Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
27. Kembar


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Udara dingin masih enggan meninggalkan permukaan bumi, sedang sang mentari pun enggan turun dari tahtanya. Kabut tipis menyelimuti pagi ini, sejurus dengan suara ayam jago yang tiada hentinya bersahut - sahutan. Suasana rumah kecil itu sudah menghangat seiring dengan asap yang sudah mengepul di dapur kecilnya. Yang diiringi dengan tawa kecil sang pemilik rumah yang sudah memulai aktivitasnya di pagi yang sedingin ini. Hawa dingin tidak pernah menyurutkan dua wanita beda generasi ini untuk menghentikan aktivitas paginya.


" Nduk, tolong kupas bawang merah dan bawang putihnya. "


" Enggeh buk, sepertinya kita akan memasak lebih banyak hari ini. "


" Iya, sampean apa lupa nanti Irsyad dan Irhas akan datang. Belum lagi nanti ada pihak dekorasi juga datang untuk mempersiapkan sesuatu, entah apa ibuk sendiri juga tidak tahu. "


" Tari sampai lupa buk, " Tangannya masih sibuk mengupas bawang merah dan bawang putih.


" Ehmz, gitu ya yang mau jadi pengantin suka lupa sama hal lain "


" Bukan begitu juga Bu, hanya ...... "


" Hanya apa nduk, jangan berfikir yang macam - macam. "


" Entahlah buk, ada sedikit perasaan yang mengganjal tapi Tari sendiri kurang mengerti. "


" Nduk, jangan pernah meragukan apapun yang sudah digariskan sang Pencipta. Karena beliaulah yang paling mengerti kita, " sambil menghela nafas panjang dan menatap putri semata wayangnya.


" Insyaallah Ijah tidak meragukan semua ketetapan dan Takdir yang Beliau berikan kepada Ijah. Hanya saja entah mengapa Ijah tidak yakin pada diri Ijah sendiri. "


Pandangan gadis itu menatap wanita paruh baya itu dengan penuh arti, ada suatu hal yang mengganjal dalam hatinya. Pikirannya teringat dengan mimpinya beberapa hari lalu, mimpi yang terus terbayang dalam benaknya. Sampai - sampai dia terbangun di tengah malam karena mimpi itu yang dirasanya sangat nyata. Apalagi mimpi itu datang setelah Tari melakukan sholat istikharahnya muncullah berbagai pertanyaan dalam benaknya.


" Ssstttttttt aduh ...... "


" Kenapa nduk ? Astaghfirullah kok bisa to, ayo cepat dibersihkan lukanya. "


" Enggeh buk, " Tari bergegas mencuci jarinya yang teriris pisau yang mengeluarkan darah. "


Bu Fatma bergegas mencari Betadine dan plester di kamarnya, setelah mendapatkannya dia kembali ke dapur. Tak lama berselang Tari keluar dari kamar mandi dengan wajah yang meringis menahan perih luka pada jarinya yang masih saja mengeluarkan darah segar. Dengan segera tangan yang mulai keriput itu menyeka darah yang masih keluar dari jari putrinya itu dengan tisu lalu memberikan sedikit Betadine dan menempelkan plester.


" Lain kali yang hati - hati to nduk. "


" Enggeh buk, " sambil tertunduk


" Coba ceritakan kerisauan hatimu pada ibuk, jangan memendamnya sendiri. "


Semenjak peristiwa 5 tahun lalu Tari menjadi pribadi yang tertutup termasuk kepada kedua orang tuanya. Dia berfikir tidak ingin lagi membebani kedua orangtuanya dengan masalah yang dia alami, sebisa mungkin masalah yang ada dia selesaikan sendiri. Karena dia tidak ingin melihat kedua malaikatnya itu bersedih seperti saat peristiwa itu. Senyuman semanis mungkin dia dinginkan dari bibir mungilnya ketika menatap manik mata wanita paruh baya itu.


" Ayo ibuk akan mendengarkan semua ceritamu. "


" Beberapa hari yang lalu Ijah merasa tidak yakin semua ini, kemudian Ijah shalat istikharah dan belum sempat Ijah melepas mukena yang Ijah pakai Ijah tertidur buk karena Ijah pada saat itu sangat lelah. " Tari menghentikan ceritanya, menghembuskan nafasnya dengan kasar dan pandangannya menerawang jauh.


" Lalu ? "


" Ijah bermimpi pada saat itu, Ijah berjalan dengan Mas Pandu yang mengandeng tangan Ijah di suatu taman yang menuju sebuah rumah, rumah yang selalu Ijah impikan selama ini. Mas Pandu mengandeng tangan Ijah dengan erat dan kami saling tersenyum bahagia, saat kami tiba di teras rumah itu tiba - tiba langkah kami terhenti. Ada seorang anak kecil yang menarik - narik genggaman tangan kami sehingga genggaman tangan kami terlepas. Kemudian anak itu menggenggam tangan Mas Pandu memasuki rumah itu dan meninggalkan Ijah sendiri. "


Bu Fatma hanya terdiam mendengar cerita dari putri semata wayangnya itu, timbul berbagai pertanyaan yang begitu saja menyeruak dalam benaknya. Dia berusaha menutupi kegundahannya itu dengan senyum tulus yang dengan segera di ulasnya di wajah yang mulai keriput itu.


" Nduk, kadang semua hal itu tidak akan sesuai dengan apa yang kita harapkan, kadang yang kita yakini baik belum tentu baik dan sesuatu yang kita yakini buruk belum tentu buruk. "


" Enggeh buk, Insyaallah Ijah ihklas apapun yang terjadi dengan Ijah. "


" Memang seharusnya seperti itu nduk. Sudah jangan digikir. "

__ADS_1


" Ayo kita teruskan memasaknya, keburu adik - adikmu itu datang. "


" Enggeh buk "


Bu Fatma menatap putri semata wayangnya itu dengan lekat, kenapa dengan keadaan seperti ini putrinya malah bermimpi hal seperti ini. Sebenarnya Bu Fatma sedikit khawatir tapi beliau tidak berani memperlihatkan wajah khawatirnya, karena takut membuat putrinya itu bertambah khawatir.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " suara mereka bersamaan menjawab salam yang datangnya dari pintu rumah samping yang langsung menuju dapur.


Nampak dua anak laki - laki tampan yang memiliki mata yang belok, hidung mancung, kulit bersih, serta rambutnya yang bergelombang khas orang timur tengah dengan tubuh yang tinggi. Benar - benar bagaikan pinang yang dibelah dua, sehingga susah sekali bagi orang yang baru melihat mereka untuk membedakannya. Tapi wajah yang tampan itu tidak sejalan dengan tingkah mereka yang sangat usil dan sedikit manja apa lagi dengan kedua orang tua Tari .....


" Ibuk " Teriak mereka yang langsung berhambur kearah Bu Fatma dan langsung mehujani wanita tua itu dengan ciuman.


" Jadi ibuk aja yang dapat peluk dan cium ? "


" Mbak Ijah ahhhhh " Teriak Irhas


" Sudah Segede ini masih saja peluk dan cium sembarangan. " menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan kedua adik sepupunya yang sudah dianggap seperti adik kandungnya.


" Habisnya sudah lama kangen sama ibuk " jawab Irsyad sambil menyalami Tari.


" Ya sudah sini peluk ibuk, sekarang sudah besar anak - anak tambah pula gantengnya. " Sambil kembali memeluk dua anak lelaki yang ganteng itu.


" Kapan kalian pulang dari pondok dek ?"


" Tadi malam mbak, rencananya sih tadi malam langsung mau kesini tapi sama ibuk dilarang karena katanya kangen. Ehh taunya sampai rumah malah diajak ke pasar, haduh ibuk itu ....... "


" Le, memang seharusnya kalau pas dirumah pas ada waktu senggang sebaiknya membantu orang tua. "


" Itu dengar kata ibuk, masak anak cowok kok manja dek. "


Kedua pasang kembar ini memang sudah seperti putra kandung bagi Bu Fatma. Karena mereka sedari kecil diasuh oleh Bu Fatma, karena ditinggal ibunya untuk berjualan di pasar subuh. Mereka selalu menghabiskan masa liburan mereka disini dibanding dirumah orang tua mereka. Menghabiskan waktu liburan mereka dengan membantu Pak Rahmat di sawah dan selalu bertingkah manja kepada sepasang paruh baya itu Jadi kedekatan yang terjalin sangat erat diantara mereka.


" Ya itung - itung amal dek, nyenengin orang lain. "


" Mereka seneng aku yang risih mbak, masak iya ditowel - towel pipi, dicubit hidung mancungku, gemas sih boleh tapi gak gitu juga keles. "


" Hehehehe, salah sendiri kenapa itu makanya kok Arab - Arab gitu ?!!!.... "


" Mana bisa milih mbak kita lahir mukanya gimana "


" Tapi kalau difikir aneh juga ya dek kok bisa ya kalian itu mukanya kok bisa kayak gitu gak ada mirip - miripnya sama Bulik dan Pak Lik ? "


" Tau mbak mungkin anak nemu, Hahahaha " Tawa mereka pecah begitu saja.


Mereka masih saja bercanda dan saling mengejek satu sama lain benar - benar mampu merubah suasana yang tadi sepi kini berubah dengan tawa kecil hingga pertengkaran kedua laki - laki yang beranjak dewasa itu. Bu Fatma dan Tari hanya bisa saling menatap dan sesekali ikut tertawa melihat kedua pasang kembar itu. Sampai sebuah salam datang dari pintu depan yang mampu membuat tawa mereka terhenti.


" Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " Jawab mereka serentak.


" Biar tak lihat buk siapa yang datang " Irsyad sudah berdiri dari duduknya dan berjalan ke ruang tamu.


Nampak sesosok tubuh tinggi tegap membelakangi pintu yang sedang memainkan handphone yang ada ditangannya. Pria itu memakai celana jeans berwarna biru navy dengan atasan Hem berwarna putih yang digulung tangannya sampai kesiku. Irsyad yang merasa tidak mengenali siapa si pemilik tubuh pun, mencoba berfikir sampai sosok itu berbalik dan menatapnya.


" Mencari siapa mas ? " Tanyanya

__ADS_1


" Apakah Tari ada, ? tadi saya sudah membuat janji dengannya ? "


" Mbak Tari ada dibelakang, mas siapa ? "


" Ehmz, ...... " sambil memicingkan matanya mencoba mengingat siapa sosok pemuda tampan didepannya ini.


" Kembar " Ucap Pandu dengan segera .....


" Ehmz, mas mengenal saya ? "


" Aku Mas Pandu, tidak ingatkah kamu ? "


" Ouwh Mas Pandu, astaghfirullah sungguh aku tadi tidak mengenali sampean mas. "


" Sebentar ini Irhas apa Irsyad ya " Pandu mencoba e mengingat.


" Dek tamunya siapa ? " ucap Tari yang datang dari belakang.


Bu Fatma menyuruh Tari ke depan untuk melihat siapa tamu mereka karena Irsyad yang tidak kunjung kebelakang serta tidak terdengar suara percakapan dari depan.


" Mbak ini mas Pandu datang. "


" Belum siap dek ? " Pandu bertanya kepada Tari karena dia melihat Tari yang masih memakai baju rumahan.


" Astaghfirullah mas, maaf aku lupa. Kalau begitu aku mandi dan segera bersiap dulu. Mas tunggu sebentar ya, dek bilang ibuk suruh membuatkan teh untuk mas Pandu. "


Karena terlalu sibuknya Tari atau entah karena apa dia sampai lupa dengan janjinya, kalau hari ini dia dan Pandu akan ke KUA untuk melengkapi berkas persiapan pernikahan mereka yang kurang. Dengan segera dia membersihkan diri, dan bersiap untuk pergi. Sementara Pandu menunggu diruang tamu ditemani kedua pasang kembar itu.


" Olah jadi mas Pandu Yo yang mau nikah sama mbak Tari ?...... "


" Iya, makanya ini mau mengurus kekurangan berkas di KUA. "


" Aku tadi sempat tidak tahu kalau itu Mas Pandu, Terakhir kita bertemu Mas Pandu masih berbadan kurus kering dan lebih hitam. Sekarang sudah sekeren ini, badannya berotot pula " Ucap Irhas ....


" Kalian saja bertumbuh besar masak Mas enggak " Jawab Pandu santai, sambil menyesap teh yang dihidangkan Bu Fatma.


" Iya sih Mas, selama ini mas kemana setiap aku kesini tidak pernah sekalipun bertemu sama Mas lagi. "


" Mas kerja dek, dan jarang sekali dapat libur. "


" Memang mas kerja dimana ? " Tanya Irsyad.


" Mas kerja di kapal dek "


" Wow keren mas, sebagai apa mas "


" Captain kapal "


" Makanya Mas Pandu jadi sekeren ini, coba saja ibuk ngebolehin pasti aku jadi keren sekali kalau jadi captain kapal kayak Mas Pandu. "


Mereka terus bercerita yang diselingi dengan candaan yang sukses membuat mereka tertawa bersama. Irsyad dan Irhas begitu antusias dengan cerita Pandu mengenai pekerjaanya. Sampai Tari keluar dari kamar dan menghampiri ketiga laki - laki yang berada diruang tamu rumahnya.


" Ayo mas, aku sudah siap "


" Apa kalian mau ikut ? "


" Kita " Kata mereka secara bersamaan.

__ADS_1


" Ya sudah ayo kami ikut, tapi tunggu kami akan mengambil handphone kami dulu dibelakang. "


Bersambung .......


__ADS_2