Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu

Halalkan Aku Dengan Ridho Orang Tuamu
34. Dia Sangat Egois


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, butiran embun masih setia bertahta diatas dedaunan. Cahaya mentari yang mulai menghangat menggugurkan satu persatu embun itu turun dari tahtanya. Kicauan burung kutilang yang saling bersahutan menambah semarak suasana pagi itu. Mentari pun sudah mulai bertahta, menyinari setiap kehidupan di bumi.


Di rumah kecil itu kesibukan sudah dimulai dari waktu subuh tadi, karena semua penghuninya tidak pernah meninggalkan kewajibannya setiap waktu subuh datang. Seharusnya hari ini menjadi hari yang sibuk untuk seluruh penghuni rumah, tapi hal itu urung terjadi karena ada suatu hal. Tenda pun sudah dibongkar beserta dekorasi yang sudah disiapkan, semuanya selesai sebelum jam 12 malam.


Jangan ditanya bagaimana perasaan seluruh anggota keluarga itu, tentu saja mereka kecewa. Tapi mereka berusaha menutupi rasa kekecewaan mereka masing - masing untuk tetap menguatkan satu sama lain. Kehadiran duo kembar sedikit banyak mencairkan suasana, karena mereka tak henti - hentinya membuat seisi rumah tertawa karena ulah mereka.


" Bang Irhas Lo buk, yang mulai duluan. "


" Sudah kalian sama saja, ngak ada yang bisa dibilangin. Sudah cepat selesaikan pekerjaan itu, lelenya keburu di goreng sama bude kalian. "


" Enggeh buk, tenang saja sebentar lagi beres, "


" Sampean itu Bang enak sekali bilang beres, dari tadi cuma liatin aja bertindak juga enggak. " Dengus irsyad.


" aduh, sampean kan ngerti kalau aku geli bang liat lele. Sumpah kalau megang aduh bisa pingsan aku, setidaknya kan tak bantu lewat doa bang makanya ini sudah selesai hehehehe. "


" Terserah wez bang, sak karepmu. Laki - laki gitu amat liat apa - apa geli. Ni beneran laki - laki apa setengah jadi - jadian Bang. "


" Eh ngomong apa, mau bukti kejantananku kah. "


Akhirnya pekerjaan itu selesai juga meskipun diiringi berbagai keributan - keributan kecil dari duo kembar itu. Sedangkan Tari, Bu Fatma, dan Bu Yuli sedang berada di dapur untuk memasak pecel lele. Terdengar suara keributan dari depan, yang membuat semua orang yang berada di dapur itu melangkahkan kaki mereka mencari sumber keributan itu.


" Tari, Tari cepat keluar kita harus bicara "


Terdengar suar teriakan dari luar, dan Tari yang sedang berjalan kearah depan mendengar dengan jelas ada seseorang yang sedang memanggilnya. Sejenak dia menghentikan langkahnya dan terdiam, dia langsung mengenali siapa pemilik suara itu.


" Nduk sepertinya itu suara Pandu. " Ucap Bu Fatma khawatir.


" Tunggu buk, mbak, kalian ngak usah keluar biar kami lihat dulu. Cepat kalian masuk dan tunggu di dalam jangan keluar. " Ucap Irhas,


Dua lelaki yang beranjak dewasa itu beranjak ke teras, benar saja Pandu sudah di depan rumah sembari berteriak - teriak memanggil nama Tari. Sehingga memancing beberapa tetangga untuk melihat peristiwa itu. Sedangkan pak Rahmat dan Pak Rudi sudah pergi untuk mengurus suatu hal sejak subuh tadi.


" Mas apa yang sampean lakukan "


" Mana Tari, "


" Mbak Tari ngak ada sudah sampean pulang. "


" Jangan mencoba membohongiku bocah. Tari , Tari keluar aku tahu kamu di dalam. Cepat keluar atau ku dobrak pintu ini. " Teriak Pandu.


" Mas, cepat pean pulang. Apa sampean sungguh tidak malu setelah apa yang sampean lakukan sama mbak Ijah ??...... Ucap Irhas.


" Seharusnya kalau sampean benar - benar lelaki, sampean harus bertanggung jawab dengan apa yang sampean lakukan. " Tambah Irsyad, karena dirinya juga sudah terbawa emosi dengan keadaan.


Brrruuukkkk


Dengan penuh emosi karena mendengar ucapan Irsyad, Pandu mendaratkan Bogeman ya kearah pipi mulus Irsyad. Melihat saudaranya mendapat Bogeman Pandu, Irhas segera membalas sebuah tendangan yang pas mengenai perut Pandu yang membuat tubuhnya langsung tersungkur ketanah.


" Sampean kira hanya sampean mas yang bisa berbuat kasar, ayo kita buktikan siapa disini yang laki - laki. " Ucap Irhas yang sudah memasang kuda - kuda.

__ADS_1


" Cihh, jadi kamu menantang ku. "


Tari yang melihat semua kejadian itu dari kaca depan rumah sedikit khawatir karena keadaan sudah mulai memanas. Bahkan mereka sekarang sudah mulai dengan kekerasan fisik.


" Buk, Tari harus keluar "


" Jangan nduk, ibuk takut Pandu akan nekat sama sampean. "


" Insyaallah enggak buk, ibuk tetap disini. "


Tari membuka pintu rumahnya, dia menatap Pandu dengan lekat. Pandu yang di pandang pun tersenyum, apa yang sedang dia cari akhirnya muncul juga. Tari melihat banyak orang yang berkumpul di depan rumahnya, dia sedikit kaget dengan hal itu.


" Apa yang sampean lakukan mas, "


" Aku hanya ingin berbicara dengan mu, tapi dua bocah ini mengajakku ribut. "


" Kami tidak mengajak ribut mbak, Mas Pandu yang terlebih dahulu memukul Bang Irsyad. "


" Tenang, mbak sudah melihat semuanya. Sampean masuk mas, tapi aku tidak banyak waktu. "


Tari mengajak Pandu masuk, karena tidak mungkin mereka berbicara diluar. Sudah banyak tetangga Tari yang berkumpul di depan rumahnya, Tari tidak ingin pembicaraannya didengar banyak orang.


" Apa yang sampean akan bicarakan mas ? "


" Tolong Tar, fikir kembali keputusanmu. Ini bukan keputusan terbaik untuk kita berdua. Kamu tahu kan bagaimana perasaanku padamu ..... ? "


" Mas, kalau masalah itu maaf aku tidak bisa mengubah keputusanku. "


" Semua orang sudah bertanya mas, sampean hanya diam. Dan sikap diam sampean itu menunjukkan bahwa yang terjadi memang seperti itu. Seharusnya kalau sampean benar - benar mencintai ku, sampean tidak melakukan hal itu. "


Sejurus kemudian Tari memandang intens kearah Pandu, Dia meredam semua amarah dalam dadanya sehingga nafasnya pun terasa sesak. Rasa sakit begitu terasa di dadanya, sebuah penghianatan yang dilakukan orang yang semula dianggap sebagai penyembuh lukanya selama ini. Sejenak mereka terdiam, dengan fikiran mereka masing - masing.


" Mas ihklaskan aku, karena sesungguhnya takdir tidak mengikat kita dalam kehidupan ini. Namaku sungguh benar - benar tidak tertulis dalam Lauhil Mahfudz mu begitupun sebaliknya. Ingatlah tiada satupun hal dalam dunia ini tanpa adanya kuasa dari Sang pemilik kehidupan. Mungkin memang jalannya seperti ini, terimalah apa yang sudah digariskan kepada sampean. "


" Maafkan aku Tar, sampai kapanpun aku tidak bisa mencintai wanita lain seperti aku mencintaimu Tar. " Bibirnya bergetar, ketika mendengar semua ucapan Tari.


" Sampean harus belajar, karena ini sudah jalannya. Segeralah pulang dan bertanggung jawablah dengan apa yang terjadi. "


" Tar ........"


" Mas pulanglah, lihatlah semua orang berkumpul didepan rumahku. Aku tidak ingin mereka berfikir macam - macam karena kedatangan sampean pagi ini. " Ucap Tari sambil menunjuk kearah luar rumahnya.


Dengan berat hati, Pandu meninggalkan Tari di ruang tamu rumahnya. Langkahnya begitu berat untuk melangkah keluar rumah itu, dilihatnya gadis yang dicintainya itu dengan lekat. Beribu penyesalan datang menghampirinya, sampai tidak terasa butiran kristal bening jatuh disudut matanya. Karena sudah tidak bisa membendung perasaanya, dia berjalan menuju arah Tari. Kemudian dipegangnya tangan Tari dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Tari yang kaget berusaha melepaskan pelukan itu, tapi apa daya tenaganya tak cukup besar untuk melepaskan pelukan Pandu.


" Mas lepaskan, apa yang sampean lakukan. " Tangannya sambil memukul - mukul dada bidang Pandu.


Pandu tidak melepaskan pelukannya, yang ada dia malah mempererat pelukannya. Sejurus kemudian mengendong Tari dan membawa tubuh gadis itu dipundaknya, berjalan keluar rumah. Irsyad yang mengetahui hal itu langsung menyusul Pandu dan diikuti Irhas dibelakangnya. Semua orang di depan rumah Tari yang sedari tadi disana mencoba menghentikan langkah Pandu.


" Pandu lepaskan Ijah, tidak cukup kamu menyakitinya. Ayo cepat lepaskan. "

__ADS_1


" Cepat lepaskan, mau kau bawa kemana Ijah hah, "


Pandu tidak menghiraukan teriakan beberapa orang disana, bahkan pukulan Tari di badannya juga tidak terasa baginya yang sudah terlanjur dikuasai oleh amarah. Dia hanya terus berjalan menuju mobilnya yang terparkir di bahu jalan depan rumah Tari. Tapi jalannya menuju mobil dihalangi beberapa orang tetangga Tari yang berada disana.


" Sial, apa sebenarnya yang mereka inginkan " Ucapan Pandu dalam hatinya.


" Mas Pandu cepat lepaskan aku, " Ucap Tari memohon.


Kemudian Pandu menurunkan Tari dari pundaknya, tiba - tiba dia mengeluarkan sebuah pisau yang dari tadi dia simpan di balik bajunya. Dia arahkan pisau itu ke leher Tari, suasana seketika menjadi tegang.


" Heh, Pandu apa yang kamu lakukan turunkan benda tajam itu. "


" Menyingkirlah kalian dari mobil ku, atau akan ku sakiti Tari."


" Tenang Pandu, semua bisa dibicarakan ayo cepat turunkan senjataku itu bisa menyakiti Tari.


Semua orang disana berteriak histeris, dan menangis. Termasuk Bu Fatma dan Bu Yuli yang saling memeluk untuk menguatkan keduanya. Sedangkan duo kembar itu mencoba memikirkan cara bagaimana menyelematkan kakak sepupunya itu.


" Istighfar mas, sampean jangan terbawa emosi, "


" Aku hanya ingin kau menjadi milikku. "


" Tapi mas, kau harus mempertanggungkan perbuatanmu. Kasihan janin yang sedang berada di kandungan Dinda. "


" Kau tidak usah menguruiku apalagi mengaturku. Apakah kau mau disiksa dulu kau baru menurut hah, ......... ???? "


" Aa, aku hanya ...... "


" Baiklah kalau itu maumu, dengan senang hati aku melakukannya. " Pandu mengarahkan pisaunya ke arah pipi Tari dan sedikit memainkannya.


" Lakukan sesukamu mas jika itu membuat mu senang. " Tari menutup matanya butiran kristal bening yang semula dia tahan, jatuh begitu saja dari ujung pelupuk matanya.


" Ini maumu sayang. " Kemudian Pandu menggoreskan pisau itu dipipi Tari, sehingga da**h segar keluar.


Tari sudah tidak bisa membendung tangisnya, semua orang berteriak siapa ya Pandu menghentikan perbuatannya. Bu Fatma jatuh keatas Tanaga saat melihat da**h keluar dari pipi anak semata wayangnya. Suasana begitu sangat menegangkan, ada banyak orang disana tapai mereka tidak bisa melakukan apa - apa.


" Cepat kalian pergi dari mobilku, atau aku akan berbuat lebih dari ini, !!!!!! "


"Jangan bodoh kamu Pandu, Cepat lepaskan Tari atau kamu nanti menanggung akibatnya. "


" Da**r laki - laki tak bermoral. "


" Terserah kalian mau ngomong apa, yang terpenting Menyingkirlah dari mobil ku. "


Bu Fatma berlari menuju halaman rumahnya menuju kearah Pandu dan Tari. Dia menguatkan diri untuk memohon kepada Pandu untuk melepaskan putrinya. Beliau berfikir barangkali bila dia memohon dengan lembut Pandu akan menghentikan perbuatannya.


" Nak Pandu, Ibu mohon sampean jangan seperti ini perbuatan sampean ini akan merugikan banyak orang nak. Lihatlah bahkan sampean sudah menyakiti Tari dengan sampean bertindak seperti ini. Ayo kita duduk bersama kita bicarakan baik - baik. "


" Apakah ibu tau, dia memutuskan pernikahan kami begitu saja Bu. Tanpa dia mendengarkan penjelasan ku. Putri ibu ini sangat egois bukan, hanya mementingkan perasaanya tanpa merasakan perasaanku.

__ADS_1


" Iya nak Pandu, ayo letakkan benda tajam itu. Mari kita bicara berdua, kita bicarakan hal ini tapi sebelumnya buang benda itu " Bujuk Bu Fatma,


Bersambung ......


__ADS_2