
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Kita langsung ke asrama atau ada tujuan lain ? "
" Langsung saja Pak Rizki, karena saya masih harus menyelesaikan laporan harian saya. "
" Iya Mas lagian kami juga ingin cepat kembali ke kosan kami. "
" Baiklah kita langsung ke asrama. "
Mobil itupun berjalan membelah jalanan kota Kediri yang cukup ramai di kala malam itu. Kota kecil yang bersolek diri untuk menjadi kota besar dengan berbagai pembangunan fasilitas baru untuk menunjang kehidupan yang ada di sana. Menjadi salah satu kota besar di Jawa Timur. Sepanjang perjalanan itu disuguhi pemandangan Kota Kediri di saat malam.
" Mbak, besuk pulang atau tidak ? "
" Sepertinya tidak Bang, minggu kemarin kan sudah pulang. Pekerjaan Mbak agak banyak karena sudah mau akhir semester. Memangnya ada apa Bang ? "
" Kalau mbak pulang, rencananya aku ingin menitipkan sesuatu. "
" Mbak tidak pulang, Mbak terlalu sibuk Minggu ini. "
Akhirnya setelah 30 menit mereka sampai, Rizki memilih memarkirkan mobilnya di gang samping asrama dan mereka masuk lewat pintu samping.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
" Tumben Pak sepi ? "
" Iya Maz Rizki, malam Jumat pada ke pengajian semua. "
" Maz mau minum apa saya buatkan ? " Tanya Tari kepada Rizki.
" Kopi pahit saja, "
Tari kembali dari dapur dengan nampan berisi beberapa minuman dan sepiring ketela goreng sebagai teman minum kopi.
" Monggo Pak Rizki kopinya. " Sambil menaruh segelas kopi hitam dengan asap yang mengepul diatasnya.
" Iya terimakasih Tar. "
Kemudian Tari ikut duduk di antara Irhas dan Irsyad, yang sedari tadi asik dengan benda pipih yang tak pernah lepas dari tubuh mereka. Bagaikan surat dan perangko yang saling menempel erat enggan sekali untuk dipisahkan.
" Bang Irhas, itu tehnya di minum dulu. "
" Bentar Mbak masih panas. " Tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih itu.
Tari yang melihat pemandangan seperti itu tersenyum, kalau muncul dibenaknya untuk mengganggu saudara sepupunya itu. Di ambilnya handphone yang berada di saku jaket jeans yang dia gunakan. Membuka kontak dan mendial nomer seseorang.
Dddrrttttttttt.......
" Siapa sih telefon ih ganggu aja. " Gerutu Irhas.
Tari tersenyum lebar saat usahanya mengganggu saudaranya itu berhasil. Irhas masih saja terus menggerutu apa lagi ketika dia mengetahui panggilan itu berasal dari orang disebelahnya.
" Apaan sih Mbak itu ganggu aja, yah aku jadi kalah kan. Awas ya rasakan pembalasanku. "
Irhas sudah memeluk erat tubuh kakak sepupunya itu, sedangkan Tari yang bertubuh kecil tentu saja tidak bisa melawan pelukan Irhas yang erat. Pembalasan dendam pun berlanjut seketika tangan Irhas sudah mengelitik di tubuh kecil itu.
" Ampun Bang, Ampun sudah cukup. " Teriak Tari dengan kencang.
" Tiada kata maaf bagimu. " Jawab Irhas mengebu- ngebu seolah tak ingin melepaskan buruannya.
Laki - laki tampan di depan mereka hanya memperhatikan tingkah mereka dengan tersenyum samar. Setelah kenal dengan Tari hampir dua bulan baru kali ini dia melihat gadis itu tertawa lebar.
Dddrrttttttttt
" Bentar Bang, aku jawab telfon dulu. "
__ADS_1
📞 Halo Assalamualaikum
📞 Walaikumsalam
📞 Ada apa Gus Reyhan ?
📞 Tar, aku hanya ingin mengabarkan kalau Rina sekarang sudah mau melahirkan. Tolong bantu dolan agar semuanya diberi kelancaran dan kemudahan.
📞 Iya Gus, Insyaallah aku akan bantu mendoakan. Bagaimana keadaan Mbak Rina sekarang ?
📞 Alhamdulillah semua baik - baik saja, kita sudah dirumah sakit dan menunggu proses pembukaannya lengkap.
📞 Semoga diberi kelancaran dan kemudahan ya Gus. Ibu dan Anaknya diberi kesehatan, Maaf ya saya tidak bisa menemani.
📞 Amien Iya tidak apa - apa. Doakan yang terbaik saja. Ya sudah kalau begitu Assalamualaikum
📞 Walaikumsalam
Tapi menatap benda pipih di tangannya lagi setelah menutup panggilan yang dia lakukan. Tapi kemudian handphone dalam tangannya itu kembali bergetar. Dilihatnya layar benda itu yang menunjukkan ID si pemanggil, nomer yang akhir-akhir ini selalu menghubunginya. Diusapnya layar kearah tombol hijau lalu diletakkan benda pipih itu ke telinganya.
📞 Assalamualaikum
Seperti biasa tak pernah ada jawaban dari sang penelefon. Tapi sudah menjadi hal biasa bagi Tari.
📞 Bagaimana kabar sampean ?
📞 Alhamdulillah saya disini baik - baik saja.
📞 Kalau begitu Walaikumsalam
Nomor yang sama, yang selalu menelfonnya tapi tak pernah sekalipun ada obrolan ataupun sapaan bahkan suara dari panggilan itupun tidak pernah dia dengar. Entah dari siapa, awal - awalnya Tari merasa aneh tapi lama kelamaan dia merasa biasa saja. Dan bahkan dia sekarang menyapa si penelfon meskipun tak pernah ada jawaban dari si penelfon.
" Dari siapa Mbak ? " Tanya Irsyad.
" Seperti biasa Bang. "
" Tetap Bang, mungkin dia seperti itu karena menghindari suatu hal. " ucap Tari sembari menyimpan handphonenya kembali ke dalam tas selempangnya.
" Tapi aneh Mbak " Jawab Irhas.
" Jangan seperti itu Tar, bagaimanapun kamu harus tetap waspada. "
" Jangan suudzon dulu Bang, Pak Rizki Insyaallah ngak akan terjadi apa - apa. Kalian tidak pulang ini sudah malam Lo, besuk masih harus kerja. "
" Ya sebentar lagi Mbak. "
" Ni saya juga sudah mau pulang, kalau begitu saya permisi duluan. Assalamualaikum " Pamit Pak Rizki sembari berjalan keluar.
" Walaikumsalam " Jawab mereka bersama
Beberapa menit yang lalu Irhas dan Irsyad sudah kembali ke kosan mereka. Tari pun kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalnya tadi siang.
Sementara itu Wardah yang sedang memperbaiki naskah ujian yang harus disiapkannya tertidur dengan keadaan lap top yang masih menyala. Tari yang melihat keadaan itu tersenyum, memelankan langkah kakinya menuju sisi kamar dimana tempat tidurnya berada. Kemudian mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang sembari membuka tas selempangnya. Ditatapnya kembali layar handphonenya yang memperlihatkan nomer yang selalu menghubunginya tanpa ada satupun kata yang terucap.
" Entah mengapa aku tidak pernah berprasangka jelek terhadapmu meskipun aku tidak pernah tahu apa maksud dari semua ini. Tetapi aku memiliki keyakinan atas firasatku sebagaimana keyakinan ku kepada Sang Pencipta. "
" Mbak Tar sudah pulang ? "
" Ehh ...... sudah dari tadi, tapi tadi ngobrol di bawah dulu. Belum selesai juga ? "
" Alhamdulillah sudah mbak, semoga besok langsung di ACC sama Pak Rizki. Bingung banget mbak ditolak mulu alasannya ngak jelas pula. "
" Masak, ngak mungkin deh kayaknya kalau Pak Rizki menolak tanpa alasan. "
" Ngak tau juga mbak, Mbak mau mandi ya ? "
" Iya, aku mandi dulu gerah banget. "
__ADS_1
Tak lama berselang Tari keluar dari kamar mandi dengan menggunakan gamis rumahan dan kerudung instannya. Sedangkan Wardah sudah tidak berada dikamar mereka. Suasana asrama dimalam hari seperti ini ramai karena semua penghuninya ada. Dan dilantai bawah adalah tempat favorit bagi mereka semua untuk berkumpul.
Mereka semua akrab satu sama lain karena intensnya pertemuan diantara mereka. Dan merasa senasib karena sama - sama jauh dari keluarga demi sebuah tanggung jawab kepada pekerjaan mereka. Yang membuat keakraban dari mereka timbul begitu saja. Apalagi semua penghuni disini perempuan samua hal itu juga membuat mereka cepat akrab satu sama lain.
Suara canda dan tawa terdengar nyaring saat Tari sampai di tangga. Kedua sudut bibirnya terangkat membuat lengkungan di bibir tipisnya itu. Dia mempercepat langkahnya menuju lantai bawah. Dan benar saja semua orang sedang di bawah sedang melihat drama Korea yang bintang utamanya salah satu anggota Boyband yang sedang digandrungi.
" Aduh manis banget sih, cobak aku yang jadi Ju Kyungnya sudah meleleh aku. "
" Hahaha sayangnya kamu bukan Ju Kyung, tapi Wardah. "
" Wez ngayalnya mulai ketinggian dia. " Ucap salah satu dari mereka sembari memegang kening Wardah.
" Pantesan radak ngawur, memang agak anget. "
" Masak sih cobak aku sekarang yang meriksa. "
" Haiisshhh, mana ada kalian jangan ngawur kasih jurus nih ya. " Ucap Tari sembari menepis tangan temannya kemudian berdiri dan pasang kuda - kuda.
" Wah nantangin ni bocah. "
Mereka bertengkar seolah - olah hal itu benar - benar terjadi padahal yang mereka lakukan hanya sedang mengelitik satu sama lain. Yang mampu membuat semua orang yang ada disana tertawa melihat tingkah konyol mereka. Memang suasananya akan seperti ini dikala mereka semua berkumpul, bercanda bergurau untuk menghibur diri dikala jauh dari keluarga. Dan tentu saja hal begini yang mampu menambah keakraban diantara mereka.
" Wez kumat dagelane mbanyol " Ucap Bu Tini yang datang dari arah dapur.
" Kersane Buk, biar tambah ramai untung - untung obat stres gratis. " Sahut Tari yang ada disamping Bu Tini berdiri.
Langsung saja semua orang menoleh kepada mereka berdua, keadaan hening sejenak namun tak lama suasana ramai kembali karena terdengar suara kentut yang sangat nyaring ditelinga.
" Ddduuuutttddd............... "
" Wardah .......... !!!!!!!!!!!! " Teriak mereka bersama.
Sementara itu sang pemilik nama yang dipanggil hanya menampilkan senyumnya sambil menggaruk kerudungnya.
" Kebiasaan kok kentut sembarangan. Kasihan banget suaminya nanti. "
" Wah kalian jangan berfikir seperti, banyak sekali kelebihan ku dibanding kan dengan ke kekuranganku. "
" Tapi kalau cewek suka kentut sembarangan itu namanya jorok bocah ayu. " Jawab Bu Tini.
" Bener Buk, nasihati anak kebanyakan yakult itu. "
" Hahahaha, Mbak Rom suka bener deh kalau ngomong. " Jawab Wardah sembari nyengir kuda.
Malam terasa hangat walaupun diluar hujan sedang melanda walaupun hanya gerimis. Namun suasana di ruangan itu masih saja sudah penuh canda dan tawa belum ada satupun dari mereka yang beranjak dari posisi mereka. Masih hanyut dengan suasana dan obrolan yang saling bersahutan.
Entah mengapa Tari tiba - tiba beranjak dari duduknya dan berjalan menuju teras. Dia berdiri terdiam memandang lurus tapi tak dia dapati suatu hal apapun disana kecuali gerimis yang berjatuhan. Sampai beberapa menit telah berlalu gadis itu tetap berdiri menatap halaman asrama yang basah.
" Mbak kenapa disini ? " Ucap Wardah sembari menepuk bahu Tari pelan.
" Hanya ingin mencari udara dingin saja. "
" Ouwh, ya sudah aku keatas dulu ya mbak. "
" Iya sebentar lagi aku menyusulmu. "
Nyatanya Tari tetap saja berdiri menatap halaman yang basah tergenang air itu hujan pun sudah mulai reda. Tari berbalik dia berniat ingin masuk kedalam, tapi terdengar suara mobil berhenti. .........
Tari menghentikan langkahnya dan berbalik menatap halaman asrama. Tiba - tiba jantungnya berdebar dengan keras entah ada apa ini sampai - sampai dia memegang dadanya untuk meredakan debaran yang dia rasakan.
Dari pintu samping muncul dua sosok yang tak terlihat dengan jelas dari tempat Tari berada, karena lampu yang sudah dimatikan. Tapi siluet mereka terlihat jelas karena cahaya rembulan yang tiba - tiba bersinar karena hujan yang sudah reda. Nampak seorang wanita dan laki - laki berjalan bersama, belum sampai ditempat Tari berada laki - laki itupun berhenti.
" Assalamualaikum, Tar kenapa masih disini ? "
" Walaikumsalam, Mbak Lenni. "
Mata Tari tanpa sengaja menangkap siluet wajah laki - laki Yang datang bersama Lenni. Mengembalikkan dia pada sebuah ingatan masa lalu yang berusaha dikuburnya. Menatap punggung laki - laki itu yang berkelana menjauh menuju pintu samping dengan debaran jantung Tari yang berdetak begitu kencang.
__ADS_1
Bersambung ..............