
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Beberapa perawat dan dokter baru saja keluar dari ruangan yang ditempati Pak Rahmat. Suasana ruangan itu kembali sepi hanya tersisa mereka bertiga. Pak Rahmat sudah bisa duduk bahkan ventilator yang semula membantu pernapasannya sekarang sudah dilepas. Tari sangat bersyukur melihat keadaan Ayahnya, yang sudah melewati masa kritisnya.
Adzan subuh berkumandang dari mushola yang terdengar jelas sampai ke ruangan itu. Panggilan wajib bagi setiap insan yang beriman untuk segera melakukan kewajiban mereka.
" Buk, bantu Ayah untuk bertayamum. Ayah mau sholat subuh menjadi Imam untuk kalian. " Ditatapnya mereka berdua bergantian.
" Ayah yakin tidak apa - apa, Ayah kuat ? "
" Insyaallah Ayah kuat. "
" Ya sudah mari ibuk bantu, bapak bisa bertayamum dengan ini. " Wanita paruh baya itu memberikan koran yang berada diatas nakas.
Setelah selesai dengan tayamum, Tari mengganti baju yang dikenakan ayahnya dengan baju Koko kemudian memakaikan peci milik Ayahnya. Sedangkan Bu Fatma beliau sedang membersihkan diri dikamar mandi. Tari menggelar dua sajadah di bawah ranjang ayahnya dan menghadap kiblat. Bu Fatma keluar mandi bersamaan dengan Tari yang selesai menggelar sajadah.
" Sampean wudhu dulu nduk. "
" Enggeh, Buk. "
Gadis itu kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Tari sedang berada di kamar mandi, pintu ruangan itu diketuk kemudian masuk sesosok tubuh tegap.
" Assalamualaikum Yah, Buk. "
" Walaikumsalam nak. "
" Maaf saya harus pergi terlebih dahulu karena saya harus melapor kepada atasan saya. "
" Iya nak, sampean hati - hati. "
" Ijah sedang berada di kamar mandi nak, tidak kah sampean menunggunya. "
" Mboten usah Buk, Insyaallah sebelum dhuhur saya sudah kembali. "
" Tunggu nak, " Laki - laki paruh baya itu pandangannya nampak menerawang
" Enggeh Yah ada apa ? "
Laki - laki itu kemudian duduk di kursi sebelah tempat tidur, dia mengerti seolah ada hal yang ingin disampaikan oleh laki - laki paruh baya itu.
" Nak, tolong jaga Ijah jadilah imam buatnya, perlakukan dia dengan lembut, dibalik sifat diamnya sebenarnya dia adalah seseorang yang rapuh. Bimbinglah dia dalam segala hal, terutama ajarkan dia bagaimana menjadi seorang istri Sholehah. Ayah titip kan dia. "
" Insyaallah Yah, Ayah tidak perlu khawatir itu sudah menjadi kewajiban saya. " Ucap laki - laki itu pasti tanpa adanya keraguan sama sekali.
Dengan langkah lebarnya, dia meninggalkan ruangan itu. Berbarengan dengan Tari yang keluar dari kamar mandi. Tari menatap bingung kedua malaikatnya itu, terlebih keduanya nampak sedang menyeka air mata. Terlebih lagi samar - samar dia tadi mendengar ada suara lain di ruangan itu.
" Sudah nduk, ayo segera pakailah mukena sampean. "
" Enggeh Buk, " Jawabnya tanpa ingin mempertanyakan hal yang sedang dipikirkannya.
Pak Rahmat menjadi Imam untuk sholat mereka sekarang, hal yang sudah biasa mereka lakukan selama ini. Namun entah mengapa sholat subuh kali ini terasa berbeda.
**************
" Mi, bagaimana persiapannya apa sudah selesai ? "
" Sebentar lagi Bah, hanya tinggal menunggu mbak santri memasukkan ke dalam mobil saja. "
" Ya sudah, Ning Rina juga sudah siap Mi. "
" Sudah Bah, sudah di bale sama tole Mikhail. "
Wanita paruh baya itu nampak mencari - cari sesuatu dalam lemarinya, tak lama berselang beliau menemukan sebuah kotak kayu. Kemudian dibukanya, yang menampakkan beberapa perhiasan miliknya. Beliau nampak memilih diantara beberapa perhiasan itu, akhirnya pilihannya jatuh kepada sebuah gelang dengan mas putih polos yang di bagian dalamnya nampak terukir sebuah nama. Seulas senyum akhirnya tersungging di wajahnya.
" Akhirnya Bah, gelang ini menemukan pemiliknya. "
__ADS_1
" Alhamdulillah Mi, takdir Allah tidak akan pernah salah meskipun Dia punya cara sendiri yang kita sebagai mahkluk-Nya tidak sanggup merabanya. "
" Iya Bah, Ayo sepertinya semuanya sudah siap. "
" Mari. "
Sepasang paruh baya itu berjalan meninggalkan kamar mereka, menuju bale. Rencananya pagi ini mereka akan berkunjung ke suatu tempat. Ning Rina dan Ning Nafisa sudah menunggu mereka di bale dengan baby Mikhail yang tidak henti - hentinya berceloteh.
" Ayo Ning. "
" Enggeh Bu Lik, "
" Sini Tole Mikhail di gendong Yanguti saja. " Tangannya menjulur meraih tubuh gembul baby Mikhail dari gendongan Aminya.
" Setelah ini Bulik, di puas - puaskan gendong cucunya. " Canda Ning Rina pada wanita paruh baya itu.
" Insyaallah Ning, semoga saya sama Abah diparingi kesehatan biar bisa gendong cucu. "
Mereka semua masuk kedalam mobil yang sudah dipersiapkan, membelah jalanan yang sudah mulai ramai dengan kegiatan orang - orang di pagi hari.
*************
Tari sedang menyuapi Ayahnya, dengan makanan yang baru saja diantar oleh perawat. Sedangkan Bu Fatma beliau sedang ke kantin rumah sakit karena harus membeli sarapan untuk mereka berdua.
" Bagaimana Yah, masih mau lagi atau sudah ? "
" Lagi juga ngak papa nduk, "
" Ya gini kalau makannya banyak gini bisa cepat sembuh Yah. " Ucapnya sembari menambahkan nasi dan lauk kedalam piring Ayahnya.
" Ayah itu sudah tidak apa - apa. "
" Tidak apa - apa kemarin kok ngedrop Yah, ingat pesan dokter Ayah tidak boleh berfikir yang terlalu. Terlalu sedih juga tidak boleh terlalu bahagia juga tidak boleh. "
" Insyaallah seterusnya Ayah akan selalu sehat. " Ucapnya sembari terus menyuapai Ayahnya.
Tak membutuhkan waktu lama Pak Rahmat sudah menyelesaikan sarapannya, Tari merapikan bekas sarapan Ayahnya, mengusap mulut ayahnya menggunakan tisu kemudian menyodorkan air putih untuk ayahnya minum.
Setelah selesai kemudian dia duduk di samping Ayahnya, merapikan selimut ayahnya sampai batas dada. Dilihatnya wajah keriput itu, akhir - akhir ini wajah itu nampak berbeda terlihat bersih dan bersinar sehingga dia enggan untuk mengalihkan pandangannya.
" Nduk, Ada hal yang ingin Ayah sampaikan. "
" Enggeh Yah, wonten nopo. "
" Sebelumnya maafkan Ayah, karena sudah memutuskan itu tanpa bertanya terlebih dahulu pada sampean. "
" Yah, Ijah tidak sekalipun meragukan apa yang telah menjadi keputusan Ayah. "
" Ayah hanya berharap, sampean bisa bahagia dan menjadi sebaik - baiknya wanita salehah. "
" Insyaallah Yah, "
" Nduk Maafkan Ayah, karena sudah menikahkan mu dengan cara seperti kemarin. Tidak ada Ayah yang tak ingin melihat putrinya bahagia nduk, namun maafkan Ayah yang memutuskannya sepihak.
Sejenak Tari mengehentikan usapan tangannya pada tangan Ayahnya. Mencoba menenangkan laki - laki paruh baya itu, meyakinkan bahwa dia ihklas dengan keputusan yang telah dia ambil. Ingatannya kembali saat waktu selepas Ashar kemarin. Ketika sebuah panggilan masuk di handphonenya.
" Bersediakah sampean Nyimas Khodijah Bramastari menjadi satu - satunya istri bagiku. "
Kata - kata itu masih terngiang jelas di Indra pendengarannya, bahkan tubuhnya akan meremang saat dia kembali mengingat kata - kata itu.
" Insyaallah jodohmu seorang Soleh yang akan membimbing mu serta mencintaimu, maafkan Ayah nduk. " Runtuh sudah pertahanan laki - laki paruh baya itu butiran kristal bening memenuhi pipinya.
Sejujurnya Tari terkejut dengan apa yang disampaikan Ayahnya, namun dia bisa melihat bahwa ketulusan Ayahnya padanya tidak bisa diragukan. Mungkin saja Ayahnya sudah berfikir terlebih dahulu sebelum memutuskan hal seperti ini. Tentunya yang akan dia terima berlapang dada keputusan yang telah diambil oleh sang Ayah.
" Yah Insyaallah Ijah akan menerima semua apa yang menjadi keputusan Ayah, tidak mungkin Ayah akan membawa Ijah pada keputusan yang buruk. "
__ADS_1
" Terimakasih ya nduk, Maafkanlah Ayahmu ini. "
" Ayah tidak boleh bilang seperti itu. " Ucapnya sembari menciumi tangan Ayahnya.
Tak lama berselang pintu terbuka, ternyata Bu Fatma yang datang dengan membawa sebuah kresek ditangannya. Diletakkannya kresek itu diatas meja sofa, kemudian mengeluarkan isinya diatas meja. Ada berbagai macam makanan yang dibeli oleh wanita paruh baya itu.
" Nduk, sampean makan dulu. "
" Enggeh Buk, sebentar Yah Ijah sarapan dulu ya. "
" Iya sana sampean sarapan dulu. "
Dua wanita beda generasi itu segera me makan makanan yang ada diatas meja. Menghabiskan nasi pecel dengan peyek yang di belikan ibunya tanpa sebutir nasipun yang tersisa. Menyia - nyiakan makanan adalah hal yang selalu dihindari oleh keluarga ini karena seberapapun besarnya rezeki yang kita dapat harus kita syukuri. Dengan menghabiskan makanan yang kita makan berarti salah satu cara dalam mensyukuri rezeki yang diberikan kepada kita.
Tok ..... Tok ..... Tok ......
Suara pintu diketuk, kemudian masuklah beberapa orang ke dalam ruangan itu. Tiga orang perawat dan seorang dokter yang pagi ini akan kembali melihat kondisi Pak Rahmat.
" Bagaimana Pak perasaanya pagi ini, saya tidak menyangka kalau Bapak akan bangun secepat ini. "
" Ini hasil CT scan Pak Rahmat dok, " Ucap salah satu perawat sambil memberikan hasil pemeriksaan CT scan miliknya.
" Alhamdulillah dok, saya merasa sangat sehat. "
" Benarkah Pak, padahal disini jelas sudah ada beberapa pembuluh yang pecah. "
" Apa berakibat fatal dok apabila ada pembuluh darah yang sudah pecah. " Tanya Tari.
" Yang jelas itu bukan keadaan yang baik. Namun ketika melihat keadaan Bapak sekarang bisa jadi bukan keadaan yang buruk. "
Setelah pemeriksaan selesai, beberapa perawat dan dokter itu mengakhiri kunjungan mereka. Tari kembali mendudukkan tubuhnya di bangku sebelah tempat tidur Ayahnya. Sementara Bu Fatma juga ikut duduk di sisi lain tempat tidur sembari memberi pijatan di kaki suaminya.
" Nduk, jaga selalu Ibukmu ya jangan biarkan dia seorang diri bawa dia kemanapun sampean pergi. "
" Enggeh Yah, Ijah akan selalu menjaga kalian berdua. "
" Ibuk masih muda Yah, masih mau gendong cucu nanti ke sawah bareng sampean momong cucu disalah sambil nyari keong sawah. " Jawab Bu Fatma.
" Ayah mau sholat Dhuha dulu mumpung masih ada waktu. "
" Enggeh Yah mari Tari bantu. "
Seperti saat sholat subuh tadi membantu ayahnya untuk bertayamum. Laki - laki paruh baya itu sholat dengan kusuk diatas tempat tidurnya. Setelah ucapan salam beliau nampak menghela nafas panjang.
" Sampun Yah ? "
" Sudah nduk, ingat kata Ayah ya nduk surgamu sekarang sudah berada di tangan suamimu. Apapun yang dikehendakinya hendaknya harus kamu patuhi. Insyaallah dia akan menjemputmu sebelum Dhuhur, terimalah dia. "
" Enggeh Yah, Insyaallah Ijah akan selalu mengingat nasihat Ayah. "
" Ayah ngantuk sekali nduk, baringkan Ayah. "
" Enggeh. "
Di tatanya dahulu bantal Ayahnya, setelah dirasa cukup nyaman Tari membaringkan Ayahnya kemudian mengangkat selimut Ayahnya sampai ke dada. Mata laki - laki paruh baya itu nampak langsung terpejam. Di pandangnya wajah laki - laki itu sampai waktu yang lama, kenapa tidur Ayahnya saat ini terlihat berbeda. Nampak sekali ketenangan bahkan bibirnya seolah tersenyum,
Pandangannya tak mau beralih dari sang Ayah, entah mengapa. Laki - laki paruh baya itu nampak menghela nafas panjang sambil mulutnya bergumam lirih.
Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah".
Artinya ,: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah".
Diiringi dengan butiran kristal bening yang menetes di sudut mata laki - laki paruh baya itu, nafasnya berlahan hilang.
Bersambung .........
__ADS_1