Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
59. Ternyata benar dia


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


POV. Setyo 2


" Mas sudah lama menunggu. "


" Mas. "


Tepukan kecil di bahu ku menyadarkan ku dari lamunan ku, aku tergagap saat sosok yang ku tunggu sudah berada di sampingku. Mengikuti ku yang sudah berdiri dari sofa, ku usap tengkuk ku karena merasa seperti maling yang kepergok saat sedang mencuri.


" Bagaimana apa sudah siap ? "


" Sudah, tapi minumlah kopinya terlebih dahulu. "


Kedudukan kembali tubuhku ke tempat semula aku terduduk, sekilas senyum simpul itu kembali menyapa di pelupuk mataku. Tanpa sadar pun senyum tersungging di wajahku saat ku mulai menyesap kopi yang masih mengepulkan asapnya itu.


" Ehmm..........,. kenapa Mas ? "


" mmhhh, memangnya kenapa ? "


" Wong ditanya tidak dijawab kok malah bertanya, kenapa Mas Setyo tersenyum ? "


" Owh........ kopinya sangat pas untuk saat ini. Bagaimana apakah sudah siap, kalau sudah mari kita berangkat. "


" Baiklah, aku akan mengambil tas ku diatas terlebih dahulu. "


Sungguh takdir macam apa yang sedang terjadi kepadaku, sesuatu yang sudah lama coba ku kubur dalam - dalam begitu saja hadir di depanku. Dia yang sekarang sungguh beda dengan dia yang terakhir kali aku lihat, tapi senyuman tetap sama, tetap semanis gadis yang selalu jadi ratu dalam hati ku.


Tubuhnya tetap sekecil dulu, bahkan sekarang terlihat lebih kurus walaupun tertutup jilbab panjangnya itu. Satu yang membuatku sedikit ragu kalau itu gadisku, dia dahulu gadis yang sangat ceria dan cenderung pecicilan. Tapi sekarang dia tumbuh menjadi gadis anggun, yang bertindak penuh pertimbangan dan sifatnya terlihat begitu tenang.


Tanpa sadar aku bangkit dari duduk ku, untuk melihatnya pergi bersama keponakanku. Iya dia benar Khodijahku gadis yang menjadi ratu dalam hatiku, sungguh selama inikah hingga merubahnya menjadi seperti sekarang gadis dewasa anggun, cantik, lemah lembut, dan terlihat sangat tenang.


Tunggu, aku harus tersadar dari semua ini apakah dia tidak mengenaliku. Tapi aku tadi sempat melihat kilatan aneh saat mata kami bersibobrok, aku melihat rasa kesedihan yang dalam di mata itu. Tapi mengapa dia masih bisa menyunggingkan senyum diwajahnya saat dia beranjak pergi.


" Ayo Mas aku sudah siap. "


" Ehhh ayo ..... "


" Kenapa Mas dari tadi seperti ada hal yang dipikirkan ? "


" Tidak apa - apa, Ya sudah ayo kita berangkat. "


Ku kemudikan mobilku meninggalkan gang di sebelah asrama melesat menuju jalan besar. Ya pagi ini kami akan mengunjungi orang tua Lenni, aku mengerti maksud dan tujuan orang tua Lenni menyuruhku datang untuk menemui mereka.


Lenni adalah anak dari teman kedua orang tuaku, setelah kejadian itu kedua orang tuaku mencoba mendekatkan kami. Dan hasilnya ya begini kalau dibilang kami pacaran tidak juga bisa dibilang seperti itu, tapi kalau di bilang teman biasa juga tidak bisa.


Aku tahu Lenni menaruh hati padaku, tapi sayang hatiku sudah memiliki ratunya sendiri.


Awal kami berkenalan, aku sudah berkata padanya kalau mungkin aku tidak bisa memiliki rasa lebih padanya. Tapi dia dengan sabar tetap disamping ku menemaniku yang sempat terpuruk karena harus meninggalkan gadis yang aku cintai. Karena hal itulah aku menjadi lebih dekat dengannya, ku paksa hatiku membuka untuknya tapi tak pernah bisa.


" Sebaiknya kita mampir ke mini market terlebih dahulu, untuk membeli beberapa barang. "

__ADS_1


" Iya Mas terserah sampean saja. Oh iya tadi katanya sampean mengajak anak kecil, apakah Jasmine tadi ikut Mas ? "


" Iya sekalian tadi dia berangkat bersamaku, tapi dia ikut dengan Ibu Gurunya, tapi aku lupa siapa nama Gurunya. "


" Mungkin dia berangkat dengan Tari. "


" Owh...... Iya Tari nama guru yang berangkat bersamanya. "


Tak lama berselang ku belokkan kemudi di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar mobilku. Selesai mengisi bahan bakar, ku parkiran mobilku di depan pelataran sebuah mini market yang terletak di area SPBU. Ku keluarkan sebuah kartu dan kuberikan kepada Lenni.


" Gunakan ini belikan beberapa oleh - oleh untuk orang tuamu PINnya tanggal lahirku." Sambil ku angsurkan kartuku ke arahnya.


" Tidak usah Mas, aku ada uang kok. "


" Tidak pakailah ini, tidak etis rasanya kita berkunjung tanpa membawa buah tangan. Aku akan pergi ke toilet sebentar. "


Ku langkahkan kakiku ke toilet yang berada di samping mini market. Ku basuh mukaku dengan air kran agar sedikit memberi kesegaran. Karena jujur saja sejak kejadian tadi aku merasa gugup yang sangat luar biasa. Ku tatap wajahku di cermin, dan bayangan itu sekelebatan datang lagi.


Ku berjalan meninggalkan toilet, duduk di kursi yang ada di depan mini market ku lihat Lenni masih sibuk berbelanja. Pikiran ku menerawang bagaimna selanjutnya kisah dalam hidupku ini, bagaimana takdir bisa seperti ini. Ku keluarkan rokok dari saku jaket ku, mengambil sebatang dan mulai menyalakannya. Menyesap aroma tembakau yang khas berhasil mengurai sedikit kerumitan yang sekarang sedang ku rasakan.


" Mas .... " Sambil mengangsurkan minuman kopi dalam botol yang menjadi minuman favoritku dikala mengusir rasa mengantuk.


" Terima kasih, apakah sudah selesai ? "


" Sudah, maaf ya aku membeli barang sebanyak ini. "


" Tidak masalah. "


" Simpan saja terlebih dahulu, "


" Tapi Mas. "


" Tidak apa - apa, bagaimana pekerjaanmu ? "


" Alhamdulillah Mas, partner mengajar ku yang sekarang orangnya sangat kompeten jadi kami menjadi partner yang bisa saling melengkapi. Usianya 2 tahun lebih muda dariku tapi orangnya sangat dewasa, walaupun orangnya pendiam tapi pandai menempatkan diri. Anak - anak juga sangat menyukainya, apalagi Jasmine. "


" Owh ........ "


" Orangnya yang tadi berangkat bersama Jasmine, Bu Tari namanya. "


Deg ......, deg ...... deg .......


Ku gerus rokokku yang masih setengah batang ke dalam asbak, dan segera ku minum kopi pemberian Lenni dengan cepat.


Uuhhukkk, uuhukkkk,


" Pelan Mas minumnya. " Ucap Lenni khawatir sambil menepuk - nepuk pundak ku.


Hanya mendengar namanya saja suda,.h membuta jantungku berdebar tak karuan, aku merasa ini awal kerumitan hidupku lagi. Ku ajak Lenni segera masuk ke mobil kembali untuk melanjutkan perjalanan kami, karena perjalanan yang kami tempuh masih cukup panjang.


Sampailah di sebuah rumah dengan pelataran yang cukup luas di banding rumah - rumah lainnya. Lenni anak dari seorang kepala desa, tak heran bila rumahnya nampak mencolok dibanding ya CVC crng lainnya. Kami turun dari mobil dan disambut sepasang paruh baya, berserat anggota Lenni yang lain. Yang berhasil membuatku sedikit heran, apakah kedatangan sudah begitu ditunggu sampai - sampai semua anggota ada semua.

__ADS_1


Ku Salami ayah Lenni, ibunya dan kemudian anggota keluarga lainnya. Kami dipersilahkan masuk, dan sekarang aku sedang berbincang dengan Ayah Lenni dan beberapa anggota laki - laki lain di keluarga Lenni. Kami membicarakan beberapa hal tentang pekerjaan dan banyak hal lagi. Dan aku rasa aku sudah faham kenapa ke datangan ku saat ini sangat dinantikan oleh keluarga ini.


" Mas Setyo masih di site yang dulu ? "


" Masih Ren, setelah ini saya akan menjalani pendidikan di luar sekitar 6 bulanan. Tapi tanggalnya masih belum deal. " sambil ku letakkan cangkir meja diatas kopi.


" Apa tidak ada rekrutmen untuk tenaga baru Mas ? "


" Setiap tahunnya ada Ren, tapi kamu tahu sendiri bagaimana sistem penerimaan di perusahaan saya memang lebih ketat dari perusahaan lain. "


" Iya Mas, tapi sebanding dengan inkam yang didapat Mas, saya sudah dua kali ikut tapi belum lolos juga. "


" Sabar, yang penting jangan patah semangat dan berhenti mencoba. "


Kami masih saja membicarakan hal - hal seperti itu, sampai semua wanita anggota keluarga itu duduk di ruang tamu. Aku merasakan atmosfer yang berbeda sekarang, mungkin ini inti dari kedatanganku.


" Mas Setyo, Saya harap sampean tidak salah faham dengan perkataan saya sekarang. "


" Tentu Pak Lik, memangnya ada apa ? "


" Saya rasa hubungan Sampean dan Lenni sudah berjalan cukup lama tanpa adanya status yang jelas. Sebuah setatus yang mengikat antara kalian berdua, dan saya rasa usia kalian juga sudah siap untuk melakukan sebuah pernikahan. "


" Bukan maksud kami Lo Mas Setyo untuk memaksa Sampean tapi Bulik rasa usia Lenni sudah cukup untuk berumah tangga. "


Dan benar saja tebakanku, pasti hal ini yang membuat mereka mengundangku ke sini. jujur saja posisiku sangat gamang saat ini terlebih peristiwa tadi pagi sukses pula menambah kerumitan yang aku rasakan.


Ku lihat semua orang di ruangan ini mengantungkan asa yang cukup tinggi kepadaku terlebih lagi gadis yang berbalut kerudung berwarna navy itu.


" Iya Pak Lik, Bu Lik saya bisa memahami kekhawatiran kalian semua. Tapi maaf sebelumnya saya belum bisa melakukan apa yang keluarga ini harapkan. "


Ku tarik nafas dalam-dalam menjeda perkataan ku, bingung sungguh itu yang ku rasakan. Aku tidak bisa menolaknya tapi aku juga tidak bisa menerimanya.


" Apa lagi saya akan menempuh pendidikan tak etis rasanya bila saya ....... "


" Saya tidak meminta Sampean untuk segera menikahi putri kami tapi ikatlah dia dengan sebuah ikatan pertunangan. "


" Pak Lik, ini hal besar bagi hidup saya. Saya harus melibatkan kedua orangtua dan keluarga saya dalam memutuskan. Saya harap Pak Lik, Bu Lik beserta keluarga mengerti apa yang saya maksud. "


" Pasti Mas Setyo, Kami berharap segera menemukan titik terang serta kejelasan dalam hubungan ini. "


" Tentu saja Pak Lik. "


Mungkin hanya itu yang bisa ku lakukan untuk sedikit mengulur waktu sampai aku memastikan suatu hal. Selepas Maghrib kami berpamitan untuk kembali ke Kediri karena masih banyak hal yang harus ku urus di masa cuti ku saat ini. Kami pulang diantar oleh semua keluarga Lenni tanpa terkecuali. Kulakukan mobilku meninggalkan jalannan kampung, menuju jalan utama yang mengarah ke kota.


Selama perjalanan ini Lenni lebih banyak diam, tidak ada lagi senyuman di wajahnya. Ya dia pasti kecewa dengan jawaban yang ku berikan tadi, tapi sungguh sebenarnya aku tak ingin menyakitinya. Dia gadis yang baik, walaupun sikapnya cenderung tegas tapi sebenarnya dia gadis yang berhati lembut.


Ku belokkan mobilku ke sebuah cafe yang sedang ngetrend di massa sekarang cafe diatas bukit dengan pemandangan lampu kota dibawahnya. Kulihat wajahnya sedikit terkejut saat mengetahui aku berbelok, setidaknya kita perlu bicara berdua. Kami turun dia berjalan di belakangku, meniti satu persatu anak tangga, sampailah kami di sebuah gazebo yang memiliki pemandangan kemerlip lampu kota yang nampak indah di pandang dari sini. Aku memesan beberapa menu dan tentunya kopi yang selalu mampu menenangkan pikiran ku.


Kami hanya terdiam dengan fikiran masing - masing, sampai makanan dan minuman yang kami pesan mulai dingin. Ku hembuskan nafas berulang kali, mencoba mengisi lebih banyak paru - paru ku dengan oksigen. Dan aku memutuskan untuk mengatakan semuanya agar dia mengerti posisiku. Kuambil dompetku lalu ku letakkan sebuah foto di depannya. .........


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2