Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
29. Pantai 2


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


" Maaf ya dek, berhenti tiba - tiba. "


" Iya, ngak papa mas. "


" Mari kita lanjutkan perjalanan kita. "


Pandu kembali duduk dibelakang kemudi mobilnya, melajukan mobil berwarna cat putih dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Sesekali dia membuang nafas kasar, dan mengepalkan tangannya sembari memukul - mukul setir mobilnya. Entah telefon dari siapa, tapi semenjak dia menerima telefon wajahnya terlihat gusar dengan emosi yang tertahan.


" Mas, apa sampean baik - baik saja ? " Tari menyadari keanehan yang terjadi pada calon suaminya itu.


" Mas " sekali lagi dia memanggil laki - laki itu dan menepuk pelan lengannya.


" Eh, iy...iya dek, ada apa ?. " Pandu kaget dengan tepukan di lengan kekarnya itu.


" Mas kenapa melamun, dan sepertinya kurang konsentrasi sampai nyetirnya ngak fokus. "


" Iya ni mas, kami yang duduk dibelakang seperti naek rollercoaster. Terpelanting ke kanan dan ke kiri tak karuan. " imbuh Irsyad.


" Astaghfirullah, iya maaf, maaf. Ouwh iya kita mencari tempat makan yang terdekat ya. Ini mumpung dekat pasar.


" Iya mas, cacing diperut ku ini sudah demo minyak asupan makanan. "


" Iya, tenang saja porsi double pun ok. " Jawab Pandu sambil memperhatikan deretan bangunan dikanan kirinya.


Mobil itu pun melaju dengan perlahan, semua penumpang didalamnya membuang pandangan mereka keluar menelusuri bangunan yang berjajar rapi di kanan kiri.


" Mau makan apa kita sekarang, ?


" Mas di dekat ini ada bakso yang cukup terkenal loh, banyak varian makanan yang lainnya juga yang ditawarkan. "


" Tahu dari mana bang ? Tanya Tari kepada adik sepupunya itu.


" Ni mbak dari Instagram " Sambil menunjukkan handphone nya ke depan dimana Tari duduk.


" Ehmz, sepertinya lumayan dek menunya. Boleh juga sepertinya.


" Bagaimana, kita kesana saja ?" Tanya Pandu.


" Iya mas, gimana bang masih jauh kah tempatnya dari sini. "


" Enggak mbak, itu depan ada pertigaan tempatnya ada disebelah pertigaan itu yang sebelah kiri. Jadi kita nanti ambil kiri sebelum pertigaan. Mas tapi ingat Lo ya porsi double ???"


" Iya siip, mau double berapapun ok. Sekuat apa cobak perut kalian ? "


Mobil itu melaju dengan lambat, sebelum pertigaan langsung menyebrang kearah kiri karena letak sebelum pertigaan. Cafe dengan bangunan dua lantai ada yang terlihat instrgamable. Semua penumpang itu turun dari mobil bercat putih itu, Tari mengandeng lengan Irhas, sedangkan Pandu berjalan didepan mereka sedangkan Irsyad berjalan paling belakang.


Suasana cafe modern sangat terasa setelah memasuki area cafe di lantai satu ini, terdapat area indoor dan outdoor. Terdapat kolam diarea outdoor pada cafe ini dengan berbagai macam jenis tanaman, serta meja yang terbuat dari tong - tong bekas yang disulap menjadi sofa - sofa cantik. Mereka terus melangkah, karena Pandu terus saja melangkahkan kakinya menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.


Ternyata dilantai dua ini juga terdapat dua area juga indoor dan outdoor juga, dengan berbagai sofa yang cantik. Akhirnya mereka memilih area outdoor dilantai dua cafe ini, yang langsung menghadap ke selatan. Dari tempat ini nampak pantai yang mereka kunjungi tadi,


" Tempatnya bagus ya mbak, "


" Iya bang, sesuai ekspektasi lah. tinggal nunggu menu makanannya seenak yang ada difotonya atau tidak. "


" Ih Mbak Tari mana ada foto yang enak, " cibir Irhas kepada Tari.

__ADS_1


" Entahlah dek, maksutnya bukan begitu. "


" Permisi Mas, Mbak mau pesan apa ? " Seorang pelayan menghampiri mereka seraya memberikan daftar menu dicafe ini.


Mereka berempat mulai sibuk melihat - lihat daftar menu yang ada, dan memulai memilih makanan sesuai keinginan mereka.


" Dek sampean mau apa ?" Tanya Pandu ke Tari sembari melemparkan senyum manisnya kearah calon istrinya.


" Aku, Mi Ayam sepesial minumnya Teh hangat saja mas "


" Mbak Mi Ayam sepesial dua, Sama Bakau bakar sepesialnya satu, kentang goreng satu, jamur crispy satu, teh hangat dua, kopi hitamnya satu dan air mineralnya satu. Kalian mau apa, Pesan sesuka kalian "


Sementara itu Irhas dan Irsyad saling pandang sambil senyum menyiringai. Sejurus kemudian menoleh kearah Pandu dan mengangkat dua jarinya, Pandu yang mengerti maksut dari isyarat yang mereka berikan hanya mengangguk saja.


" kami pesan, 2 Bakso bakar sepesial, 2 ayam geprek ekstra Mozarella, 2 kentang goreng, 2 es Milo , 2 air mineral dan 2 es krim sepesial ya Mbak Mila yang Cantik " Ucap Irsyad sambil mengedip - ngedipkan matanya dan tersenyum lebar kearah pelayan itu.


" Baik terimakasih, tunggu sebentar untuk semua pesanannya. " pelayan itu meninggalkan meja itu dengan sedikit grogi dengan perlakuan Irsyad.


Setelah pelayan itu cukup jauh meninggalkan meja mereka kemudian Tari menatap duo kembar yang duduk di depannya itu


" Bang Irsyad, tau dari mana namanya yang itu tadi Mila ?. "


" Ih gitu aja mbak Tari ngak ngerti " Jawab Irsyad enteng.


" Terus, "


" Lihat saja Tag namanya tadi kan beres, ah mbak ini kurang pergaulan. "


" Owh, mbak rasa bukan kalian yang suka digodain orang, tapi sebaliknya. "


Mereka melanjutkan obrolan mereka, dengan berbagai candaan dan ejekan diantara kedua kembar itu. Terdengar suara handphone Pandu berbunyi lagi, lantas dia mengambil dari tasnya dilihatnya siapa yang menghubunginya. Tapi Pandu mengabaikan panggilan itu seraya mematikan panggilan itu dan memasukan kembali handphonenya. Bersamaan dengan pesanan mereka yang datang, yang lumayan banyak sehingga membutuhkan 3 orang pelayan untuk membawanya ke meja mereka.


" Bang Irhas, Bang Irsyad, jangan lupa baca doa dulu. " Ketika melihat duo sepupunya itu yang langsung akan memakan, makanan dihadapan mereka.


" Bacanya dihati mbak, masak mau baca keras - keras. "


" Dek, ini mi ayamnya. " Pandu memberikan semangkuk mi ayam dengan toping ceker dan beberapa pentol diatasnya yang terlihat sangat menggoda.


Meja mereka dipenuhi dengan semua hidangan yang mereka pesan makanan yang sedang digemari akhir - akhir ini. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka menghabiskan semua makanan yang ada diatas meja hanya menyisakan beberapa camilan. Tari masih belum selesai dengan mi ayamnya, memang mi ayam adalah makanan yang sangat digemarinya. Karena makanan yang komplit menurutnya mengandung karbohidrat, protein dan sayur tertibnya jadi merupakan satu paket yang lengkap.


" Dek, "


" Iya mas, " Sambil menoleh kearah Pandu, sejurus kemudian Pandu mengusap sisa makanan di ujung bibir Tari mengunakan jari jempolnya.Tari kaget dengan perlakuan Pandu kepadanya.


" Eh kenapa Mas "


" Ada sisa makanan dek di bibir sampean. "


" Ehem, teganya kalian memberi polusi kepada mata kami yang masih polos ini " Ucap Irsyad dengan menceburkan bibirnya.


" Kasihanilah kami yang jomblo ini " Irhas ikut menimpali.


" Apa sih bang"


" Kalian sekarang kelas berapa ? " Ucap Pandu mengalihkan pembicaraan, sembari mematik rokok yang sudah berada di mulutnya.


" Kami kelas 2 SMK mas, jurusan teknik otomotif. Sekalian mondok. "

__ADS_1


" Mondok juga ? "


" Iya mas, sudah 5 tahun kami mondok dari kelas 1 SMP. "


" Apa keluarga kalian memang mengharuskan semua anak - anaknya untuk mondok. "


" Tidak juga mas, Tapi memang keluarga kami mementingkan pendidikan agama lebih utama dari pada yang lain. "


" Lalu setelah lulus apa yang ingin kalian lakukan ? "


" Kalau aku sih, belum tau mas tapi ........ " Ucap Irsyad menggantung.


" Dia terobsesi sama salah satu Gus pengasuh di pondok kami mas, yang seorang Abdi negara sekaligus dokter dan seorang hafidz. "


" Abdi negara ? "


" Iya beliau seorang tentara, bahkan saat ini beliau sedang bertugas di luar negeri untuk misi perdamaian menjadi dokter disana. Beliau itu suami idamannya para mbak - mbak santri di pondok. " Ucap Irsyad dia begitu antusias ketika menceritakan sosok yang sangat dia kagumi.


" Bang Irsyad hi...... ceritanya kok sampek segitunya, sehebat itukah dia Bang ? " Ucap Tari yang sedikit heran dengan tingkah sepupunya yang terlihat begitu serius menceritakan sosok yang dia kagumi.


" Yah jelas mbak, sampean kalau lihat pasti jatuh cinta. Kami saja yang laki - laki bila mendengar beliau mengaji saja sampai kehabisan kata - kata .... "


" Sebelum mbak mu ini ketemu sama Gus kalian itu, mbak mu ini sudah jadi istrinya mas dek. Jadi ngak ada kesempatan jatuh cinta lagi. " Ucap Pandu sekenanya sambil menyesap kopi hitam miliknya yang sudah dingin.


" Iya - iya mas, tenang kalian memang pasangan yang sangat cocok. "


" Mas, boleh ngak aku ngomong sesuatu ?"


" Ngomong saja dek, memangnya ada apa ? "


" Maaf sebelumnya mas, alangkah lebih baik apabila mas berhenti merokok atau setidaknya mengurangi lah. Karena banyak sekali mudharatnya mas. " ucapnya hati - hati takut menyinggung perasaan Pandu.


" Apakah adek tidak suka ? "


" Sedikit mas, ya setidaknya mengurangi lah karena tidak baik juga untuk kesehatan mas Pandu. Sudah lama ya mas Pandu merokok ? "


" Lumayan lah, awal SMA masih coba - coba, pas kerja malah jadi kecanduan dek soalnya mengusir ngantuk saat bekerja di malam hari. Jadi keturunan Sampek saat ini, ya setelah ini mas coba untuk mengurangi dulu ya dek kalau langsung berhenti mas rasa tidak bisa. "


" Iya mas, yang penting ngak lelah mencoba. "


Setelah menyelesaikan makan mereka dan semua makanan serta minuman yang tersedia di meja tandas tanpa tersisa mereka memutuskan untuk pulang. Pandu berjalan ke kasir yang berada di lantai satu, dengan Tari yang berada disampingnya senyum berbinar merekah di kedua wajah mereka. Suasana di cafe mulai rame di waktu sore hari, banyak pasangan muda mudi yang berkunjung hanya untuk sekedar bertemu dengan temannya untuk menghabiskan waktu disore hari.


Semua mata pengunjung cafe itu tertuju pada kedua sosok yang terlihat sama dalam segala hal, meskipun mereka memakai baju yang tidak sama. Tapi tetap saja mereka tetap sama apabila dilihat dari sisi manapun, dari bentuk muka, tinggi badan, gestur tubuh sampai suara mereka pun sama. Semua mata pengunjung wanita tertuju kearah mereka berdua, mengetahui mereka menjadi pusat perhatian tak henti - hentinya mereka melempar senyuman ke setiap orang yang melihat kearah mereka.


" Dou Abang, memang kalau jalan harus gitu ya senyum - senyum sendiri ? " Ucap Tari sambil mengencangkan sealtbeltnya.


" Ngak juga mbak, kata sampean harus selalu bersedekah walaupun itu hanya senyuman hayo ingat apa enggak ? " Irhas menjawab pertanyaan Tari dengan sedikit menggodanya.


" Sudahlah mbak adek sampean ini memang sudah ganteng dari Sononya, jadi wajar kalau banyak yang memperhatikan. "


" Iya wes terserah, yang terpenting jangan hanya ganteng wajahnya saja Lo. Akhlaknya juga harus lebih ganteng dari wajahnya bagaimana ?"


" Insyaallah mbak, " jawab mereka serentak.


Mobil itu kembali melaju dengan kecepatan sedang dengan diiringi tetesan air yang mulai jatuh dari langit. Suasana yang tadi sedikit panas kini menjadi lebih dingin. Mungkin karena lelah dan kenyang kedua pasang kembar itu terlelap di kursi tengah mobil itu. Sementara Tari membicarakan banyak hal dengan Pandu, diiringi dengan senyuman dari keduanya. Akhirnya mobil itu sampai didepan rumah kecil yang terlihat asri itu, dengan segera Tari dan kedua sepupunya turun dan diikuti Pandu yang berjalan dibelakang mereka.


Suasana rumah yang biasanya tenang kini terlihat agak ramai, karena adanya pihak WO yang sudah mulai bersiap nampak mereka tengah sibuk menurunkan perlengkapan tenda serta beberap alat makan untuk acara besuk siang. Karena rencananya besuk digelar acara Pengajian disiang hari dilanjutkan acara siraman dan malamnya acara midodareni.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2