
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
" Semudah itu kah kamu mengucapkan itu ? "
" Iya, karena aku sudah melalui semua kesulitan itu sebelumnya. Semua rasa sakit itu sudah cukup aku rasakan dulu dan kini saatnya aku ingin terlepas dari semua itu. Dan satu - satunya cara adalah dengan kita ihklas bahwa kita memang tidak berjodoh. "
" Setelah apa yang kita lalui. "
Tari mengulas senyum diwajahnya, dia dengan segera menarik tangannya ketika dia rasa genggaman Setyo mengendor. Sementara Setyo masih saja tidak menerima dengan keputusan yang Tari buat. Dia menatap dalam ke arah gadis yang dicintainya itu seakan menunjukan ketulusannya melalui pandangan matanya. Karena dia merasa telah gagal ketika lisannya yang bicara, barangkali tatapannya sanggup merubuhkan didinding hati Tari yang sudah tertutup rapat untuknya.
Cukup bagi Tari berdamai dengan rasa sakitnya selama ini, dia tidak ingin lagi merasa terbebani dengan rasa sakit itu lagi. Ihklas adalah kuncinya, ternyata Allah benar - benar sesuai prasangka hamba-Nya dipertemukan kembali dia dengan masa lalunya untuk menghilangkan rasa sesak itu. Andaikan saja tanpa pertemuan kembali ini mungkin dadanya masih merasakan sakit itu. Kini tiba saatnya dia menyongsong kehidupan yang baru, dan mungkin juga cinta yang baru.
" Mas, syukuri apa yang kamu miliki sekarang bisa jadi dia yang memang benar - benar dipilihkan Allah untukmu. Jangan sampai kamu mengulang kesalahan yang sama, menyesal ketika orang yang benar - benar mencintaimu telah meninggalkan mu. "
Tidak ada jawaban dari laki - laki itu, dia hanya terdiam tanpa berkeinginan menjawab perkataan Tari.
" Kalau begitu saya permisi, saya akan selalu mendoakan kebahagian Mas. Assalamualaikum "
***************
Semua beban dihatinya kini seolah sudah hilang, rasa di tinggalkan, rasa di sepelekan, rasa tidak dihargai, semua menguap begitu saja. Hidupnya seolah tiada beban lagi, kenangan masa lalu yang buruk benar - benar menguap seiring keikhlasannya menerima semuanya sehingga senyum selalu menghiasi wajahnya akhir - akhir ini.
Hidupnya kembali seperti sedia kala disibukkan dengan pekerjaan, harinya semakin sibuk karena setelah itu Lenni mengajukan mutasi. Apa ada kaitannya dengan dia, tentu saja ada. Tapi dia tidak mengambil hati tentang kejadian itu karena baginya, sekarang dia perlu berfikir egois. Tidak mau menyalahkan diri sendiri atas masalah orang lain. Hal yang diajarkan Wardah untuknya.
" Assalamualaikum "
" Walaikumsalam Bu guru. "
Satu jari kanan ku
Satu jari kiri ku
Ku gabung jadi satu jadilah jembatan
Panjang
Dua jari kanan ku
Dua jari kiri ku
Ku gabung jadi satu jadilah kamera
Cekrek
Tiga jari kanan ku
Tiga jari kiri ku
Ku gabung jadi satu jadilah Menara
Tinggi
" Sit down please "
" Ayo siapa yang hati ini sarapan ? "
" Saya Bu. " Jawab mereka serentak dengan mengacungkan tangan sebelah kanan tinggi berharap tinggi mereka tidak terlampaui dengan teman mereka.
" Pinter semuanya, berarti semuanya akan dapat bintang tambahan karena sudah sarapan. "
__ADS_1
" Hore jawab mereka serempak. "
Suasana awal di pagi hari akan selalu menjadi tolak ukur suksesnya pembelajaran selama satu hari nanti. Apabila pagi di lalui dengan suka cita, pembelajaran selanjutnya sudah bisa dipastikan akan lancar. Sebisa mungkin Tari membangun suasana pagi yang menyebabkan untuk anak - anak didiknya.
Jam pembelajaran berakhir dia segera bergegas, menuju kantor untuk mengambil tasnya. Setelah ini dia harus segera ke rumah singgah, beberapa hari ini dia disibukkan dengan kegiatan rumah singgah yang padat. Rumah singgah mendapat donatur baru, donatur yang memberikan bantuan dalam jumlah yang cukup besar.
Jadi tenaga pengajar diminta untuk, membuat daftar apa saja sarana dan prasarana yang sedang dibutuhkan rumah singgah. Agar kedepannya rumah singgah berjalan lebih baik dan bantuan yang di dapatkan tepat sesuai sasaran.
" Pak Rizki kami rasa, kita perlu menambahkan beberapa Lap top untuk masuk list barang yang kita perlukan. " Ucap salah satu dari mereka.
" Boleh juga, kita perlu memiliki itu untuk pengenalan teknologi kepada anak - anak. Ada masukkan lagi saya rasa dananya masih cukup, pilihlah alat yang mampu memberikan ketrampilan yang bisa dijadikan profesi. "
" Bagaimana kalau kita membeli peralatan jahit. Kalau tenaga pengajar kan ada Mbak Ruroh yang mengajar di jurusan tata busana di SMK. "
" Boleh juga, ada lagi mungkin ? "
" Tambah lagi sarana bermain juga, karena itu juga diperlukan untuk melatih motorik anak. "
" Iya, tentu. "
Akhirnya kesepakatan pun diperoleh diantara tenaga pengajar, apa saja sarana dan prasarana yang akan dibeli. Sementara pengajar lain sedang mengisi kelas mengaji yang dilakukan di area pendopo, Tari, Wardah, Rini dan beberapa orang lain nampak masih membimbing anak-anak yang jumlahnya sore ini cukup banyak. Semakin hari, jumlah siswa rumah singgah semakin banyak.
Tak berapa lama kelas mengaji selesai dilakukan, setelahnya semua murid rumah singgah pulang ke rumah mereka masing - masing. Sementara tenaga pengajar mereka masih tinggal di sana, karena ada kiriman buku yang datang dalam jumlah yang lumayan banyak. Mereka memilih buku itu dan memberikan kode lalu menatanya ke rak buku yang sudah disiapkan.
" Ternyata sebanyak ini, aku awalnya mengira hanya beberapa buku saja ternyata lebih dari ekspektasi ku. " Ucap Rini sembari, menyusun buku itu di rak.
" Iya Mbak Rin, bukunya kualitas bagus pula. Sebenarnya siapa donatur baru itu, aku jadi penasaran dermawan sekali beliau. "
" Eh, dia bukan donatur baru dia orang lama yang kembali teringat pada apa yang dibuatnya dulu. "
" Yang bener mbak ? "
" Owh, sampean kan anak baru jadi belum tahu. Nanti kalau dia sudah menyelesaikan pendidikannya pasti dia akan mengunjungi kita. "
" Tidak juga kalau muda, usianya sudah matang seusia Pak Rizki. "
" Kalau itusih tuwir mbak. " Ucapnya sambil celingukan, takut yang di maksud tiba - tiba datang.
Tari hanya mendengar obrolan kedua temannya itu dan sesekali ikut tersenyum, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Kenapa memangnya kalau saya tuwir ? " Ucap Rizki yang melongokkan kepalanya diantara rak - rak buku.
" Mana ada orang ngomong sampean tuwir. " Jawab Wardah santai seolah - olah dia tadi tak mengatakan apapun lengkap dengan gaya sok cueknya.
" Pendengaran saya ini masih baik, "
" Siapa juga yang bilang Pak Rizki budek, suka baperan ih Pak Rizki ni. "
" Sudah ayo cepat keburu Maghrib. " Potong Tari.
Kedua orang itu sudah seperti anjing dan kucing apabila berdekatan, hal sekecil apapun akan menjadi perdebatan untuk mereka. Dan itu terjadi di setiap pertemuan, tapi anehnya satu sama lain akan saling mencari bila salah satunya tidak terlihat.
Tepat adzan Maghrib mereka masuk kedalam kamar asrama, Tari segera bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Wardah dia malah menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur tanpa melepas sling backnya. Sampai Tari keluar dari kamar mandi dan hendak melakukan sholat Maghrib, Wardah tidak beranjak juga dari kasurnya.
" Mbak Wardah yang cantik cepat sana mandi dulu, anak gadis kok malas sekali. "
Tidak ada jawaban dari gadis kurus itu, matanya terus menatap langit-langit kamar. Tari yang sedari tadi memperhatikan hal itu, mendekatinya dan menyentuh kakinya pelan. Wardah yang kaget sontak saja terduduk.
" Ke kenapa Mbak Tar. "
__ADS_1
" Sana mandi dulu, Magribnya keburu habis. "
Dengan cepat dia melepas sling back yang masih berada di pundaknya dan berjalan ke arah kamar mandi. Tari segera melanjutkan sholat yang tertunda.
" Mbak Tar, tolong ambilkan handuk aku lupa aku tunggu. " Teriak Wardah dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan sholat dan dzikirnya, dia segera berdiri mengambil handuk yang berada di gantungan baju milik Wardah. Mengetuk pintu kamar mandi lalu memberikan handuk kepada Wardah.
" Terima kasih Mbak Tar. "
Setelah sholat Maghrib mereka bergegas turun kebawah untuk makan malam. Suasana di bawah sudah ramai karena semua penghuni sedang berkumpul. Sebagian dari mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka dan sebagian belum.
Setelah dari rumah singgah tadi Wardah terlihat tidak seperti biasa, dia lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya dia akan menjadi pusat perhatian karena semua tingkah lakunya. Saat di meja makan pun yang biasanya dia makan dengan porsi banyak kali ini dia hanya mengaduk - aduk makanan yang ada di piringnya.
Sementara penghuni lain menyadari keanehan itu, tapi mereka hanya berbisik - bisik diantara mereka saja. Tanpa berani menanyakan langsung kepada gadis kurus itu.
" Makanan itu akan pusing kalau sampean hanya mengaduknya saja. "
" Eh Mbak Rin. "
" Ayo Dah, sebentar lagi drakornya mulai. "
" Iya. "
" Dari tadi melamun terus, putus cinta apa jatuh cinta ? " Tanya Tari sambil berbisik pelan di telinganya.
" Tidak keduanya Mbak Tar. "
" Bibirnya bilang tidak tapi Tingkah lakunya bilang iya Mbak Rin. "
" Baru pertama kali Mbak Tar, jadi adem panas gitu, makan tak enak tidur pun tak nyenyak apalah dayaku rasa ini membunuhku. " Ucap Rini seraya dibuat - buat.
" Terserah kalian. " jawab Wardah kesal.
Akhirnya mereka menyelesaikan makan malam mereka, Tari kembali ke kamarnya untuk menunaikan sholat Isyak. Setelahnya dia kembali ke bawah, masih terlalu sore bila dia tidur sekarang. Ruang tamu penuh semua sofa sudah terisi, semua mata menatap layar 32 inch yang menampilkan sosok ganteng yang sedang digandrungi.
" Aku rasa yang jadi bos Babo dia. "
" Iya deh kayaknya. "
" Eh presiden drakor kemana, kok ngak ada suaranya. Apa belum hadir dia ? "
" Ada, tuh di pojokan. "
" Bu pres, tumben diam ? "
" Lagi ngak mood Mbak, " Jawabnya asal.
" Wah jangan - jangan lagi putus cinta ni. "
" Jangan ngarang saya kan belum pernah pacaran dibilang putus cinta. "
" Trus kenapa itu muka sampean lempeng banget dari tadi, ngak biasanya kayak gitu. "
" Ngak papa cuma ngak mood saja. " Ucapnya sambil berdiri dari duduknya.
Gadis kurus itu berjalan ke dapur membuka kulkas kemudian mengambil air mineral dan menghabiskannya. Pikirannya benar - benar kacau, sama sekali tidak bisa fokus. Dia mendudukkan tubuhnya di atas kursi meja makan, tangannya menyangga kepala yang dirasanya mulai pusing.
" Sudah jangan difikirkan. "
__ADS_1
" Aku tidak menunutut mu menjawab sekarang, fikirkanlah terlebih dahulu tapi aku juga tak memberi mu waktu yang lama. Ya sudah cepat istirahat ini sudah cukup malam aku pulang dulu, Assalamualaikum. "
Bersambung ...........