
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Doa itu seperti Kayuhan sepedah entah lama atau sebentar pastinya akan membawa kita sampai pada tujuan.
Tak terasa sudah 2 bulan lamanya Tari mengajar di sekolah ini dengan segala problematika yang dia hadapi. Banyak hal baru yang dia dapatkan disini, keakraban satu sama lain dengan teman - temannya sesama tenaga pengajar membuat dia betah disini.
Dia tidak pulang sesering saat dia mengajar di Malang, karena jarak Kediri Blitar cukup jauh. Dia pulang dua Minggu sekali dan setiap pulang Hawa Dan Pak Fahmi selalu menjemputnya, sampai - sampai semua orang di asrama berfikir kalau mereka pasangan suami istri. Tapi semua terbantahkan saat Wardah menceritakan hubungan antara Tari dan Pak Fahmi hanya sebatas pertemanan saja.
Kegiatan Tari sekarang tidak hanya terpaku pada kegiatan belajar mengajar di yayasan ini saja, Mbak Lenni teman mengajarnya mengajaknya untuk mengajar juga di rumah singgah di saat Sore hari. Dan kegiatan itu cukup menyibukkannya tapi memberikan kepuasan tersendiri baginya. Ketika dia mampu berbagi dengan anak - anak yang kurang beruntung.
Seperti biasa kegiatan paginya dimulai ketika subuh menjelang, selesai sholat subuh berjamaah dia segera bergegas membantu Bu Tini untuk memasak hidangan makanan untuk sarapan. Meskipun dia jarang sekali sarapan karena hari- harinya diisi dengan berpuasa tetap saja membantu memasak di pagi hari sudah menjadi rutinitas wajibnya.
Pagi ini dia berjalan menyusuri jalan menuju tempatnya mengaja, bersama Mbak Lenni, wanita itu terlihat kurang bersahabat dengan orang yang baru mengenalnya. Tapi sebenarnya dia adalah sosok yang ramah dan lembut serta sangat dewasa sesuai dengan usianya. Siapapun akan senang jika menjadi teman ataupun partner kerjanya, dia selalu bertanggung jawab dan mendahulukan pekerjaannya dalam segala hal.
Bel pun berbunyi semua murid masuk kedalam kelas mereka dengan berbaris terlebih dahulu di depan kelas. Kegiatan yang sudah menjadi rutinitas rutin murid TK disini.
" Kawan - kawanku semua apa kabar "
" Baik "
"Sahabatku semua apa kabar ?"
" Mulia "
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
" Sahabatku semua apa kabar "
" Baik, baik YESS "
" Alhamdulillah semuanya semangat sekali, anak - anak hari ini hari apa ? ada yang tahu ? "
" Hari Kamis Bu guru " Jawab mereka serempak.
" Pintar sekali semua, ayo karena hari ini hari Kamis jadi kita mau buat kerajinan tangan ayo semua dikeluarkan sedotan, lem dan guntingnya. Ayo semuanya dikeluarkan di tata diatas meja. "
Suasana pagi ini riuh sekali hari Kamis merupakan hari dimana dikelas Tari ada mata pelajaran kerajinan tangan, dan hal ini membuat semua anak didiknya sangat antusias. Karena Tari dan Lenni termasuk guru yang kreatif dia akan memberikan materi yang berganti - ganti sesuai tema yang dipelajari setiap minggunya. Karena Minggu ini Temanya tanaman maka Untuk pelajaran kerajinan mereka kan membuat bunga dari sedotan.
Tari menjelaskan di depan kelas bagaimana cara membuat kerajinan itu. Sedangkan Mbak Lenni berkeliling membantu murid - muridnya yang merasa kesulitan dalam memotong atau menyerut sedotan untuk dijadikan kelopak bunga.
" Bagaimana anak-anak bisa ? Kalau ada yang tidak bisa minta tolong sama ibu guru ya. Dan satu lagi karena gunting ini termasuk benda yang berbahaya jadi kalian harus hati-hati ya dalam menggunakannya. "
" Bu Tari, Jojo tidak bisa mengunting sedotan warna hijaunya "
" Iya Jojo tunggu ibu akan segera kesana. " Ucap Tari sembari melangkahkan kakinya ke salah satu murid yang memanggilnya.
Bel istirahat pun berbunyi, berbarengan juga dengan kelas itu menyelesaikan tugas mereka. Bunga - bunga plastik hasil kerajinan anak- anak itu di pajang di rak yang sudah disiapkan untuk memajang hasil karya anak-anak. Sementara anak-anak sudah berhamburan keluar kelas menuju halaman yang penuh dengan permainan.
" Tar nanti ke rumah singgah ? "
" Iya mbak, nanti Bang Irsyad dan Bang Irhas juga kesana. Kenapa Mbak ? "
Irhas dan Irsyad setiap sore selalu mengunjungi kakaknya karena magang yang dia lakukan hanya sampai jam 04:00. Untuk mengisi waktu sore, mereka selalu berkunjung ke asrama Tari dan mengikuti kegiatannya di rumah singgah. Disana dua pasang kembar itu mengajar mengaji karena untuk urusan itu mereka sangat bisa diandalkan.
__ADS_1
" Maaf ya aku tidak ikut kesana, karena aku harus ke Surabaya. "
" Ciye hayo mau ngapain kesana .... ?"
" Dia datang Tar, aku ingin menjemputnya. "
" Semangat ya mbak, " Sbil mengangkat tangannya yang terkepal.
" Apaan sih Tar. "
" Mba aku keluar dulu, nemenin anak - anak dulu. "
" Iya Tar. "
Tari melangkahkan kakinya keluar kelas, duduk di bangku panjang yang ada di depan kelas sembari mengawasi murid - muridnya yang sedang bermain. Hal yang selalu dia lakukan di saat jam istirahat, dan sesekali ikut melakukan permainan yang murid - muridnya mainkan. Pandangannya kesana - kesini mengikuti setiap teriakan yang dia dengar.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam " Ucap Tari sembali menoleh kesamping sumber suara itu berasal.
" Tumben tidak ikut bermain Bu Tari ? "
" Permainannya kurang pas Pak bila saya ikut. Jadi saya hanya mengawasi saja. " Pandangannya tidak beralih dari murid-muridnya yang sedang bermain di halaman.
" Bu Tari masih sering ke rumah singgah ? "
" Alhamdulillah Pak belum pernah absen Pak semenjak kesana kalau tidak ada hal yang penting. Saya pasti akan sempatkan kesana. "
" Bapak sendiri, sepertinya sekarang jarang kesana. "
Riski juga salah satu guru dirumah singgah itu, dia terlebih dahulu mengajar disana sebelum Tari. Tapi karena kesibukannya akhir - akhir ini dia jarang kesana. Persiapan ujian Akhir semester sangat menyibukkannya karena dia ketua yayasan disini jadi banyak hal yang harus dia urus.
" Insyaallah nanti saya sempatkan hadir di rumah singgah Bu Tari. "
" Saya rasa anak - anak akan senang Pak, karena beberapa dari mereka sering menanyakan Pak Riski. "
" Iya mari Bu Tari, Assalamualaikum " Sembari berdiri dari duduknya melangkahkan kakinya meninggalkan Tari yang masih enggan pergi dari duduknya.
" Walaikumsalam " Jawab Tari.
Tak terasa waktu istirahat pun berakhir, semua murid telah kembali ke kelas mereka masing - masing. Duduk di tempat mereka bersiap menerima pelajaran kembali. Tari dan Lenni disibukkan kembali dengan tugasnya berjibaku dengan anak - anak usia TK memang memerlukan perhatian dan kesabaran ekstra.
Jam menunjukkan pukul 14:00 saat kedua gadis itu keluar dari ruangan tempat mereka mengajar. Tari dan Lenni terlebih dahulu membersihkan dan merapikan kelas mereka agar besok kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan baik. Mereka berjalan menuju kantor yang berada di lantai dua bangunan itu.
" Mbak sampean langsung pulang ? "
" Iya Tar, nanti aku buat laporan dari rumah saja. Takut yang dijemput keburu datang. "
" Apa sekalian aku buatkan Mbak ? "
" Tidak usah, nanti ke rumah singgah sama siapa ? Irhas dan Irsyad ikut juga kan ? "
" Sama mereka mbak, nanti mereka setelah selesai dari bengkel langsung ke asrama. "
" Oh syukurlah, sepertinya aku tadi melihat Pak Rizki menghampiri mu Tar ? "
__ADS_1
" Iya mbak, "
Akhirnya langkah merekapun sampai ke kantor, seperti biasa ringan luas itu sudah terisi penuh dengan sesama tenaga pengajar yang membuat laporan harian mereka. Tari segera berjalan ke arah mejanya, mengeluarkan lap top dari tas ranselnya dan membukanya. Tapi tak lama dia kembali menutup lap topnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas ranselnya. Dia segera berkemas, merapikan meja kerjanya dan menyamparkan tas ransel di bahunya. Dia berpamitan kepada semua orang yang berada disana dan keluar dari ruangan itu.
Sembari mengendong tas ransel yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya dia berjalan menyusuri jalan menuju asrama. Setiap sapaan padanya dia balas dengan anggukan dan senyuman, namanya kini lumayan populer di kalangan guru dan juga murid - murid disana. Bu Tari guru TK yang baru berwajah manis, kulit yang tidak terlalu putih namun cukup bersih dan tubuhnya yang kecil tetapi orangnya sangat ramah dan juga sangat santun. Sedikit banyak berhasil mencuri perhatian guru yang masih lajang disana bahkan murid - murid tingkat Aliyah tak segan untuk mencuri pandang kepadanya.
Tetapi meskipun dia ramah terhadap semua orang dia selalu akan memberikan batasan dalam dia bertindak dan berucap. Sudah menjadi kebiasaan yang dia lakukan di manapun dia berada, membuat orang semakin penasaran dengan sosoknya.
Seperti biasa keadaan asrama siang itu cukup ramai karena ada beberapa guru yang datang. Meskipun semua tidak tinggal disana tetapi tempat itu merupakan tempat favorit semua orang di yayasan itu untuk berkumpul, entah karena ada hal yang ingin didiskusikan atau hanya sekedar main - main saja.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam " Jawab mereka serempak.
" Mbak Tari tumben jam segini sudah pulang ? "
" Iya mbak tadi saya teringat mau pergi keluar karena ada yang ingin saya beli makanya pulang lebih cepat. " Ucap Tari sembari melepas sepatunya dan menaruhnya di atas rak sepatu.
" Sini mbak duduk dulu. " Ucap salah satu dari mereka, sambil menepuk bangku disebelahnya yang masih kosong.
Tari pun menghampirinya kalau mendudukkan tubuhnya di kursi yang kosong itu. Melepaskan tas ranselnya lalu menaruhnya di depan kakinya.
" Mbak hari Minggu ada pengajian di Ponpes AL- Hikmah Mbak Tari mau ikut ? "
" Insyaallah Mbak, "
" Mbak Tari ngak pulang kan Minggu ini ? "
" Enggak Mbak, cuma kalau saya belum tahu tempatnya kuatirnya kalau terlalu jauh saya tidak tahu jalannya. "
" Tenang saja Mbak kita kesananya kan bisa bersama- sama. Pak Rizki juga datang kesana kita juga bisa ikut mobilnya Pak Riski. "
Mereka terus berbincang di ruang tamu itu, suasana semakin ramai karena banyak dari mereka yang tinggal disana telah datang. Suasana yang ramai dan kekeluargaan yang seperti inilah yang membuat Tari betah tinggal disini. Tak lama berselang datang tiga orang laki - laki yang membuat suasana yang semula ramai menjadi hening sejenak.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam "
" Loh tumben kok jam segini sudah datang Abang Arab ? " Tanya salah satu dari mereka kepada Ketiga lelaki yang baru datang itu.
" Pas tadi mau masuk dari pintu samping kebetulan Pak Riski datang dari belakang jadi kami masuk bersamaan. "
" Aduh kalau setiap hari pemandangan asrama seperti ini jadi tenang adem ayem ya jadinya makanya kalian senang sekali berlama-lama disini. "
" Hehehehe, ngak gitu juga kali. Kamu pas aja mereka datangnya pas barengan. "
Tari hanya tersenyum sekilas menanggapi perkataan teman- temannya. Diraihnya tas yang dia letakkan dilantai kemudian berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya menuju tangga yang membawanya sampai ke kamarnya.
" Mbak mau kemana, ? "
" Bentar ya Bang Irsyad, Mbak mau bersih - bersih dulu. "
Ketiga laki - laki yang datang itu adalah Irhas, Irsyad, dan Riski tiga laki - laki yang memiliki wajah yang rupawan yang mampu membuat siapa yang melihatnya terpesona. Sungguh maha karya sang Pencipta yang mampu memanjakan indera penglihatan.
Semenjak Irhas dan Irsyad magang setiap sore setelah selesai dengan rutinitas yang mereka kerjakan, mereka selalu datang ke asrama entah itu ikut Tari ke rumah singgah atau hanya sekedar berkunjung keasrama saja. Jadi semua penghuni asrama sudah kenal baik dengan mereka, bahkan Bu Tini selalu menganggap mereka seperti anaknya sendiri.
__ADS_1
Bersambung ...........