
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Ini sudah 3 hari setelah kedatangannya ke ndalem Kiyai Baharuddin. Setelah kedatangannya ke sana Tari merasa bebannya sudah sedikit berkurang. Memang benar jika kita membagi beban kita dengan orang lain akan meringankan beban kita. Meskipun setelah menceritakan semua bebannya Tari merasa sungkan karena dia menceritakan semua kepada kedua paruh baya itu.
Lain halnya dengan kedua pasang paruh baya itu, mereka malah senang ketika Tari bisa terbuka dengan mereka berdua. Gadis itu ternyata tidak setegar kelihatannya, banyak luka yang dia sembunyikan dibalik senyumnya itu. Sosok yang mampu mencuri perhatian kedua paruh baya itu ketika mereka bertemu.
Masih teringat jelas pertama kali pertemuan mereka, Gadis pendiam yang semua tingkah lakunya penuh dengan kahati - hatian namun terasa hangat ketika sudah mengenal lebih dekat.
" Bah, kok ngelamun ? " Ucap Bunyai Salamah yang baru datang sembari membawa wedang jahe.
Wanita paruh baya itu, meletakkan wedang jahe yang dibawanya ke atas meja. Kemudian Bunyai mendudukkan tubuhnya di sebelah suaminya.
" Oalah Umi, bagaimana bocah itu sudah sampai mana ? "
" Diundur lagi Bah, paling cepat besuk kalau ngak Jum'at. Hari ini tiba - tiba harus tugas kembali karena dimintai bantuan seniornya.
" Di undur lagi, Abbah kok jadi khawatir jangan - jangan dia menunda - nunda seperti yang sudah - sudah. "
" Lah mau bagaimana Bah, nolong nyawa orang itu juga penting. Tidak mungkin Bah, sampean tau sendiri ini kan kemauannya.
Laki - laki paruh baya itu, mengambil gelas berisi wedang jahe yang masih mengepulkan asap, kemudian menyesapnya pelan.
" Ummi masih ngak menyangka Bah, bocah itu akhirnya sudah memantapkan pilihannya. Awalnya Ummi tidak percaya dan sempat ragu, akhirnya dia bisa yakin pada seseorang lagi setelah kejadian itu. "
" Sama, Abbah juga tidak pernah mau mengungkit tentang pernikahan dengannya. Itu seperti membuka luka lama untuknya. "
" Insyaallah semoga mereka pasangan dunia akhirat ya Bah. "
" Insyaallah mi. "
*****************
Setelah mengambil cuti satu Minggu karena harus merawat ayahnya yang sakit kini Tari kembali berkutat dengan kesibukannya kembali. Meskipun sudah di bantu dengan temannya namun cuti yang cukup panjang membuat pekerjaannya cukup menumpuk.
Dia sudah menghabiskan 4 hari di sini, dan setiap harinya itu tak pernah dia tidak menghubungi kedua orang tuanya. Setiap pagi, siang, sore, bahkan malam pun selalu dia sempatkan untuk menghubungi mereka.
" Yah, obatnya sampun diminum ? "
📞Uwez nduk, sebelum Ayah tidur siang tadi, sampean sudah pulang ke asrama apa belum ? "
📞Sampun Yah, baru saja masuk kamar kemudian menelfon Njenengan. "
📞 Oalah, Ya sudah sana sampean bersih - bersih dahulu sudah hampir masuk Ashar ini.
📞Enggeh Yah, Assalamualaikum "
📞 Walaikumsalam. "
Pak Rahmat tersenyum ketika memandang handphone kecil yang berada di genggamannya itu.
" Ijah baru telefon Yah ? "
" Iya Buk, baru sampai di asrama. "
" Wah kalau baru telefon sama pacar muda ya gitu wajahnya senyum - senyum lupa sama yang tua. " Cicit Bu Fatma mencoba menggoda suaminya.
" Lah yo mesti to Buk, namanya istri tua sama pacar muda yo mesti milih yang muda to. "
Pasangan paruh baya itu tergelak secara bersama - sama. Keadaan Pak Rahmat sudah sangat baik, tak nampak lagi wajah pucatnya atau kaki yang sulit digerakkan karena penyumbatan saraf yang dia alami. Malahan sekarang laki - laki paruh baya itu nampak bugar, dengan wajah bersih dan berseri.
" Buk bagaimna, Gus Reyhan sudah menghubungi ? "
__ADS_1
" Sampun Yah, kepulangan Gus masih di undur karena beliau bertugas kembali. "
Laki - laki paruh baya itu nampak mengusap wajahnya kasar, nampak ada kekhawatiran di wajah keriputnya.
" Kenapa Yah, ada yang sampean khawatirkan ? "
" Tidak Buk, hanya saja aku takut jika waktuku tak cukup. Ucapnya pelan yang mungkin Hannya dirinya saja yang mendengarnya.
**************
Ceklek .........
Suara pintu dibuka, bersama dengan gadis kurus itu masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya nampak lelah sekali, dia menaruh Tas ranselnya di bawah ranjangnya kemudian langsung tidur di kasurnya.
Sementara Tari dia baru saja keluar dari kamar mandi hanya bisa menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu. Beberapa hari ini gadis kurus itu sedang mempersiapkan acara pernikahannya, yang cukup menguras tenaganya. Kalau dilihat dari raut wajahnya sudah pasti dia tadi kelelahan karena harus berdebat dengan sang calon suami.
" Kelihatannya capek sekali ? "
" Banget Mbak. "
" Bagaimana persiapannya ? "
" Seperti biasa Mbak, ribet banget. " Gadis itu bangun dari tidurnya kemudian duduk bersila di kasurnya sambil menghadap kearah Tari.
" Itulah nikmatnya. "
" Nikmat dari mana, pusing iya mbak. Mas Rizki itu banyak sekali maunya, dia bawel dan cerewet banget coba bukan calon suami sudah tak tabok. " Ungkap gadis itu berapi - api.
" Wajarlah Dah ini kan momen satu kali seumur hidup, pasti Pak Rizki menginginkan semuanya yang terbaik. Sampean harus bisa mengerti apa lagi dengan keluarga seperti Pak Rizki tidak heran kalau semuanya harus serba istimewa. "
Keluarga Rizki termasuk keluarga yang terpandang, bapaknya mantan dosen sedangkan ibunya dahulu pernah menjabat sebagai camat. Wajar saja bila keluarga Rizki menginginkan pernikahan yang terbilang istimewa untuk anak terakhir mereka itu.
Apalagi waktu pernikahan mereka yang terbilang cepat, sehingga membuat mereka sedikit kerepotan untuk mempersiapkan acara tersebut. Belum lagi resepsi yang dilakukan di dua tempat dengan jumlah undangan yang tidak sedikit, mengingat banyak kolega yang harus mereka undang.
" Tapi cinta kan, ? " Ucap Tari sarkas.
Gadis kurus itu, sejenak terdiam tampak semburat merah di pipinya. Dia dan Rizki memang bukan pasangan yang romantis seperti pasangan pada umumnya, bahkan mereka selalu berdebat, mendebatkan hal sekecil apapun. Dan sama - sama egois dalam mempertahankan pendapatnya. Namun mereka pasangan yang Sling mengisi kekurangan masing - masing.
Berita pertunangan mereka sempat membuat geger seisi asrama apalagi tanggal pernikahan mereka hanya satu bulan setelahnya. Membuat seisi asrama geger, apalagi tidak nampak kedekatan diantara mereka berdua.
" Mbak Tari apa sih, aku mau mandi dulu. "
" Ngak pantes sampean itu malu - malu kayak gitu, Wardah itu pantasnya garang. " Ucap Tari sembari membuat tangan dan wajahnya seolah-olah akan menerkam.
" Aku pasti garang Mbak, tapi kalau sudah waktunya ........ " Ucap gadis itu sambil memasuki kamar mandi.
Tari tersenyum sambil menggeleng saat mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu, entah apa yang dimaksud oleh gadis kurus itu. Tak lama gadis itu keluar dari kamar mandi dan melakukan kewajibannya.
" Mbak ini, cepat dijahitkan " Sambil menganggsurkan paper bag kearah Tari.
" Apa ini ? " Tanya Tari sembari membuka paper bag yang diberikan oleh Wardah.
Paper bag itu berisi kain atasan brokat berwarna broken white, dengan kain jarik motif Kawung.
" Dijahitkan sesuai gambar ya, semua biar sama. "
" Ehmz, insyaallah ngak janji. "
" Aduh, harus iya ngak boleh ngak janji. "
" Ya terserah aku, yang bayar jahitannya siapa hayo ?. " Akhir - akhir ini Tari senang sekali mengusili gadis kurus itu, karena emosinya yang cepat sekali terpancing.
__ADS_1
" Ya Mbak Tari sih, tapi lainnya dari siapa hayo ? "
" Nanggung banget, mbok ya kalau ngasih itu sekalian Dah, ngak nanggung gini masak mesti jahitan sendiri. "
" Wez kumat, jiwa pelitnya keluar. "
Mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing, Tari sudah membuka laptop untuk mengerjakan tugas - tugasnya yang belum selesai. Menurut kabar yang beredar akan ada rolling untuk tenaga pengajar. Hal ini sudah biasa dilakukan oleh yayasan ini, untuk memberi pengalaman baru bagi tenaga pengajar.
Sudah hampir satu tahun Tari mengajar di sekolah ini, banyak hal baru yang dia dapatkan, dan tentunya inkam yang cukup besar. Kemudian teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Dia masih belum mengetahui siapa sebenarnya yang telah membayarkan biaya rumah sakit ayahnya. Meskipun dia tahu siapa nama orang yang sudah mentransfernya.
Tok .... Tok ..... Tok ......
" Mbak Wardah ditunggu Pak Rizki dibawah ? "Ucap Buk Tini dari luar. "
" Enggeh Bu, saya segera turun. "
Gadis kurus itu, berdiri membetulkan letak jilbabnya yang miring kemudian membuka pintu untuk keluar.
Gadis itu berjalan menyusuri lorong menuju tangga, dan setelah sampai di lantai bawah nampak beberapa orang dan Rizki yang sedang menunggunya.
" Assalamualaikum " Ucap gadis kurus itu sembari menangkupkan kedua tangannya di dada.
" Walaikumsalam " Jawab semua orang yang sedang berada di ruang tamu.
" Perkenalkan ini Pak Pandu owner dari WO yang kita pakai. " Rizki memperkenalkan Salah satu laki - laki yang menjadi tamunya.
Wardah menjawabnya dengan anggukan, setelahnya Rizki memperkenalkan satu persatu dari mereka yang merupakan staf dari pihak WO. Mereka akan membicarakan persiapan resepsi yang akan diadakan di Malang. Kebetulan saat ini owner dan staf mereka sedang berkunjung ke Kediri jadi mereka berjanji untuk bertemu.
Namun pertemuan tidak bisa dilakukan diluar karena waktunya tidak memungkinkan. Jadilah mereka disini di ruang tamu asrama, untungnya tempat itu luas dengan tiga set sofa disana. Dan mereka menepati salah satunya yang terletak paling dekat dengan pintu.
" Ada apa Mas ? "
" Ini pihak WO mau menunjukkan beberapa pilihan dekorasi untuk gedung, nanti biar sampean yang memilih. " Jelas Rizki.
" Oh seperti itu, baiklah aku buatkan minum terlebih dahulu. " Gadis itu bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman para tamunya.
Gadis itu kembali keruang tamu dengan membawa nampan berisi minuman dan beberapa toples berisi makanan kecil. Lalu mempersilahkan semua tamunya untuk meminumnya. Kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka mengenai beberapa pilihan dekorasi.
" Mbak ini sampel dari kami, bisa dikurangi atau ditambahkan di bagian - bagian tertentu. Atau mungkin Mbak atau Masnya ada pilihan sendiri. "
" Sebenarnya saya menginginkan dekorasinya sesimpel mungkin hanya perlu beberapa poin saja di beberapa titik. " Jawab Rizki.
" Baiklah, nanti tinggal penyesuaian saja ya pak, nanti saya kirim desain finisnya. Dan untuk kateringnya nanti H - 1 saya kirim samplenya ke rumah Pak Rizki ya. "
" Iya Pak Pandu, Bagaimana Dah sampean setuju. "
" Saya terserah sampean Mas, "
Gelak tawa terdengar di sela - sela obrolan mereka, sementara penghuni lain yang duduk di sofa sebelah juga tidak terganggu dengan obrolan mereka.
" Tar, mau kemana ..... ? " Ucap Rizki, ketika melihat gadis itu berjalan tergesa menuju pintu.
Gadis itu menoleh ketika dia rasa ada yang memanggil namanya, tanpa sadar dia menangkap sosok yang dia kenal. Dia sempat kaget karena melihat sosok itu disini, dia berusaha menyembunyikan kegugupannya dibalik seulas senyumnya.
" Ada yang perlu saya beli keluar Pak, hanya sebentar. "
Rizki yang melihat itu melihat kearah Wardah, seolah memberi isyarat pada calon istrinya itu untuk menemani gadis itu keluar. Wardah yang tahu maksud dari calon suaminya lantas berdiri menghampiri gadis itu.
" Mari Mbak tak temani, ngak baik anak gadis pergi sendirian. "
" Ngak usah, aku hanya membeli di warung sebelah. "
__ADS_1
" Sudah ayo cepat, " Ucap gadis itu sembari mendorong tubuh Tari untuk segera berjalan.
Bersambung ........