tar kayak gini. " Wajahnya kembali sendu.


" Entahlah Dah, beberapa hari ini .......... "


" Yang jelas beberapa hari ini keadaan Mbak Tari sedang tidak dalam keadaan baik - baik saja, aku tidak akan bertanya karena apa. Itu hak Mbak Tari mau berbagai atau apa. Tapi yang jelas aku sebagai temannya Mbak Tari, hatiku sakit melihat keadaaan Mbak Tari kayak gini.


Tok, tok, tok, ........


Dua gadis itu saling berpandangan, kemudian mengalihkan pandangan mereka kearah pintu. Dengan cepat Tari berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang ada pada wajahnya sementara Wardah berjalan menuju pintu kamar mereka.


Tok, tok, tok ............


" Atalamualaitum " Suara khas yang dimiliki gadis kecil yang berada di depan pintu.


Secara berlahan Wardah membuka pintu, dan nampak lah gadis kecil berbadan gemuk dengan gamis motif bunga berwarna ungu di depan pintu.


" Walaikumsalam warrohmatullohi wabarrokatuh, aduh Wawa cantiknya Bulik. "


Gadis kecil itu segera menyambut uluran tangan Wardah dan menciumnya dengan takzim.


" Ulikna Wawa ang uga tantik, Unda ana ? "


" Bunda ada di dalam, ayo masuk. Hawa datang sama siapa ? " Tanya Wardah sambil melongngokkan kepalanya keluar menoleh ke kiri dan kanan nampak mencari - cari sesuatu.

__ADS_1


" Ma Yayah, "


" Wah sama Ayah, " Ucapnya penuh semangat sambil menuntun gadis kecil itu duduk di kasur milik Tari


Bersamaan dengan Tari yang keluar dari kamar mandi, ya Tari tadi membasuh mukanya di kamar mandi agar tidak terlihat kalau dia baru saja menangis. Gadis kecil itu sontak lari kearahnya memeluk kakinya erat.


" Atalamualaitum, Unda. "


" Walaikumsalam, sayang. Cepat sekali sampainya ? "


" Ya Yayah lewat dunung dalanna beyok- beyok naik tuyun. " Tangannya sembari memperagakan jalan yang baru saja dilaluinya.


" Oh, Ayah dimana ? " Sambil membawa gadis itu ke dalam pangkuannya.


" Di awah ma Bah Tin. "


" Ya sudah kita kebawah dulu ya ? "


Tari menuntun Hawa berjalan keluar dari kamarnya, menyusuri koridor menuruni tangga menuju lantai satu. Saat di lantai satu nampak suasana di rumah tamu asrama tampak ramai ada beberapa orang disana.


" Yayah, ............. " Teriak Hawa, sambil berlari meskipun sedikit kesulitan saat menghampiri Ayahnya.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " Jawab semua orang yang sedang berada diruang tamu.


Fahmi tampak memperhatikan Tari dari atas hingga bawah, namun sebaliknya Tari nampak tetap menunduk walaupun senyum nampang tersungging diwajahnya. Sementara itu Fahmi tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Tari sampai di duduk di depannya. Sampai sebuah tepukan pelan di bahunya menyadarkannya.


" Monggo Pak enggal dihalalkan mawon. " Ucap Bu Tini yang sedari tadi memperhatikan Fahmi yang terus menatap Tari semenjak dia turun dari tangga sampai duduk didepannya.


" Insya Allah secepatnya Buk, " Ucap Fahmi secara berbisik kepada Bu Tini.


" Sudah lama Mas ? "


" Belum, batu saja kami sampai. "


" Sampean bilang tadi malam tidak bisa mengantar Hawa aku kira Hawa dengan Mas Yono dan Mbak Titik. "


" Ternyata acaranya bisa diwakilkan, bagaimana kabarmu ? "


" Alhamdulillah baik Mas, "


" Waduh serasa dunia milik berdua ya, kita yang disekeliling ngontrak semua. " Ucap Wardah yang begitu tiba - tiba.


" Hust ....... !!!!!!!!!! Ni bocah jadian - jadian mesti disingkirkan dulu kalau enggak suka ganggu ngak jelas. " Ucap Riski yang pada saat itu ada di sana.


" Hawa cantik ayo ikut om ? "


" Nana Om, ? "


" Ayo Om ajak lihat kelinci, banyak sekali sama Bulik juga. Bulik ayo cepat kebur kelincinya lari. " Laki - laki itu langsung menyambar tubuh gadis kecil itu ke dalam gendongannya. Dan mencoba memberikan kode keringan mata ke pada Wardah untuk ikut dengannya.


Satu persatu orang yang berada di ruang tamu itu keluar, dengan alasan mereka masing-masing. Tinggallah Tari dan Fahmi berdua, suasana terasa sangat canggung diantar keduanya. Dan suasana ini berjalan cukup lama, sampai Fahmi memulai pembicaraan.


" Saya dengar kamu kemarin sempat pingsan ? "


" Iya Mas, dari mana sampean tahu ? "


" Hawa menelfonmu, tapi yang mengangkat telfonnya Wardah. Dan dia memberitahukan semuanya. " Sambil menghembuskan nafas panjang.


" Wardah memberitahu semuanya ? "


" Iya, ..... Apakah sudah periksa lagi ? "


" Tidak perlu Mas, keadaan saya sekarang sudah lebih baik. "


" Tidak harus segera diperiksakan dulu, saya tidak menerima bantahan. " Ucapannya terdengar tegas.

__ADS_1


" Sungguh saya tidak apa ............... " Ucapannya tertahan saat pandangannya menatap kerah pintu. Raut kegelisahan tampak terlihat diwajahnya, jari - jemarinya nampak bertautan satu sama lain. Kegugupan yang di alaminya nampak sekali.


Bersambung ...............


__ADS_2